
Aku akhirnya mengetik balasan yang selama bertahun-tahun tidak pernah berani kukirimkan kepada Kak Rania.
“Maaf, Kak. Bulan ini aku nggak bisa transfer empat juta. Aku juga punya kebutuhan sendiri. Kalau memang uang itu untuk kuliah, kirimkan rincian tagihannya. Kita bicarakan sesuai kemampuanku.”
Pesan itu terkirim.
Belum sampai satu menit, ponselku langsung berdering.
Kak Rania menelepon.
Aku menarik napas panjang sebelum mengangkatnya.
“DIANA! KAMU SUDAH GILA, YA?”
Aku menjauhkan ponsel dari telinga.
“Kak, nggak perlu teriak.”
“Kamu pikir aku pengemis sampai harus mengirimkan bukti tagihan segala?”
“Bukan begitu. Aku cuma ingin tahu uang yang kukirim digunakan untuk apa.”
“Sejak kapan kamu berani mengatur kakakmu sendiri?”
Aku memejamkan mata.
“Kak, selama ini aku selalu membantu. Tapi aku nggak bisa terus melakukan semuanya sendirian.”
Rania tertawa sinis.
“Oh, jadi sekarang kamu sudah merasa hebat karena punya pekerjaan?”
Aku belum sempat menjawab ketika terdengar suara Ibu dari belakangnya.
“Rania, kasih teleponnya ke Ibu!”
Beberapa detik kemudian, suara Ibu terdengar.
“Diana, kamu benar-benar nggak mau membantu kakakmu?”
“Bu, aku bukan nggak mau membantu. Tapi aku juga harus makan, bayar kos, dan menabung.”
“Kamu itu masih sendiri! Belum punya suami, belum punya anak. Kebutuhanmu memangnya sebanyak apa?”
Kalimat itu membuat dadaku terasa sakit.
“Bu, apa karena aku belum menikah berarti aku nggak punya masa depan yang harus dipikirkan?”
Ibu terdiam sesaat.
Kemudian beliau berkata dengan nada dingin.
“Kalau begitu, mulai sekarang urus saja hidupmu sendiri.”
Aku menggigit bibir.
“Bu…”
“Kalau kamu merasa keluarga cuma membebani, lebih baik keluar saja dari kartu keluarga!”
Sambungan telepon terputus.
Aku memandangi layar ponsel yang perlahan menggelap.
Air mataku menetes tanpa suara.
Selama ini aku selalu takut kehilangan keluargaku.
Namun, malam itu aku mulai menyadari bahwa ketakutan itulah yang membuatku terus membiarkan diriku diperlakukan tidak adil.
Keesokan paginya, aku berangkat bekerja seperti biasa.
Nisa langsung menyadari mataku sembap.
“Di, kamu habis nangis?”
Aku tersenyum lemah.
“Sedikit.”
Ketika jam istirahat tiba, akhirnya aku menceritakan sebagian masalah keluargaku kepadanya.
Nisa mendengarkan tanpa menyela.
Setelah aku selesai, dia menghela napas.
“Di, kamu tahu nggak berapa banyak uang yang sudah kamu kirim selama tiga tahun?”
Aku menggeleng.
“Nggak pernah kuhitung.”
“Kalau empat juta sebulan, berarti jumlahnya sudah lebih dari seratus juta.”
Aku terdiam.
Angka itu terasa begitu besar.
Selama tiga tahun, aku bahkan belum mampu membeli laptop baru untuk bekerja.
Namun, ternyata uang yang kukirim kepada keluarga sudah cukup untuk membayar uang muka rumah kecil.
“Dan, Di,” lanjut Nisa, “kamu nggak harus membuktikan rasa sayang dengan terus mengirim uang.”
Aku mengangguk perlahan.
Sore harinya, aku memutuskan memeriksa seluruh riwayat transfer melalui mobile banking.
Satu per satu transaksi kubaca.
Empat juta.
Tiga juta.
Lima juta.
Bahkan pernah tujuh juta ketika Kak Rania mengatakan membutuhkan uang tambahan untuk tugas akhir.
Namun, sesuatu membuatku berhenti.
Aku menemukan beberapa transfer kepada rekening atas nama Rania yang pada keterangannya kutulis untuk pembayaran uang semester.
Tiba-tiba aku teringat sesuatu.
Kak Rania sudah berusia dua puluh sembilan tahun.
Dia memang mengatakan masih menyelesaikan kuliahnya yang tertunda, tetapi selama hampir setahun terakhir aku tidak pernah melihat kartu mahasiswa ataupun bukti pembayaran kampus.
Rasa curiga mulai muncul.
Aku membuka media sosial kakakku.
Beberapa foto memperlihatkan Rania sedang berada di kafe mahal, menginap di hotel, dan berlibur bersama teman-temannya.
Sementara aku masih menggunakan kemeja kerja yang sama sejak dua tahun lalu.
Namun, bukan foto-foto itu yang paling mengejutkanku.
Pada sebuah unggahan enam bulan sebelumnya, seseorang mengucapkan selamat kepada Rania atas kelulusannya.
Aku membeku.
Kelulusan?
Aku memperbesar foto tersebut.
Rania mengenakan toga hitam sambil memegang ijazah.
Di sampingnya, Ibu tersenyum bangga.
Tanggal unggahan itu jelas.
Enam bulan lalu.
Padahal kemarin Kak Rania masih memintaku empat juta rupiah untuk membayar uang semester.
Tanganku langsung gemetar.
Aku membuka percakapan kami dan mencari pesan-pesan lama.
Benar saja.
Selama enam bulan terakhir, Rania berkali-kali meminta uang dengan alasan membayar kuliah.
Aku merasa mual.
Jadi selama ini aku dibohongi?
Aku mengambil tangkapan layar unggahan tersebut, lalu mengirimkannya kepada Kak Rania.
“Kak, bukannya Kakak sudah lulus enam bulan lalu? Kenapa kemarin masih minta uang semester?”
Pesanku langsung dibaca.
Namun, tidak ada balasan.
Beberapa menit kemudian, unggahan kelulusan itu menghilang dari akun media sosialnya.
Aku tersenyum pahit.
Ternyata kecurigaanku benar.
Malam itu, Ibu kembali menelepon.
Kali ini aku mengangkatnya.
“Diana, kamu kenapa menyudutkan kakakmu?”
Aku menelan ludah.
“Bu, Kak Rania sudah lulus, kan?”
Ibu terdiam.
“Jawab, Bu.”
“Iya. Memangnya kenapa?”
Dadaku seketika terasa sesak.
“Jadi Ibu juga tahu?”
“Ya tahu. Ibu datang waktu wisudanya.”
Aku menutup mata.
“Kalau begitu, kenapa kalian masih meminta uang kuliah kepadaku?”
Suara Ibu mulai meninggi.
“Uangnya dipakai untuk kebutuhan kakakmu yang lain!”
“Kebutuhan apa, Bu?”
“Itu bukan urusanmu!”
Aku terdiam cukup lama.
Lalu bertanya dengan suara bergetar.
“Jadi selama ini kalian sengaja berbohong supaya aku terus mengirim uang?”
Ibu tidak menjawab.
Namun, keheningan itu sudah cukup menjadi jawaban.
“Bu, aku cuma ingin diperlakukan dengan jujur.”
Tiba-tiba suara Rania terdengar dari belakang.
“Sudahlah, Bu! Bilang saja sama Diana kalau dia nggak perlu pulang lagi!”
Aku mendengar Ibu mencoba menenangkannya.
Namun, Kak Rania justru mengambil telepon.
“Diana, kamu puas sekarang?”
“Puas kenapa, Kak?”
“Karena bikin Ibu menangis!”
Aku menghela napas.
“Kak, aku cuma menanyakan uangku.”
“Uangmu, uangmu! Dari tadi yang kamu pikirkan cuma uang!”
Aku hampir tertawa mendengarnya.
“Kak, selama ini siapa yang selalu meminta uang dariku?”
Rania terdiam.
Aku melanjutkan.
“Kalau Kakak memang sudah lulus, kenapa nggak mencari pekerjaan?”
“Itu bukan urusanmu!”
“Kalau begitu, jangan jadikan penghasilanku sebagai tanggung jawab Kakak.”
Untuk pertama kalinya, aku mendengar Kak Rania kehilangan kata-kata.
Namun, beberapa detik kemudian, dia mengatakan sesuatu yang membuat seluruh tubuhku membeku.
“Dasar nggak tahu diri! Kalau bukan karena Ibu kasihan kepadamu, dari dulu kamu sudah diserahkan ke orang lain!”
Aku terdiam.
“Maksud Kakak apa?”
Rania langsung menutup telepon.
Aku mencoba menghubunginya kembali.
Tidak dijawab.
Kuhubungi Ibu.
Nomorku ternyata sudah diblokir.
Malam itu aku tidak bisa tidur.
Perkataan Kak Rania terus berputar di kepalaku.
Diserahkan kepada orang lain?
Apa maksudnya?
Apakah dia hanya mengucapkannya karena marah?
Atau ada sesuatu tentang masa kecilku yang belum pernah diketahui?
Dua hari kemudian, sebuah paket kecil tiba di tempat kosku.
Pengirimnya seseorang bernama Bu Lastri, tetangga lama keluarga kami.
Di dalam paket terdapat sebuah amplop cokelat dan sepucuk surat.
Aku mengenal tulisan tangan Bu Lastri.
“Diana, Maaf kalau Bude ikut campur. Tapi Bude sudah terlalu lama menyimpan sesuatu yang seharusnya menjadi hakmu untuk diketahui. Sebelum meninggal, almarhum bapakmu menitipkan amplop ini kepada Bude. Beliau meminta agar diberikan kepadamu kalau suatu hari kamu benar-benar memutuskan hidup mandiri.”
Tanganku mulai gemetar.
Aku membuka amplop tersebut.
Di dalamnya terdapat foto bayi perempuan, salinan akta kelahiran lama, dan surat tulisan tangan Bapak.
Aku langsung menangis ketika melihat tanda tangannya.
Bapak meninggal ketika aku masih duduk di bangku SMA.
Selama hidup, beliau memang tidak banyak bicara.
Namun, setiap kali Ibu memarahiku, Bapak sering diam-diam menyelipkan uang jajan ke dalam tas sekolahku.
Aku mulai membaca surat tersebut.
“Diana, anak Bapak tersayang. Kalau suatu hari kamu membaca surat ini, mungkin Bapak sudah tidak bisa lagi melindungimu.”
Air mataku mengalir semakin deras.
“Bapak tahu kamu sering merasa tidak dicintai. Bapak juga tahu kamu tidak pernah mendapatkan perlakuan yang sama seperti Rania.”
Aku menutup mulut.
Ternyata Bapak menyadari semuanya.
Namun, kalimat berikutnya membuat jantungku berdegup kencang.
“Diana, ada satu hal yang harus kamu ketahui. Kamu memang bukan anak kandung Ibumu.”
Aku membeku.
Kertas di tanganku hampir terlepas.
Aku membaca kalimat itu berulang kali.
Tidak mungkin.
Selama ini aku selalu percaya bahwa Ibu adalah perempuan yang melahirkanku.
Namun, surat Bapak menjelaskan kenyataan berbeda.
Ternyata aku adalah putri kandung adik perempuan Bapak yang meninggal beberapa hari setelah melahirkanku.
Ayah kandungku meninggal dalam kecelakaan sebelum aku lahir.
Karena tidak ada keluarga lain yang mampu merawatku, Bapak memutuskan mengasuhku sebagai anak sendiri.
Ibu awalnya menolak.
Namun, akhirnya beliau menyetujui karena Bapak berjanji akan menanggung seluruh kebutuhan keluarga.
Aku memandangi foto bayi di tanganku.
Jadi selama ini aku memang dibesarkan oleh keluarga yang tidak sepenuhnya menerimaku?
Air mataku jatuh membasahi surat.
Namun, ketika membaca bagian terakhir, aku menemukan sesuatu yang jauh lebih mengejutkan.
“Anakku, sebelum meninggal, ibu kandungmu meninggalkan sebidang tanah kecil atas namamu. Bapak tidak pernah menjualnya. Semua dokumen Bapak titipkan kepada Bu Lastri karena Bapak khawatir suatu hari ada orang yang memanfaatkan harta tersebut tanpa sepengetahuanmu.”
Aku langsung terdiam.
Tanah?
Aku bahkan tidak pernah tahu memiliki warisan.
Keesokan harinya, aku mengambil cuti dan pergi menemui Bu Lastri.
Beliau menyambutku dengan pelukan erat.
“Ya Allah, Diana. Kamu sekarang sudah dewasa sekali.”
Aku menangis di bahunya.
“Bude, kenapa nggak pernah cerita?”
Bu Lastri mengusap punggungku.
“Almarhum Bapakmu berharap keadaan keluarga membaik. Tapi sebelum meninggal, beliau takut kamu terus diperlakukan tidak adil.”
Aku menatapnya.
“Tanah itu benar-benar ada, Bude?”
Beliau mengangguk.
“Ada. Luasnya sekitar enam ratus meter persegi, di pinggir jalan kabupaten. Sekarang daerahnya sudah berkembang.”
Aku terkejut.
“Suratnya masih ada?”
“Masih. Bude menyimpan salinan dokumen dan surat penetapan hak warismu. Kita perlu memeriksa status terbarunya ke kantor pertanahan.”
Aku merasa seluruh tubuhku lemas.
Namun, bukan karena membayangkan nilai tanah tersebut.
Melainkan karena akhirnya aku memahami satu hal.
Bapak ternyata sudah berusaha memastikan aku memiliki masa depan, bahkan ketika beliau tidak lagi berada di sisiku.
Beberapa minggu kemudian, setelah pemeriksaan dokumen dan konsultasi dengan pihak yang berwenang, kepemilikanku atas tanah peninggalan ibu kandungku berhasil dikonfirmasi.
Nilai tanah tersebut ternyata sudah meningkat cukup besar karena berada dekat kawasan perdagangan baru.
Namun, aku tidak langsung menjualnya.
Aku ingin memikirkan semuanya dengan tenang.
Kabar mengenai tanah itu akhirnya sampai kepada Kak Rania.
Dia langsung menghubungiku.
“Diana, aku dengar kamu punya tanah warisan?”
Aku menghela napas.
“Iya, Kak.”
“Kalau begitu, kamu sekarang kaya, dong!”
Aku terdiam.
“Jadi kamu bisa membantu keluarga lagi, kan?”
Aku memejamkan mata.
Bahkan setelah mengetahui semua yang terjadi, hal pertama yang dipikirkan Kak Rania tetap uang.
“Kak, tanah itu peninggalan ibu kandungku.”
Rania mendengus.
“Jangan sok merasa paling menderita! Kami yang membesarkanmu!”
Aku menarik napas panjang.
“Aku berterima kasih kepada Bapak dan Ibu karena sudah merawatku. Tapi bukan berarti Kakak berhak mengatur seluruh hidupku.”
Rania terdiam.
Aku melanjutkan.
“Kalau Ibu membutuhkan bantuan untuk kebutuhan pokok atau kesehatan, aku akan membantu sesuai kemampuanku. Tapi aku nggak akan lagi membayar semua keinginan Kakak.”
“Jadi kamu tega sama keluarga sendiri?”
Aku menatap foto Bapak yang kini kusimpan di meja kerja.
“Kak, keluarga seharusnya saling menjaga. Bukan cuma satu orang yang terus memberi sementara yang lain terus menuntut.”
Kak Rania akhirnya menutup telepon.
Aku tidak mengejarnya.
Beberapa bulan kemudian, aku menerima promosi di tempat kerja.
Penghasilanku meningkat, dan untuk pertama kalinya aku mampu menabung secara teratur.
Aku membeli beberapa pakaian kerja baru.
Aku juga mulai makan siang bersama teman-teman kantor.
Hal-hal sederhana yang dahulu terasa seperti kemewahan kini perlahan menjadi bagian biasa dari kehidupanku.
Suatu sore, aku berjalan melewati sebuah toko pakaian.
Di etalasenya tergantung kemeja putih bersih.
Aku berhenti.
Tiba-tiba teringat gadis kecil yang kehilangan kesempatan menjadi pemimpin barisan hanya karena memakai kemeja kusam bekas kakaknya.
Aku masuk ke toko.
Kemudian membeli sebuah kemeja putih dengan ukuran yang pas.
Sesampainya di kos, aku menggantungnya di lemari, tepat di samping kemeja lamaku.
Aku memandangi kedua pakaian itu cukup lama.
Yang satu mengingatkanku pada masa ketika aku selalu diminta mengalah.
Yang satu lagi menjadi tanda bahwa aku akhirnya berani memilih diriku sendiri.
Aku tersenyum sambil mengusap air mata.
“Bapak, sekarang Diana sudah bisa membeli baju putih sendiri.”
Malam itu, Bu Lastri menelepon.
Beliau mengatakan bahwa Ibu ingin bertemu denganku.
Aku terdiam cukup lama sebelum akhirnya setuju.
Kami bertemu di rumah Bu Lastri pada akhir pekan.
Begitu melihatku, Ibu langsung menangis.
“Diana…”
Aku menunduk.
“Bu.”
Beliau menggenggam tanganku.
“Maafkan Ibu.”
Aku tidak langsung menjawab.
Ibu melanjutkan dengan suara bergetar.
“Selama ini Ibu terlalu membedakan kamu dan Rania. Ibu menganggap kamu harus selalu mengalah karena kamu bukan anak kandung Ibu.”
Air mataku mulai mengalir.
“Tapi aku juga anak yang Ibu besarkan, kan?”
Ibu mengangguk sambil menangis.
“Iya, Nak.”
“Kenapa aku harus selalu mendapatkan sisa?”
Pertanyaan itu akhirnya keluar dari mulutku.
Pertanyaan yang selama bertahun-tahun tidak pernah berani kuucapkan.
Ibu menutup wajah.
“Nggak ada alasan yang bisa membenarkan perlakuan Ibu.”
Kami menangis bersama.
Namun, aku tahu satu pertemuan tidak cukup untuk menghapus seluruh luka masa kecilku.
Aku memaafkan Ibu, tetapi juga mengatakan bahwa hubungan kami membutuhkan waktu untuk dibangun kembali.
Beliau mengangguk.
Sebelum pulang, aku mengeluarkan sebuah foto kecil dari tas.
Foto Bapak sedang menggendongku ketika masih bayi.
Aku menyerahkannya kepada Ibu.
“Bu, Bapak pernah benar-benar menyayangiku, kan?”
Ibu memandangi foto itu cukup lama.
Kemudian tersenyum di tengah tangis.
“Sangat, Diana. Bapakmu bahkan pernah bilang bahwa kehadiranmu adalah hadiah terbesar yang ditinggalkan adiknya.”
Aku memeluk Ibu perlahan.
Untuk pertama kalinya, aku tidak lagi merasa harus memohon agar diterima.
Aku tahu siapa diriku.
Aku tahu dari mana aku berasal.
Dan aku tahu bahwa nilai seorang manusia tidak ditentukan oleh apakah dia anak kandung, anak angkat, anak pertama, atau anak kedua.
Beberapa tahun kemudian, aku menggunakan sebagian tanah peninggalan ibu kandungku untuk membangun rumah kecil.
Di halaman depan, kutanam pohon melati kesukaan Bapak.
Sementara di ruang keluarga, kupasang dua foto berdampingan.
Foto Bapak yang telah membesarkanku.
Dan foto perempuan yang melahirkanku, ibu kandung yang tidak pernah sempat kukenal.
Aku sering duduk di depan kedua foto itu sambil merenungkan perjalanan hidupku.
Dulu, aku mengira kebahagiaan berarti membuat semua anggota keluarga senang meskipun diriku sendiri terus terluka.
Sekarang aku memahami bahwa kebahagiaan juga berarti berani menetapkan batas.
Aku tidak harus membenci keluarga untuk bisa hidup mandiri.
Aku juga tidak harus menyerahkan seluruh penghasilanku untuk membuktikan rasa terima kasih.
Karena kasih sayang yang tulus tidak pernah menuntut seseorang mengorbankan dirinya sampai kehilangan masa depan.
Dan setiap kali melihat kemeja putih yang tergantung rapi di lemari, aku selalu teringat seorang gadis kecil yang berdiri di tengah barisan sambil menahan tangis.
Seandainya bisa bertemu dengannya, aku ingin memeluknya erat-erat.
Lalu mengatakan bahwa suatu hari dia tidak perlu lagi menunggu orang lain selesai makan untuk mendapatkan lauk yang tersisa.
Dia tidak perlu lagi mengenakan pakaian bekas yang membuatnya malu.
Dan dia tidak perlu lagi merasa bersalah hanya karena ingin hidup dengan layak.
Sebab suatu hari, gadis kecil itu akan tumbuh menjadi perempuan yang mampu berdiri di atas kakinya sendiri.
Perempuan yang akhirnya memahami bahwa dirinya juga pantas dicintai, dihargai, dan dibahagiakan.
Perempuan itu adalah aku.
Diana.
