Ibu Sarah memegang mikrofon dan mulai berbicara dengan nada suara yang sangat sombong.
“Hadirin sekalian, malam ini adalah malam yang sangat istimewa bagi keluarga kami. Adrian akhirnya menemukan seseorang yang dia yakini pantas menjadi pendamping hidupnya.”
Beberapa tamu bertepuk tangan.
Saya tersenyum tipis di samping Adrian, sementara mata saya tidak pernah lepas dari gelas di tangan Ibu Sarah.
Gelas yang beberapa menit lalu seharusnya menjadi milik saya.

Gelas yang sudah ditetesi cairan misterius olehnya sendiri.
Ibu Sarah menoleh kepada saya.
“Kirana mungkin tidak berasal dari lingkungan kita. Dia membangun hidupnya dari bawah. Saya berharap setelah menjadi bagian keluarga ini, dia mampu menyesuaikan diri dan menjaga nama baik keluarga.”
Kalimatnya terdengar seperti pujian, tetapi saya tahu itu adalah penghinaan yang dibungkus sutra.
Adrian menggenggam tangan saya.
“Bu, malam ini bukan waktunya membicarakan latar belakang Kirana.”
Ibu Sarah tertawa kecil.
“Tentu saja. Ibu hanya ingin menyambut istrimu.”
Kemudian dia mengangkat gelas.
“Untuk Adrian dan Kirana.”
Ratusan tamu ikut mengangkat gelas mereka.
Saya melihat bibir Ibu Sarah menyentuh tepi gelas.
Dia meneguk sampanye itu sampai hampir setengahnya.
Saya ikut minum sedikit dari gelas yang aman.
Tatapan kami bertemu.
Ibu Sarah tersenyum puas.
Dia belum tahu.
Sepuluh menit pertama berlalu tanpa sesuatu yang aneh.
Saya bahkan mulai bertanya-tanya apakah dugaan saya salah.
Namun ketika seorang pengusaha senior menghampiri kami untuk memberikan ucapan selamat, tangan Ibu Sarah tiba-tiba menjatuhkan sendok kecil dari meja.
Wajahnya memucat.
“Bu, Anda baik-baik saja?” tanya Adrian.
“Baik.”
Jawabannya terlalu cepat.
Dia mengusap pelipis.
“Saya cuma sedikit pusing.”
Saya diam.
Lima menit kemudian, keadaan berubah.
Saat beberapa tamu sedang berbicara dengan kami, Ibu Sarah tiba-tiba tertawa keras tanpa alasan.
Semua orang menoleh.
Kemudian tawanya berhenti mendadak.
Dia menatap seorang wanita bergaun biru di dekat panggung dengan wajah penuh kemarahan.
“Kamu!”
Wanita itu terkejut.
“Saya, Bu Sarah?”
“Jangan pura-pura bodoh. Saya tahu kamu membicarakan saya di belakang!”
Ballroom perlahan menjadi sunyi.
Pak Surya, ayah Adrian, segera mendekatinya.
“Sarah, cukup. Kamu sedang tidak sehat.”
Tetapi Ibu Sarah menepis tangannya.
“Jangan sentuh saya!”
Beberapa tamu mulai berbisik.
Saya melihat keringat dingin memenuhi dahinya. Tatapannya tidak fokus dan tubuhnya mulai kehilangan keseimbangan.
Adrian langsung memanggil petugas medis hotel.
Namun sebelum mereka tiba, Ibu Sarah meraih mikrofon yang masih berada di meja.
“Semua orang di sini munafik!”
Ruangan membeku.
“Kalian datang karena bisnis. Karena uang. Karena ingin dekat dengan keluarga kami!”
“Bu!”
Adrian mencoba mengambil mikrofon.
Ibu Sarah mundur.
Kemudian matanya tertuju kepada saya.
Dan sesuatu yang lebih buruk terjadi.
“Itu semua gara-gara perempuan ini!”
Dia menunjuk saya.
“Kirana seharusnya minum obat itu!”
Saya membeku.
Begitu pula semua orang.
Adrian menatap ibunya.
“Apa maksud Ibu?”
Mungkin obat itu membuat kemampuan Ibu Sarah mengendalikan pikirannya menurun drastis.
Dia tertawa aneh.
“Gelas berpita merah. Saya sudah memasukkan obatnya. Dia seharusnya mempermalukan dirinya sendiri malam ini.”
Suara bisikan memenuhi ballroom.
Wajah Pak Surya berubah pucat.
Sementara Adrian seperti kehilangan kemampuan berbicara.
Saya tidak perlu mengatakan apa pun.
Ibu Sarah sendiri baru saja mengakui semuanya di depan ratusan saksi.
“Kenapa Ibu melakukan itu?” suara Adrian bergetar.
“Karena dia tidak pantas untukmu!”
Ibu Sarah menunjuk saya lagi.
“Seharusnya Tasya yang berdiri di sana. Bukan anak penjual bunga ini!”
Kali ini saya tidak mampu menahan diri.
“Saya bukan anak penjual bunga, Bu.”
Saya menatapnya lurus.
“Saya pemilik perusahaan bunga yang mempekerjakan lebih dari dua ratus orang. Dan bahkan kalau saya benar-benar hanya seorang penjual bunga kecil di pinggir jalan, itu tetap tidak memberi Ibu hak untuk meracuni minuman saya.”
Para petugas medis akhirnya tiba.
Mereka mencoba membawa Ibu Sarah keluar.
Tetapi sebelum pergi, dia berteriak kepada seorang perempuan bernama Mira, asistennya.
“Mira, bilang kepada mereka! Kamu yang membeli obat itu!”
Mira langsung pucat.
Dia mundur beberapa langkah.
“Saya tidak tahu apa-apa.”
“Kamu yang membelinya!”
Kamera para tamu dan beberapa wartawan yang diundang ke resepsi sudah mengarah kepada mereka.
Mira melihat sekeliling.
Kemudian dia melakukan sesuatu yang tidak pernah diduga Ibu Sarah.
“Saya punya bukti.”
Ibu Sarah terdiam.
Mira membuka ponselnya.
“Saya menyimpan percakapan kami karena sejak awal saya takut akan dijadikan kambing hitam.”
“Mira!”
“Saya disuruh membeli obat yang bisa menyebabkan kebingungan, disorientasi, dan perubahan perilaku sementara. Saya menolak awalnya, tapi Ibu Sarah mengancam akan memecat saya.”
Wajah Adrian berubah.
“Berikan ponselnya kepada saya.”
Mira menyerahkannya.
Saya berdiri di samping Adrian ketika dia membaca pesan demi pesan.
Pesan itu jelas.
Ibu Sarah meminta Mira mendapatkan zat tersebut beberapa hari sebelum pernikahan.
Bahkan ada kalimat yang membuat darah saya terasa dingin.
Pastikan dosisnya cukup untuk membuat Kirana kehilangan kendali di depan tamu, tetapi jangan sampai membahayakan nyawanya.
Adrian memejamkan mata.
Selama mengenalnya, saya belum pernah melihat wajahnya sehancur itu.
“Kenapa, Bu?”
Ibu Sarah tidak menjawab lagi.
Tubuhnya melemah dan petugas medis segera membawanya ke klinik hotel sebelum kemudian dirujuk ke rumah sakit.
Resepsi berakhir jauh lebih cepat dari rencana.
Saya duduk sendirian di ruang pengantin ketika Adrian masuk.
Dia menutup pintu.
“Kirana.”
Saya tidak menjawab.
“Aku minta maaf.”
“Kamu tidak melakukannya.”
“Tapi dia ibuku.”
Saya menatap Adrian.
“Justru karena dia ibumu, kamu harus menentukan batasnya.”
Adrian duduk di hadapan saya.
Matanya merah.
“Aku akan melaporkannya.”
Saya terkejut.
“Adrian.”
“Aku tidak bisa berpura-pura ini hanya masalah keluarga. Kalau kamu tidak melihatnya dari cermin malam ini, kamu yang akan meminum gelas itu.”
Saya terdiam.
Adrian menggenggam kedua tangan saya.
“Aku mencintai ibuku. Tapi mencintai seseorang bukan berarti membenarkan semua perbuatannya.”
Malam itu seharusnya menjadi malam pertama pernikahan kami.
Sebaliknya, kami menghabiskannya di kantor polisi dan rumah sakit.
Hasil pemeriksaan medis memastikan ada zat tertentu di tubuh Ibu Sarah yang dapat memengaruhi kesadaran dan perilaku. Gelas yang digunakan juga diamankan untuk pemeriksaan.
Namun kehancuran sebenarnya baru dimulai keesokan paginya.
Video pengakuan Ibu Sarah tersebar luas.
Berbagai media memberitakan kejadian tersebut.
Tetapi saya meminta tim perusahaan saya tidak memberikan komentar apa pun.
Saya tidak ingin membangun kemenangan dari kehancuran orang lain.
Tiga hari kemudian, Tasya datang menemui saya.
Saya hampir menolak bertemu dengannya.
Namun ketika melihat wajahnya, saya berubah pikiran.
“Aku perlu memberitahumu sesuatu,” katanya.
Kami duduk di sebuah kafe kecil jauh dari pusat kota.
Tasya meletakkan sebuah map di atas meja.
“Ibu Sarah bukan hanya ingin mempermalukanmu.”
Saya mengerutkan kening.
“Maksudmu?”
“Dia ingin memaksa Adrian membatalkan pernikahan setelah kejadian itu. Kemudian dia berencana menggunakan rekaman saat kamu kehilangan kendali untuk menyatakan bahwa kamu memiliki masalah psikologis.”
Saya menatapnya tidak percaya.
“Dari mana kamu tahu?”
“Karena dia menawarkan rencana itu kepadaku.”
Tasya menundukkan kepala.
“Dia berjanji kalau pernikahan kalian gagal, aku akan menjadi orang berikutnya yang dinikahkan dengan Adrian.”
“Dan kamu setuju?”
“Awalnya aku diam.”
Matanya berkaca-kaca.
“Itu kesalahan terbesar saya.”
Tasya kemudian menggeser map tersebut.
Di dalamnya terdapat salinan dokumen dan percakapan.
Namun satu dokumen menarik perhatian saya.
Dokumen transaksi kepemilikan saham hotel.
Saya membaca nama perusahaan pembeli.
Jantung saya berhenti sesaat.
Itu adalah perusahaan investasi yang saya kenal.
Perusahaan milik Pak Surya.
“Apa hubungannya ini?”
Tasya menarik napas panjang.
“Ibu Sarah memiliki utang investasi yang sangat besar.”
Saya menatapnya.
“Selama dua tahun terakhir, dia menggunakan aset keluarga sebagai jaminan untuk investasi pribadi tanpa sepengetahuan suami dan Adrian.”
Saya mulai memahami semuanya.
Pernikahan Adrian dengan Tasya bukan hanya masalah status sosial.
Keluarga Tasya memiliki perusahaan keuangan besar.
“Ibu Sarah berharap ayahku akan membantu menutup kerugiannya kalau aku menikah dengan Adrian,” lanjut Tasya.
“Jadi saya bukan sekadar menantu yang tidak dia sukai.”
“Tidak.”
Tasya menatap saya.
“Kamu adalah penghalang terakhir antara dia dan penyelamatan keuangannya.”
Seminggu kemudian, Pak Surya mengadakan rapat keluarga.
Saya datang bersama Adrian.
Ibu Sarah sudah keluar dari rumah sakit. Wajahnya tampak jauh lebih tua dibandingkan malam pernikahan kami.
Tidak ada perhiasan mahal.
Tidak ada gaun mewah.
Tidak ada senyum angkuh.
Pak Surya meletakkan beberapa dokumen di meja.
“Saya sudah memeriksa semuanya.”
Ibu Sarah menunduk.
“Kerugian investasi, pinjaman tersembunyi, penggunaan aset perusahaan tanpa persetujuan.”
“Surya, aku bisa menjelaskan.”
“Sudah terlambat.”
Suaminya menggeleng.
“Selama ini saya pikir kamu hanya terlalu keras kepada Kirana karena takut kehilangan Adrian. Ternyata kamu hampir menghancurkan seluruh keluarga demi mempertahankan citra kehidupan sosialmu.”
Ibu Sarah menangis.
Kemudian dia menatap Adrian.
“Adrian, Ibu melakukan semua ini untukmu.”
Adrian berdiri.
“Jangan.”
Suaranya tenang, tetapi dingin.
“Jangan gunakan namaku untuk membenarkan keputusan Ibu.”
“Ibu ingin memberikan yang terbaik.”
“Yang terbaik menurut Ibu.”
Adrian menggenggam tangan saya.
“Saya memilih Kirana bukan karena hartanya atau keluarganya. Saya memilih dia karena ketika hidupnya sulit, dia membangun sesuatu. Ketika dihina, dia bekerja lebih keras. Dan ketika Ibu mencoba menghancurkannya, dia bahkan tidak menggunakan kesempatan itu untuk menghancurkan Ibu kembali.”
Air mata mengalir di pipi Ibu Sarah.
Saya mengira semuanya telah selesai.
Ternyata belum.
Pak Surya kemudian mendorong sebuah dokumen kepada saya.
“Kirana, ada sesuatu yang harus kamu ketahui.”
Saya membukanya.
Itu adalah laporan kepemilikan hotel tempat resepsi kami diselenggarakan.
Beberapa bulan sebelumnya, Pak Surya diam-diam melakukan restrukturisasi perusahaan karena mencurigai transaksi istrinya.
Sebagian saham hotel telah dialihkan ke perusahaan baru.
Dan Adrian memiliki kepemilikan terbesar di perusahaan tersebut.
“Saya sudah menyerahkan pengelolaan hotel kepada Adrian sebelum kalian menikah,” kata Pak Surya.
Saya masih bingung.
Kemudian Adrian tersenyum kecil.
“Dan dua hari sebelum pernikahan, aku memindahkan sebagian saham pribadiku kepadamu sebagai hadiah pernikahan.”
Saya menatapnya.
“Apa?”
“Dokumennya seharusnya kuberikan setelah resepsi.”
Pak Surya mengangguk.
“Secara tidak langsung, malam itu Sarah mencoba mempermalukan salah satu pemilik hotel di hotel miliknya sendiri.”
Ruangan menjadi hening.
Namun saya tidak merasa menang.
Melihat Ibu Sarah duduk dengan wajah hancur justru membuat saya memahami sesuatu.
Kesombongan bisa membuat seseorang begitu sibuk menentukan siapa yang pantas berdiri di sampingnya sampai dia tidak menyadari bahwa dirinya sendiri sedang berjalan menuju jurang.
Beberapa bulan kemudian, proses hukum terhadap Ibu Sarah tetap berjalan sesuai ketentuan. Pak Surya juga mengambil alih penyelesaian masalah keuangan keluarga.
Saya tidak pernah meminta Adrian memutus hubungan dengan ibunya.
Saya hanya meminta satu hal.
Batas.
Setahun kemudian, Ibu Sarah datang ke toko bunga pertama yang pernah saya bangun.
Bukan kantor pusat yang megah.
Bukan cabang terbesar.
Melainkan toko kecil tempat saya memulai semuanya.
Dia berdiri di depan pintu cukup lama sebelum akhirnya masuk.
“Kirana.”
Saya menoleh.
Untuk pertama kalinya, tidak ada kebencian di matanya.
Hanya rasa malu.
“Saya tidak meminta kamu melupakan apa yang saya lakukan.”
Saya diam mendengarkan.
“Saya cuma ingin meminta maaf.”
Dia melihat sekeliling toko.
“Dulu saya pikir tempat seperti ini adalah bukti bahwa kamu tidak pantas menjadi bagian keluarga kami.”
Tangannya menyentuh salah satu buket bunga.
“Sekarang saya baru mengerti bahwa tempat ini justru bukti kamu membangun hidupmu dengan tanganmu sendiri.”
Saya tidak langsung memaafkannya.
Beberapa luka tidak sembuh hanya karena satu permintaan maaf.
Tetapi saya menuangkan dua gelas teh dan meletakkan salah satunya di depannya.
Ibu Sarah menatap gelas itu.
Kemudian dia tertawa kecil dengan mata berkaca-kaca.
“Kamu tidak takut saya memasukkan sesuatu ke dalamnya?”
Saya menatapnya.
“Tidak.”
“Kenapa?”
Saya menukar posisi kedua gelas di depan kami.
“Karena sekarang kita sama-sama tahu akibatnya kalau salah memilih gelas.”
Untuk pertama kalinya, kami tertawa bersama.
Dan pada saat itulah saya memahami bahwa kemenangan terbesar malam pernikahan saya bukan ketika Ibu Sarah meminum obat yang dia siapkan untuk saya.
Bukan ketika rahasianya terbongkar.
Bukan pula ketika saya mengetahui bahwa saya memiliki sebagian hotel yang menjadi kebanggaannya.
Kemenangan terbesar saya adalah ketika saya memiliki kesempatan untuk menjadi sekejam dirinya, tetapi memilih untuk tidak melakukannya.
Karena terkadang kehancuran seseorang tidak dimulai ketika musuh membalas dendam.
Kehancuran itu dimulai ketika jebakan yang dia gali untuk orang lain akhirnya membuatnya melihat siapa dirinya sendiri.
