“Kalau dokumen ini sampai diperiksa pihak berwenang, bukan cuma uang Rp480 juta yang harus kalian jelaskan. Ada kemungkinan perusahaan dekorasi Cindy juga terseret masalah hukum.”
Ucapan Mbak Shinta membuat suasana ruang mediasi mendadak sunyi.

Rendy menatap pengacaranya dengan wajah pucat. Bu Ratna yang sejak tadi duduk angkuh kini menggenggam tas kulitnya begitu erat sampai buku-buku jarinya memutih.
Sementara Cindy terlihat seperti orang yang baru saja kehilangan seluruh keberaniannya.
Aku menatap dokumen di tengah meja.
“Mbak Shinta, sebenarnya apa isi berkas itu?”
Pengacaraku menarik napas panjang.
“Ini salinan dokumen pengajuan pembiayaan dari sebuah perusahaan pendanaan swasta. Jaminan yang dicantumkan adalah piutang usaha dekorasi milik Cindy.”
Aku mengernyit.
“Lalu hubungannya dengan uang Bapak?”
Mbak Shinta membuka halaman berikutnya.
“Perusahaan Cindy mengajukan pembiayaan Rp750 juta dengan melampirkan kontrak dekorasi pernikahan kalian sebagai salah satu dasar penilaian kemampuan pembayarannya.”
Aku membeku.
“Kontrak dekorasi?”
“Iya. Nilai kontrak yang dicantumkan Rp900 juta.”
Aku hampir tidak mempercayai pendengaranku.
Pernikahan kami memang direncanakan mewah, tetapi aku tahu biaya dekorasi yang pernah disampaikan kepadaku hanya sekitar Rp120 juta.
Mbak Shinta melanjutkan.
“Yang lebih mengejutkan, di dalam dokumen itu terdapat tanda tangan atas nama Andin sebagai pihak yang mengetahui dan menyetujui pekerjaan.”
Aku langsung berdiri.
“Apa? Saya nggak pernah menandatangani kontrak seperti itu!”
Rendy menutup matanya.
Cindy mulai menangis.
Bu Ratna segera menyela.
“Itu cuma urusan administrasi! Jangan dibesar-besarkan!”
Mbak Shinta menatapnya tajam.
“Bu Ratna, tanda tangan seseorang tidak bisa digunakan tanpa persetujuan. Kami belum menyimpulkan siapa yang membuatnya, tetapi dokumen ini memerlukan pemeriksaan.”
Aku menoleh kepada Rendy.
“Ren, kamu tahu soal ini?”
Dia tidak menjawab.
Aku mengulang pertanyaanku.
“Kamu tahu namaku dipakai untuk mengajukan pembiayaan perusahaan Cindy?”
Rendy menunduk.
“Iya.”
Satu kata itu menghancurkan sisa kepercayaanku.
Aku perlahan duduk kembali.
“Sejak kapan?”
Rendy mengusap wajahnya.
“Dua bulan sebelum pernikahan.”
Dadaku terasa sesak.
Dua bulan sebelum pernikahan, lelaki yang masih memanggilku calon istrinya ternyata telah membiarkan namaku digunakan dalam dokumen bisnis tanpa sepengetahuanku.
“Kenapa?” tanyaku.
Cindy tiba-tiba menjawab sambil menangis.
“Karena perusahaanku hampir bangkrut!”
Semua orang menoleh.
Dia mengusap pipinya.
“Aku kehilangan tiga klien besar. Ada tagihan vendor yang belum dibayar. Kalau nggak segera dapat uang, semua proyekku berhenti.”
Bu Ratna langsung memegang lengannya.
“Cindy, cukup!”
Namun, Cindy justru menggeleng.
“Aku capek, Ma! Dari tadi Mama menyuruh semua orang diam!”
Aku memperhatikan mereka tanpa berkedip.
Cindy kemudian mengakui bahwa perusahaan dekorasinya sedang mengalami masalah arus kas. Untuk mendapatkan pembiayaan, dia membutuhkan kontrak bernilai besar.
Pernikahanku dengan Rendy dijadikan proyek utama yang dicantumkan dalam pengajuan tersebut.
Nilai kontraknya sengaja dibuat jauh lebih tinggi daripada kesepakatan pekerjaan yang sebenarnya.
Rendy mengetahui rencana itu.
Bu Ratna juga mengetahuinya.
Dan ketika perusahaan pendanaan meminta bukti kesiapan pelaksanaan proyek, mereka membutuhkan dana yang terlihat sebagai pembayaran awal.
Saat itulah Rendy datang kepada Ayah di Klaten.
Rp480 juta yang dipinjamnya bukan semata-mata untuk membayar gedung dan katering.
Sebagian besar uang itu digunakan untuk memperkuat posisi keuangan perusahaan Cindy.
Aku memandang Rendy dengan mata berkaca-kaca.
“Jadi selama ini pernikahan kita kalian jadikan alat untuk menyelamatkan perusahaan Cindy?”
Rendy segera menggeleng.
“Nggak begitu, Andin. Aku benar-benar ingin menikahimu.”
“Kalau begitu, kenapa namaku dipakai tanpa izin?”
Dia terdiam.
“Kenapa Bapak harus mengorbankan tabungan masa pensiunnya?”
Rendy tidak mampu menjawab.
Aku melanjutkan dengan suara bergetar.
“Dan setelah semua itu, kalian malah mengusir orang tuaku dari gedung pernikahan?”
Bu Ratna tiba-tiba meninggikan suara.
“Kami tidak pernah berniat mempermalukan mereka!”
Aku menatapnya.
“Ibu menyuruh petugas keamanan membawa mereka lewat pintu belakang.”
“Itu demi menjaga suasana acara!”
Aku tertawa pahit.
“Menjaga suasana untuk siapa, Bu? Untuk tamu bisnis yang kalian harapkan memberikan proyek kepada perusahaan Cindy?”
Bu Ratna membeku.
Mbak Shinta kemudian mengeluarkan satu lembar dokumen tambahan.
“Masih ada hal lain yang perlu dijelaskan.”
Pengacara keluarga Rendy terlihat semakin tegang.
Mbak Shinta menunjuk sebuah tanggal.
“Permohonan pembiayaan perusahaan Cindy diajukan sebelum Rendy datang meminjam uang kepada Pak Surya. Namun, dokumen tambahan terkait sumber pembayaran baru dilengkapi setelah uang itu diterima.”
Ayah yang sejak tadi diam perlahan mengangkat kepala.
“Jadi waktu Mas Rendy datang ke rumah saya, rencana penggunaan uangnya sudah ada?”
Cindy menunduk.
Rendy menjawab pelan.
“Iya, Pak.”
Ayah mengangguk.
Tidak marah.
Tidak membentak.
Hanya mengangguk seperti seseorang yang akhirnya mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang sudah lama mengganggu pikirannya.
Namun, aku tahu beliau terluka.
Aku mengenal Ayah seumur hidup.
Ketika beliau benar-benar kecewa, suaranya justru menjadi semakin pelan.
“Mas Rendy, saya pernah bertanya apakah uang itu memang untuk kebutuhan pernikahan.”
Rendy mengangguk.
“Saya tahu, Pak.”
“Dan kamu menjawab iya.”
Rendy menunduk.
Ayah menarik napas panjang.
“Saya bahkan bertanya apakah pestanya perlu dibuat lebih sederhana supaya kalian nggak terbebani.”
Aku langsung menoleh.
Aku belum pernah mendengar bagian cerita itu.
Ayah melanjutkan.
“Tapi kamu bilang semuanya sudah direncanakan dan hanya kekurangan dana sementara.”
Air mata mulai menggenang di mataku.
Rendy akhirnya berbisik.
“Maaf, Pak.”
Ayah tersenyum sedih.
“Kalau sejak awal kamu bilang perusahaan adikmu sedang kesulitan, mungkin saya tetap akan mendengarkan. Tapi saya tentu perlu mempertimbangkan risikonya.”
Beliau berhenti sebentar.
“Yang paling menyakitkan bukan jumlah uangnya, Mas.”
Rendy mengangkat wajah.
“Melainkan kenyataan bahwa kamu datang meminta kepercayaan, lalu menggunakan kepercayaan itu untuk berbohong.”
Tidak seorang pun menjawab.
Beberapa menit kemudian, pengacara keluarga Rendy meminta waktu berunding secara terpisah.
Kami menyetujuinya.
Aku menemani Ayah dan Ibu menuju ruang tunggu kecil di ujung koridor.
Di sana, Ayah duduk sambil memegang ponsel Nokia tuanya.
Aku memperhatikan layar kecil yang mulai tergores.
“Pak, kenapa Bapak masih menyimpan ponsel ini?”
Ayah tersenyum.
“Karena di sini ada pesan terakhir dari almarhum kakekmu.”
Aku terdiam.
Ayah membuka sebuah pesan lama.
Tulisan pada layarnya sederhana.
Surya, jangan pernah malu hidup sederhana. Yang penting jangan mengambil sesuatu yang bukan hakmu.
Aku membaca pesan itu berkali-kali.
Ayah mengusap tombol ponselnya.
“Dulu Bapak pikir nasihat itu cuma tentang uang.”
Beliau menatapku.
“Ternyata juga tentang harga diri.”
Aku langsung memeluknya.
“Maafkan Andin, Pak.”
Ayah mengusap rambutku.
“Kenapa kamu minta maaf?”
“Karena Andin hampir menikah dengan orang yang memperlakukan Bapak seperti itu.”
Ayah menggeleng.
“Nduk, kamu nggak bertanggung jawab atas kebohongan orang lain.”
Air mataku akhirnya pecah.
Ibu mendekat dan memeluk kami berdua.
Untuk beberapa saat, kami hanya duduk bersama tanpa mengatakan apa pun.
Setengah jam kemudian, mediasi dilanjutkan.
Kali ini, Bu Ratna tidak lagi duduk dengan dagu terangkat.
Pengacara keluarga Rendy membuka pembicaraan.
“Klien kami bersedia menarik tuntutan ganti rugi Rp1,3 miliar.”
Aku tidak menunjukkan reaksi.
Mbak Shinta bertanya.
“Bagaimana dengan pengembalian uang Pak Surya?”
Pengacara itu menoleh kepada Rendy.
Rendy menarik napas.
“Kami bersedia mengembalikannya secara bertahap.”
Ayah mengangkat kepala.
“Berapa lama?”
“Delapan belas bulan, Pak.”
Mbak Shinta segera meminta penjelasan mengenai sumber pembayaran dan jaminan pelaksanaan kesepakatan.
Namun, sebelum pembahasan berlanjut, Cindy tiba-tiba berbicara.
“Saya bisa menjual mobil dan sebagian perlengkapan perusahaan.”
Bu Ratna langsung menoleh.
“Cindy!”
Perempuan itu menggeleng sambil menangis.
“Ma, uang itu masuk ke perusahaanku. Aku harus bertanggung jawab.”
Untuk pertama kalinya, Cindy terlihat benar-benar memahami akibat tindakannya.
Namun, kejutan terakhir justru datang dari Rendy.
Dia mengeluarkan sebuah amplop dari tas kerjanya.
“Andin, ada sesuatu yang harus kamu tahu.”
Aku menatapnya dengan waspada.
Dia menyerahkan salinan surat yang belum pernah kulihat.
Surat itu berisi permohonan kepada pengelola gedung pernikahan untuk membatasi akses orang tuaku ke area tamu kehormatan.
Di bagian bawah terdapat tanda tangan Rendy.
Aku membeku.
Selama ini, aku mengira Bu Ratna yang sepenuhnya bertanggung jawab atas pengusiran Ayah dan Ibu.
Ternyata Rendy sendiri telah memberikan persetujuan tertulis.
Aku menatapnya.
“Kamu yang menyetujui ini?”
Air matanya mulai jatuh.
“Iya.”
“Kenapa?”
Rendy menggenggam kedua tangannya.
“Mama bilang beberapa investor penting akan datang. Aku takut mereka melihat perbedaan latar belakang keluarga kita.”
Aku merasa seluruh tubuhku kehilangan tenaga.
“Jadi kamu malu punya calon mertua seperti Bapak?”
Rendy tidak menjawab.
Aku mengangguk perlahan.
“Terima kasih, Ren.”
Dia menatapku dengan bingung.
“Untuk apa?”
“Karena akhirnya kamu jujur.”
Aku menarik napas panjang.
“Sekarang aku nggak perlu lagi bertanya-tanya apakah membatalkan pernikahan kita adalah keputusan yang benar.”
Rendy langsung menangis.
“Andin, aku masih mencintaimu.”
Aku memandangnya lama.
“Kalau kamu benar-benar mencintaiku, kamu nggak akan memperlakukan orang yang membesarkanku seperti sesuatu yang memalukan.”
Rendy menunduk.
Aku melanjutkan.
“Kamu mungkin bisa membeli gedung pernikahan paling mahal di Jakarta. Tapi kamu nggak bisa membeli kembali kepercayaan yang sudah kamu hancurkan.”
Pertemuan itu akhirnya menghasilkan kesepakatan awal. Tuntutan ganti rugi ditarik, dan pengembalian dana Rp480 juta disusun dengan jadwal serta kewajiban tertulis yang kemudian ditinjau lebih lanjut oleh penasihat hukum kedua pihak.
Persoalan tanda tangan dan dokumen pembiayaan ditangani secara terpisah melalui pemeriksaan yang sesuai.
Aku tidak meminta siapa pun dihukum hanya karena telah mempermalukan keluargaku.
Namun, aku juga tidak akan membiarkan namaku digunakan dalam transaksi yang tidak pernah kusetujui.
Beberapa bulan kemudian, sebagian besar uang Ayah berhasil dikembalikan melalui penjualan aset Rendy dan Cindy. Sisanya dilunasi sesuai kesepakatan yang telah dibuat.
Sementara itu, rencana pernikahanku dengan Rendy benar-benar berakhir.
Aku kembali bekerja dan mulai menata kehidupan tanpa dirinya.
Awalnya tidak mudah.
Ada malam-malam ketika aku masih teringat empat tahun hubungan kami.
Aku teringat bagaimana Rendy pernah menemaniku saat sakit.
Bagaimana dia mengirim makanan ketika aku lembur.
Dan bagaimana kami pernah membicarakan rumah kecil yang ingin kami tempati setelah menikah.
Namun, setiap kali kenangan itu datang, aku selalu teringat wajah Ayah ketika berjalan keluar melalui pintu belakang gedung pernikahan.
Aku tidak ingin menghabiskan hidup bersama seseorang yang baru menghormati keluargaku setelah kebohongannya terbongkar.
Setahun kemudian, aku pulang ke Klaten untuk merayakan ulang tahun pernikahan Ayah dan Ibu.
Tidak ada pesta mewah.
Hanya makan malam sederhana di halaman rumah.
Ibu memasak ayam kampung kesukaan Ayah.
Aku membeli sebuah kue kecil.
Dan beberapa tetangga datang membawa makanan.
Ketika acara hampir selesai, aku menyerahkan sebuah kotak hadiah kepada Ayah.
“Pak, ini buat Bapak.”
Beliau membukanya.
Di dalamnya terdapat ponsel baru.
Ayah tertawa.
“Lho, Nokia Bapak masih bagus, Nduk.”
Aku ikut tertawa.
“Iya, Pak. Tapi yang ini bisa dipakai video call sama Andin.”
Ayah mengangguk sambil tersenyum.
“Kalau begitu, Bapak belajar.”
Namun, ketika aku hendak mengambil Nokia lamanya, beliau langsung menggeleng.
“Yang ini tetap Bapak simpan.”
Aku tersenyum.
“Kenapa?”
Ayah memandang ponsel tua itu cukup lama.
“Karena benda ini mengingatkan Bapak bahwa sesuatu yang terlihat tidak berharga bagi orang lain belum tentu tidak memiliki nilai.”
Aku memeluknya erat.
Malam semakin larut.
Setelah para tetangga pulang, aku duduk bersama Ayah di teras.
Beliau mengenakan kemeja batik lama yang sama seperti pada hari pernikahanku yang dibatalkan.
Aku memperhatikan kerahnya yang mulai pudar.
“Pak, kenapa Bapak masih suka memakai batik ini?”
Ayah tersenyum.
“Karena ini hadiah dari gaji pertamamu.”
Aku terdiam.
Beliau melanjutkan.
“Waktu kamu memberikannya, kamu bilang suatu hari ingin membuat Bapak bangga.”
Air mataku mulai menggenang.
Ayah menatapku dengan penuh kasih.
“Nduk, Bapak sudah bangga sejak hari kamu belajar berdiri sendiri.”
Aku menunduk.
“Tapi Andin gagal menikah, Pak.”
Ayah menggeleng.
“Menikah bukan ukuran keberhasilan hidup.”
Beliau menggenggam tanganku.
“Kalau kamu harus kehilangan harga diri untuk mempertahankan sebuah pernikahan, lebih baik kamu kehilangan pernikahannya.”
Aku menangis dalam pelukannya.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, tangisku bukan lagi karena Rendy.
Melainkan karena aku akhirnya memahami betapa besar cinta seorang ayah yang tidak pernah meminta imbalan apa pun.
Aku pernah mengira hari pernikahanku yang dibatalkan adalah hari paling memalukan dalam hidupku.
Ternyata hari itulah yang menyelamatkanku dari masa depan yang salah.
Keluarga Rendy pernah menganggap Ayah tidak pantas duduk di barisan tamu kehormatan karena kemejanya kusut.
Namun, mereka tidak pernah memahami bahwa kehormatan tidak lahir dari pakaian mahal atau gedung megah.
Kehormatan lahir dari keberanian untuk berkata jujur, menepati janji, dan menghargai orang lain tanpa memandang kekayaannya.
Aku kehilangan calon suami.
Namun, aku tidak kehilangan keluarga yang selalu berdiri di sisiku.
Dan ketika Ayah kembali memasukkan Nokia tuanya ke dalam saku batik yang mulai pudar, aku tersenyum sambil menyadari satu hal.
Bagi dunia, Ayah mungkin hanya lelaki sederhana dari Klaten.
Namun, bagiku, beliau adalah manusia paling terhormat yang pernah kukenal.
