“KAK RAFI MENGHABISKAN UANG KAS KELUARGA BUAT JUDI ONLINE! AKU PUNYA BUKTINYA!” teriak Naila sambil melemparkan beberapa lembar mutasi rekening ke atas meja.
Delapan belas juta enam ratus ribu rupiah raib dari tabungan keluarga mereka.
Uang yang dikumpulkan selama bertahun-tahun untuk biaya pengobatan ibu, memperbaiki rumah, dan menghadapi keadaan darurat.
Kini, uang itu hilang tanpa penjelasan yang masuk akal.
“Jangan sembarangan menuduh aku, Naila!” bentak Rafi, kakak sulung yang selama ini dipercaya mengelola keuangan keluarga.
“Kalau Kakak enggak berjudi, kenapa ada transaksi mencurigakan? Kenapa Kakak sering pinjam uang? Dan kenapa setiap aku minta bukti pengeluaran, Kakak selalu marah?”
Rafi mengepalkan tangan. Wajahnya memerah, tetapi ia tidak menjawab.

Di sudut ruang tengah rumah mereka di Makassar, Nurhayati, ibu mereka yang berusia 64 tahun, menangis tanpa suara.
Sejak suaminya meninggal lima tahun lalu, ia mempercayakan pengelolaan uang keluarga kepada Rafi. Tak pernah sekali pun terlintas dalam pikirannya bahwa anak sulungnya akan dituduh menghabiskan tabungan keluarga untuk judi online.
“Kak, jawab! Uang delapan belas juta itu ke mana?” desak Naila.
“Sudah kubilang, uangnya dipakai buat keperluan keluarga!”
“Keperluan apa? Tunjukkan kuitansinya!”
“Aku enggak harus menjelaskan semuanya kepadamu!”
“Ini uang kita bersama, Kak! Bukan uang pribadi Kakak!”
Pertengkaran semakin panas ketika Naila mengangkat ponselnya.
“Aku pernah lihat notifikasi situs judi online di HP Kakak. Jangan bilang itu juga kebetulan!”
Rafi langsung terdiam.
Keheningan itu justru membuat kecurigaan Naila semakin kuat.
Fikri, adik laki-laki mereka, berusaha melerai.
“Naila, notifikasi judi online belum tentu membuktikan Kak Rafi memakai uang kas. Kita perlu memeriksa rekeningnya baik-baik.”
“Tapi kenapa dia enggak mau memperlihatkan bukti?”
Tak seorang pun mampu menjawab.
Sementara itu, Sari, anak bungsu mereka yang berusia 24 tahun, duduk membeku di dekat jendela.
Sejak pertengkaran dimulai, tangannya terus menggenggam tas kain berwarna biru.
Di dalam tas itu tersimpan sebuah map plastik yang sudah berbulan-bulan ia sembunyikan.
Sari tahu persis mengapa uang Rp18.600.000 menghilang dari rekening keluarga.
Ia juga tahu bahwa tuduhan judi online terhadap Rafi tidak sepenuhnya muncul tanpa alasan.
Namun ada satu kenyataan yang jauh lebih menyakitkan daripada sekadar kehilangan uang.
Dan jika ia mengungkapkannya, hubungan keempat bersaudara itu mungkin tidak akan pernah sama lagi.
“Aku tahu uangnya ke mana,” ucap Sari tiba-tiba.
Semua orang menoleh.
Rafi langsung bangkit dari kursinya.
“Sari, jangan!”
Naila memandang kakaknya dengan curiga.
“Kenapa Kakak melarang Sari bicara? Apa yang sebenarnya Kakak sembunyikan?”
Sari perlahan membuka tasnya, mengeluarkan beberapa lembar bukti transfer, catatan transaksi, dan sebuah surat dari rumah sakit.
Ia meletakkan semuanya di hadapan ibunya.
Lalu berkata dengan suara bergetar.
“Uang itu memang keluar atas persetujuan Kak Rafi. Tapi bukan untuk judi online.”
Naila membeku.
“Kalau bukan untuk judi, lalu untuk apa?”
Sari menatap kakak sulungnya yang kini berdiri dengan wajah pucat.
“Untuk menyelamatkan seseorang yang selama ini Kak Rafi lindungi.”
Nurhayati menutup mulutnya.
“Siapa, Nak?”
Air mata Sari jatuh membasahi surat yang dipegangnya.
“Orang itu ada di ruangan ini, Bu.”
Dan ketika Sari menyebutkan namanya, Naila menjatuhkan ponsel dari tangannya.
