Suamiku Tersenyum Puas Saat Kubuatkan Sarapan Terakhir dan Kuajak ke Rumah Ibunya. Dia Mengira Kami Hanya Akan Bersilaturahmi Seperti Biasa, Tanpa Tahu Foto-Foto Perselingkuhannya Sudah Kusiapkan untuk Kubongkar di Depan Seluruh Keluarga Besarnya!

Foto-foto itu berhamburan di atas meja dan lantai yang masih dipenuhi krim kue. Tidak ada satu pun orang yang bergerak. Bahkan suara televisi dari ruang tengah yang sejak tadi menyala seperti mendadak terdengar terlalu keras.

Budi menunduk dan melihat salah satu foto di dekat kakinya.

Wajahnya langsung pucat.

“Laras, ini bukan seperti yang kamu pikirkan.”

Aku hampir tertawa mendengarnya.

Kalimat paling basi dari seorang pengkhianat.

“Bukan seperti yang kupikirkan?” tanyaku pelan. “Jadi aku harus berpikir apa ketika suamiku masuk hotel bersama sahabatku sendiri?”

Sisil buru-buru mengambil foto yang tergeletak di meja.

“Ras, dengarkan aku dulu. Aku bisa jelasin.”

“Jangan panggil aku Ras.”

Tangannya berhenti.

Aku menatap perempuan yang selama hampir sepuluh tahun mengetahui semua rahasiaku. Sisil adalah orang pertama yang mendengar ceritaku ketika Budi melamarku. Dia juga yang memelukku ketika aku menangis karena harus bekerja lembur demi membantu Budi membayar utang setelah bisnis kecilnya gagal.

Dan ternyata selama ini, orang yang mendengarkan keluh kesahku itulah yang diam-diam tidur dengan suamiku.

Ibu Ratna tiba-tiba memungut sebuah foto.

Wajahnya berubah tegang.

“Budi, ini benar?”

Budi tidak menjawab.

Anehnya, pertanyaan itu justru membuatku sadar bahwa mungkin Ibu Ratna memang mengetahui kedekatan mereka, tetapi tidak mengetahui sejauh apa hubungan itu berlangsung.

Indah menatap kakaknya.

“Mas?”

Budi mengusap wajah kasar.

“Semua orang diam dulu!”

Nada suaranya kembali meninggi.

Lalu dia menatapku.

“Kita pulang. Masalah rumah tangga jangan dibuka di sini.”

Aku menggeleng.

“Rumah tangga?”

Aku mengeluarkan ponsel.

“Rumah tangga kita sudah kamu buka untuk orang lain sejak lama.”

Kutekan layar.

Sebuah rekaman suara terdengar.

Suara Budi.

“Kalau rumahnya sudah berhasil dijual, kita punya modal. Laras gampang dibohongi. Tinggal bilang proyekku butuh dana sementara.”

Kemudian terdengar suara Sisil.

“Terus kalau dia curiga?”

Budi tertawa.

“Dia terlalu cinta sama aku. Lagian kalau dia hamil, makin gampang. Perempuan hamil biasanya takut ditinggal.”

Tubuh Ibu Ratna langsung kaku.

Pak Agus meletakkan gelasnya.

Indah menatap Budi seperti baru pertama kali mengenal kakaknya.

Aku sendiri sudah mendengar rekaman itu berkali-kali sejak dua hari lalu. Namun setiap kali suara Budi mengatakan kalimat terakhir itu terdengar, ada sesuatu dalam dadaku yang kembali pecah.

Budi menerjang hendak merebut ponselku.

Aku mundur.

“Jangan sentuh aku!”

Untuk pertama kalinya, Pak Agus berdiri di antara kami.

“Cukup, Budi!”

Budi berhenti.

“Ayah nggak tahu masalahnya.”

“Justru sekarang Ayah mau tahu!”

Suara Pak Agus menggema.

Aku mengeluarkan satu amplop lagi dari tas.

Kali ini bukan hasil pemeriksaan kandungan.

Dokumen dari bank.

“Kalian mau tahu proyek miliaran yang dibanggakan malam ini?”

Aku meletakkan dokumen itu di meja.

“Tidak ada proyek.”

Ibu Ratna menatapku bingung.

“Lalu uang yang Budi kasih buat acara ini?”

“Uang saya.”

Ruangan kembali hening.

“Budi mengambil kartu kredit tambahan atas nama saya. Selama dua bulan terakhir, dia menarik dana dan menggunakannya untuk hotel, restoran, dan tiket perjalanan.”

Sisil langsung menoleh kepada Budi.

“Tiket perjalanan?”

Aku menangkap perubahan ekspresinya.

Ada keterkejutan yang tampak nyata.

“Kamu tidak tahu?” tanyaku.

Sisil diam.

Aku mengeluarkan dua lembar bukti pemesanan lain.

“Surabaya. Dua tiket. Bulan depan.”

Wajah Sisil berubah.

“Aku nggak pernah rencana ke Surabaya.”

Aku menatap Budi.

Laki-laki itu mulai berkeringat.

Aku sudah menduga ada sesuatu yang belum kuketahui.

Semalam, setelah menemukan transaksi hotel Bandung, aku memeriksa seluruh mutasi kartu kredit. Ada tiket menuju Surabaya untuk Budi dan seorang perempuan bernama Maya Prameswari.

Nama yang sama sekali tidak kukenal.

Aku mengangkat bukti itu.

“Siapa Maya?”

Sisil merebut kertas tersebut.

Tangannya bergetar.

“Budi?”

Budi terdiam.

“Siapa Maya?” bentak Sisil.

Untuk pertama kalinya malam itu, aku melihat Sisil kehilangan ketenangannya.

Budi ternyata bukan hanya mengkhianatiku.

Dia juga mengkhianati perempuan yang berselingkuh dengannya.

Ironis sekali.

Sisil membuka ponselnya dengan cepat. Entah apa yang diperiksanya, beberapa detik kemudian wajahnya semakin pucat.

“Kamu bilang mau ke Surabaya buat ketemu investor!”

Budi mencoba mendekatinya.

“Sil, dengar dulu.”

Plak!

Tamparan Sisil mendarat di pipinya.

Indah menutup mulut.

Aku tidak merasa puas melihatnya.

Tidak juga merasa menang.

Yang kurasakan justru lelah.

Sangat lelah.

“Aku meninggalkan tunanganku gara-gara kamu,” kata Sisil dengan suara bergetar. “Kamu bilang kamu dan Laras sudah tidak punya hubungan sebagai suami istri.”

Aku menatapnya.

“Dan kamu percaya?”

Sisil tidak berani membalas tatapanku.

“Kamu datang ke rumahku berkali-kali,” lanjutku. “Kamu makan masakanku. Kamu dengar aku cerita tentang rencana punya anak. Bahkan bulan lalu kamu bertanya kapan aku mau program hamil.”

Air mata mulai mengalir di pipinya.

“Aku salah.”

“Iya.”

Hanya itu jawabanku.

Aku tidak ingin mendengar pembelaannya.

Ibu Ratna tiba-tiba duduk lemas di sofa.

“Budi, kenapa kamu melakukan semua ini?”

Budi tampak terpojok.

Kemudian, seperti biasa, dia mencari orang lain untuk disalahkan.

“Karena Laras!”

Aku membeku.

Dia menunjukku.

“Sejak dia naik jabatan, dia selalu merasa lebih hebat. Pulang malam terus. Ngurus proyek terus. Aku di rumah seperti nggak dianggap!”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Aku pulang malam karena membayar cicilan rumah kita.”

“Aku juga punya harga diri!”

“Dengan berselingkuh?”

“Karena kamu tidak pernah ada!”

Aku tertawa kecil.

Bukan karena lucu.

Melainkan karena akhirnya aku memahami sesuatu.

Selama bertahun-tahun aku mengira pernikahan bisa diselamatkan kalau aku bekerja sedikit lebih keras, bersabar sedikit lebih lama, dan mengalah sedikit lebih banyak.

Ternyata bagi orang seperti Budi, pengorbananku justru dianggap sebagai kelemahan.

“Mas tahu kenapa aku mengambil lembur enam bulan terakhir?”

Budi diam.

“Karena kamu bilang ingin punya anak, tapi takut biaya hidup kita tidak cukup.”

Aku mengusap perutku tanpa sadar.

“Aku menabung supaya ketika anak kita lahir, kamu tidak perlu khawatir.”

Wajahnya berubah.

“Ras…”

“Jangan.”

Aku mengangkat tangan.

“Jangan panggil namaku seolah-olah kamu masih berhak.”

Ibu Ratna mulai menangis.

“Laras, jangan langsung ambil keputusan. Kamu sedang hamil. Pikirkan anakmu.”

Aku menoleh kepadanya.

“Justru karena saya sedang hamil, Bu, saya harus mengambil keputusan.”

“Anak butuh ayah.”

“Anak lebih membutuhkan rumah yang aman daripada rumah yang penuh kebohongan.”

Tidak ada yang menjawab.

Aku mengambil map terakhir dari tas.

Kali ini, aku menyerahkannya kepada Budi.

“Besok pengacaraku akan menghubungimu.”

Budi membuka map itu.

Surat permohonan perceraian.

Wajahnya seketika berubah.

“Kamu sudah menyiapkan ini?”

“Sejak kemarin.”

“Kamu bahkan belum bicara sama aku!”

“Aku sudah mencoba bicara selama tiga tahun pernikahan kita. Kamu yang berhenti mendengar.”

Dia merobek beberapa lembar dokumen itu.

“Mas nggak akan tanda tangan!”

Aku tetap tenang.

“Itu salinan.”

Pak Agus memejamkan mata.

Budi mendekatiku.

“Kamu pikir gampang membesarkan anak sendirian?”

Aku menatapnya.

“Tidak.”

Aku mengakuinya tanpa ragu.

“Aku tahu akan sulit.”

Tanganku kembali menyentuh perut.

“Tapi lebih sulit membesarkan seorang anak sambil setiap hari mengajarinya bahwa penghinaan, manipulasi, dan pengkhianatan adalah sesuatu yang harus diterima demi mempertahankan keluarga.”

Budi terdiam.

Aku mengambil tasku.

Saat hendak berjalan keluar, Sisil memanggil.

“Laras.”

Aku berhenti tanpa menoleh.

“Maaf.”

Aku menarik napas panjang.

“Aku mungkin akan memaafkanmu suatu hari nanti.”

Dia terisak.

“Tapi memaafkan bukan berarti aku harus membiarkanmu kembali ke hidupku.”

Aku melangkah menuju pintu.

Namun suara Pak Agus menghentikanku.

“Laras.”

Aku menoleh.

Laki-laki yang selama ini hampir selalu membela anaknya itu berdiri dengan wajah penuh penyesalan.

“Rumah kalian… cicilannya atas nama siapa?”

Pertanyaan itu membuat Budi mendadak tegang.

“Atas nama saya,” jawabku.

“Uang muka?”

“Saya yang bayar.”

Pak Agus mengangguk perlahan.

Lalu dia menatap anaknya.

“Kalau begitu, malam ini kamu jangan pulang ke rumah Laras.”

“Ayah!”

“Diam!”

Suara Pak Agus menggelegar.

“Selama ini Ayah pikir kamu memang sedang berusaha bangkit. Ayah membelamu karena kamu bilang Laras terlalu sibuk dan tidak mendukungmu. Ternyata kamu hidup dari uang istrimu sambil mempermalukannya.”

Budi mengepalkan tangan.

Ibu Ratna menangis semakin keras.

Aku tidak menunggu lagi.

Aku keluar.

Udara malam Jakarta terasa lembap. Suara kendaraan dari jalan utama terdengar bersahutan.

Begitu pintu rumah itu tertutup di belakangku, kakiku akhirnya kehilangan tenaga.

Aku duduk di dalam mobil.

Tanganku gemetar ketika memegang kemudi.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, aku menangis.

Bukan karena kehilangan Budi.

Aku menangisi diriku sendiri.

Perempuan yang selama bertahun-tahun percaya bahwa cinta berarti terus bertahan.

Perempuan yang meminta maaf setiap kali pulang terlambat setelah bekerja demi membayar kebutuhan rumah.

Perempuan yang merasa bersalah ketika suaminya mengatakan dirinya terlalu sibuk.

Aku menangis sampai dadaku terasa sakit.

Kemudian ponselku berbunyi.

Pesan dari nomor tidak dikenal.

Bu Laras, saya Maya.

Jantungku berdegup lebih cepat.

Pesan kedua masuk.

Saya minta maaf menghubungi malam-malam. Saya baru tahu Mas Budi sudah menikah. Dia mengatakan kepada saya bahwa istrinya meninggal dua tahun lalu.

Aku menatap layar cukup lama.

Lalu pesan ketiga muncul.

Ada sesuatu yang harus Ibu ketahui. Budi meminjam uang Rp180 juta dari saya untuk modal proyek. Dia menjaminkan sertifikat rumah di Tebet milik orang tuanya.

Aku terdiam.

Rumah yang baru saja kutinggalkan.

Rumah Ibu Ratna dan Pak Agus.

Ternyata kebohongan Budi jauh lebih besar daripada yang kubayangkan.

Aku hampir menelepon Pak Agus, tetapi jariku berhenti di atas layar.

Untuk pertama kalinya aku menyadari bahwa tidak semua masalah Budi harus menjadi tanggung jawabku.

Aku membalas singkat.

Terima kasih sudah memberi tahu. Saya sarankan Anda mengurus persoalan tersebut melalui jalur hukum.

Setelah itu aku mematikan ponsel.

Enam bulan kemudian, aku berdiri di balkon rumahku sambil menggendong seorang bayi perempuan.

Namanya Kirana.

Proses perceraian belum sepenuhnya selesai, tetapi hidupku sudah berubah jauh lebih cepat daripada yang kubayangkan.

Budi kehilangan banyak hal setelah kebohongannya terbongkar. Sisil memutuskan semua hubungan dengannya. Maya menuntut pengembalian uangnya. Pak Agus terpaksa menjual sebagian aset untuk menyelesaikan persoalan sertifikat rumah yang ternyata sudah diagunkan tanpa sepengetahuan keluarga.

Namun aku tidak pernah mencari tahu lebih jauh.

Aku berhenti menjadikan kehancuran Budi sebagai bagian dari hidupku.

Suatu sore, bel rumah berbunyi.

Ketika kubuka pintu, Ibu Ratna berdiri di sana.

Tubuhnya terlihat lebih kurus.

Di tangannya ada sebuah tas kecil berisi pakaian bayi.

“Saya tidak datang untuk membela Budi,” katanya pelan. “Saya cuma ingin melihat cucu saya, kalau kamu mengizinkan.”

Aku diam cukup lama.

Kemudian kubuka pintu lebih lebar.

Ibu Ratna masuk.

Begitu melihat Kirana, air matanya langsung jatuh.

Dia tidak meminta agar aku kembali kepada anaknya.

Tidak meminta agar perceraian dibatalkan.

Dia hanya berdiri beberapa langkah dari bayiku.

“Boleh saya menggendongnya?”

Aku menyerahkan Kirana perlahan.

Perempuan yang dulu menganggapku mesin pencetak uang itu menangis ketika cucunya menggenggam jarinya.

Sebelum pulang, dia meletakkan tas kecil di meja.

“Ada satu benda di dalamnya untukmu.”

Setelah Ibu Ratna pergi, kubuka tas tersebut.

Di bawah pakaian bayi, ada amplop.

Di dalamnya terdapat dua tiket pesawat ke Bali.

Tiket lama yang kubeli sebelum malam pengkhianatan itu terbongkar.

Aku terdiam.

Ternyata malam itu tiket tersebut jatuh dari dompetku di rumah Ibu Ratna.

Di belakang salah satu tiket ada tulisan tanganku sendiri yang kubuat beberapa jam sebelum pesta.

Mas, sebelum kita menjadi Ayah dan Ibu, aku ingin kita pergi sekali lagi sebagai Laras dan Budi. Aku punya kabar paling bahagia untukmu.

Mataku panas.

Namun kali ini aku tidak menangis karena menyesal.

Aku mengambil tiket itu, lalu memasukkannya kembali ke amplop.

Keesokan paginya, aku membuka aplikasi perjalanan dan memesan satu tiket baru menuju Bali.

Bukan untuk Budi.

Untuk diriku sendiri.

Kirana masih terlalu kecil untuk mengingat perjalanan pertamanya. Tetapi suatu hari nanti, ketika dia sudah cukup besar untuk bertanya mengapa ayah dan ibunya tidak tinggal bersama, aku akan menjelaskan tanpa kebencian.

Bahwa keluarganya tidak hancur pada malam ketika ibunya memilih pergi.

Justru pada malam itulah keluarganya mulai dibangun kembali.

Dalam bentuk yang berbeda.

Lebih kecil.

Namun jauh lebih jujur.

Aku menatap Kirana yang tertidur di pelukanku dan tersenyum.

Dulu aku mengira keberanian terbesar seorang istri adalah bertahan demi keluarga.

Sekarang aku tahu, terkadang keberanian terbesar seorang ibu justru muncul ketika dia tahu kapan harus berhenti bertahan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang