KAKAK PEREMPUANNYA TIBA-TIBA MENGHILANG SETELAH BERTEMU DENGAN SAHABATNYA SENDIRI. SEHARI SEBELUM PERNIKAHAN, DUA KOPER DITEMUKAN, DAN APA YANG DITEMUKAN POLISI MENGUBAH SEGALANYA

“Mbak Nabila, yang kami temukan di dalam koper kedua adalah sejumlah pakaian berlumuran darah dan sebuah kartu identitas milik kakak Anda.”

Kalimat itu membuat lutut Nabila Pratama nyaris kehilangan kekuatan.

“Pakaian berdarah?” bisiknya. “Lalu Kak Rania di mana?”

Komisaris Polisi Dimas, penyidik yang menangani kasus tersebut, tidak langsung menjawab.

“Kami belum bisa memastikan darah itu milik siapa. Semuanya harus diperiksa di laboratorium forensik.”

“Tapi kakak saya masih hidup, kan, Pak?”

Dimas menatapnya dengan hati-hati.

“Kami sedang berusaha menemukannya.”

Di belakang Nabila, Bu Ratna menangis sambil memegangi dadanya. Sementara Arga, laki-laki yang seharusnya menikahi Nabila keesokan hari, berdiri membeku di dekat pintu.

Namun ada sesuatu yang lebih mengerikan daripada isi kedua koper itu.

Ketika polisi memperlihatkan foto barang bukti, Arga tiba-tiba berbisik.

“Seharusnya koper itu sudah dibuang jauh.”

Nabila langsung menoleh.

“Apa katamu?”

Arga tersentak.

“Tidak. Aku cuma bilang siapa yang tega membuang barang-barang Rania.”

Tetapi Nabila mendengar kalimat pertamanya dengan jelas.

Dan untuk pertama kalinya selama empat tahun menjalin hubungan, ia merasa takut kepada laki-laki yang dicintainya.

Tiga hari sebelumnya, Rania meninggalkan rumah sekitar pukul tujuh malam.

Perempuan berusia tiga puluh dua tahun itu mengenakan blus krem dan celana panjang hitam. Sebelum pergi, ia sempat masuk ke kamar Nabila.

“Bil, Kakak mau tanya sesuatu.”

“Apa?”

“Kalau suatu hari kamu mengetahui Arga menyembunyikan sesuatu yang besar, kamu akan percaya siapa?”

Nabila tertawa kecil.

“Kakak atau Arga?”

Rania tidak ikut tertawa.

“Kakak serius.”

Nabila menghela napas.

“Kak, sebentar lagi aku menikah. Jangan mulai lagi.”

Seminggu sebelumnya, Rania memang sempat bertengkar hebat dengan Siska, sahabatnya sejak kuliah.

Pertengkaran itu terjadi setelah Rania menemukan sesuatu mengenai Arga.

Namun setiap kali Nabila bertanya, kakaknya selalu menjawab bahwa ia membutuhkan bukti lebih kuat.

Malam itu, sebelum meninggalkan kamar, Rania memeluk Nabila lebih lama daripada biasanya.

“Kalau Kakak melakukan sesuatu yang membuatmu marah, ingat satu hal. Kakak tidak pernah ingin menghancurkan kebahagiaanmu.”

Itulah percakapan terakhir mereka.

Sekarang, tiga hari kemudian, barang-barang Rania ditemukan di dalam dua koper yang dibuang di saluran air kawasan pinggiran Bandung.

Dan calon suaminya tampak mengetahui sesuatu.

Pemeriksaan berlangsung hampir enam jam.

Siska dimintai keterangan secara terpisah. Arga juga diperiksa, tetapi ia terus mengatakan bahwa dirinya tidak mengetahui apa pun.

Menjelang sore, Dimas memanggil Nabila.

“Ada satu hal yang perlu Anda lihat.”

Ia memperlihatkan rekaman kamera pengawas dari sebuah minimarket di Jalan Setiabudi.

Dalam rekaman itu, terlihat Rania dan Siska memasuki mobil berwarna putih pada Sabtu malam.

Mobil tersebut kemudian berhenti di depan sebuah rumah dua lantai.

Pukul sembilan lewat tujuh belas menit, Siska keluar sendirian.

Namun Rania tidak terlihat meninggalkan rumah itu.

“Rumah siapa ini?” tanya Nabila.

Dimas menjawab, “Rumah yang disewa atas nama Arga Mahendra.”

Darah Nabila terasa berhenti mengalir.

“Tidak mungkin.”

“Kami sudah memeriksa dokumen sewanya.”

“Tapi Arga bilang malam itu dia sedang berada di Jakarta untuk urusan pekerjaan.”

Dimas menggeser sebuah foto ke hadapannya.

Foto itu memperlihatkan mobil Arga memasuki halaman rumah tersebut pada pukul sembilan lewat tiga puluh empat menit.

Nabila menutup mulutnya.

Selama ini, Arga bekerja sebagai direktur operasional sebuah perusahaan properti. Ia dikenal sopan, perhatian, dan selalu memperlakukan keluarga Nabila dengan baik.

Ketika ayah Nabila meninggal dua tahun lalu, Arga bahkan membantu mengurus seluruh keperluan pemakaman.

Rania pernah mengatakan bahwa Arga terlalu sempurna.

Nabila menganggap kakaknya hanya terlalu protektif.

Sekarang ia mulai memahami maksud perkataan itu.

“Pak, apakah Arga sudah ditangkap?”

“Belum. Kami membutuhkan bukti yang cukup untuk menetapkan seseorang sebagai tersangka.”

“Lalu Siska?”

Dimas terdiam sejenak.

“Dia mulai memberikan keterangan yang berbeda.”

Di ruang pemeriksaan, Siska duduk dengan mata sembap.

Ketika Nabila diizinkan berbicara dengannya, perempuan itu langsung menangis.

“Aku benar-benar minta maaf, Bil.”

“Berhenti meminta maaf! Katakan di mana kakakku!”

Siska menunduk.

“Rania menemukan sesuatu tentang Arga.”

“Apa?”

“Uang perusahaan.”

Nabila mengerutkan kening.

Ternyata selama delapan bulan terakhir, Rania diam-diam membantu seorang mantan pegawai perusahaan Arga memeriksa sejumlah transaksi mencurigakan.

Rania bekerja sebagai auditor independen. Ia menemukan indikasi penggelapan dana proyek senilai hampir dua puluh miliar rupiah.

Uang tersebut diduga dipindahkan melalui beberapa perusahaan fiktif.

Salah satu perusahaan itu menggunakan identitas Siska sebagai direktur.

“Aku tidak tahu awalnya,” kata Siska sambil menangis. “Arga bilang dia cuma membutuhkan namaku untuk mengurus administrasi perusahaan.”

“Kamu mengenal Arga sebelum aku?”

Siska mengangguk.

“Kami pernah bekerja bersama.”

“Kenapa tidak pernah bilang?”

“Karena Arga memintaku merahasiakannya.”

Nabila merasa mual.

Siska melanjutkan dengan suara bergetar.

“Rania mengetahui semuanya. Dia mengancam akan melapor kepada polisi kalau Arga tidak mengembalikan uang itu.”

“Lalu malam itu?”

“Rania memintaku menemaninya menemui Arga. Dia bilang ingin menyelesaikan masalah sebelum pernikahan kalian.”

“Apa yang terjadi di rumah itu?”

Siska mulai menangis lebih keras.

“Arga datang. Mereka bertengkar. Rania mengatakan dia sudah menyimpan salinan semua bukti.”

“Lalu?”

“Arga mendorongnya.”

Nabila membeku.

“Rania jatuh dan kepalanya membentur sudut meja.”

Ruangan mendadak terasa sempit.

“Dia meninggal?”

“Aku tidak tahu!” Siska terisak. “Ada darah di lantai. Rania tidak bergerak. Aku panik.”

“Lalu kamu meninggalkannya?”

Siska mengangguk lemah.

“Arga menyuruhku pulang. Dia bilang akan memanggil dokter. Dia mengancam akan menyeretku ke penjara kalau aku bicara.”

Nabila menatap perempuan yang selama bertahun-tahun dianggap sebagai bagian dari keluarganya.

“Kamu sahabat kakakku.”

“Aku tahu.”

“Dia selalu membelamu. Bahkan ketika kamu kehilangan pekerjaan, dia yang membantumu membayar kontrakan.”

Siska tidak mampu menjawab.

“Kamu meninggalkannya sendirian ketika dia membutuhkan pertolongan.”

Kalimat itu membuat Siska menangis tanpa suara.

Malam harinya, polisi menggeledah rumah yang disewa Arga.

Di ruang tamu ditemukan bekas darah yang telah dibersihkan menggunakan bahan kimia.

Di gudang belakang terdapat gulungan lakban yang jenisnya sama dengan lakban pada kedua koper.

Namun Rania tidak ditemukan.

Arga akhirnya diamankan untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Ketika Nabila melihatnya di kantor polisi, laki-laki itu justru berusaha menggenggam tangannya.

“Sayang, dengarkan aku.”

Nabila mundur.

“Di mana kakakku?”

“Aku tidak membunuhnya.”

“Kalau begitu, di mana dia?”

“Aku tidak tahu.”

“Kamu pikir aku masih percaya?”

Arga mengusap wajahnya.

“Rania memang datang malam itu. Kami bertengkar, tapi dia pergi dalam keadaan hidup.”

“Siska melihat kamu mendorongnya!”

“Siska berbohong untuk menyelamatkan dirinya sendiri!”

Nabila memperhatikan wajah Arga.

Tidak ada lagi kelembutan yang selama ini dikenalnya.

Hanya ketakutan.

Dan kemarahan karena rahasianya mulai terbongkar.

“Besok kita seharusnya menikah,” kata Arga lirih.

Nabila melepas cincin pertunangannya.

Ia meletakkannya di atas meja.

“Besok aku seharusnya menjadi istrimu. Tapi hari ini aku bahkan tidak tahu apakah kakakku masih hidup.”

Arga menatap cincin itu.

“Kamu akan menyesal.”

Nabila berdiri.

“Tidak. Yang akan kusesali seumur hidup adalah kalau aku berhenti mencari kakakku demi melindungimu.”

Pagi berikutnya, hari yang seharusnya menjadi hari pernikahan Nabila, polisi menerima hasil pemeriksaan awal laboratorium.

Darah pada pakaian di koper kedua cocok dengan profil DNA Rania yang dibandingkan dengan sampel pribadinya.

Namun ada temuan lain.

Jumlah darah pada pakaian tersebut tidak cukup untuk memastikan bahwa Rania mengalami luka fatal.

Selain itu, petugas menemukan bercak darah milik orang lain di bagian dalam koper.

Ketika hasilnya dibandingkan dengan sampel Arga, profilnya cocok.

Dimas segera memerintahkan penyelidikan lebih lanjut.

Sementara itu, Nabila menemukan sebuah pesan terjadwal di emailnya.

Pesan itu dikirim dari akun Rania tepat pukul delapan pagi.

Subjeknya hanya tiga kata.

Untuk Adikku Tersayang.

Dengan tangan gemetar, Nabila membuka pesan tersebut.

Bil, kalau kamu membaca email ini, berarti Kakak belum berhasil pulang.

Jangan percaya semua yang kamu dengar.

Kakak tahu kamu mencintai Arga. Kakak juga tahu kamu mungkin membenci Kakak setelah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Tapi ada sesuatu yang harus kamu lihat.

Di bawah pesan itu terdapat tautan menuju sebuah folder penyimpanan digital.

Nabila membukanya.

Di dalamnya terdapat laporan keuangan, rekaman percakapan, foto transaksi, dan dokumen perusahaan.

Namun sebuah video membuat napasnya tercekat.

Video tersebut direkam dua minggu sebelumnya.

Rania duduk di depan kamera.

Wajahnya tampak lelah.

“Bil, ada sesuatu yang harus Kakak akui.”

Nabila memperbesar layar.

“Empat tahun lalu, sebelum kamu mengenal Arga, Kakak pernah menjalin hubungan dengannya.”

Nabila merasa seluruh tubuhnya membeku.

“Kami hampir menikah. Tapi Kakak membatalkannya setelah mengetahui dia menggunakan identitas Kakak untuk mengajukan pinjaman perusahaan.”

Air mata Nabila mulai mengalir.

“Ketika Arga mulai mendekatimu, Kakak sudah memperingatkannya agar menjauh. Dia berjanji telah berubah. Kakak tidak pernah memberitahumu karena takut kamu merasa dikhianati.”

Rania menarik napas panjang.

“Ternyata dia tidak berubah. Dia mendekatimu untuk memastikan Kakak tidak akan berani melaporkannya.”

Nabila menutup mata.

Semua pertengkaran selama ini mendadak masuk akal.

Rania tidak membenci Arga karena iri.

Ia takut kehilangan adiknya.

Video itu berlanjut.

“Kalau sesuatu terjadi pada Kakak, cari seseorang bernama dr. Maya Larasati. Dia tahu ke mana Kakak berencana pergi jika keadaan memburuk.”

Nabila segera menyerahkan video tersebut kepada Dimas.

Dalam waktu kurang dari dua jam, polisi berhasil menghubungi dr. Maya, seorang dokter yang bekerja di sebuah klinik swasta di Lembang.

Namun jawaban Maya justru menimbulkan pertanyaan baru.

“Rania masih hidup,” katanya melalui telepon.

Nabila hampir menjatuhkan ponselnya.

“Apa?”

“Dia dirawat di tempat kami. Tapi kondisinya belum stabil.”

Nabila langsung menangis.

Dimas segera meminta alamat klinik tersebut.

Di sana, mereka menemukan Rania terbaring di sebuah kamar perawatan dengan perban di bagian belakang kepala.

Wajahnya pucat.

Namun dadanya masih bergerak.

“Kak…”

Nabila berlari menghampirinya.

Rania membuka mata perlahan.

“Bil?”

Nabila menggenggam tangannya erat.

“Kakak hidup…”

Rania tersenyum lemah.

“Maaf. Kakak membuatmu takut.”

Nabila menangis di bahunya.

“Jangan pernah lakukan ini lagi.”

Setelah dokter memastikan Rania cukup kuat untuk memberikan keterangan singkat, kebenaran mulai terungkap.

Malam kejadian, setelah didorong Arga, Rania memang kehilangan kesadaran.

Namun ia sadar kembali ketika Arga dan Siska sedang bertengkar di dapur.

Dengan sisa tenaga, Rania berhasil keluar melalui pintu belakang.

Ia menghubungi Maya menggunakan jam tangan pintarnya yang masih terhubung ke jaringan seluler.

Maya kemudian menjemputnya bersama seorang perawat.

Rania meminta agar keberadaannya dirahasiakan sementara karena takut Arga akan mencarinya.

Ia juga belum mengetahui bahwa kedua kopernya telah ditemukan.

“Lalu kenapa Kakak tidak menghubungi kami?” tanya Nabila.

Rania menunduk.

“Setelah sampai di klinik, kondisiku memburuk. Aku sempat kehilangan kesadaran lagi. Dokter melarangku banyak bergerak. Baru tadi malam aku benar-benar sadar.”

Dimas kemudian memperlihatkan foto kedua koper.

Rania menggeleng.

“Aku tidak membawa koper malam itu.”

“Apakah Anda tahu siapa yang memasukkan barang-barang tersebut?”

“Tidak.”

Namun ketika Dimas memperlihatkan foto cincin yang ditemukan di dalam koper, wajah Rania berubah.

“Itu bukan cincinku.”

Nabila terkejut.

“Tapi bentuknya sama persis.”

Rania mengangkat tangan kirinya.

Di jari manisnya masih terdapat bekas lingkaran cincin.

“Cincin asliku punya ukiran kecil di bagian dalam. Hadiah dari Ayah.”

Dimas segera meminta petugas memeriksa cincin barang bukti.

Tidak ada ukiran.

Artinya seseorang sengaja menyiapkan cincin tiruan.

Penyelidikan kemudian mengarah pada rekaman kamera pengawas di jalan dekat lokasi penemuan koper.

Sebuah mobil boks terlihat berhenti sekitar pukul dua dini hari.

Pengemudinya mengenakan jaket hitam.

Setelah nomor kendaraan ditelusuri, polisi menemukan bahwa mobil tersebut disewa oleh seorang pegawai Arga bernama Bima.

Ketika diperiksa, Bima akhirnya mengaku.

Arga memerintahkannya membuang dua koper yang telah disiapkan.

“Pak Arga bilang koper itu berisi barang-barang yang harus dihilangkan,” kata Bima.

“Apakah Anda tahu isinya?”

“Tidak, Pak. Tapi dia menyuruh saya memastikan koper itu ditemukan orang.”

Dimas mengerutkan kening.

“Ditemukan?”

Bima mengangguk.

“Dia bilang jangan dibuang ke tempat terlalu dalam.”

Di situlah rencana Arga akhirnya terbongkar.

Setelah menyadari Rania berhasil melarikan diri, Arga panik.

Ia tidak mengetahui apakah Rania masih hidup atau telah meninggal akibat luka kepalanya.

Karena takut Rania akan melapor, ia menyusun cerita seolah-olah perempuan itu menjadi korban kejahatan.

Barang-barang Rania dikumpulkan dari rumah sewaan.

Sebagian pakaian yang terkena darah dimasukkan ke koper.

Cincin tiruan ditambahkan agar polisi menganggap Rania mengalami sesuatu yang mengerikan.

Arga berharap penyelidikan akan berfokus pada Siska sebagai orang terakhir yang terlihat bersama Rania.

Sementara dirinya dapat tampil sebagai calon suami yang turut membantu keluarga korban.

Namun rencananya gagal karena satu kesalahan.

Ia tidak mengetahui bahwa Rania telah menyimpan bukti digital mengenai seluruh transaksi perusahaan.

Bukti itu kemudian membantu penyidik mengembangkan perkara dugaan penggelapan dana, pemalsuan dokumen, dan tindak kekerasan.

Siska juga harus mempertanggungjawabkan keterlibatannya, termasuk penggunaan identitasnya dalam perusahaan fiktif dan keterangannya yang tidak benar.

Beberapa minggu kemudian, Nabila kembali ke gedung pernikahan yang sebelumnya telah dipesan.

Bukan untuk menikah.

Ia datang untuk mengambil barang-barang terakhir yang masih tertinggal di ruang pengantin.

Kebaya putihnya tergantung rapi di dalam lemari.

Di sampingnya terdapat sepasang sepatu dan kerudung yang telah disiapkan ibunya.

Nabila memandang semuanya cukup lama.

Rania berdiri di belakangnya.

“Maafkan Kakak,” katanya.

Nabila menoleh.

“Untuk apa?”

“Karena pernikahanmu batal.”

Nabila tersenyum sedih.

“Kak, kalau pernikahan itu tetap terjadi, mungkin aku baru mengetahui siapa Arga setelah semuanya terlambat.”

Rania menunduk.

“Aku seharusnya memberitahumu sejak awal.”

“Iya,” jawab Nabila pelan. “Seharusnya Kakak jujur.”

Rania mengangkat wajahnya.

“Tapi aku juga seharusnya mendengarkan Kakak.”

Keduanya terdiam.

Kemudian Nabila memeluk kakaknya.

“Mulai sekarang, jangan ada rahasia lagi di antara kita.”

Rania mengangguk sambil menangis.

Enam bulan berlalu.

Kasus Arga masih menjalani proses hukum ketika Nabila menerima sebuah paket kecil tanpa nama pengirim.

Di dalamnya terdapat sebuah kotak beludru biru.

Nabila membukanya.

Sebuah cincin perak terletak di dalamnya.

Di bagian dalam cincin terdapat ukiran kecil.

Untuk Rania, putri pertama Ayah.

Nabila langsung mengenalinya.

Itulah cincin asli yang hilang dari tangan kakaknya.

Bersama cincin tersebut terdapat secarik kertas.

Tulisan tangannya sangat familiar.

Aku tidak pernah berniat menyakiti kalian. Aku hanya ingin semuanya kembali seperti dulu.

Nabila segera menghubungi Dimas.

Setelah diperiksa, paket tersebut ternyata dikirim melalui jasa kurir menggunakan identitas palsu.

Namun rekaman kamera pengawas memperlihatkan seorang perempuan menyerahkan paket itu.

Siska.

Perempuan itu kemudian mengakui bahwa ia mengambil cincin asli Rania ketika Rania tidak sadarkan diri.

Ia menyimpannya karena takut barang tersebut menjadi bukti keterlibatannya.

Cincin tiruan yang ditemukan polisi merupakan bagian dari rencana Arga.

Siska mengembalikan cincin asli itu setelah akhirnya menyadari bahwa seluruh kebohongan yang ia pertahankan justru menghancurkan orang-orang yang pernah menyayanginya.

Malam itu, Nabila menyerahkan cincin tersebut kepada Rania.

Rania memandang ukiran di bagian dalamnya.

Air matanya jatuh.

“Ayah selalu bilang cincin ini harus Kakak pakai sampai tua.”

Nabila tersenyum.

“Berarti Kakak harus hidup lama.”

Rania tertawa kecil di tengah tangisnya.

Bu Ratna yang duduk di samping mereka ikut tersenyum.

Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, rumah itu kembali terasa hangat.

Nabila kemudian mengambil sebuah kotak besar dari lemari.

Di dalamnya tersimpan kebaya pengantin yang tidak pernah ia kenakan.

Rania menatapnya.

“Kamu masih menyimpannya?”

“Iya.”

“Kenapa?”

Nabila mengusap kain putih itu perlahan.

“Dulu aku menganggapnya sebagai lambang hari paling bahagia dalam hidupku.”

“Sekarang?”

Nabila menutup kotaknya.

“Sekarang aku menyimpannya untuk mengingat bahwa tidak semua pernikahan yang batal adalah sebuah kegagalan.”

Rania menggenggam tangannya.

Di luar, hujan mulai turun membasahi halaman rumah.

Hujan yang mengingatkan mereka pada pagi ketika dua koper hitam ditemukan.

Dua koper yang semula dianggap membawa kabar kematian.

Namun justru menjadi awal terbongkarnya kebohongan yang hampir menghancurkan sebuah keluarga.

Nabila memandang ibu dan kakaknya.

Ia kehilangan calon suami, rencana pernikahan, dan masa depan yang pernah dibayangkannya.

Tetapi ia mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga.

Kesempatan untuk memulai hidup tanpa kebohongan.

Dan malam itu, ketika Rania memasangkan kembali cincin pemberian ayah mereka, Nabila akhirnya memahami satu hal.

Terkadang orang yang paling keras berusaha menghentikan langkah kita bukanlah orang yang ingin merampas kebahagiaan kita.

Melainkan orang yang sudah melihat jurang di depan, sementara kita masih mengira sedang berjalan menuju surga.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang