
Pak Rudi.
Nama itu langsung terlintas di kepalaku ketika melihat kalung emas berbandul huruf L yang melingkar di leher Bu Lina.
Namun, aku segera menahan diri. Aku tidak boleh menuduh seseorang hanya berdasarkan kemiripan sebuah perhiasan. Bisa saja kalung itu memang dibeli di toko emas dan kebetulan memiliki bentuk yang sama.
Aku menarik napas panjang, kemudian memberanikan diri mendekati kerumunan ibu-ibu tersebut.
“Permisi, Bu Lina. Kalungnya cantik sekali,” sapaku sambil tersenyum.
Bu Lina langsung menoleh.
“Eh, Tari! Iya, dong. Pak Rudi yang membelikannya.”
“Kalau boleh tahu, belinya di mana, Bu? Saya ingin membeli yang seperti itu untuk hadiah ulang tahun Ayah.”
Bu Lina tertawa kecil.
“Wah, kalau itu Ibu kurang tahu. Suami Ibu yang beli.”
Aku memperhatikan liontin tersebut lebih dekat.
Di bagian belakang huruf L terdapat goresan kecil menyerupai garis miring. Aku masih mengingat goresan itu karena Bu Lastri pernah bercerita bahwa kalung tersebut merupakan hadiah ulang tahun pernikahan dari mendiang suaminya.
“Pak Rudi membelikannya kapan, Bu?”
“Kemarin sore. Memangnya kenapa?”
Dadaku langsung berdebar.
“Tidak apa-apa, Bu. Saya cuma penasaran.”
Aku segera berpamitan sebelum Bu Lina menyadari kegelisahanku.
Sepanjang perjalanan pulang, pikiranku terus dipenuhi pertanyaan. Jika Pak Rudi memang mengambil kalung itu dari rumah Bu Lastri, apakah dia terlibat dalam pembunuhan tersebut?
Tetapi mengapa dia begitu ceroboh sampai memberikan barang milik korban kepada istrinya sendiri?
Sesampainya di rumah, aku segera mengambil ponsel dan mencari nomor Pak Arman, polisi yang pernah datang meminta keterangan warga setelah kejadian.
Aku masih menyimpan nomornya karena beliau berpesan agar siapa pun yang mengingat sesuatu segera menghubunginya.
“Selamat siang, Pak. Saya Lestari, tetangga almarhumah Bu Lastri.”
“Oh, iya, Tari. Ada apa?”
“Saya ingin menyampaikan sesuatu. Tapi saya belum yakin apakah ini penting.”
“Ceritakan saja.”
Aku menjelaskan tentang kalung yang dikenakan Bu Lina, termasuk bentuk liontin dan goresan kecil yang kuingat.
Pak Arman mendengarkan tanpa menyela.
“Baik, Tari. Terima kasih sudah memberi tahu. Tapi jangan membicarakan dugaan ini kepada orang lain dulu. Kami akan memeriksanya.”
Aku merasa sedikit lega.
Namun, sebelum menutup telepon, aku teringat perkataan Kakek Ali.
“Pak, ada satu hal lagi.”
“Apa itu?”
“Kakek Ali, warga yang sering berjalan sendirian di kampung, beberapa kali mengatakan kepada saya agar jangan membuka pintu.”
Pak Arman terdiam sejenak.
“Pintu apa?”
“Itulah yang tidak saya mengerti.”
“Kalau bertemu beliau lagi, jangan memaksanya bercerita. Beri tahu kami saja.”
Aku mengangguk meskipun beliau tidak bisa melihatnya.
Setelah telepon berakhir, aku duduk di ruang tamu sambil menatap rumah Bu Lastri dari jendela.
Entah mengapa, perasaan tidak nyaman justru semakin kuat.
Menjelang Magrib, Ayah pulang lebih awal dari biasanya.
Wajahnya terlihat lelah. Ada noda tanah pada ujung celananya, sementara tas hitam yang selalu dibawanya kembali terlihat penuh.
“Kamu sudah makan, Tari?” tanyanya.
“Sudah, Yah.”
Ayah mengangguk, kemudian masuk ke kamar.
Aku memperhatikan langkahnya.
Dulu aku tidak pernah mempertanyakan kegiatan Ayah. Namun, sekarang aku mulai menyadari betapa sedikit yang kuketahui tentang pekerjaan beliau selama beberapa hari terakhir.
Aku bahkan tidak tahu mengapa tasnya tiba-tiba menjadi begitu berat.
Malam itu, setelah makan, Ayah kembali mengatakan hendak keluar.
“Ayah mau ke mana?” tanyaku.
“Ada urusan sebentar.”
“Urusan pekerjaan?”
Ayah menatapku.
“Iya.”
“Boleh Tari ikut?”
“Tidak perlu.”
Jawabannya terlalu cepat.
Aku memberanikan diri bertanya lagi.
“Ayah kenal dekat dengan Pak Rudi?”
Seketika tangan Ayah yang sedang mengambil kunci berhenti bergerak.
“Kenapa kamu bertanya begitu?”
“Tidak apa-apa. Tadi Tari bertemu Bu Lina.”
Ayah menatapku cukup lama.
“Tari, dengarkan Ayah. Jangan terlalu dekat dengan keluarga Pak Rudi untuk sementara.”
Dadaku terasa dingin.
“Kenapa, Yah?”
Namun, Ayah tidak menjawab.
Beliau hanya mengusap kepalaku, lalu keluar rumah.
Aku berdiri mematung.
Semakin lama, larangan Ayah justru membuatku semakin curiga.
Sekitar pukul sembilan malam, aku mendengar suara sepeda motor dari arah jalan belakang.
Aku mengintip melalui jendela.
Motor Ayah berhenti di dekat gang kecil yang menuju rumah Bu Lastri.
Beberapa saat kemudian, seorang laki-laki muncul dari arah berlawanan.
Pak Rudi.
Jantungku langsung berdegup kencang.
Kedua laki-laki itu berbicara sebentar sebelum berjalan menuju bangunan kosong di belakang rumah Bu Lastri.
Aku segera mengambil jaket dan keluar melalui pintu samping.
Aku tahu tindakanku berisiko. Karena itu, sebelum keluar, aku mengirim pesan kepada Pak Arman mengenai lokasi Ayah dan Pak Rudi.
Aku tidak berniat mendekati mereka. Aku hanya ingin memastikan apa yang sedang terjadi.
Dari balik pagar bambu, kulihat Ayah menyerahkan sebuah amplop cokelat kepada Pak Rudi.
Pak Rudi langsung membukanya.
“Kamu yakin semuanya sudah lengkap?” tanyanya.
Ayah mengangguk.
“Sudah. Tapi jangan sampai orang lain tahu.”
Aku menahan napas.
Pak Rudi kemudian berkata dengan suara rendah, “Kalau masalah ini terbongkar, kita berdua bisa celaka.”
Kakiku terasa lemas.
Apa sebenarnya hubungan Ayah dengan kematian Bu Lastri?
Aku mencoba mundur perlahan.
Namun, tanpa sengaja kakiku menginjak ranting kering.
Krek!
Pak Rudi langsung menoleh.
“Siapa di sana?”
Aku membeku.
Ayah juga menatap ke arah pagar.
“Tari?”
Aku tidak mampu menjawab.
Ayah berjalan mendekat dan menemukan aku berdiri dengan wajah pucat.
“Kamu mengikuti Ayah?”
Air mataku langsung mengalir.
“Ayah sedang melakukan apa?”
Ayah menatapku dengan wajah terkejut.
“Tari, pulang sekarang.”
“Tidak mau! Tari ingin tahu kenapa Ayah bertemu Pak Rudi diam-diam!”
Pak Rudi mendekat.
“Sudahlah, Pak Hasan. Kalau anakmu sudah melihat, lebih baik kita jelaskan.”
Namun, Ayah menggeleng.
“Bukan di sini.”
Tiba-tiba terdengar suara kendaraan berhenti di ujung gang.
Dua petugas kepolisian turun bersama Pak Arman.
“Selamat malam. Kami menerima informasi mengenai pertemuan di tempat ini,” katanya.
Pak Rudi terlihat terkejut.
Ayah justru mengembuskan napas panjang, seolah sudah menunggu kedatangan mereka.
“Pak Arman, saya memang berniat menemui Bapak besok pagi.”
Beliau menyerahkan amplop cokelat itu kepada polisi.
Pak Arman membukanya.
Di dalamnya terdapat beberapa lembar foto dan sebuah perangkat penyimpanan kecil.
“Apa ini, Pak Hasan?”
“Salinan rekaman kamera pengawas dari gudang tempat saya bekerja.”
Aku membelalak.
Ayah melanjutkan penjelasannya.
Gudang tersebut berada tidak jauh dari rumah Bu Lastri. Kamera di pintu belakang ternyata merekam sebagian jalan menuju rumah korban pada malam pembunuhan.
“Kenapa Bapak tidak langsung menyerahkan rekaman ini?” tanya Pak Arman.
Ayah menunduk.
“Pemilik gudang sedang berada di luar kota. Saya baru mendapatkan izin mengakses rekaman setelah beliau kembali. Sebelumnya saya cuma menyimpan catatan waktu kendaraan yang lewat.”
Aku menatap Ayah dengan bingung.
“Lalu kenapa Ayah bertemu Pak Rudi?”
Pak Rudi menjawab sebelum Ayah sempat berbicara.
“Karena saya yang meminta tolong mencocokkan waktu dalam rekaman itu.”
Pak Arman menatapnya tajam.
“Untuk apa?”
Wajah Pak Rudi mendadak pucat.
“Saya takut ada orang yang mencoba menjebak saya.”
Aku langsung teringat kalung Bu Lina.
Pak Arman rupanya juga mengingat laporan yang kuberikan siang tadi.
“Pak Rudi, kami memang perlu meminta keterangan Bapak mengenai beberapa hal.”
Pak Rudi mengangguk dengan gugup.
Kami akhirnya dibawa ke kantor polisi untuk memberikan keterangan secara terpisah.
Di sana, aku mengetahui sesuatu yang mengejutkan.
Pak Rudi ternyata benar-benar mengambil sebuah kalung dari rumah Bu Lastri.
Namun, menurut pengakuannya, kalung itu ditemukan di dekat pintu belakang ketika dia masuk ke rumah korban pada pagi hari.
Dia menyimpannya karena panik, lalu memberikan kalung itu kepada istrinya.
“Aku tahu itu salah,” katanya sambil menunduk. “Aku takut dituduh mencuri kalau mengembalikannya terlambat.”
Pak Arman menjelaskan bahwa pengakuan tersebut harus diperiksa bersama bukti lainnya.
Sementara itu, rekaman dari gudang Ayah memperlihatkan sebuah mobil bak terbuka melintas sekitar pukul sebelas malam.
Mobil itu berhenti selama beberapa menit di belakang rumah Bu Lastri sebelum kembali melaju.
Nomor polisinya terlihat cukup jelas.
Yang membuatku terkejut, mobil tersebut ternyata milik seorang pedagang barang bekas bernama Joko.
Pak Joko dikenal ramah dan sering membeli perabot bekas dari warga.
Namun, sejak pemakaman Bu Lastri, aku sama sekali tidak melihatnya di kampung.
Keesokan harinya, polisi mendatangi tempat penampungan barang bekas milik Pak Joko.
Di sana ditemukan sejumlah barang yang diduga berasal dari rumah Bu Lastri. Setelah dilakukan pemeriksaan, beberapa barang berhasil dikenali oleh kerabat korban.
Namun, Pak Joko tidak berada di tempat.
Menurut tetangganya, dia meninggalkan rumah dua hari sebelumnya.
Aku semakin gelisah ketika mengetahui kabar tersebut.
Apakah Pak Joko benar-benar pelakunya?
Lalu apa hubungan semua ini dengan Kakek Ali?
Pertanyaan itu baru terjawab tiga hari kemudian.
Pagi itu, Kakek Ali ditemukan duduk di depan masjid desa dalam keadaan lemah.
Pak Arman segera membawanya ke puskesmas untuk mendapatkan pemeriksaan.
Aku datang bersama Ayah setelah mendengar kabar tersebut.
Ketika melihatku, Kakek Ali langsung memegang tanganku.
“Jangan buka pintunya,” katanya lirih.
Aku berjongkok di hadapannya.
“Kek, Tari ada di sini. Kakek tidak perlu takut.”
Kakek Ali menggeleng berkali-kali.
“Pintu belakang… jangan buka… Joko…”
Aku langsung menoleh kepada Pak Arman.
Beliau mendekat.
“Kek Ali, apakah Kakek melihat Pak Joko malam itu?”
Kakek Ali mengangguk.
Kemudian beliau menunjuk ke arah dadanya.
“Dia marah… Lastri tidak mau…”
Pak Arman berbicara pelan agar Kakek Ali tidak semakin ketakutan.
“Apa yang tidak mau dilakukan Bu Lastri?”
“Menjual rumah…”
Kami saling berpandangan.
Sedikit demi sedikit, Kakek Ali mulai menceritakan kejadian malam itu.
Ternyata beberapa hari sebelum pembunuhan, Pak Joko mendatangi Bu Lastri dan menawarkan pembelian rumah dengan harga sangat rendah.
Bu Lastri menolak karena rumah tersebut merupakan peninggalan keluarganya.
Pada malam kejadian, Pak Joko datang kembali bersama seorang laki-laki lain.
Kakek Ali kebetulan sedang berlindung dari hujan di teras bangunan kosong belakang rumah.
Dia melihat keduanya masuk melalui pintu belakang setelah salah seorang penghuni membukanya.
Tak lama kemudian terdengar pertengkaran.
Lampu rumah mendadak padam.
Kakek Ali ketakutan dan bersembunyi di balik tumpukan kayu.
Setelah mendengar jeritan, dia melihat kedua laki-laki itu keluar membawa beberapa tas.
Salah seorang melihatnya dan mengancam akan mencelakainya jika menceritakan kejadian tersebut.
Itulah sebabnya Kakek Ali terus mengulang kalimat agar pintu jangan dibuka.
Dia bukan sedang memperingatkanku tentang sebuah pintu yang akan kubuka.
Dia sedang mengingat kejadian ketika pintu belakang rumah Bu Lastri dibuka untuk orang yang akhirnya membawa petaka.
Pak Arman segera mencatat keterangannya, sambil menjelaskan bahwa kesaksian tersebut masih harus dicocokkan dengan bukti lain.
Dua hari kemudian, Pak Joko berhasil ditangkap di wilayah Cirebon.
Bersama penyidik, polisi mengembangkan pemeriksaan terhadap seorang rekannya yang juga diduga terlibat.
Dari hasil penyelidikan lanjutan, terungkap bahwa pembunuhan keluarga Bu Lastri bermula dari perselisihan mengenai rumah dan sejumlah dokumen kepemilikan.
Barang berharga diambil untuk memberikan kesan bahwa peristiwa itu semata-mata perampokan.
Polisi kemudian menemukan sejumlah dokumen dan barang milik korban yang disembunyikan di tempat penampungan barang bekas.
Namun, masih ada satu pertanyaan yang mengganggu pikiranku.
Mengapa Ayah begitu keras melarangku mencari Kakek Ali?
Malam itu aku memberanikan diri menanyakannya.
Ayah sedang duduk di teras sambil menikmati teh hangat.
“Yah, kenapa waktu itu Ayah melarang Tari mencari Kakek Ali?”
Ayah meletakkan cangkirnya.
“Karena Ayah pernah melihat Joko mengancam Kakek Ali.”
Aku terkejut.
“Ayah melihatnya?”
“Iya. Dua hari setelah kematian Bu Lastri, Ayah melihat Joko menarik Kakek Ali ke belakang gudang. Ayah tidak mendengar semua perkataannya, tapi Ayah tahu ada sesuatu yang tidak beres.”
“Kenapa Ayah tidak cerita?”
“Ayah takut kamu ikut menjadi sasaran. Ayah sedang berusaha mencari bukti yang bisa diserahkan kepada polisi.”
Aku menunduk.
Ternyata selama ini Ayah bukan menyembunyikan kejahatan.
Beliau sedang berusaha melindungiku, meskipun caranya membuatku justru semakin curiga.
“Maafkan Tari sudah berpikir buruk tentang Ayah.”
Ayah tersenyum lembut.
“Ayah juga salah karena tidak menjelaskan apa-apa. Seharusnya Ayah tidak membiarkanmu menghadapi ketakutan sendirian.”
Aku memeluknya erat.
Beberapa minggu kemudian, keadaan desa perlahan kembali tenang.
Rumah Bu Lastri masih kosong, tetapi polisi telah menyelesaikan pemeriksaan lokasi kejadian.
Bu Lina mengembalikan kalung yang diberikan suaminya kepada penyidik. Pak Rudi juga harus mempertanggungjawabkan tindakannya mengambil barang dari rumah korban, meskipun penyelidikan tidak menemukan bukti bahwa dia terlibat dalam pembunuhan.
Sementara itu, Kakek Ali mulai mendapatkan perhatian yang lebih baik dari warga.
Beberapa orang bergantian mengantarkan makanan dan membantu membersihkan tempat tinggalnya.
Suatu sore, aku duduk bersama Kakek Ali di bawah pohon mangga dekat masjid.
Beliau terlihat lebih sehat.
“Kek, sekarang Kakek masih mencari istri dan anak Kakek?”
Beliau tersenyum kecil.
“Istri Kakek sudah pulang.”
Aku terdiam.
“Pulang ke mana, Kek?”
“Ke tempat yang tidak bisa Kakek datangi sekarang.”
Mataku mulai berkaca-kaca.
Untuk pertama kalinya, Kakek Ali berbicara tentang keluarganya dengan tenang.
“Kakek tahu mereka sudah meninggal?” tanyaku hati-hati.
Beliau mengangguk.
“Tahu. Kadang Kakek cuma ingin berpura-pura mereka masih ada. Kalau Kakek terus berjalan mencari mereka, rasanya rumah tidak terlalu sepi.”
Aku menatapnya dengan dada sesak.
Selama ini kami mengira Kakek Ali tidak memahami kenyataan.
Ternyata beliau hanya memiliki cara sendiri untuk menghadapi kehilangan yang begitu besar.
Kakek Ali kemudian menggenggam tanganku.
“Tari, jangan tinggalkan ayahmu sendirian. Tapi jangan juga berhenti mengejar cita-citamu karena takut berpisah.”
Aku terkejut mendengar perkataan itu.
“Kenapa Kakek bilang begitu?”
“Ayahmu sering cerita tentang kamu. Katanya kamu pintar, tapi tidak mau kuliah karena ingin menjaganya.”
Aku menunduk.
Kakek Ali tersenyum.
“Orang tua paling bahagia bukan ketika anaknya terus berada di sampingnya. Mereka bahagia ketika melihat anaknya bisa tumbuh dan menjalani kehidupan yang baik.”
Perkataan itu terus terngiang hingga malam.
Ketika pulang, aku menemukan Ayah sedang memegang sebuah brosur perguruan tinggi.
Beliau menyerahkannya kepadaku.
“Ayah sudah mencari informasi. Ada program kuliah di kota yang jadwalnya cukup fleksibel. Kamu bisa tetap tinggal di rumah kalau mau.”
Aku menatap brosur tersebut dengan mata berkaca-kaca.
“Tapi Ayah bagaimana?”
Ayah tertawa kecil.
“Ayah masih bisa memasak nasi dan mencuci baju sendiri, Tari. Kamu tidak perlu mengorbankan masa depan hanya untuk membuktikan bahwa kamu menyayangi Ayah.”
Aku memeluknya sambil menangis.
Beberapa bulan kemudian, aku resmi menjadi mahasiswa.
Setiap pagi aku berangkat kuliah, dan setiap sore aku kembali membantu Ayah di rumah.
Aku juga tetap menyempatkan diri mengunjungi Kakek Ali.
Namun, ada satu hal yang tidak pernah kulupakan.
Pada suatu sore, ketika aku membantu merapikan barang-barang lama milik Ayah, aku menemukan sebuah foto yang terselip di dalam buku.
Foto itu memperlihatkan Ayah ketika masih muda, berdiri bersama Bu Lastri dan Kakek Ali.
Di belakang foto terdapat tulisan tangan yang mulai memudar.
Untuk tiga sahabat yang berjanji akan selalu saling menjaga.
Aku membawa foto itu kepada Ayah.
“Yah, ternyata Ayah sudah lama mengenal Kakek Ali dan Bu Lastri?”
Ayah menatap foto tersebut cukup lama.
Kemudian beliau tersenyum sedih.
“Kami berteman sejak kecil. Sebelum Kakek Ali kehilangan keluarganya, dialah orang yang paling sering membantu Ayah ketika sedang kesulitan.”
Aku terdiam.
“Jadi selama ini Ayah sebenarnya sedang membalas kebaikan beliau?”
Ayah mengangguk.
“Bukan membalas, Tari. Persahabatan tidak pernah dihitung seperti utang. Kalau seorang sahabat sedang kesulitan, sudah sepantasnya kita berusaha menolong.”
Aku kembali memandangi foto tersebut.
Kini aku mengerti mengapa Ayah begitu khawatir ketika Kakek Ali menghilang, tetapi pada saat yang sama takut aku ikut terseret ke dalam bahaya.
Misteri yang selama ini membuatku mencurigai banyak orang akhirnya mengajarkanku sesuatu yang tidak pernah kudapatkan dari buku mana pun.
Kebenaran tidak selalu terlihat dari apa yang tampak di permukaan.
Orang yang terlihat mencurigakan belum tentu bersalah. Orang yang dianggap tidak waras belum tentu tidak memahami apa pun. Dan orang yang terlihat kuat terkadang menyimpan kesedihan yang tidak pernah diketahui siapa pun.
Sejak hari itu, setiap kali melewati rumah Bu Lastri, aku selalu memanjatkan doa untuk keluarga yang telah pergi.
Aku juga tidak lagi memandang Kakek Ali sebagai pria tua malang yang berjalan tanpa tujuan.
Bagiku, beliau adalah seseorang yang telah kehilangan banyak hal, tetapi masih memiliki keberanian untuk menyampaikan kebenaran.
Dan dari beliau pula aku belajar bahwa kasih sayang bukan berarti menggenggam orang yang kita cintai selamanya.
Terkadang, kasih sayang justru berarti memberikan mereka kesempatan untuk melangkah lebih jauh, sambil memastikan bahwa ketika mereka menoleh ke belakang, masih ada seseorang yang menunggu dengan pintu rumah terbuka.
