IBU MERTUAKU MENARUH OBAT RAHASIA KE DALAM GELASKU UNTUK MEMPERMALUKANKU DI DEPAN PARA MILIARDER, TAPI AKSIKU MENUKAR GELAS KAMI JUSTRU MENJADI AWAL KEHANCURANNYA!

“Hari ini adalah hari yang sangat istimewa bagi keluarga kami,” ujar Ibu Sarah sambil mengangkat gelasnya tinggi-tinggi.

Senyumnya begitu sempurna. Anggun, tenang, dan penuh wibawa. Tak seorang pun di ballroom itu akan menyangka bahwa beberapa menit sebelumnya, perempuan yang sama baru saja menuangkan cairan misterius ke dalam gelas menantunya sendiri.

Aku berdiri di samping Adrian dengan senyum tipis.

Tanganku menggenggam gelas yang aman, sementara mataku tak lepas dari gelas di tangan Ibu Sarah.

“Sebagai seorang ibu,” lanjutnya, “tentu saya selalu menginginkan yang terbaik untuk putra saya. Saya berharap perempuan yang mendampinginya mampu menjaga nama baik keluarga ini.”

Beberapa tamu mengangguk.

Aku tahu kalimat itu ditujukan kepadaku.

Ibu Sarah menoleh dan tersenyum.

“Kirana, selamat datang di keluarga kami.”

“Terima kasih, Bu.”

“Untuk Adrian dan Kirana!”

Para tamu serempak mengangkat gelas.

“Untuk Adrian dan Kirana!”

Aku hanya membasahi bibirku dengan sampanye.

Ibu Sarah berbeda.

Dia menatapku tepat di mata, lalu meneguk hampir setengah isi gelasnya sekaligus.

Jantungku berdegup keras.

Aku tidak tahu cairan apa yang dimasukkannya ke dalam gelasku. Karena itu, aku juga tidak tahu apa yang akan terjadi.

Lima menit berlalu.

Tidak terjadi apa-apa.

Aku mulai bertanya-tanya apakah dugaanku salah.

Mungkin cairan itu bukan obat.

Mungkin hanya sesuatu yang tidak berbahaya.

Namun sekitar sepuluh menit kemudian, aku melihat Ibu Sarah mengusap dahinya.

Dia menarik napas panjang.

Lalu membuka kipas kecil dari tasnya.

“Bu, Anda baik-baik saja?” tanya Adrian.

“Panas sekali di sini.”

Adrian mengerutkan kening. “AC-nya dingin.”

“Aku bilang panas!”

Nada suaranya mendadak meninggi.

Beberapa tamu di dekat kami menoleh.

Ibu Sarah tampak menyadarinya. Dia segera tersenyum.

“Maaf. Ibu hanya sedikit lelah.”

Tetapi beberapa menit kemudian, perilakunya semakin aneh.

Dia mulai berbicara terlalu keras.

Tertawa tanpa alasan.

Bahkan dua kali hampir kehilangan keseimbangan.

Ayah Adrian, Pak Surya, memegang lengannya.

“Sarah, duduklah.”

Ibu Sarah menarik tangannya kasar.

“Jangan sentuh aku!”

Ballroom mendadak lebih sunyi.

Aku melihat wajah Adrian berubah.

“Ibu?”

Namun Ibu Sarah malah menatapku.

Ekspresinya berubah menjadi marah.

“Kamu.”

Aku tidak menjawab.

Dia menunjukku.

“Kamu pikir setelah menikah dengan anakku, kamu akan mendapatkan semuanya?”

Para tamu mulai berbisik.

Aku merasakan tangan Adrian menggenggam tanganku.

“Bu, cukup.”

“Tidak!”

Ibu Sarah merebut mikrofon dari meja.

Suara dengung terdengar dari pengeras suara.

“Kalian semua harus tahu siapa perempuan ini!”

Aku membeku.

Inilah yang sebenarnya dia rencanakan untukku.

Seharusnya akulah yang berdiri sempoyongan di hadapan ratusan orang.

Seharusnya akulah yang berbicara tidak terkendali.

Seharusnya reputasiku yang hancur.

Namun sekarang jebakan itu berbalik kepada pembuatnya.

Ibu Sarah menunjukku sambil tertawa.

“Dia tidak pantas masuk keluarga kita! Tasya jauh lebih pantas!”

Wajah Tasya yang duduk bersama ibunya di meja VIP langsung pucat.

“Ibu!” bentak Adrian.

Tetapi Ibu Sarah tidak berhenti.

“Kenapa kamu selalu membela dia? Aku bahkan sudah menyiapkan semuanya malam ini supaya kamu akhirnya melihat sifat aslinya!”

Dadaku terasa sesak.

Ballroom seketika hening.

Adrian menatap ibunya.

“Apa maksud Ibu?”

Ibu Sarah berkedip beberapa kali.

Seolah sebagian kesadarannya masih berusaha menghentikan mulutnya.

Namun obat yang diminumnya membuat kontrol dirinya semakin lemah.

“Aku sudah memasukkan obat itu ke gelasnya.”

Suara napas terkejut terdengar dari berbagai arah.

Pak Surya berdiri.

“Apa?”

Ibu Sarah justru tertawa.

“Sedikit saja. Dia tidak akan mati. Aku bukan orang bodoh.”

Wajah Adrian kehilangan seluruh warnanya.

“Ibu memasukkan obat ke minuman Kirana?”

“Supaya dia kehilangan kendali! Setelah itu semua orang akan melihat bahwa dia tidak cocok dengan keluarga kita.”

Aku melihat beberapa tamu mulai mengangkat ponsel.

Aku langsung mengambil mikrofon dari tangan Ibu Sarah.

“Mohon jangan merekam.”

Suaraku gemetar, tetapi aku memaksakan diri tetap tenang.

“Beliau membutuhkan pertolongan medis.”

Adrian segera memanggil dokter hotel.

Ibu Sarah dibawa ke ruang medis dalam keadaan setengah sadar.

Resepsi dihentikan.

Di lorong belakang ballroom, Adrian menatapku.

“Kirana.”

Aku tahu pertanyaan yang ingin dia ajukan.

“Aku melihat semuanya,” kataku.

“Kamu tahu?”

Aku mengangguk.

“Dari pantulan cermin.”

“Lalu gelas itu…”

“Aku menukarnya.”

Adrian terdiam lama.

“Kamu membiarkan Ibu meminumnya?”

Nada suaranya membuat dadaku seperti ditusuk.

“Aku tidak tahu itu obat apa, Adrian. Aku hanya tahu ibumu sengaja memasukkannya ke gelasku.”

“Kamu bisa memberitahuku.”

“Aku takut tidak ada yang percaya.”

“Aku suamimu!”

“Dan dia ibumu!”

Suara kami menggema di lorong.

Aku menahan air mata.

“Selama dua tahun ibumu mengatakan aku perempuan miskin yang mengejar hartamu. Dia pernah menyuruh orang menyelidiki keluargaku. Dia mencoba membeli toko pertamaku lewat perusahaan lain supaya bisa menutupnya. Setiap kali aku bicara, kamu selalu bilang beri Ibu waktu.”

Adrian terdiam.

Aku menatapnya.

“Berapa lama lagi aku harus memberi waktu kepada seseorang yang malam ini memasukkan obat ke minumanku?”

Tak ada jawaban.

Dokter keluar beberapa menit kemudian.

Kondisi Ibu Sarah stabil. Zat yang diminumnya bukan racun mematikan, tetapi obat penenang kuat yang jika bercampur alkohol dapat menyebabkan kebingungan, gangguan koordinasi, dan penurunan kontrol perilaku.

Aku merasa lututku lemas.

Jika aku meminum seluruh gelas itu, aku bisa saja pingsan di depan ratusan orang.

Polisi kemudian datang.

Aku menceritakan semuanya.

Ibu Sarah yang mulai sadar langsung menyangkal.

“Itu fitnah!”

Dia menunjukku.

“Dia yang menaruh obat itu!”

Aku hampir tertawa karena tidak percaya.

Namun sebelum siapa pun menjawab, seorang pria berseragam keamanan hotel masuk.

“Pak Adrian, kami sudah memeriksa rekaman CCTV.”

Wajah Ibu Sarah berubah.

Ballroom memiliki kamera keamanan di beberapa sudut, termasuk kamera yang menghadap meja utama.

Rekamannya jelas.

Ibu Sarah terlihat mengeluarkan botol dari tas, membuka tutupnya, kemudian menuangkan cairan ke dalam salah satu gelas.

Setelah itu, kamera juga merekamku menukar kedua gelas.

Tak ada lagi yang bisa dibantah.

Namun kejutan terbesar justru datang setelah polisi meminta memeriksa tas Ibu Sarah.

Botol kecil itu masih ada di dalamnya.

Selain botol tersebut, mereka menemukan sebuah amplop.

Di dalam amplop terdapat salinan laporan medis atas namaku.

Aku terpaku.

“Apa ini?”

Adrian mengambil dokumen tersebut.

Isinya mencantumkan riwayat gangguan kejiwaan yang tidak pernah kumiliki.

Nama rumah sakit tercetak jelas.

Bahkan terdapat tanda tangan seorang dokter.

Namun nomor identitas pasien yang tercantum bukan milikku.

Adrian menatap ibunya.

“Ibu membuat dokumen palsu?”

Ibu Sarah diam.

Pak Surya yang sejak tadi tidak banyak bicara akhirnya berkata pelan, “Sarah, jawab.”

Tidak ada jawaban.

Keesokan harinya, penyelidikan berkembang jauh lebih besar.

Ternyata rencana Ibu Sarah bukan sekadar membuatku bertingkah memalukan.

Setelah aku kehilangan kendali akibat obat tersebut, seseorang yang sudah dia bayar akan merekam kejadian itu.

Kemudian laporan medis palsu akan bocor ke beberapa media gosip.

Narasinya sudah disiapkan.

Pengusaha toko bunga mengalami gangguan mental dan mengamuk dalam pesta pernikahan keluarga konglomerat.

Dia berharap tekanan publik membuat Adrian membatalkan pernikahan secara hukum secepat mungkin.

Namun ada sesuatu yang bahkan tidak diketahui Ibu Sarah.

Salah satu orang yang dia bayar telah merekam percakapan mereka.

Pria itu takut dijadikan kambing hitam, sehingga menyimpan seluruh bukti sebagai perlindungan.

Ketika polisi memanggilnya, dia menyerahkan semuanya.

Pesan.

Rekaman suara.

Bukti transfer.

Bahkan percakapan yang menunjukkan bahwa Tasya sama sekali tidak terlibat.

Dua hari setelah pernikahan, Tasya datang menemuiku.

Aku sempat enggan menerimanya.

Namun dia datang sendirian.

“Aku tidak tahu tentang obat itu,” katanya.

“Aku percaya.”

Matanya memerah.

“Tante Sarah memang sering mengatakan aku harus menikah dengan Adrian. Tapi aku sudah bilang berkali-kali bahwa Adrian tidak mencintaiku.”

Aku terdiam.

Tasya tersenyum pahit.

“Aku bahkan punya pacar.”

Untuk pertama kalinya sejak semua kekacauan itu dimulai, aku tertawa kecil.

Tasya ikut tertawa.

Ternyata kami berdua selama ini hanyalah bidak dalam ambisi seorang perempuan yang terlalu sibuk menjaga gengsi keluarganya.

Skandal tersebut menyebar dengan cepat.

Namun bukan reputasiku yang hancur.

Ibu Sarah kehilangan posisinya dalam yayasan keluarga. Sejumlah mitra bisnis menjaga jarak setelah penyelidikan dokumen palsu terungkap.

Pak Surya juga memilih mundur sementara dari beberapa kegiatan sosial keluarga.

Tetapi bagiku, masalah terbesar bukanlah berita di media.

Melainkan Adrian.

Selama beberapa minggu setelah kejadian itu, hubungan kami berubah.

Kami masih tinggal bersama, tetapi ada jarak di antara kami.

Suatu malam Adrian datang ke toko bunga utamaku.

Aku sedang menyusun bunga mawar ketika dia berdiri di pintu.

“Aku mau minta maaf.”

Aku tidak menjawab.

“Bukan karena perbuatan Ibu. Aku tidak bisa meminta maaf atas kesalahan orang lain.”

Dia menarik kursi dan duduk di depanku.

“Aku minta maaf karena selama ini aku melihat tanda-tandanya, tapi memilih menganggap semuanya bisa selesai sendiri.”

Tanganku berhenti bekerja.

“Aku pikir kalau aku tetap mencintaimu, itu sudah cukup.”

Dia menunduk.

“Ternyata tidak.”

Mataku mulai panas.

“Aku tidak butuh kamu memilih antara aku dan ibumu.”

“Aku tahu.”

“Aku cuma butuh kamu berdiri di sampingku ketika seseorang memperlakukanku tidak adil.”

Adrian mengangguk.

“Itu yang seharusnya kulakukan sejak awal.”

Enam bulan berlalu.

Kasus Ibu Sarah diselesaikan melalui proses hukum yang panjang. Hubungan keluarga mereka tidak pernah kembali seperti sebelumnya.

Aku tidak pernah meminta Adrian memutus hubungan dengan ibunya.

Namun aku menetapkan batas yang jelas.

Tidak ada lagi penghinaan.

Tidak ada manipulasi.

Tidak ada campur tangan dalam pernikahan kami.

Suatu sore, ketika aku sedang memeriksa toko bunga baru di Bandung, seorang perempuan datang.

Aku hampir tidak mengenalinya.

Ibu Sarah.

Tidak ada sopir.

Tidak ada tas mewah.

Tidak ada rombongan teman sosialita.

Dia datang sendirian.

Kami berdiri saling berhadapan cukup lama.

“Aku tidak datang untuk meminta kamu melupakan semuanya,” katanya.

Aku tetap diam.

“Aku hanya ingin mengatakan sesuatu.”

Dia menarik napas.

“Aku salah.”

Dua kata sederhana itu ternyata sangat sulit keluar dari mulutnya.

“Aku menghabiskan hidupku menjaga nama keluarga sampai lupa bahwa keluarga bukanlah nama yang tercetak di kartu undangan.”

Matanya berkaca-kaca.

“Keluarga adalah orang yang kita perlakukan sebagai manusia.”

Aku tidak langsung memaafkannya.

Beberapa luka memang tidak selesai hanya dengan satu permintaan maaf.

Namun sebelum pergi, Ibu Sarah meletakkan sesuatu di meja.

Pita merah kecil.

Pita dari gelas pernikahanku.

“Aku menyimpannya,” katanya.

“Supaya aku tidak pernah lupa pada malam ketika kesombonganku sendiri menghancurkan hidupku.”

Setelah dia pergi, aku berdiri lama menatap pita itu.

Adrian datang beberapa menit kemudian.

“Ibu datang?”

Aku mengangguk.

“Apa kamu memaafkannya?”

Aku memandang suamiku.

“Belum.”

Adrian tidak terlihat kecewa.

Dia hanya menggenggam tanganku.

“Tidak apa-apa.”

Aku tersenyum.

“Mungkin suatu hari nanti.”

Setahun setelah pernikahan kami, aku membuka cabang toko bunga ke dua puluh.

Pada hari pembukaan, aku menemukan sebuah karangan bunga besar tanpa nama pengirim.

Di antara bunga-bunga itu terdapat sebuah kartu kecil.

Tulisan tangannya langsung kukenal.

Tidak ada permintaan maaf panjang.

Tidak ada pembelaan.

Hanya satu kalimat.

Aku akhirnya mengerti mengapa Adrian memilihmu.

Aku membaca kalimat itu beberapa kali.

Kemudian untuk pertama kalinya, aku menyimpan kartu dari Ibu Sarah tanpa rasa marah.

Aku pernah mengira kemenangan terbesar malam pernikahanku adalah ketika aku berhasil menukar dua gelas sampanye.

Ternyata bukan.

Kemenangan sebenarnya adalah ketika aku tidak membiarkan kebencian seseorang mengubahku menjadi orang yang sama seperti dirinya.

Karena terkadang, jebakan yang kita siapkan untuk menghancurkan orang lain justru menjadi cermin paling jujur yang menunjukkan siapa diri kita sebenarnya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang