Ketika Chen Yaozu akhirnya mengetahui siapa sebenarnya ibuku, dia sudah kehilangan kesempatan terakhir untuk memperbaiki hidupnya.
Namun, semua itu bermula pada malam ketika aku meninggalkan rumah dengan satu koper, seorang bayi yang baru berusia lima hari, dan amplop cokelat berisi bukti pengkhianatan suamiku.
Hujan masih turun ketika mobil yang kupesan berhenti di depan sebuah hotel kecil di Jakarta Selatan. Aku tidak punya tenaga untuk mencari tempat tinggal lain. Luka operasi caesar masih terasa nyeri setiap kali aku bergerak, sementara putriku mulai menangis karena lapar.
Aku baru saja menyelesaikan proses check-in ketika ponselku berdering.
Mama.
“Lin Yue, kamu di mana?”
Aku mencoba menjawab dengan tenang.
“Di hotel, Ma. Aku dan bayi baik-baik saja.”
Hening beberapa detik.
“Kenapa kamu berada di hotel lima hari setelah melahirkan?”
Pertanyaan sederhana itu membuat pertahananku runtuh.
Aku menangis.
Bukan tangisan pelan yang selama ini kutahan di hadapan Chen Yaozu, melainkan tangisan seseorang yang akhirnya menemukan tempat untuk bersandar.
“Ma, Yaozu menceraikanku.”
Suara Mama langsung berubah.
“Karena apa?”
“Karena aku melahirkan anak perempuan. Dia sudah punya perempuan lain yang sedang hamil.”
Mama tidak langsung menjawab.
Kemudian dia berkata dengan suara sangat tenang.
“Kirim lokasimu. Mama datang.”
Dua jam kemudian, sebuah mobil hitam berhenti di depan hotel. Mama turun bersama Pak Darma, sopir keluarga yang sudah kukenal sejak kecil.
Begitu melihat kondisiku, matanya berkaca-kaca.
“Ya Tuhan, Yue. Kenapa kamu tidak menghubungi Mama sejak di rumah sakit?”
Aku menunduk.
“Aku tidak mau merepotkan Mama.”
Mama memelukku hati-hati agar tidak mengenai luka operasiku.
“Anak perempuan Mama tidak pernah menjadi beban.”
Malam itu aku dan putriku dibawa ke rumah keluarga di kawasan Menteng.
Selama tiga tahun menikah, aku hampir tidak pernah kembali ke rumah tersebut. Chen Yaozu tidak menyukai keluargaku. Dia menganggap Mama terlalu ikut campur dan Papa terlalu sibuk mengurus bisnis.
Padahal selama ini mereka hanya menghormati keputusanku untuk membangun rumah tangga sendiri.
Keesokan paginya, Mama masuk ke kamarku membawa sarapan.
“Yue, Mama sudah menghubungi dokter untuk memeriksa keadaanmu. Setelah itu, kalau kamu cukup kuat, kita bicarakan urusan perceraianmu.”
Aku mengangguk.
Kemudian menyerahkan amplop cokelat yang kutemukan di rumah.
Mama membaca isinya perlahan.
Semakin lama, wajahnya semakin dingin.
“Ini rekening yang kamu gunakan untuk membayar cicilan rumah?”
“Iya, Ma. Selama tiga tahun aku mentransfer hampir enam ratus juta rupiah.”
Mama membalik halaman berikutnya.
“Dan sebagian dipindahkan kepada Nana?”
Aku mengangguk.
“Yaozu juga membeli apartemen untuknya.”
Mama meletakkan dokumen tersebut.
“Apakah kamu sudah resmi bercerai?”
Aku terdiam.
“Kemarin aku menandatangani surat yang dia berikan.”
Mama menghela napas.
“Berarti belum tentu perceraianmu sah. Surat pribadi bukan pengganti proses perceraian di pengadilan.”
Aku menatapnya.
“Jadi aku masih bisa memperjuangkan hakku?”
“Tentu. Tapi kita harus melakukannya dengan benar.”
Hari itu Mama mempertemukanku dengan pengacara keluarga, Bu Maya.
Setelah memeriksa dokumen, Bu Maya menjelaskan bahwa kesepakatan yang kutandatangani ketika masih dalam pemulihan tidak otomatis menghilangkan hakku atas harta bersama maupun hak anak untuk mendapatkan nafkah.
“Kita harus mengumpulkan bukti sumber dana, pembayaran cicilan, dan kepemilikan aset,” jelasnya.
Aku menggenggam tangan putriku.

“Aku tidak ingin mengambil sesuatu yang bukan milikku.”
Bu Maya tersenyum.
“Justru itu tujuan kita. Memastikan tidak ada yang mengambil sesuatu yang menjadi hakmu.”
Selama beberapa minggu berikutnya, aku fokus memulihkan kesehatan.
Sementara itu, Mama dan Bu Maya membantu mengumpulkan bukti transfer serta dokumen kepemilikan yang bisa diperoleh secara sah.
Aku juga memberikan nama kepada putriku.
Alya.
Nama yang berarti kemuliaan.
Aku ingin dia tumbuh dengan keyakinan bahwa nilai seorang perempuan tidak ditentukan oleh siapa yang menikahinya atau apakah dia mampu melahirkan anak laki-laki.
Sementara hidupku perlahan mulai tenang, Chen Yaozu justru menikmati kehidupan barunya.
Melalui unggahan media sosial Nana, aku mengetahui mereka mengadakan pesta pernikahan mewah setelah perceraian kami selesai secara hukum beberapa bulan kemudian.
Nana mengenakan gaun putih dengan ekor panjang.
Yaozu berdiri di sampingnya sambil tersenyum bangga.
Di bawah foto itu tertulis bahwa mereka sedang menantikan kelahiran penerus keluarga Chen.
Aku menutup layar ponsel.
Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa sedih.
Aku hanya merasa lega karena tidak lagi berada di dalam kehidupan yang menganggap anak perempuan sebagai kegagalan.
Namun, enam bulan setelah perceraian kami resmi, sesuatu yang tidak terduga terjadi.
Perusahaan tempat Chen Yaozu bekerja kehilangan kontrak distribusi terbesarnya.
Kontrak tersebut bernilai puluhan miliar rupiah dan selama bertahun-tahun menjadi sumber utama pendapatan perusahaan.
Yaozu bekerja sebagai direktur pemasaran di PT Cakra Niaga Sentosa.
Dia selalu membanggakan keberhasilannya menjaga hubungan dengan salah satu pemasok terbesar, perusahaan bernama Nusantara Sentosa Group.
Yang tidak diketahui Yaozu adalah bahwa Nusantara Sentosa Group merupakan bagian dari jaringan usaha keluarga ibuku.
Mama, Lin Meihua, adalah salah satu pemegang saham pengendalinya.
Aku memang mengetahui keluargaku memiliki beberapa perusahaan, tetapi sejak menikah aku tidak pernah meminta Mama menggunakan pengaruh bisnisnya untuk membantuku.
Bahkan ketika mengetahui kekacauan rumah tanggaku, Mama tidak pernah mencoba menghancurkan pekerjaan mantan suamiku.
Kontrak itu tidak diperpanjang karena hasil audit menemukan keterlambatan pembayaran dan laporan penjualan yang tidak sesuai dengan ketentuan kerja sama.
Namun Yaozu tidak mengetahui alasan lengkapnya.
Dia mengira keluarga besar Chen sedang menjadi korban persaingan bisnis.
Suatu sore, Mama menghadiri acara pertemuan mitra usaha di sebuah hotel kawasan Kuningan.
Aku tidak ikut karena Alya sedang demam ringan.
Di acara itulah Chen Yaozu bertemu kembali dengan Mama.
Menurut cerita Pak Darma, Yaozu mendekati Mama dengan senyum penuh percaya diri.
“Bu Meihua, lama tidak bertemu.”
Mama menoleh.
“Oh, Yaozu.”
Dia membungkuk sopan.
“Saya dengar Ibu sekarang sering menghadiri acara bisnis besar. Semoga sehat selalu.”
Mama tersenyum.
“Terima kasih. Bagaimana keadaan keluargamu?”
Wajah Yaozu langsung berbinar.
“Sangat baik, Bu. Istri saya sekarang sedang hamil besar. Kami menantikan anak laki-laki.”
Mama mengangguk.
“Semoga ibu dan bayinya sehat.”
Yaozu kemudian tertawa kecil.
“Kalau dipikir-pikir, perceraian saya dengan Lin Yue memang keputusan yang tepat. Kami tidak cocok sejak awal.”
Mama memandangnya cukup lama.
Kemudian tersenyum semakin lebar.
“Untung kamu menceraikan putriku.”
Yaozu terdiam.
Mama melanjutkan dengan suara lembut.
“Kamu benar-benar telah berjasa besar bagi keluarga kami.”
Senyum Yaozu perlahan menghilang.
“Maksud Ibu?”
“Selama menikah denganmu, Yue selalu menolak kembali mengelola perusahaan keluarga. Dia terlalu sibuk membantumu membangun usaha dan mengurus rumah tangga.”
Mama mengambil segelas air putih dari meja pelayan.
“Sekarang dia sudah kembali bekerja. Minggu lalu, dia baru menyelesaikan proyek ekspansi distribusi kami di Surabaya.”
Yaozu mengerutkan kening.
“Perusahaan keluarga?”
Mama mengangguk.
“Nusantara Sentosa Group.”
Wajah Yaozu seketika pucat.
“Maaf, Bu… perusahaan apa?”
Mama mengulanginya.
“Nusantara Sentosa Group.”
Gelas di tangan Yaozu hampir terlepas.
Dia tentu mengenal nama itu.
Perusahaan yang kontraknya baru saja hilang dari tempatnya bekerja.
Perusahaan yang selama bertahun-tahun dia harapkan menjadi jalan menuju jabatan direktur utama.
Mama menatapnya dengan tenang.
“Yue sebenarnya pernah dipersiapkan untuk memimpin salah satu unit bisnis kami. Tapi dia memilih membangun keluarga bersamamu.”
Yaozu menelan ludah.
“Jadi Lin Yue…”
“Dia sekarang Direktur Pengembangan Bisnis. Pengangkatannya sudah melalui proses penilaian dan persetujuan perusahaan.”
Mama tersenyum tipis.
“Terima kasih karena sudah membiarkannya kembali menjadi dirinya sendiri.”
Untuk pertama kalinya malam itu, Chen Yaozu tidak mampu menjawab.
Keesokan paginya, ponselku dipenuhi panggilan dari nomor mantan suamiku.
Aku mengabaikannya.
Namun siang hari, sebuah pesan panjang masuk.
Lin Yue, kenapa kamu tidak pernah bilang siapa keluargamu sebenarnya? Kita perlu bicara. Aku masih ayah Alya.
Aku membalas singkat.
Kalau ingin membicarakan kebutuhan Alya, silakan hubungi pengacaraku. Soal kehidupan pribadiku, kita tidak punya urusan lagi.
Tidak sampai lima menit, telepon kembali berdering.
Kali ini aku mengangkatnya.
“Yue, kamu sengaja mempermalukanku?”
Aku terdiam.
“Mempermalukanmu bagaimana?”
“Kenapa kamu tidak pernah bilang ibumu pemilik perusahaan sebesar itu?”
Aku menarik napas panjang.
“Yaozu, selama tiga tahun menikah, kamu tidak pernah tertarik mengenal keluargaku. Setiap kali Mama mengundang kita makan malam, kamu selalu menolak.”
“Itu berbeda!”
“Apa bedanya?”
Dia tidak menjawab.
Kemudian suaranya berubah lebih lembut.
“Yue, aku sebenarnya masih memikirkan kamu dan Alya.”
Aku hampir tertawa.
“Selama enam bulan kamu tidak pernah menanyakan keadaan Alya.”
“Aku sibuk.”
“Tapi kamu punya waktu mengadakan pesta pernikahan mewah dan mengunggah foto calon penerus keluarga setiap minggu.”
Hening panjang terdengar dari seberang.
Akhirnya Yaozu berbisik.
“Aku membuat kesalahan.”
Aku menatap Alya yang sedang tidur di ranjang kecilnya.
“Kesalahanmu bukan karena memilih Nana. Kesalahanmu adalah menganggap perempuan dan anak perempuan tidak memiliki nilai ketika tidak memberikan apa yang kamu inginkan.”
Aku menutup telepon.
Namun persoalan kami belum benar-benar selesai.
Dua minggu kemudian, Bu Maya menelepon dengan kabar penting.
“Lin Yue, hasil penelusuran dokumen keuangan sudah cukup kuat untuk melanjutkan tuntutan terkait pembagian harta bersama.”
Aku duduk tegak.
“Bagaimana dengan uang yang dipindahkan kepada Nana?”
“Sebagian transfer dapat ditelusuri sebagai dana yang berasal dari penghasilan selama pernikahan. Kita akan meminta pengadilan menilai asal-usul dan penggunaannya.”
Aku mengangguk.
“Dan rumah itu?”
“Masih harus diperiksa status kepemilikannya serta sumber pembayaran cicilan. Nama pada sertifikat bukan satu-satunya hal yang menentukan hak atas harta bersama.”
Aku memejamkan mata.
Selama ini aku mengira semua pengorbananku telah hilang begitu saja.
Ternyata tidak.
Beberapa bulan berikutnya, proses hukum berjalan dengan melelahkan.
Yaozu berkali-kali menuduhku ingin menghancurkan keluarganya.
Namun aku tidak membalas dengan kemarahan.
Aku hanya menyerahkan bukti dan membiarkan proses berjalan.
Pada akhirnya, pengadilan menetapkan pembagian harta bersama berdasarkan bukti yang diperiksa dan mewajibkan Yaozu memenuhi tanggung jawab nafkah anak sesuai putusan.
Aku tidak mendapatkan kembali seluruh tahun yang hilang.
Namun setidaknya jerih payahku tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang bisa dihapus dengan selembar surat.
Sementara itu, kehidupan rumah tangga baru Yaozu mulai menghadapi masalah.
Nana melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat.
Namun kebahagiaan mereka tidak bertahan lama.
Perusahaan tempat Yaozu bekerja mengalami restrukturisasi besar. Jabatannya dihapus setelah penurunan pendapatan, dan dia harus mencari pekerjaan baru.
Cicilan rumah serta biaya hidup mewah mulai menjadi beban.
Suatu sore, Yaozu datang ke kantor pusat Nusantara Sentosa Group.
Dia meminta bertemu denganku.
Saat sekretarisku menyampaikan permintaannya, aku sempat terdiam.
Kemudian aku mempersilakannya masuk ke ruang pertemuan.
Yaozu terlihat berbeda.
Jasnya kusut.
Wajahnya lelah.
Dia duduk di hadapanku dan menatap ruangan dengan gelisah.
“Yue, kamu sekarang benar-benar memimpin perusahaan?”
“Aku memimpin salah satu divisi.”
Dia mengangguk pelan.
“Aku sedang mencari pekerjaan.”
Aku langsung memahami maksud kedatangannya.
“Kamu ingin aku membantumu masuk ke perusahaan ini?”
Yaozu menunduk.
“Aku punya pengalaman bertahun-tahun di bidang distribusi.”
Aku menatapnya.
“Kalau ingin melamar pekerjaan, kamu bisa mengikuti proses rekrutmen seperti kandidat lain. Aku tidak akan ikut mengambil keputusan karena hubungan pribadi kita.”
Dia terlihat kecewa.
“Setelah semua yang pernah kita lalui, kamu tidak bisa membantuku sedikit saja?”
Aku tersenyum sedih.
“Dulu aku membantumu dengan hampir seluruh tabunganku. Kamu menggunakan sebagian uang itu untuk membiayai perempuan lain.”
Yaozu terdiam.
Aku melanjutkan.
“Aku tidak membencimu lagi. Tapi itu bukan berarti aku harus kembali menyelamatkanmu setiap kali hidupmu sulit.”
Air matanya tiba-tiba jatuh.
“Yue, aku menyesal.”
Aku menatapnya lama.
“Aku harap penyesalanmu membuatmu menjadi ayah yang lebih baik bagi kedua anakmu.”
Dia mengangkat wajah.
“Menurutmu Alya masih mau mengenalku?”
“Dia masih kecil. Kalau kamu ingin membangun hubungan dengannya, lakukan dengan konsisten dan sesuai pengaturan pengasuhan. Jangan datang hanya ketika sedang kehilangan sesuatu.”
Yaozu mengangguk perlahan.
Kami berpisah tanpa pertengkaran.
Setahun setelah perceraian, aku merayakan ulang tahun pertama Alya di taman rumah Mama.
Tidak ada dekorasi berlebihan.
Hanya balon berwarna merah muda, kue kecil, dan beberapa anggota keluarga dekat.
Alya mengenakan gaun kuning dengan pita putih di rambutnya.
Dia tertawa ketika Mama menggendongnya mendekati kue ulang tahun.
“Selamat ulang tahun, cucu kesayangan Oma!”
Aku memotret mereka sambil tersenyum.
Papa menghampiriku.
“Yue, kamu bahagia sekarang?”
Aku menatap Alya yang sedang mencoba meraih balon.
“Iya, Pa.”
Papa mengangguk.
“Papa dulu takut kamu tidak akan sanggup melewati semuanya.”
Aku menggenggam tangannya.
“Aku juga takut. Tapi ternyata aku lebih kuat daripada yang kukira.”
Sore itu, ketika para tamu sudah pulang, Mama duduk bersamaku di teras.
“Yue, kamu tahu kenapa waktu itu Mama berterima kasih kepada Yaozu?”
Aku tertawa kecil.
“Karena dia menceraikanku?”
Mama menggeleng.
“Bukan karena Mama senang kamu disakiti.”
Aku menoleh kepadanya.
“Terus kenapa?”
“Karena setelah bertahun-tahun melihatmu mengorbankan diri demi orang yang tidak menghargaimu, Mama akhirnya melihat kamu berani memilih kebahagiaanmu sendiri.”
Mataku mulai berkaca-kaca.
Mama menggenggam tanganku.
“Tapi jangan salah paham. Semua yang kamu capai sekarang bukan karena Yaozu menceraikanmu. Itu karena kamu punya kemampuan, keberanian, dan kesempatan untuk memulai lagi.”
Aku bersandar di bahunya.
Di halaman, Alya sedang belajar berjalan sambil berpegangan pada tangan Papa.
Dia jatuh terduduk di atas rumput.
Namun bukannya menangis, dia justru tertawa dan mencoba berdiri lagi.
Aku memandangnya dengan dada penuh kehangatan.
Putriku mungkin tidak akan tumbuh dalam keluarga seperti yang dulu kubayangkan.
Namun dia akan tumbuh dengan mengetahui bahwa dirinya dicintai.
Bahwa kelahirannya bukan sebuah kegagalan.
Bahwa dia tidak perlu menjadi anak laki-laki untuk dianggap berharga.
Dan bahwa seorang perempuan tidak harus bertahan dalam hubungan yang menyakitkan hanya demi mempertahankan nama keluarga.
Aku berdiri dan berjalan menghampirinya.
Alya mengulurkan kedua tangan mungilnya.
“Mama!”
Aku menggendongnya dan mencium pipinya.
Dulu, pada hari dia lahir, ayahnya menganggap kehadirannya sebagai alasan untuk meninggalkan kami.
Sekarang, setiap kali melihat senyumnya, aku justru menemukan alasan untuk menjalani hidup dengan lebih berani.
Chen Yaozu pernah berkata bahwa anak perempuan pada akhirnya hanya akan menjadi milik keluarga orang lain.
Dia salah.
Alya bukan milik siapa pun.
Dia adalah manusia kecil yang berhak menentukan masa depannya sendiri.
Dan tugas terbesarku bukan mencarikannya tempat dalam keluarga kaya atau memastikan dia menikah dengan laki-laki berpengaruh.
Tugasku adalah membesarkannya menjadi perempuan yang tahu nilai dirinya.
Ketika matahari sore mulai tenggelam, aku memeluk Alya lebih erat.
Aku akhirnya memahami bahwa kehilangan seorang suami yang tidak menghargai kami bukanlah akhir dari keluarga.
Terkadang, justru setelah seseorang pergi, sebuah keluarga baru bisa benar-benar tumbuh dalam kedamaian.
Dan hari itu, di tengah tawa putriku serta kehangatan kedua orang tuaku, aku tahu satu hal dengan pasti.
Aku tidak kehilangan masa depan ketika menandatangani surat perceraian itu.
Aku baru saja mendapatkannya kembali.
