
“MAS, KITA HARUS PULANG SEKARANG! JANGAN SAMPAI IBU ATAU MELANI MENYENTUH BAGAS!”
Suaraku bergetar ketika menarik lengan Reno keluar dari kantor biro jasa.
Reno langsung menghubungi tetangga kami, Bu Ratna, yang sedang membantu menjaga kedua bayi selama kami pergi.
“Bu, tolong kunci pintu rumah. Jangan izinkan siapa pun masuk sebelum kami pulang.”
Suara Bu Ratna terdengar cemas.
“Ada apa, Reno?”
“Nanti saya jelaskan. Yang penting Bagas dan Livia jangan diserahkan kepada siapa pun.”
Kami tiba di rumah dua puluh menit kemudian.
Aku langsung berlari menuju kamar.
Bagas masih tertidur di ranjang bayinya. Livia berada di sebelahnya, sesekali menggerakkan tangan kecilnya.
Aku memeluk keduanya sambil menangis.
Reno berdiri di ambang pintu dengan wajah pucat.
“Maafkan aku, Nad. Aku tidak menyangka keluargaku bisa melakukan ini.”
Aku menatapnya.
“Mas, kita belum tahu siapa yang sebenarnya merencanakan semuanya. Tapi satu hal pasti, tidak seorang pun boleh membawa anak kita tanpa persetujuan kita.”
Reno mengangguk.
Malam itu, kami menghubungi polisi dan menjelaskan dugaan penggunaan dokumen palsu serta rencana membawa bayi kami menggunakan identitas lain.
Kami menyerahkan salinan surat pengasuhan, foto gelang, dan dokumen perjalanan yang diperoleh dari biro jasa.
Petugas menyarankan agar kami tidak menyerahkan anak kepada pihak mana pun dan segera mengajukan laporan resmi.
Namun, ketika hampir tengah malam, sebuah pesan masuk dari nomor Bu Sari.
“Reno, besok pukul enam Mama jemput Bagas. Jangan membuat semuanya sulit.”
Reno langsung menelepon ibunya.
Bu Sari mengangkat setelah dering kedua.
“Kenapa belum tidur, Nak?”
“Ma, siapa Arya Wibowo?”
Sambungan mendadak sunyi.
Kemudian Bu Sari menjawab, “Mama sudah bilang, itu kesalahan ukir.”
“Kalau begitu, kenapa ada tiket pesawat atas nama Arya Wibowo dengan foto anakku?”
Bu Sari tidak menjawab.
Reno melanjutkan dengan suara bergetar.
“Ma, apakah Mama dan Mas Taufik berencana membawa Bagas ke Banjarmasin?”
Terdengar suara tangisan pelan.
Kemudian Bu Sari berkata sesuatu yang membuatku membeku.
“Reno, kakakmu sudah menunggu anak itu selama sebelas tahun.”
Aku langsung merebut ponsel dari tangan Reno.
“Bu, Bagas bukan barang yang bisa diberikan karena seseorang sudah lama menginginkannya!”
Bu Sari mulai menangis.
“Nadia, kamu sudah punya dua anak. Melani tidak punya siapa-siapa.”
Dadaku terasa sesak.
“Jadi karena aku melahirkan anak kembar, Ibu merasa berhak mengambil salah satunya?”
“Nadia, kalian masih muda. Kalian bisa punya anak lagi.”
Aku hampir tidak percaya dengan kalimat tersebut.
“Bu, Bagas dan Livia bukan dua barang yang bisa dibagi supaya semua orang kebagian!”
Bu Sari terdiam.
Aku melanjutkan dengan tegas.
“Besok tidak ada siapa pun yang menjemput Bagas. Kami sudah melaporkan dokumen itu.”
Telepon langsung terputus.
Keesokan paginya, tepat pukul 05.40, sebuah mobil putih berhenti di depan rumah.
Aku sedang menyusui Livia ketika kamera pengawas mengirimkan notifikasi.
Taufik turun dari mobil bersama Melani.
Bu Sari menyusul dari kursi belakang.
Reno keluar menemui mereka di teras.
Aku memperhatikan semuanya melalui kamera.
“Mas, kenapa datang sepagi ini?” tanya Reno.
Taufik menjawab dengan wajah tegang.
“Kami mau menjemput Bagas.”
“Tidak akan ada yang membawa anakku.”
Melani langsung menangis.
“Reno, tolong. Semuanya sudah disiapkan.”
Reno menatap kakak iparnya.
“Apa yang sudah disiapkan?”
Melani mengeluarkan sebuah amplop.
“Rumah di Banjarmasin. Kamar bayi. Semua perlengkapan.”
Aku yang mendengar percakapan itu langsung merasa mual.
Mereka bahkan sudah menyiapkan kamar untuk anakku, seolah Bagas memang akan tinggal bersama mereka.
Taufik kemudian mengatakan sesuatu yang membuat Reno terdiam.
“Kalau Bagas tidak ikut, kami bisa kehilangan kesempatan menerima warisan Kakek.”
Aku langsung membuka pintu.
“Warisan apa?”
Taufik terlihat terkejut melihatku.
Bu Sari langsung menunduk.
Aku menatap mereka satu per satu.
“Jadi ini bukan cuma karena Melani ingin punya anak?”
Tidak ada jawaban.
Reno menghampiri kakaknya.
“Mas, jelaskan sekarang.”
Akhirnya Taufik mengaku bahwa ayah Melani telah meninggalkan sebuah rumah besar dan sejumlah aset di Banjarmasin.
Dalam pengaturan warisan keluarga tersebut, sebagian aset diperuntukkan bagi keturunan Melani.
Namun, setelah bertahun-tahun belum memiliki anak, Taufik dan Melani mulai khawatir mengenai siapa yang kelak akan menerima aset itu.
“Ayah Melani sudah lama ingin punya cucu,” kata Taufik.
Aku menatapnya tidak percaya.
“Jadi kalian ingin menjadikan Bagas anak kalian supaya bisa menguasai warisan?”
Melani langsung menggeleng.
“Bukan begitu! Aku benar-benar ingin menjadi ibu!”
Aku menatapnya.
“Kalau kamu mencintai Bagas, kenapa kamu ingin memisahkannya dari ibu dan saudara kembarnya?”
Melani menangis semakin keras.
Namun, Taufik justru membentak.
“Kalian tidak mengerti! Kami sudah mengeluarkan banyak uang untuk mengurus semuanya!”
Reno mengepalkan tangan.
“Mas, kamu sedang membicarakan anakku.”
Suasana menjadi semakin tegang.
Aku segera meminta mereka meninggalkan halaman rumah.
Ketika petugas yang sebelumnya kami hubungi datang untuk menindaklanjuti laporan, Taufik akhirnya mundur.
Namun, sebelum pergi, Bu Sari menatapku dengan mata berkaca-kaca.
“Nadia, Mama cuma ingin semua anak Mama bahagia.”
Aku menggeleng.
“Dengan membuat salah satu cucu Mama kehilangan keluarganya?”
Bu Sari tidak mampu menjawab.
Siang harinya, kami kembali memberikan keterangan mengenai dokumen pengasuhan dan rencana perjalanan tersebut.
Melalui pemeriksaan awal, diketahui bahwa berkas yang diajukan ke biro jasa belum diproses menjadi dokumen kependudukan resmi.
Tanda tangan yang menyerupai milikku juga belum pernah diverifikasi secara sah.
Namun, seseorang telah menggunakan salinan identitasku dan Reno tanpa izin.
Ketika dimintai penjelasan, Taufik mengakui bahwa dialah yang meminta biro jasa menyiapkan berkas.
Dia mengatakan Bu Sari memberikan fotokopi dokumen keluarga.
Sementara Melani menyiapkan foto Bagas dan nama Arya Wibowo.
Aku menangis ketika mendengar semuanya.
Mereka telah merencanakannya bersama.
Bukan karena salah paham.
Bukan karena kesalahan pengrajin.
Melainkan karena menganggap anakku dapat dipindahkan ke keluarga lain tanpa persetujuan orang tuanya.
Namun, kejutan terbesar datang tiga hari kemudian.
Seorang pengacara dari Banjarmasin menghubungi Reno.
Dia memperkenalkan diri sebagai Pak Damar, kuasa hukum keluarga ayah Melani.
“Saya ingin memastikan apakah benar Bapak dan Ibu pernah menyetujui penyerahan pengasuhan Bagas kepada keluarga Taufik.”
Reno langsung menjawab.
“Tidak pernah.”
Pak Damar terdiam.
Kemudian berkata, “Kalau begitu, ada informasi penting yang perlu Bapak dan Ibu ketahui.”
Ternyata ayah Melani telah mengetahui rencana tersebut.
Beliau bukan sedang menuntut agar Taufik dan Melani segera memiliki anak demi mendapatkan warisan.
Justru sebaliknya.
Dalam surat wasiat yang dibuat beberapa tahun sebelumnya, dia menegaskan bahwa pembagian aset tidak boleh dijadikan alasan untuk memaksa atau memperalat anak mana pun.
Namun, Taufik pernah menunjukkan sebuah rancangan pengaturan keluarga yang menyatakan bahwa mereka akan segera menjadi orang tua angkat seorang bayi.
Nama bayi itu sudah tercantum.
Arya Wibowo.
Aku langsung membeku.
“Jadi mereka sudah memberitahukan kepada keluarga di Banjarmasin bahwa Bagas akan menjadi anak mereka?”
Pak Damar menjawab pelan.
“Benar. Tetapi ketika diminta menunjukkan persetujuan orang tua kandung, mereka tidak bisa memberikannya.”
Aku menutup wajah.
Ternyata ada orang lain yang sejak awal mulai mencurigai rencana tersebut.
Pak Damar melanjutkan.
“Ayah Bu Melani meminta saya memeriksa seluruh dokumen karena beliau khawatir ada pihak yang sedang dipaksa menyerahkan anaknya.”
Untuk pertama kalinya sejak kejadian itu, aku merasa sedikit lega.
Setidaknya tidak semua orang menganggap seorang bayi dapat dijadikan alat untuk memenuhi keinginan orang dewasa.
Beberapa minggu kemudian, Taufik dan Melani kembali menemui kami.
Kali ini mereka datang bersama seorang pendamping keluarga.
Melani terlihat jauh lebih kurus.
Dia duduk di hadapanku dengan kedua tangan gemetar.
“Nadia, aku ingin meminta maaf.”
Aku tidak langsung menjawab.
Dia melanjutkan sambil menangis.
“Sebelas tahun aku menunggu punya anak. Setiap kali ada saudara melahirkan, aku ikut bahagia, tapi setelah pulang aku selalu menangis sendirian.”
Aku menatapnya.
“Aku mengerti kamu sedih, Mbak.”
Melani mengangkat wajah.
“Tapi kesedihan itu tidak memberiku hak mengambil anakmu.”
Aku mengangguk perlahan.
“Benar.”
Taufik kemudian menunduk.
“Aku yang pertama kali mengusulkan rencana itu. Aku pikir kalau Nadia punya anak kembar, mungkin salah satunya bisa kami besarkan.”
Reno menatap kakaknya dengan kecewa.
“Mas seharusnya bertanya, bukan menyiapkan identitas baru.”
Taufik mengangguk.
“Aku tahu sekarang.”
Namun, permintaan maaf tidak membuat kami langsung kembali percaya.
Aku dan Reno menetapkan batas yang jelas.
Tidak ada siapa pun yang boleh membawa Bagas atau Livia tanpa persetujuan kami.
Dokumen pribadi anak-anak harus disimpan dengan aman.
Dan seluruh persoalan mengenai penggunaan identitas serta surat pengasuhan palsu tetap harus diselesaikan melalui proses yang berlaku.
Bu Sari menangis ketika mendengar keputusan itu.
Namun, kali ini Reno tidak mengalah.
“Ma, kami menyayangi Mama. Tapi tugas kami sebagai orang tua adalah melindungi anak-anak kami.”
Bu Sari menunduk.
“Mama mengerti.”
Aku tidak tahu apakah beliau benar-benar sudah memahami kesalahannya.
Namun, aku memilih menilai dari tindakan, bukan sekadar kata-kata.
Enam bulan kemudian, Bagas dan Livia mulai belajar duduk sendiri.
Keduanya tumbuh sehat dan semakin aktif.
Bagas suka tertawa ketika Reno membuat suara lucu.
Sementara Livia selalu berusaha meraih mainan yang dipegang kakaknya.
Suatu sore, aku duduk di ruang keluarga sambil memperhatikan mereka bermain.
Reno datang membawa dua gelang kecil.
Aku langsung menegang.
“Mas, itu apa?”
Dia tersenyum.
“Tenang. Ini bukan dari Mama.”
Aku mengambil salah satunya.
Di bagian dalam tertulis Bagas Mahendra.
Gelang kedua bertuliskan Livia Mahendra.
Aku menatap Reno.
“Kenapa tiba-tiba membeli gelang?”
Dia duduk di sampingku.
“Karena aku ingin mengganti kenangan buruk itu dengan sesuatu yang baik.”
Aku tersenyum kecil.
Namun, Reno kemudian mengeluarkan sebuah kotak kayu.
Di dalamnya terdapat gelang lama bertuliskan Arya Wibowo yang telah dikembalikan sebagai bagian dari barang yang sebelumnya diperiksa.
Aku langsung terdiam.
“Mas, kenapa masih menyimpannya?”
Reno menatap kedua anak kami.
“Karena aku ingin mengingat bahwa menjadi ayah bukan cuma soal mencari nafkah.”
Aku menggenggam tangannya.
Dia melanjutkan.
“Kadang kita harus berani mengatakan tidak, bahkan kepada keluarga sendiri.”
Air mataku jatuh.
Aku menatap Bagas yang sedang tertawa sambil memegang kaki kecil Livia.
Empat puluh tujuh hari setelah melahirkan, aku hampir kehilangan rasa aman karena orang-orang terdekat justru mencoba memisahkan kedua anakku.
Namun, kejadian itu mengajarkanku sesuatu yang tidak akan pernah kulupakan.
Keinginan seseorang untuk memiliki anak, sebesar apa pun, tidak boleh menghilangkan hak anak untuk tetap bersama keluarga yang mencintai dan melindunginya.
Aku kemudian mengambil kedua gelang baru tersebut dan menyimpannya di laci.
Bagas dan Livia masih terlalu kecil untuk memahami apa yang pernah terjadi.
Kelak, ketika mereka tumbuh dewasa, mungkin aku akan menceritakan semuanya.
Bukan agar mereka membenci nenek, paman, atau bibinya.
Melainkan agar mereka memahami bahwa cinta sejati tidak pernah dibangun dengan merampas kebahagiaan orang lain.
Aku memeluk kedua bayiku erat-erat.
Dan untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, aku tidak lagi merasa takut ketika mendengar suara mobil berhenti di depan rumah.
Karena kini aku tahu bahwa rumah kami bukan tempat siapa pun bisa datang dan mengambil seorang anak hanya karena merasa lebih berhak memilikinya.
Rumah ini adalah tempat Bagas dan Livia akan tumbuh bersama.
Sebagai saudara kembar.
Sebagai anak-anak kami.
Dan sebagai dua kehidupan kecil yang tidak akan pernah kami perlakukan sebagai sesuatu yang bisa dibagi, ditukar, atau diberikan untuk menyelesaikan kesedihan orang dewasa.
