Instruktur Itu Memaksaku Latihan Sampai Pingsan karena Mengira Aku Menggoda Komandan—Dia Membeku Saat Komandan Memanggilku “Tante”

Arga berdiri hanya beberapa langkah di belakang Rani.

Wajahnya tidak menunjukkan kemarahan. Justru ketenangan itulah yang membuat suasana di lapangan mendadak terasa jauh lebih menegangkan.

Rani belum menyadari kehadirannya.

Dia masih menatapku dengan senyum mengejek.

“Kenapa diam? Takut aku membongkar semuanya?”

Aku tidak menjawab.

Pandangan Arga beralih dari wajahku yang pucat ke botol elektrolit yang tergeletak di tanah. Kemudian matanya jatuh pada tanganku yang gemetar.

Siska menjadi orang pertama yang menyadari kehadirannya.

“Komandan…”

Suara itu membuat Rani membeku.

Dia berbalik perlahan.

Senyumnya langsung lenyap.

“Komandan Arga?”

Arga tidak menjawab pertanyaannya. Dia berjalan melewati Rani dan berhenti di depanku.

“Tante.”

Satu kata itu membuat seluruh lapangan sunyi.

Beberapa mahasiswa bahkan saling menatap seolah tidak yakin dengan apa yang baru mereka dengar.

Arga memegang lenganku.

“Tante Nadira, kenapa wajah Tante pucat begini?”

Rani tampak seperti kehilangan kemampuan bicara.

“Tante?”

Arga menoleh kepadanya.

“Ya. Dia tante saya.”

Suasana langsung berubah.

Mahasiswa yang sejak tadi memandangku dengan curiga kini mulai berbisik.

Rani menggeleng cepat.

“Tapi… usianya…”

“Ibu Tante Nadira adalah nenek saya. Ibu saya kakak kandungnya.”

Arga menjelaskan dengan suara datar.

“Masih ada yang perlu saya jelaskan?”

Wajah Rani seketika kehilangan warna.

Aku ingin mengatakan sesuatu, tetapi tiba-tiba tanah di bawah kakiku terasa bergoyang.

“Nadira!”

Aku mendengar Siska berteriak.

Tubuhku hampir jatuh jika Arga tidak segera menangkapku.

Dia langsung menggendongku.

“Panggil ambulans klinik sekarang!”

Rani buru-buru maju.

“Komandan, saya bisa menjelaskan.”

Arga berhenti.

“Menjelaskan apa?”

“Saya hanya menjalankan disiplin. Nadira beberapa kali meminta perlakuan khusus dan saya pikir…”

“Dia punya kondisi medis.”

Rani terdiam.

“Saya tidak tahu.”

“Kamu tidak tahu karena kamu tidak bertanya.”

Suara Arga tetap rendah.

“Dan ketika dokter sudah memeriksanya, apa kamu juga tidak tahu?”

Wajah Rani semakin pucat.

Dr. Bima rupanya menyusul ke lapangan setelah mengetahui aku dipaksa kembali berlatih. Dia datang bersama seorang petugas klinik.

“Saya memberikan surat istirahat kepada Nadira,” katanya. “Surat itu dirobek oleh Saudari Rani di depan saya.”

Bisikan langsung terdengar dari barisan.

Arga menatap Rani.

“Benar?”

Rani membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar.

Aku dibawa kembali ke klinik.

Kali ini kondisiku lebih buruk. Gula darahku kembali turun dan suhu tubuhku meningkat akibat terlalu lama berada di bawah matahari.

Aku baru diperbolehkan pulang menjelang malam.

Kupikir masalah itu selesai setelah identitas hubunganku dengan Arga terbongkar.

Ternyata aku salah.

Keesokan paginya, sebuah unggahan anonim muncul di grup mahasiswa.

Isinya foto Arga sedang menggendongku dari lapangan.

Keterangan di bawahnya berbunyi:

Mahasiswi tertentu ternyata memang mendapat perlakuan istimewa. Setelah ketahuan dekat dengan komandan, sekarang mengaku sebagai keluarga.

Tidak sampai satu jam, tangkapan layar unggahan itu menyebar ke beberapa grup kampus.

Aku menatap layar ponsel dengan tangan dingin.

Siska yang duduk di sampingku langsung marah.

“Ini keterlaluan. Siapa yang bikin?”

Aku tidak perlu menebak terlalu lama.

Gaya kalimatnya terlalu mirip dengan ucapan Rani.

Namun aku tidak punya bukti.

Sore harinya, aku dipanggil ke ruang kemahasiswaan.

Di sana sudah ada Arga, dr. Bima, ketua panitia pelatihan, dan Rani.

Rani tampak berbeda.

Dia tidak lagi mengenakan seragam instruktur. Dia duduk dengan pakaian biasa, wajahnya tegang.

Ketua panitia membuka pembicaraan.

“Kami sedang melakukan pemeriksaan terkait kejadian kemarin dan penyebaran informasi hari ini.”

Rani langsung berdiri.

“Saya bukan yang mengunggahnya.”

“Belum ada yang menuduh kamu,” jawab ketua panitia.

Rani terdiam.

Kalimatnya sendiri justru membuat semua orang menatapnya.

Arga kemudian meletakkan sebuah tablet di meja.

“Saya sudah meminta rekaman CCTV lapangan dan klinik.”

Rani langsung menatapnya.

Rekaman pertama menunjukkan aku berjalan menuju klinik setelah pingsan.

Rekaman berikutnya memperlihatkan Rani masuk beberapa menit kemudian.

Tidak ada suara, tetapi terlihat jelas dia merampas surat dari tanganku dan merobeknya.

Lalu rekaman lapangan memperlihatkan dia menepis botol minumku.

Rani menggigit bibir.

“Saya mengakui itu. Saya salah. Tapi saya benar-benar mengira Nadira berpura-pura.”

Aku akhirnya berbicara.

“Kenapa?”

Rani menatapku.

“Kenapa Kakak begitu yakin saya berbohong?”

Dia tidak menjawab.

“Karena melihat Arga memberi saya air?”

Rani menunduk.

Saat itulah aku memahami sesuatu.

Ini bukan sekadar masalah disiplin.

“Kak Rani menyukai Arga?”

Semua orang terdiam.

Rani langsung menatapku tajam.

“Itu tidak ada hubungannya.”

“Ternyata ada.”

Aku tidak bermaksud mempermalukannya. Aku hanya ingin memahami bagaimana prasangka kecil bisa berubah menjadi perlakuan sekejam itu.

Rani tertawa pendek, tetapi matanya mulai memerah.

“Kamu mau tahu?”

Dia menatap Arga.

“Enam bulan lalu kami bertemu dalam kegiatan pelatihan lain. Dia baik kepadaku. Kami beberapa kali bicara. Aku pikir…”

Rani berhenti.

Arga langsung menyela.

“Saya memperlakukan semua instruktur secara profesional.”

“Aku tahu sekarang!”

Suara Rani meninggi.

“Waktu aku melihat dia membawakan minuman untukmu, aku pikir kamu orang yang membuat dia selalu menjaga jarak dariku.”

Aku terpaku.

Jadi selama ini aku dihukum karena sebuah hubungan yang bahkan hanya ada di kepalanya.

Rani menatapku dengan mata basah.

“Aku iri.”

Ruangan menjadi sunyi.

“Bukan cuma karena Arga.”

Dia menarik napas.

“Sejak hari pertama, kamu selalu terlihat tenang. Teman-teman menyukaimu. Kamu tidak pernah berusaha mencari perhatian, tapi perhatian selalu datang kepadamu.”

Aku menatapnya lama.

“Kakak hampir membuat saya masuk rumah sakit hanya karena iri.”

Kalimat itu membuat wajahnya berubah.

Untuk pertama kalinya, dia tidak membela diri.

“Saya tahu.”

Ketua panitia kemudian menjelaskan bahwa Rani dibebastugaskan dari kegiatan sambil menunggu pemeriksaan etik. Kesaksianku, keterangan dokter, rekaman CCTV, dan kesaksian mahasiswa lain akan diserahkan kepada lembaga tempat Rani bertugas.

Kupikir semuanya selesai.

Namun Arga tiba-tiba berkata, “Ada satu hal lagi.”

Dia membuka sebuah dokumen.

Rani kembali menegang.

“Unggahan anonim pagi ini dikirim melalui jaringan WiFi asrama instruktur.”

Rani berdiri.

“Bukan aku.”

“Memang bukan.”

Aku menoleh cepat kepada Arga.

Dia menampilkan hasil pemeriksaan panitia teknologi informasi kampus.

Akun itu dibuat dari laptop milik salah satu mahasiswa.

Namanya Dimas.

Semua orang terkejut.

Dimas adalah mahasiswa yang berada di kelompokku.

Dia bahkan termasuk orang yang kemarin memandangku dengan kesal setelah kelompok kami dihukum tambahan tiga puluh menit.

Ketika dipanggil, Dimas akhirnya mengaku.

Dia mengambil foto saat Arga menggendongku, kemudian membuat akun anonim karena menganggap kejadian itu menarik untuk dijadikan bahan gosip.

“Aku cuma bercanda,” katanya.

Aku hampir tertawa mendengarnya.

Satu orang menganggap kondisi medisku sebagai drama.

Satu orang menganggap fitnah sebagai candaan.

Dan keduanya hampir menghancurkan reputasiku.

Ketua panitia menjatuhkan sanksi disiplin kepada Dimas sesuai aturan kampus. Dia juga diwajibkan menghapus unggahan dan membuat klarifikasi di grup tempat informasi itu pertama kali disebarkan.

Namun sesuatu yang tidak kuduga terjadi setelah pertemuan selesai.

Rani menungguku di luar.

Dia berdiri sendirian di koridor.

“Nadira.”

Aku berhenti.

Rani menundukkan kepala.

“Maaf.”

Aku tidak menjawab.

“Aku tahu kata maaf tidak cukup.”

Suaranya jauh berbeda dari perempuan yang kemarin berteriak kepadaku di lapangan.

“Aku terlalu yakin dengan pikiranku sendiri sampai tidak peduli dengan kenyataan di depanku.”

Aku memandangnya.

“Kakak tahu bagian yang paling menyakitkan?”

Dia menggeleng.

“Bukan saat Kakak menyuruh saya latihan sampai pingsan.”

Rani mengangkat wajah.

“Tapi ketika saya bilang saya sakit dan Kakak memilih percaya pada prasangka Kakak daripada tubuh saya sendiri.”

Matanya berkaca-kaca.

“Aku salah.”

Aku tidak langsung memaafkannya.

Ada luka yang membutuhkan waktu, dan permintaan maaf bukan tombol yang bisa menghapus semuanya dalam satu detik.

Namun aku juga tidak ingin membawa kebencian itu lebih lama daripada yang diperlukan.

“Semoga setelah ini Kakak tidak pernah memperlakukan orang lain berdasarkan cerita yang Kakak buat sendiri.”

Rani mengangguk.

Aku berjalan pergi.

Arga menungguku di ujung koridor sambil membawa sesuatu.

Sekotak permen.

Aku langsung tertawa.

“Kamu sengaja?”

Dia memasukkan kotak itu ke tanganku.

“Nenek meneleponku lima kali sejak tadi malam.”

“Ibu?”

“Iya. Katanya kalau Tante sampai pingsan lagi, saya yang bakal dimarahi.”

Aku tersenyum.

Arga tiba-tiba berdiri tegak dan berkata dengan gaya formal, “Siap, Tante Nadira. Mulai sekarang persediaan gula menjadi tanggung jawab negara.”

Aku memukul lengannya pelan.

“Jangan kurang ajar.”

Beberapa mahasiswa yang kebetulan lewat langsung menahan tawa.

Sejak hari itu, panggilan Tante menyebar ke seluruh kelompok.

Anehnya, aku tidak keberatan.

Program pelatihan berlanjut setelah dokter mengizinkanku kembali.

Aku tidak mendapatkan perlakuan khusus.

Aku tetap berlari, berbaris, berlatih, dan menerima hukuman jika memang melakukan kesalahan.

Bedanya, kali ini instruktur mengetahui catatan kesehatanku dan prosedur medis yang harus dilakukan jika kondisiku menurun.

Beberapa minggu kemudian, saat upacara penutupan, aku melihat Rani berdiri jauh di luar lapangan.

Dia datang bukan sebagai instruktur.

Dia hanya menyerahkan surat kepadaku melalui Siska.

Aku membacanya malam itu.

Isinya tidak panjang.

Rani menulis bahwa dia menerima sanksi pembinaan dan pencabutan sementara tugas instruktur. Dia juga mengikuti pelatihan ulang mengenai keselamatan peserta dan etika kepemimpinan.

Pada kalimat terakhir dia menulis sesuatu yang terus kuingat.

Disiplin tanpa empati ternyata bukan kekuatan. Kadang itu hanya kesombongan yang memakai seragam.

Aku melipat surat tersebut.

Beberapa hari kemudian, Arga datang ke rumah untuk makan malam bersama keluarga.

Begitu pintu terbuka, dia langsung memberi hormat kepadaku.

“Selamat malam, Tante.”

Aku memutar mata.

“Di rumah jangan pakai gaya komandan.”

Dari ruang makan, ibuku tertawa.

Arga kemudian menyerahkan sebuah kantong kecil kepadaku.

Isinya bukan permen.

Melainkan sebuah gelang medis sederhana dengan tulisan kecil mengenai kondisi hipoglikemiaku.

“Apa ini?”

“Biar orang tidak perlu percaya ucapan Tante dulu kalau keadaan darurat.”

Aku terdiam.

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi membuat dadaku sesak.

Aku memasang gelang tersebut di pergelangan tangan.

Lalu aku tersenyum.

Hari itu aku akhirnya memahami sesuatu.

Kesalahan Rani bukan dimulai ketika dia memaksaku berdiri di bawah matahari.

Kesalahannya dimulai jauh sebelumnya, ketika dia merasa sudah mengetahui siapa diriku hanya dari satu pemandangan yang dilihatnya selama beberapa detik.

Dia melihat seorang laki-laki memberiku air dan permen.

Lalu pikirannya mengisi semua bagian yang tidak diketahuinya dengan kecurigaan.

Dimas melihat seorang komandan menggendong seorang mahasiswi.

Lalu dia mengisi bagian yang tidak diketahuinya dengan gosip.

Keduanya melihat sesuatu yang benar.

Tetapi menarik kesimpulan yang salah.

Sejak itu aku belajar bahwa fitnah tidak selalu lahir dari kebohongan besar.

Kadang ia lahir dari sepotong kebenaran yang kehilangan konteks.

Dan terkadang, satu kata sederhana sudah cukup untuk menghancurkan seluruh cerita palsu yang dibangun manusia di dalam kepalanya.

Seperti kata yang membuat satu lapangan membeku hari itu.

Tante.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang