Nama yang tertulis di kolom ayah dalam surat kelahiranku adalah Haryanto.
Pak RT.
Pria yang baru saja duduk di ruang tamuku, memperbaiki pintu dapur sambil tersenyum ramah, ternyata tercatat sebagai ayah kandungku.
Aku membaca nama itu berulang kali, berharap mataku salah melihat. Namun, tulisan yang mulai memudar itu tetap menunjukkan nama yang sama.
Haryanto bin Sumarno.

Tanganku gemetar. Selama dua puluh enam tahun, aku mengenal Pak Haryanto sebagai ketua RT yang dihormati warga. Dia sering membantu Ibu ketika kami mengalami kesulitan. Bahkan, dialah yang mengurus pemakaman Ibu ketika aku masih terlalu terpukul untuk berpikir jernih.
Tetapi bagaimana mungkin dia ayah kandungku?
Ibu selalu mengatakan bahwa ayahku bernama Rahmat, seorang sopir antarkota yang meninggal akibat kecelakaan ketika aku berusia dua tahun.
Aku terduduk di lantai dapur. Air mataku jatuh membasahi dokumen tua itu.
Tiba-tiba ponselku bergetar.
Sebuah pesan masuk dari Ardi.
“Jana, jangan percaya siapa pun. Terutama Pak RT. Kalau kamu menemukan surat itu, jangan sampai dia tahu.”
Jantungku serasa berhenti.
Bagaimana Ardi mengetahui keberadaan surat tersebut?
Belum sempat aku membalas, pesan kedua masuk.
“Ibumu tidak meninggal karena sakit. Ada orang yang sengaja membuatnya tidak bisa bercerita.”
Aku langsung menelepon Ardi. Namun, panggilanku ditolak.
Beberapa detik kemudian, dia mengirimkan lokasi sebuah warung kopi di pinggir Jalan Raya Bogor.
“Datang sendirian. Jam sebelas. Aku akan menjelaskan semuanya.”
Aku menatap jam dinding. Masih ada empat puluh menit.
Dengan tergesa-gesa, aku memotret surat kelahiran itu, menyimpan dokumen aslinya di dalam tas, lalu meninggalkan rumah.
Sepanjang perjalanan, pikiranku dipenuhi pertanyaan.
Apakah Pak RT benar-benar ayahku? Mengapa Ibu menyembunyikannya? Dan apa hubungan semua ini dengan kehamilan misterius yang menyebabkan kematiannya?
Ketika tiba di warung kopi, Ardi sudah menungguku di meja paling belakang.
Wajahnya pucat. Ada luka kecil di sudut bibirnya.
“Siapa yang memukulmu?” tanyaku.
Ardi tidak menjawab. Dia justru menarik kursi di hadapannya.
“Duduk dulu, Jana.”
“Aku tidak datang untuk berbasa-basi. Jelaskan semuanya sekarang.”
Ardi menghela napas panjang.
“Aku tahu kamu menemukan surat kelahiran itu.”
Aku menatapnya tajam.
“Jadi, kamu juga tahu Pak RT adalah ayah kandungku?”
Ardi mengangguk pelan.
“Dia memang ayah biologismu. Tapi ada sesuatu yang lebih penting daripada itu.”
Dia mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari tasnya.
Di dalamnya terdapat hasil pemeriksaan medis Ibu dari sebuah rumah sakit swasta di Depok.
Aku membaca halaman pertama.
Nama pasien, Sulastri.
Usia, lima puluh dua tahun.
Diagnosis, kehamilan delapan minggu dengan komplikasi perdarahan.
Dadaku mendadak sesak.
“Ini tidak mungkin,” bisikku.
Ardi menunduk.
“Ibumu datang ke rumah sakit itu tiga minggu sebelum meninggal. Dia meminta bantuan seorang dokter untuk memeriksa kondisinya.”
“Tapi Ibu sudah menjanda lebih dari dua puluh tahun!”
“Aku tahu.”
“Lalu siapa ayah bayi itu?”
Ardi terdiam.
Keheningan tersebut membuatku semakin takut.
“Jawab, Ardi!”
“Pak Haryanto.”
Rasanya seluruh dunia runtuh di hadapanku.
Aku berdiri begitu cepat hingga kursiku bergeser keras.
“Jangan mempermainkanku!”
“Jana, dengarkan dulu.”
“Tidak! Kamu mau bilang pria itu menghamili Ibu setelah bertahun-tahun menyembunyikan kenyataan bahwa dia ayah kandungku?”
Ardi mengangguk dengan wajah penuh penyesalan.
Aku menutup mulut, menahan rasa mual.
Namun, Ardi kemudian mengatakan sesuatu yang membuatku kembali duduk.
“Ibumu sedang mengumpulkan bukti untuk melaporkannya.”
Aku menatapnya.
“Melaporkan apa?”
“Pemaksaan dan ancaman.”
Menurut Ardi, Pak Haryanto telah memanfaatkan keadaan ekonomi Ibu selama bertahun-tahun. Setelah suaminya meninggal, Ibu bekerja sebagai penjahit rumahan untuk membesarkanku.
Pak Haryanto mengetahui sebuah rahasia yang bisa menghancurkan kehidupan kami.
Dia menggunakan rahasia itu untuk mengendalikan Ibu.
“Rahasia apa?” tanyaku dengan suara bergetar.
Ardi memandangku lama.
“Pria bernama Rahmat yang kamu kenal sebagai ayahmu sebenarnya bukan ayah biologismu. Dia menikahi ibumu ketika ibumu sudah mengandungmu.”
Aku menunduk.
“Jadi, Pak Rahmat tahu?”
“Dia tahu. Dan dia tetap menerima kalian.”
Air mataku kembali mengalir.
Selama ini aku mengira hidup Ibu dipenuhi kesedihan setelah kehilangan suaminya. Ternyata, bahkan sebelum aku dilahirkan, beliau sudah menanggung penderitaan yang tidak pernah diceritakannya.
“Tapi kenapa kamu ikut menggeledah rumahku?” tanyaku.
Ardi mengusap wajahnya.
“Pak Haryanto menyuruhku mencari surat pengakuan yang ditulis ibumu. Dia mengancam akan mencelakai adikku kalau aku menolak.”
Aku terdiam.
Adik Ardi, Nisa, baru berusia sembilan belas tahun dan sedang kuliah di Bandung.
“Aku sengaja menjatuhkan buku di kamarmu supaya kamu terbangun,” lanjutnya. “Aku berharap kamu mendengar pembicaraan kami.”
“Kenapa tidak langsung memberitahuku?”
“Karena dia memeriksa ponselku. Bahkan sekarang aku tidak yakin kita aman.”
Ardi mengeluarkan sebuah flashdisk kecil.
“Ini rekaman dari kamera keamanan rumah Pak Haryanto. Aku berhasil menyalinnya ketika diminta memperbaiki komputernya.”
Aku menerima benda itu dengan tangan gemetar.
“Apa isinya?”
“Rekaman malam sebelum ibumu meninggal.”
Kami segera menuju sebuah kantor bantuan hukum yang direkomendasikan teman Ardi. Di sana, seorang pengacara bernama Bu Ratna membantu kami memeriksa rekaman tersebut.
Dalam video itu, terlihat Ibu memasuki rumah Pak Haryanto sekitar pukul sembilan malam.
Beliau membawa map merah.
Beberapa menit kemudian, terdengar pertengkaran dari ruang tamu.
“Aku sudah cukup menderita, Pak!” suara Ibu terdengar jelas.
“Kamu pikir orang akan percaya ceritamu?”
“Aku punya hasil pemeriksaan dokter. Aku juga sudah menyimpan semua pesan ancamanmu!”
Kemudian terdengar suara benda pecah.
Pak Haryanto muncul dalam rekaman, menarik tangan Ibu dengan kasar.
Ibu berusaha melepaskan diri.
Tiba-tiba beliau terjatuh dan membentur sudut meja.
Aku menjerit.
Ardi segera memegang bahuku.
Dalam rekaman, Ibu terlihat kesakitan. Darah mulai membasahi pakaiannya.
Namun, Pak Haryanto tidak segera memanggil ambulans.
Dia justru mengambil map merah yang terjatuh, membuka isinya, lalu menelepon seseorang.
Baru hampir satu jam kemudian sebuah mobil datang membawa Ibu pergi.
Aku menangis tanpa suara.
Selama ini aku mengira Ibu meninggal akibat komplikasi kehamilan yang tidak diketahui siapa pun. Ternyata, kondisinya memburuk setelah mengalami kekerasan dan terlambat mendapatkan pertolongan.
Bu Ratna menghentikan video.
“Kita harus menyerahkan bukti ini kepada polisi. Rekaman ini perlu diverifikasi, dan penyebab kematian ibumu harus diselidiki secara resmi.”
Aku mengangguk.
Untuk pertama kalinya sejak pemakaman Ibu, aku merasa memiliki kesempatan menemukan keadilan.
Sore itu, kami membuat laporan ke kepolisian.
Penyidik menerima dokumen medis, rekaman video, dan surat kelahiranku. Mereka juga meminta keterangan Ardi mengenai penggeledahan rumah.
Dua hari kemudian, Pak Haryanto dipanggil untuk diperiksa.
Namun, kejutan terbesar justru datang dari Joko, putra sulungnya.
Dia mendatangiku sambil membawa sebuah kotak kecil.
“Jana, aku menemukan ini di lemari Ayah,” katanya.
Di dalam kotak terdapat buku harian Ibu dan beberapa surat lama.
Salah satunya ditulis oleh Pak Rahmat, pria yang selama ini kupanggil Ayah.
Tanganku bergetar ketika membuka surat tersebut.
“Untuk anakku, Sanjana. Kalau suatu hari kamu mengetahui bahwa darah kita tidak sama, jangan pernah menganggap cintaku sebagai kebohongan. Aku memilih menjadi ayahmu sejak pertama kali mendengar detak jantungmu.”
Aku menangis tersedu-sedu.
Namun, pada halaman terakhir buku harian Ibu, terdapat pengakuan yang jauh lebih mengejutkan.
Ibu menulis bahwa beliau telah berusaha menjauh dari Pak Haryanto sejak sebelum menikah dengan Pak Rahmat. Kehamilanku terjadi setelah Pak Haryanto memaksakan kehendaknya, ketika Ibu masih bekerja di rumah keluarganya.
Pak Rahmat mengetahui semuanya.
Dia menikahi Ibu bukan untuk menyembunyikan aib, melainkan untuk membantunya membangun kehidupan baru.
Selama bertahun-tahun, Pak Haryanto menggunakan ancaman dan kedudukannya untuk terus menekan Ibu.
Aku menutup buku itu sambil menangis.
Sekarang aku memahami mengapa Ibu selalu terlihat ketakutan setiap kali Pak Haryanto datang.
Beberapa minggu kemudian, setelah pemeriksaan saksi dan bukti tambahan, polisi menetapkan Pak Haryanto sebagai tersangka dalam perkara kekerasan terhadap Ibu. Dugaan tindak pidana lainnya masih didalami.
Ardi meminta maaf kepadaku.
Aku tidak langsung memaafkannya. Bagaimanapun, dia pernah membantu orang-orang yang membuatku ketakutan.
Namun, aku menghargai keberaniannya untuk akhirnya mengatakan kebenaran.
Pada suatu sore, aku mengunjungi makam Ibu dan Pak Rahmat.
Aku membawa bunga melati kesukaan Ibu.
“Bu, sekarang aku tahu semuanya,” bisikku.
Angin sore berembus lembut.
“Aku juga sudah tahu siapa ayah kandungku. Tapi aku tidak akan membiarkan nama itu menentukan siapa diriku.”
Aku meletakkan surat Pak Rahmat di atas pangkuanku.
Dulu, aku mengira rahasia terbesar dalam hidupku adalah identitas ayah kandungku.
Ternyata aku salah.
Rahasia terbesar itu adalah cinta seorang pria yang memilih membesarkan anak yang bukan darah dagingnya, dan keberanian seorang ibu yang terus melindungi anaknya meskipun dirinya sendiri hidup dalam ketakutan.
Sebelum pulang, aku memandang kedua batu nisan itu sekali lagi.
“Ayah, Ibu, aku janji akan menjalani hidup yang selama ini kalian perjuangkan untukku.”
Aku berdiri, menghapus air mata, lalu melangkah meninggalkan pemakaman.
Untuk pertama kalinya, aku tidak lagi merasa sebagai anak yang kehilangan asal-usulnya.
Aku adalah Sanjana.
Anak dari seorang ibu yang tidak pernah berhenti berjuang dan seorang ayah yang membuktikan bahwa keluarga tidak selalu dibentuk oleh hubungan darah.
Dan meskipun kebenaran datang dengan luka yang begitu dalam, aku akhirnya memahami satu hal.
Orang yang memberikan kehidupan kepada kita belum tentu orang yang pantas disebut orang tua.
Karena menjadi orang tua bukan sekadar tentang melahirkan atau mewariskan darah, melainkan tentang siapa yang memilih mencintai, melindungi, dan tetap tinggal ketika dunia menjadi begitu kejam.
