Langkah itu berhenti tepat di depan kamarku.
“Sarah, ini Abang.”
Aku membuka pintu sedikit. Bang Sadewo masuk membawa handuk kecil dan segelas air. Tangannya gemetar ketika melihat pipiku.
“Ambil barang yang penting. Malam ini kita ke rumah Bude Rukmini.”
“Ibu mengizinkan?”
“Abang nggak sedang minta izin untuk membiarkan kamu dipukul lagi.”
Aku menangis mendengar kalimat itu.
Saat menarik tas dari bawah kasur, lipatan koran ikut jatuh. Bang Sadewo memungutnya sebelum aku sempat bergerak.
“Apa ini?”
“Bedak Ibu,” bisikku. “Aku cuma mau tahu kenapa beliau selalu marah kalau disentuh.”

Wajahnya menegang.
“Kamu pakai?”
Aku menggeleng cepat.
Bang Sadewo melipatnya kembali.
“Jangan dibuka lagi. Kita bawa wadahnya ke orang yang bisa memeriksa.”
“Abang tahu isinya?”
“Nggak. Makanya jangan menebak.”
Kami keluar lewat pintu samping. Dari ruang tengah, Ibu berteriak menyuruhku kembali, tetapi Bang Sadewo terus berjalan sambil menggenggam tanganku.
Di rumah Bude, untuk pertama kalinya seseorang bertanya apakah aku kesakitan sebelum bertanya apa kesalahanku.
Pagi harinya, Bude mengantarku ke puskesmas. Aku sudah sembilan belas tahun, tetapi tetap merasa seperti anak kecil ketika diminta menceritakan kejadian semalam. Bang Sadewo menunggu di luar ruang pemeriksaan, sementara Bude duduk di sampingku.
Sepulangnya, kami menemukan Mira menunggu di teras.
Pegawai warung Ibu itu langsung berdiri.
“Sarah, aku yang bilang kamu masuk kamar beliau.”
Dadaku mencelos.
“Aku lihat kamu keluar sambil membawa sesuatu. Kupikir kamu mengambil uang.”
“Kenapa nggak tanya aku dulu?”
Mira menunduk.
“Maaf.”
Aku belum sanggup menjawab. Bang Sadewo mempersilakannya duduk.
“Ada hal lain yang kamu tahu soal bedak itu?”
Mira meremas tasnya.
“Setiap Selasa malam, ada orang datang mengambil wadah bedak. Kadang bawa amplop.”
Bude bertukar pandang dengan Bang Sadewo.
“Siapa?”
“Pak Haris. Yang biasa mengurus pinjaman pedagang pasar.”
Nama itu kukenal. Lelaki berkumis tipis yang selalu disambut Ibu dengan suara ramah, sementara kami disuruh masuk kamar.
Siang itu, aku mengembalikan sampel bedak kepada Ibu bersama Bang Sadewo dan Bude. Aku menunggu di teras, tidak mau masuk sendirian.
“Ini yang Ibu cari,” kata Bang Sadewo.
Ibu meraih lipatan koran itu.
“Kalian membesar-besarkan masalah keluarga.”
“Sarah sampai harus diperiksa,” jawab Bude. “Ini sudah besar sejak kamu memukulnya.”
Ibu menghindari tatapannya.
“Aku cuma mau mendidik.”
“Dengan menolak uang pembalut, lalu memukulinya karena bedak?” Suara Bang Sadewo pecah. “Apa sebenarnya yang Ibu lindungi?”
Ibu menutup pintu di hadapan kami.
Malamnya, Liana menelepon.
“Kak, Ibu menyuruhku bilang ke Bude kalau Kakak suka mencuri.”
Aku memejamkan mata.
“Terus kamu bilang apa?”
“Aku belum bilang apa-apa.”
Di belakang suaranya terdengar pintu berderit.
“Kak, bedak itu memang bedak bayi. Aku pernah lihat Ibu mengisinya. Tapi bawah wadahnya bisa dilepas.”
Aku duduk tegak.
“Ada apa di bawahnya?”
“Kertas kecil. Aku nggak tahu isinya.”
“Jangan ambil apa pun, Li. Jangan sampai kamu dipukul juga.”
Namun, menjelang tengah malam, sebuah foto masuk ke ponsel Bang Sadewo.
Liana memotretnya ketika Ibu mandi.
Di bawah alas wadah bedak, ada kartu memori dan secarik kertas bertuliskan beberapa angka.
Bude langsung mengenali rangkaian angka terakhir.
“Itu nomor sertifikat kebun ayah kalian.”
Ayah meninggal tiga tahun lalu. Sejak itu, Ibu selalu berkata kebunnya telah dijual untuk melunasi utang pengobatan. Bang Sadewo tetap menggarapnya sebagai buruh, menerima upah dari Pak Haris.
Aku menatap abangku.
“Jadi selama ini kebun itu…”
“Kita belum tahu,” potong Bude. “Besok kita cari berkasnya.”
Bude ternyata menyimpan salinan surat pembagian peninggalan Ayah. Dalam berkas itu, kebun dibagikan kepada kami berempat. Tidak ada catatan penjualan.
Dua hari kemudian, saat Ibu sedang di pasar, Liana datang bersama Andika membawa wadah bedak tersebut.
“Ibu menyuruhku menyerahkannya kepada Pak Haris sore ini,” katanya. “Tapi aku takut.”
Bude tidak membuka kartu memori itu sendiri. Ia membawa kami menemui pendamping hukum di kecamatan.
Di kantor kecil itulah kami melihat foto KTP kami, salinan sertifikat, dan dokumen persetujuan penjualan kebun.
Ada tanda tanganku di sana.
Padahal aku tidak pernah menandatanganinya.
Bang Sadewo berdiri mendadak.
“Itu bukan tanda tangan saya juga.”
Pendamping kami meminta semua berkas disimpan, lalu membantu kami melaporkan dugaan pemalsuan. Wadah bedak dan kartu memori diserahkan sebagai bagian dari barang yang perlu diperiksa.
Ketika akhirnya dimintai keterangan, Ibu mula-mula menyangkal. Namun, riwayat pesan dengan Pak Haris menunjukkan bahwa ia mengetahui dokumen itu akan dipakai untuk menjual kebun.
Uang muka sudah diterimanya.
Sebagian dipakai membayar utang warung. Sebagian lagi diberikan kepada Pak Haris sebagai biaya pengurusan.
“Warung itu menghidupi kalian,” kata Ibu saat kami bertemu dengan pendamping.
“Kalau Ibu butuh menjual, kenapa nggak bicara?” tanya Bang Sadewo.
“Kalian pasti menolak.”
Aku menatap tangan Ibu yang meremas ujung kerudung.
“Kenapa disembunyikan di tempat bedak?”
“Ibu tahu kalian nggak akan menyentuhnya.”
Aku teringat bertahun-tahun menghindari meja rias itu. Bukan karena menghormati barang Ibu, melainkan karena takut.
“Jadi Sarah dipukul karena Ibu takut rahasianya ketahuan?”
Ibu menangis. Aku tetap duduk di kursiku.
Prosesnya panjang. Penjualan belum selesai, sehingga masih ada kesempatan mempertahankan kebun. Pak Haris diperiksa, dan pertanggungjawaban Ibu atas dokumen serta pemukulan berjalan terpisah.
Aku tinggal bersama Bude dan mulai bekerja di toko alat tulis. Bang Sadewo tetap menggarap kebun, kali ini dengan hasil yang dicatat terbuka untuk kami berempat.
Beberapa bulan kemudian, Ibu datang membawa kantong belanja.
“Buat kamu,” katanya.
Di dalamnya ada pembalut dan bedak wajah baru.
Aku meletakkan kantong itu di meja.
“Terima kasih, Bu. Tapi yang Sarah butuhkan bukan cuma ini.”
Ibu menunduk.
“Sarah ingin bisa bilang tidak tanpa takut dipukul.”
Lama sekali beliau diam. Kemudian ia mengangguk, kecil dan kaku.
Aku belum memeluknya. Beliau juga tidak memaksaku.
Malam itu, bedak baru tersebut kuletakkan di meja kamarku.
Ketika Bude mengetuk untuk meminjam sisir, aku membukakan pintu tanpa menyembunyikan apa pun.
Ternyata beginilah rasanya tinggal di rumah yang tidak membuatku takut setiap kali terdengar langkah kaki.
