“Mbak Umi tadi di sini, Lek.”
Lek Ani berhenti di depan pintu. Tangannya yang menggenggam lenganku mendadak mengencang.
“Kamu ketemu Umi?”

Aku mengangguk. “Katanya lampu kamar mandi mati. Dia minta dipanggilkan Mas Imam.”
Wajah Lek Ani berubah pucat.
“Nduk, Umi sejak sore dibawa ke rumah sakit. Bulik sendiri yang mengantar sampai mobil.”
Aku menoleh ke sumur. Lampu kamar mandinya menyala terang. Di bawahnya, air menetes dari keran yang belum ditutup rapat.
“Tapi tadi dia bicara sama aku.”
Lek Ani segera menarikku masuk.
Malam itu, Lek Gik pulang bersama Mas Imam. Baju Mas Imam kusut, matanya merah, dan sebuah kantong plastik apotek menggantung di tangannya.
“Umi masih di rumah sakit?” tanya Lek Ani.
Mas Imam mengangguk.
“Besok mungkin boleh pulang.”
Aku memperhatikan wajahnya. Ketika kuceritakan pertemuanku dengan istrinya, kantong plastik itu terlepas dari tangannya.
“Dia bilang apa?”
“Lampu kamar mandi mati.”
Mas Imam menatap pintu belakang begitu lama sampai Lek Gik memanggil namanya dua kali.
“Lampunya memang mati kemarin,” katanya akhirnya. “Sudah saya ganti sebelum mengantar Umi.”
Ia buru-buru pulang, meninggalkan obat yang tercecer di bawah meja.
Di antara obat itu ada secarik kertas terlipat.
Aku memungutnya, hendak menyusulkan, tetapi tulisan di bagian luarnya membuat langkahku terhenti.
Kalau aku tidak sempat bicara, tanyakan kepada Luluk.
“Lek…”
Lek Gik mengambil kertas itu. Setelah membacanya, ia menyuruhku mengunci pintu.
Menjelang pukul satu, nyanyian itu terdengar lagi.
Kali ini aku tidak menangis.
Di sela nada yang lirih, terdengar bunyi lain. Ketukan pelan dari arah dapur.
Tiga kali. Berhenti. Tiga kali lagi.
Lek Ani meraih tanganku, tetapi aku justru berdiri.
“Putri, jangan.”
“Ada orang, Lek.”
Dari celah gorden dapur, kulihat seseorang berdiri di samping sumur sambil memegangi perut.
Mbak Umi.
Tubuhnya membungkuk. Wajahnya pucat diterangi lampu kamar mandi.
Lek Gik keluar lebih dulu. Ketika pintu dibuka, perempuan itu roboh ke pelukannya.
“Jangan panggil Imam,” bisiknya.
Kami membaringkannya di kursi panjang. Di pergelangan tangannya masih terpasang gelang rumah sakit.
Ternyata ia meninggalkan rumah sakit tanpa sepengetahuan suaminya. Sejak tadi malam ia bersembunyi di rumah kosong milik kerabat di ujung gang.
“Yang ketemu aku tadi benar Mbak?” tanyaku.
Ia mengangguk lemah.
“Aku mau minta tolong. Tapi waktu kamu pergi, aku lihat Imam keluar dari rumah Bu Sam. Aku takut.”
“Takut sama suami sendiri?” suara Lek Ani nyaris tak terdengar.
Mbak Umi menutupi wajahnya.
“Luluk juga takut.”
Ruangan mendadak sunyi.
Nyanyian di luar masih terdengar, tetapi kali ini aku mengenali arahnya.
Dari pohon jambu.
Lek Gik mengambil senter. Di bawah batang pohon, terselip sebuah telepon genggam kecil di dalam kantong plastik bening.
Layarnya menyala. Rekaman suara seorang perempuan sedang diputar berulang.
Suara Mbak Luluk.
Lek Gik menghentikan rekaman itu.
Untuk pertama kalinya setelah berhari-hari, malam benar-benar hening.
Mbak Umi menangis tanpa suara.
“Imam yang memasangnya?” tanya Lek Gik.
“Aku pernah melihat telepon itu di lemari perkakasnya.”
Dadaku terasa sesak.
“Buat apa?”
“Supaya orang takut keluar malam. Supaya rumah Luluk cepat dikosongkan.”
Dua hari sebelum meninggal, Mbak Luluk menitipkan sesuatu kepada Mbak Umi. Katanya, jika ia tiba-tiba menghilang atau mengalami sesuatu, barang itu harus diberikan kepada polisi.
Namun Mas Imam menemukan percakapan mereka.
Sejak itu, Mbak Umi dilarang keluar rumah. Ketika ia menolak menyerahkan titipan tersebut, Mas Imam memukulnya sampai ia harus dirawat.
“Dia bilang Luluk perempuan kotor,” bisik Mbak Umi. “Padahal Luluk sudah menikah dengannya. Diam-diam, hampir setahun.”
Lek Ani menutup mulut.
Mas Imam dikenal rajin membantu pengajian. Setiap malam tahlilan, dialah yang paling sibuk menuangkan minuman dan mengantar tamu.
“Luluk mau datang ke rumahku,” lanjut Mbak Umi. “Dia ingin anaknya diakui. Imam terus menyuruhnya menunggu.”
“Titipannya di mana?”
Mbak Umi menatapku.
“Di sumur. Dalam kaleng biskuit, di belakang tumpukan ember.”
Lek Gik menemukannya beberapa menit kemudian. Kaleng itu berisi foto pernikahan, salinan percakapan, hasil pemeriksaan kehamilan, serta sebuah flashdisk.
Ada pula surat dengan tulisan tangan Mbak Luluk.
Aku tidak sanggup membacanya keras-keras.
Ia sedang menyiapkan kepindahan ke Pacitan. Seorang bibinya bersedia menampungnya. Ia bahkan sudah membeli tiket untuk keberangkatan dua hari setelah malam kematiannya.
Lek Gik menelepon polisi.
Sebelum petugas datang, pagar depan berderit.
“Pak Gik?”
Suara Mas Imam.
“Ada Umi di sini?”
Lek Ani segera membawanya ke kamar. Aku berdiri di dekat meja, menutupi kaleng biskuit dengan tubuhku.
Mas Imam masuk tanpa menunggu dipersilakan.
“Umi sedang sakit. Kalau bicara aneh-aneh, jangan dipercaya.”
Pandangan matanya jatuh pada telepon kecil di tangan Lek Gik.
Wajahnya berubah.
“Dapat dari mana?”
“Bawah pohon.”
“Punya saya. Hilang beberapa hari lalu.”
Ia mengulurkan tangan. Lek Gik mundur.
Saat itulah terdengar bunyi dari telepon tersebut.
Bukan nyanyian.
“Kalau kamu datang ke rumahku, kamu akan menyesal, Luk.”
Suara Mas Imam memenuhi ruangan.
Disusul suara Mbak Luluk, gemetar tetapi jelas.
“Aku cuma minta kamu mengakui anakmu.”
Rekaman itu rupanya berlanjut ke berkas berikutnya.
Mas Imam menerjang Lek Gik. Aku menjerit. Dari luar, beberapa tetangga berlari masuk, diikuti dua petugas yang baru tiba.
Ketika tangannya ditahan, Mas Imam terus mengatakan bahwa Luluk sendiri yang memilih mati.
Namun pemeriksaan berikutnya menemukan kejanggalan pada luka dan keadaan tempat kejadian. Rekaman percakapan, pesan ancaman, serta kesaksian Mbak Umi membuat penyelidikan dibuka kembali.
Beberapa pekan kemudian, kami mendapat kabar bahwa Mas Imam telah mengaku.
Ia mendatangi Luluk untuk merebut bukti pernikahan mereka. Pertengkaran malam itu berakhir dengan kematian yang kemudian ia buat seolah-olah bunuh diri.
Sejak penangkapannya, nyanyian itu tidak terdengar lagi.
Aku mulai bisa tidur. Bayangan hitam di dapur ternyata kain penutup yang tersangkut pada balok, sedangkan TV kami sering mati karena stopkontaknya longgar. Ketakutan membuat semuanya terasa saling berhubungan.
Hanya satu hal yang belum berani kutanyakan.
Sebulan kemudian, Mbak Umi datang mengambil pakaiannya sebelum pindah ke rumah kakaknya.
“Rekaman lagu itu dari mana, Mbak?”
“Luluk pernah mengirimkannya. Dia suka merekam lagu untuk bayi dalam kandungannya.”
Aku mengangguk.
“Berarti Imam mengambilnya dari ponsel Mbak?”
“Mungkin.”
Ia terdiam, lalu menatapku.
“Tapi rekamannya cuma dua bait, Putri.”
Malam pertama itu, aku mendengar lagu tersebut sampai selesai.
Aku tidak menceritakannya kepada siapa pun.
Sore harinya, aku ikut Bu Sam ke makam. Di sana, untuk pertama kalinya, aku berani menyebut nama Mbak Luluk tanpa merasa takut.
Bu Sam meletakkan bunga sambil menangis.
“Maaf, Nduk. Ibu terlambat mendengarkanmu.”
Angin menggerakkan daun-daun di atas kami.
Aku menggenggam tangan Bu Sam, lalu duduk menemaninya sampai ia selesai bercerita tentang anak perempuannya.
