“Kalau Mas tidak segera datang membawa kartu, Ibu bisa dipermalukan di depan semua tamu!”
Suara Nadira terdengar hampir menangis dari seberang telepon.

Aku masih duduk di meja makan, memandangi cangkang kepiting yang berserakan di atas piring. Dua jam sebelumnya, istriku melarangku menghadiri pesta ulang tahun ibunya karena dianggap membawa sial. Sekarang, setelah semua tamu selesai makan, mereka justru membutuhkanku untuk membayar tagihan sebesar dua puluh delapan juta rupiah.
“Nadira, jawab satu pertanyaanku. Sejak kapan aku setuju membiayai pesta itu?”
Tidak ada jawaban.
“Mas, nanti kita bicarakan di rumah.”
“Tidak. Aku ingin tahu sekarang.”
Terdengar suara kursi bergeser, lalu langkah kaki menjauh dari keramaian restoran.
“Aku kira Mas memang mau membantu,” jawabnya akhirnya.
“Siapa yang bilang?”
“Ibu.”
Aku memejamkan mata.
“Dan kamu tidak merasa perlu bertanya kepadaku?”
“Mas, selama ini kalau Ibu membutuhkan sesuatu, Mas selalu membantu.”
Aku tertawa pendek.
“Berarti karena aku pernah membantu, sekarang kalian merasa berhak menggunakan uangku tanpa izin?”
Nadira kembali terisak.
Sebelum aku sempat mengatakan apa pun, terdengar suara Bu Ratna mengambil alih telepon.
“Arga! Kamu ini menantu macam apa? Ibu sedang ulang tahun, malah mempermasalahkan uang!”
Aku menegakkan punggung.
“Selamat ulang tahun, Bu. Hadiah dari saya sudah Nadira bawa, bukan?”
“Hadiah itu beda dengan tanggung jawab keluarga!”
“Tanggung jawab siapa, Bu?”
“Jangan mengajari orang tua!”
Aku diam sejenak.
“Bu, saya tidak pernah memesan makanan untuk delapan belas meja. Saya juga tidak pernah menyetujui pembayaran pesta. Silakan minta Kak Dimas menyelesaikan tagihan yang dia pesan.”
Telepon langsung ditutup.
Aku mengira persoalannya selesai.
Ternyata sepuluh menit kemudian, nomor asing menghubungiku.
“Selamat sore, apakah benar dengan Bapak Arga Pratama?”
“Betul.”
“Saya Rudi, manajer Restoran Taman Kenanga. Mohon maaf mengganggu. Kami ingin mengonfirmasi pembayaran acara atas nama Ibu Ratna.”
Aku menarik napas.
“Pak Rudi, saya tidak pernah memesan acara tersebut.”
Pria itu terdengar terkejut.
“Tetapi dalam formulir pemesanan, Bapak tercantum sebagai penanggung jawab pembayaran.”
“Apakah ada tanda tangan saya?”
“Ada, Pak.”
Tanganku berhenti bergerak.
“Boleh saya menerima salinannya?”
“Tentu, Pak. Namun, kami perlu memastikan terlebih dahulu karena dokumen tersebut diserahkan oleh pihak keluarga.”
Aku menjelaskan bahwa aku tidak pernah menandatangani formulir apa pun dan meminta restoran menyimpan seluruh dokumen asli.
Lima menit kemudian, sebuah foto dikirim melalui WhatsApp.
Aku memperbesarnya.
Di bagian bawah formulir tertulis namaku, lengkap dengan nomor telepon dan alamat rumah.
Di sampingnya terdapat tanda tangan yang menyerupai milikku.
Namun, aku langsung mengetahui bahwa tanda tangan itu palsu.
Ada satu garis melengkung yang tidak pernah kugunakan.
Lebih mengejutkan lagi, di bawah formulir tercantum fotokopi KTP-ku.
Aku berdiri dari kursi.
Fotokopi itu tampak berasal dari dokumen yang pernah kuserahkan kepada Nadira untuk mengurus asuransi kesehatan keluarga.
Aku segera menelepon Pak Rudi.
“Pak, siapa yang menyerahkan formulir ini?”
“Pak Dimas, kakak ipar Bapak.”
“Apakah Bapak melihat saya menandatanganinya?”
“Tidak, Pak. Formulir sudah terisi ketika diserahkan.”
Aku mengusap wajah.
“Baik. Saya akan datang untuk memberikan klarifikasi. Tetapi saya tidak akan membayar tagihan yang tidak pernah saya setujui.”
Aku mengganti pakaian dan berangkat menuju restoran.
Sepanjang perjalanan dari Sidoarjo ke Surabaya Barat, pikiranku dipenuhi pertanyaan.
Selama ini, aku memang sering membantu keluarga Nadira.
Tetapi tidak pernah terpikir bahwa kebaikanku akan dianggap sebagai izin untuk menggunakan identitasku.
Ketika tiba, sebagian besar tamu sudah pulang.
Balon emas masih menggantung di dekat panggung kecil. Beberapa pelayan sedang membereskan piring dan gelas.
Bu Ratna duduk dengan wajah masam.
Dimas berdiri di dekat kasir, sementara Siska sibuk memainkan ponselnya.
Begitu melihatku, Bu Ratna langsung berseru.
“Nah, akhirnya datang juga! Cepat selesaikan pembayaran!”
Aku menghampiri Pak Rudi yang menunggu di dekat meja administrasi.
“Saya datang untuk memeriksa dokumen, bukan untuk membayar.”
Wajah Dimas berubah.
“Arga, jangan bikin malu keluarga. Tinggal gesek kartu saja, apa susahnya?”
Aku menatapnya.
“Kak Dimas yang memesan restoran ini?”
“Iya.”
“Kakak juga yang menentukan menu?”
“Iya, memang kenapa?”
“Lalu kenapa menggunakan namaku sebagai penanggung jawab?”
Dimas mengangkat bahu.
“Karena kamu biasanya paling gampang dimintai bantuan.”
Aku terdiam mendengar jawaban itu.
Pak Rudi kemudian meletakkan salinan formulir di atas meja.
Aku menunjuk tanda tangan di bagian bawah.
“Ini bukan tanda tangan saya.”
Dimas langsung menyela.
“Ah, cuma formalitas administrasi!”
“Kalau formalitas, kenapa harus memalsukan tanda tanganku?”
Suasana mendadak sunyi.
Nadira menatap kakaknya.
“Mas Dimas, kamu yang tanda tangan?”
Dimas tidak menjawab.
Bu Ratna memukul meja.
“Sudahlah! Mau siapa yang tanda tangan, toh masih keluarga sendiri!”
Aku menoleh kepadanya.
“Bu, kalau memang keluarga, seharusnya saya diajak bicara sebelum keputusan dibuat.”
“Dasar menantu perhitungan!”
Aku mengangguk pelan.
“Mungkin Ibu benar. Mulai sekarang saya memang harus lebih teliti menghitung uang saya sendiri.”
Pak Rudi meminta kami berbicara di ruang administrasi agar tidak mengganggu pengunjung lain.
Di sana, Dimas akhirnya mengakui bahwa dialah yang mengisi formulir menggunakan data pribadiku.
Dia berdalih sudah mendapat persetujuan Nadira.
Aku menoleh kepada istriku.
“Benar?”
Nadira menunduk.
“Aku cuma bilang mungkin Mas mau membantu.”
“Mungkin bukan berarti setuju.”
Air matanya mulai jatuh.
Pak Rudi menjelaskan bahwa restoran tetap membutuhkan pembayaran dari pihak yang benar-benar melakukan pemesanan. Ia juga menyatakan bahwa dokumen yang dipersoalkan akan disimpan untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Dimas akhirnya menghubungi rekannya untuk meminjam uang.
Setelah beberapa kali menelepon, dia berhasil mengatur pembayaran melalui transfer dari rekening usahanya.
Aku tidak merasa puas melihatnya kesulitan.
Aku hanya merasa lega karena untuk pertama kalinya, aku tidak harus menanggung akibat keputusan orang lain.
Namun, ketika hendak pulang, Pak Rudi memanggilku kembali.
“Pak Arga, ada sesuatu yang mungkin perlu Bapak periksa.”
Beliau menunjukkan pesan dari Dimas yang dikirim tiga hari sebelumnya.
Dalam pesan itu, Dimas meminta agar restoran menerima fotokopi KTP dan tanda tanganku karena aku disebut sedang bertugas di luar kota.
Di bawah pesan tersebut terdapat kalimat yang membuat tengkukku dingin.
“Gunakan data yang sama seperti pengajuan pembiayaan sebelumnya. Semua sudah disetujui Arga.”
Aku menatap Pak Rudi.
“Pembiayaan apa?”
“Saya tidak tahu, Pak. Saya kira Bapak memahami maksudnya.”
Aku langsung menoleh kepada Nadira.
Wajah istriku mendadak pucat.
Di perjalanan pulang, aku tidak banyak bicara.
Nadira duduk di kursi penumpang, sesekali menyeka air mata.
Akhirnya aku bertanya.
“Nadira, pembiayaan apa yang dimaksud Dimas?”
Dia menggenggam tasnya semakin erat.
“Mas, aku takut kamu marah.”
“Jawab saja.”
“Kak Dimas pernah meminta bantuan untuk mengajukan kredit kendaraan operasional.”
“Atas nama siapa?”
Nadira tidak menjawab.
Aku menepikan mobil di tempat yang aman.
“Atas nama siapa, Nad?”
“Atas nama Mas.”
Aku memandangnya tidak percaya.
“Berapa nilainya?”
“Seratus delapan puluh juta.”
Rasanya seluruh udara di dalam mobil mendadak habis.
“Kapan?”
“Empat bulan lalu.”
Aku menatap jalanan di depan.
Empat bulan.
Selama empat bulan, namaku telah digunakan dalam pengajuan pembiayaan tanpa sepengetahuanku.
“Siapa yang menandatangani?”
Nadira mulai menangis lebih keras.
“Kak Dimas bilang semuanya hanya untuk melengkapi berkas. Dia janji akan membayar cicilannya sendiri.”
Aku memejamkan mata.
“Dan kamu percaya begitu saja?”
“Aku tidak tahu kalau akan jadi masalah sebesar ini.”
“Masalahnya bukan hanya uang, Nadira. Kamu menyerahkan identitasku kepada orang lain tanpa persetujuanku.”
Dia terisak.
“Aku minta maaf.”
Aku tidak menjawab.
Malam itu, aku meminta Nadira menyerahkan seluruh salinan dokumen yang masih disimpannya.
Kemudian aku menghubungi seorang teman lama bernama Fajar yang bekerja sebagai konsultan keuangan.
Keesokan paginya, dengan bantuannya, aku memeriksa riwayat informasi debitur melalui layanan resmi yang tersedia.
Hasilnya membuatku terdiam.
Ada fasilitas pembiayaan kendaraan yang tercatat atas namaku.
Pembayaran tiga bulan pertama lancar.
Namun, cicilan bulan keempat sudah terlambat.
Aku segera menghubungi perusahaan pembiayaan dan meminta penjelasan mengenai dokumen pengajuan serta prosedur verifikasi yang mereka lakukan.
Karena ada dugaan penyalahgunaan identitas, aku juga berkonsultasi dengan pengacara sebelum membuat laporan resmi.
Dua hari kemudian, aku menerima salinan dokumen yang diminta.
Di sana tercantum tanda tangan palsu.
Fotokopi KTP-ku.
Dan nomor telepon yang digunakan untuk verifikasi.
Nomor itu bukan milikku.
Melainkan nomor Nadira.
Aku meletakkan dokumen di meja makan.
“Nad, duduk sebentar.”
Istriku datang dengan wajah gelisah.
Aku menunjukkan halaman tersebut.
“Kamu menerima panggilan verifikasi?”
Dia mengangguk perlahan.
“Aku bilang Mas sedang bekerja.”
“Lalu?”
“Mereka bertanya apakah pengajuan itu benar. Aku bilang benar.”
Aku menatapnya lama.
“Berarti kamu bukan cuma memberikan KTP-ku. Kamu juga membantu mereka meyakinkan perusahaan pembiayaan bahwa aku sudah setuju.”
Nadira menangis.
“Aku takut Kak Dimas bangkrut. Ibu terus memaksaku membantu.”
“Dan kamu memilih menyelamatkan kakakmu dengan mempertaruhkan masa depanku?”
Dia tidak mampu menjawab.
Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun pernikahan, aku merasa tidak mengenal perempuan yang duduk di hadapanku.
Aku mencintai Nadira.
Aku tahu dia tumbuh dalam keluarga yang selalu menuntut anak-anaknya mematuhi Bu Ratna.
Tetapi rasa takut kepada ibunya tidak bisa dijadikan alasan untuk mengkhianati kepercayaanku.
“Aku butuh waktu sendiri,” kataku.
Nadira mengangkat kepala.
“Mas mau pergi?”
“Untuk sementara, iya.”
Aku membawa beberapa pakaian dan tinggal di rumah kontrakan kecil milik temanku.
Selama dua minggu berikutnya, aku fokus mengurus persoalan pembiayaan.
Dimas sempat mendatangiku.
Dia menawarkan janji akan melunasi seluruh cicilan.
Namun, aku meminta semuanya dibuat tertulis dan ditangani melalui jalur resmi.
“Aku tidak mau lagi hanya menerima janji, Kak.”
Dimas terlihat tersinggung.
“Kamu tega mempermalukan keluarga sendiri?”
Aku menatapnya.
“Yang membuat keluarga malu bukan orang yang meminta pertanggungjawaban, melainkan orang yang menggunakan identitas orang lain tanpa izin.”
Dia pergi tanpa menjawab.
Sebulan kemudian, persoalan pembiayaan mulai menemukan jalan penyelesaian melalui proses yang melibatkan perusahaan pembiayaan, pendamping hukum, dan Dimas sebagai pihak yang menggunakan kendaraan tersebut.
Aku tetap mengikuti prosesnya sampai status kewajibanku benar-benar jelas.
Sementara itu, Nadira beberapa kali mengirim pesan.
Awalnya dia memintaku pulang.
Kemudian dia meminta maaf.
Namun, pesan terakhirnya berbeda.
“Mas, aku sudah bicara dengan Ibu. Aku bilang aku tidak akan lagi menyerahkan uang atau dokumen kita tanpa persetujuanmu. Ibu marah dan menyuruhku memilih antara keluarga dan suami.”
Aku membaca pesan itu lama.
Beberapa menit kemudian, pesan lain masuk.
“Aku bilang aku tidak mau memilih dengan cara seperti itu. Aku tetap anak Ibu, tapi aku juga harus bertanggung jawab atas kesalahanku sebagai istri.”
Untuk pertama kalinya, Nadira tidak meminta aku mengalah.
Dia mulai memahami bahwa menghormati keluarga tidak berarti membiarkan mereka mengatur hidup orang lain.
Kami akhirnya bertemu di sebuah kedai kopi di Surabaya.
Nadira datang tanpa perhiasan dan tanpa riasan berlebihan.
Dia tampak lelah.
“Aku sudah membuat janji konsultasi pernikahan,” katanya.
Aku terkejut.
“Untuk apa?”
“Karena aku sadar meminta maaf saja tidak cukup. Aku harus belajar membuat batasan dengan keluargaku. Kalau Mas masih bersedia, aku ingin memperbaiki semuanya.”
Aku menatap perempuan yang pernah kucintai dengan sepenuh hati.
“Aku belum tahu apakah bisa mempercayaimu lagi.”
Dia mengangguk.
“Aku mengerti.”
Kami tidak langsung kembali tinggal bersama.
Kepercayaan yang rusak tidak bisa diperbaiki hanya dengan satu percakapan.
Namun, kami sepakat menjalani konseling dan menyelesaikan seluruh persoalan keuangan secara terbuka sebelum menentukan masa depan pernikahan kami.
Tiga bulan setelah pesta ulang tahun Bu Ratna, aku menerima sebuah paket kecil.
Pengirimnya ibu mertuaku.
Aku membukanya dengan hati-hati.
Di dalamnya terdapat gelang emas yang dulu kubeli sebagai hadiah ulang tahunnya.
Ada pula secarik kertas.
“Arga, Ibu mengembalikan gelang ini. Ibu tidak tahu apakah kamu masih mau menganggap Ibu sebagai keluarga. Tetapi sekarang Ibu mengerti bahwa hadiah tidak memberi Ibu hak untuk merendahkan pemberinya.”
Aku membaca tulisan itu dua kali.
Kemudian ponselku berdering.
Bu Ratna.
Aku mengangkatnya.
“Assalamualaikum, Ga.”
“Waalaikumsalam, Bu.”
Suara beliau terdengar pelan.
“Ibu ingin meminta maaf.”
Aku terdiam.
“Bukan karena masalah tagihan restoran saja,” lanjutnya. “Tapi karena selama ini Ibu selalu menganggap pekerjaanmu rendah, padahal kamu yang paling sering membantu ketika keluarga sedang kesulitan.”
Aku memandang gelang emas di meja.
“Terima kasih sudah mengatakan itu, Bu.”
“Ibu tidak meminta kamu langsung memaafkan semuanya.”
Aku mengembuskan napas.
“Memang perlu waktu, Bu.”
“Iya. Ibu mengerti.”
Setelah telepon berakhir, aku duduk lama di ruang tamu.
Aku teringat hari ketika Nadira melarangku menghadiri pesta itu.
Kemeja batik yang sudah kusetrika.
Sepatu yang sudah kupoles.
Dan dua kilogram kepiting yang akhirnya kumakan sendirian.
Aku tersenyum kecil.
Dulu aku mengira menjadi menantu yang baik berarti selalu memberi, selalu mengalah, dan tidak pernah mengatakan tidak.
Ternyata aku salah.
Keluarga yang sehat bukan keluarga yang tidak pernah bertengkar.
Melainkan keluarga yang tahu bahwa kasih sayang tidak boleh dijadikan alasan untuk mengambil hak orang lain.
Sore itu, aku menelepon Nadira.
“Besok kamu libur?”
“Iya, Mas. Kenapa?”
“Aku mau masak kepiting lagi. Kalau kamu mau, datanglah.”
Dia terdiam beberapa detik.
“Mas… aku boleh datang?”
“Boleh. Tapi kali ini kita makan berdua. Tidak ada tagihan untuk keluarga besar.”
Nadira tertawa kecil di sela tangisnya.
Dan untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, aku ikut tertawa.
Aku belum tahu bagaimana akhir pernikahan kami.
Namun, setidaknya sekarang aku tahu satu hal.
Aku tidak perlu membeli tempat di dalam sebuah keluarga dengan uang, hadiah, atau pengorbanan yang tidak ada habisnya.
Orang yang benar-benar menganggapku keluarga akan tetap menghormatiku, bahkan ketika aku berkata tidak.
