KERJA 16 JAM HANYA MAKAN SEKALI, SAYA DISURUH DIAM SAAT MENEMUKAN BUKTI KORUPSI PABRIK. HARI INI MANAJER LIKUIDASI BELUM TAHU SAYA PEMEGANG SAHAM UTAMA!

Ratna tidak langsung membawa faktur itu kepada Aris.

Ia memotretnya, menyimpan salinan digital di tiga tempat berbeda, lalu mengembalikan kertas asli ke posisi semula.

Pengalaman mengajarinya satu hal sederhana. Jika seseorang berani mencuri puluhan juta rupiah selama berbulan-bulan, orang itu tidak akan berhenti hanya karena ketahuan.

Keesokan paginya, Ratna bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.

Ia tetap bangun pukul lima, memeriksa tungku pengasapan, menghitung stok garam, lalu sarapan bersama para pekerja.

Bedanya, pagi itu setiap pekerja mendapat dua telur rebus, nasi, dan sayur.

Hendra menatap piringnya lama.

“Sudah dua bulan saya tidak sarapan begini.”

Ratna duduk di seberangnya.

“Jangan berterima kasih dulu. Kita belum selamat.”

Hendra mengangguk, lalu berkata pelan, “Tapi setidaknya sekarang kami merasa seperti manusia lagi.”

Kalimat itu membuat tangan Ratna berhenti sesaat.

Selama delapan minggu, para pekerja bekerja hingga enam belas jam sehari dan hanya makan sekali. Namun laporan keuangan justru mencatat biaya konsumsi karyawan tiga kali sehari.

Artinya, ada uang lain yang hilang.

Ratna mulai menggali lebih dalam.

Ia meminta Hendra mengumpulkan catatan pengiriman, nota bahan bakar, jadwal truk, dan daftar pembelian pakan selama setahun terakhir.

Tiga hari berikutnya, Ratna hampir tidak tidur.

Semakin banyak dokumen dibuka, semakin jelas pola yang muncul.

Pembelian pakan dinaikkan hampir tiga puluh persen dari harga sebenarnya.

Biaya perawatan truk dicatat untuk kendaraan yang sudah tidak beroperasi.

Beberapa pengiriman daging bahkan tercatat menuju pelanggan yang tidak pernah ada.

Semua transaksi itu melewati persetujuan Esteban.

Namun yang paling mengkhawatirkan adalah pembayaran rutin kepada tiga perusahaan berbeda.

Ratna menelusuri alamatnya.

Ketiganya bermuara pada satu orang.

Victor Salcedo.

Pada malam keempat, seseorang masuk ke kantor Ratna.

Tidak ada uang yang hilang.

Laptopnya masih ada.

Tetapi laci tempat ia menyimpan salinan dokumen telah dibongkar.

Ratna berdiri di depan meja yang berantakan sambil tersenyum tipis.

Orang itu sedang mencari bukti.

Berarti orang itu takut.

Pagi berikutnya Esteban datang ke ruang pengasapan.

“Kau kelihatan capek,” katanya.

Ratna sedang mengatur suhu tungku.

“Kerja memang bikin capek.”

“Jangan terlalu mencampuri urusan yang bukan tugasmu.”

Ratna menoleh.

“Misalnya?”

Esteban mendekat.

“Keuangan keluarga.”

Ratna tersenyum kecil.

“Aneh. Bukankah aku dibayar untuk menyelamatkan perusahaan?”

“Selamatkan saja produksi.”

Esteban merendahkan suaranya.

“Jangan mencari masalah.”

Ratna menatap matanya.

“Pak Esteban, kalau saya menemukan masalah, saya biasanya tidak mencarinya. Masalah itu sendiri yang meninggalkan jejak.”

Wajah Esteban berubah.

Namun sebelum ia menjawab, Aris muncul dari luar.

Esteban langsung pergi.

Aris memperhatikan pamannya menjauh.

“Apa yang terjadi?”

“Belum ada apa-apa,” jawab Ratna.

“Kapan akan ada sesuatu?”

Ratna memandang jam tangannya.

“Empat hari lagi.”

Hari keenam, Victor menyerang.

Dua pemasok pakan utama menghentikan pengiriman secara bersamaan.

Sore harinya, perusahaan logistik membatalkan kontrak pendinginan.

Malamnya, bank mengirim pemberitahuan bahwa aset peternakan akan dievaluasi ulang karena risiko gagal bayar.

Esteban meledak.

“Sudah kubilang! Kita harus jual peternakan sebelum semuanya diambil bank!”

“Kepada siapa?” tanya Ratna.

Esteban terdiam.

Ratna melempar sebuah proposal ke atas meja.

Nama pembelinya tercetak jelas.

Salcedo Agro Distribution.

Aris membacanya dan wajahnya mengeras.

Victor menawarkan harga hanya empat puluh persen dari nilai aset sebenarnya.

“Dia mau membeli kita murah,” gumam Aris.

“Bukan,” jawab Ratna.

“Dia sedang memastikan kalian tidak punya pilihan selain menjual murah.”

Esteban menghantam meja.

“Cukup! Kau cuma konsultan. Jangan bicara seolah perusahaan ini milikmu!”

Ratna menatapnya beberapa detik.

Lalu tersenyum.

“Benar. Untuk sekarang, anggap saja begitu.”

Malam itu Ratna mengubah strategi.

Alih-alih bergantung pada distributor besar, ia meminta Hendra menghubungi restoran, hotel kecil, toko oleh-oleh premium, dan jaringan katering di Medan, Pematangsiantar, hingga Parapat.

Mereka menawarkan sampel daging asap langsung.

Responsnya mengejutkan.

Dalam dua hari, mereka menerima pesanan melebihi kapasitas produksi mingguan.

Sebuah hotel bahkan bersedia membayar uang muka tiga puluh persen.

Uang pertama masuk.

Kemudian uang kedua.

Lalu ketiga.

Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, rekening operasional perusahaan memiliki arus kas positif.

Malam itu para pekerja makan ayam, sayur hangat, nasi, dan buah.

Tidak mewah.

Namun tidak ada seorang pun yang harus menghitung berapa sendok nasi yang boleh mereka ambil.

Hendra berdiri sambil membawa gelas teh.

“Bu Ratna.”

Semua orang menoleh.

“Dulu kami menertawakan Ibu ketika datang.”

Beberapa pekerja menunduk malu.

Ratna mengangkat alis.

Hendra melanjutkan, “Sekarang kalau ada yang menertawakan Ibu, mungkin harus lewat kami dulu.”

Ruangan pecah oleh tawa.

Ratna ikut tersenyum.

Namun kebahagiaan itu hanya bertahan sampai pukul sepuluh malam.

Sebuah truk pengangkut terbakar di halaman belakang.

Untungnya kosong.

Hendra berlari membawa alat pemadam.

Ratna melihat dari jauh dan langsung memahami pesan itu.

Ini bukan kecelakaan.

Keesokan paginya polisi datang.

Victor juga datang.

Ia turun dari SUV hitam dengan kemeja putih bersih, seolah hanya sedang berkunjung ke acara keluarga.

“Aris,” katanya sambil tersenyum. “Aku dengar ada musibah.”

Tatapannya kemudian berpindah kepada Ratna.

“Jadi ini konsultan hebat itu?”

Ratna mengulurkan tangan.

“Ratna.”

Victor menjabatnya.

“Victor Salcedo.”

“Saya tahu.”

Senyum Victor berubah tipis.

“Aku dengar kau berhasil menghidupkan gudang tua.”

“Lumayan.”

“Sayang sekali perusahaan ini tetap tidak akan bertahan.”

Ratna menatapnya.

“Kenapa Anda begitu yakin?”

Victor mendekat sedikit.

“Karena angka tidak punya belas kasihan.”

Ratna tersenyum.

“Saya setuju.”

Victor tidak tahu bahwa percakapan mereka direkam kamera keamanan baru yang dipasang Ratna dua hari sebelumnya.

Hari kesembilan tiba.

Pukul sembilan pagi, tiga mobil memasuki peternakan.

Seorang pria berkacamata turun bersama dua staf hukum dan seorang akuntan.

Esteban langsung tersenyum.

Itu Bima Prasetyo, manajer likuidasi yang ditunjuk kreditur.

Bima membuka rapat di gudang utama.

“Berdasarkan kondisi finansial perusahaan, kami akan memulai proses penjualan aset untuk memenuhi kewajiban.”

Para pekerja berkumpul di belakang.

Wajah mereka pucat.

Aris mengepalkan tangan.

Esteban justru tampak tenang.

Victor datang lima belas menit kemudian.

Ia membawa pengacara.

Sekarang Ratna mengerti seluruh skenarionya.

Esteban menguras perusahaan.

Victor menekan rantai pasokan.

Perusahaan dibuat seolah tidak bisa diselamatkan.

Lalu aset dijual murah kepada Victor.

Esteban mendapat bagian.

Semuanya tampak sah di atas kertas.

Bima membuka map.

“Penawaran tertinggi yang kami terima berasal dari Salcedo Agro Distribution.”

Victor menyandarkan tubuh dengan santai.

Ratna duduk di ujung meja.

“Berapa?”

Bima menatapnya.

“Maaf, Anda siapa?”

“Konsultan operasional.”

“Kalau begitu Anda tidak memiliki kewenangan dalam rapat pemegang saham.”

Esteban tertawa kecil.

“Sudah kubilang, Ratna. Sampai sini saja.”

Ratna mengangguk.

“Baik.”

Ia berdiri.

Esteban tersenyum puas.

Namun Ratna tidak berjalan menuju pintu.

Ia justru meletakkan sebuah map hitam di depan Bima.

“Tolong baca halaman pertama.”

Bima mengernyit, lalu membuka map.

Beberapa detik kemudian wajahnya berubah.

Ia membaca halaman kedua.

Lalu ketiga.

Ruangan mendadak sunyi.

“Apa ini?” tanya Victor.

Bima tidak menjawab.

Ratna berdiri di samping meja.

“Dokumen kepemilikan saham terbaru.”

Aris menatap Ratna.

Esteban bangkit.

“Tidak mungkin.”

Ratna akhirnya menoleh kepadanya.

“Dua tahun lalu, perusahaan ini menerima investasi melalui Nusantara Pangan Mandiri.”

Esteban membeku.

Nama itu ia kenal.

Perusahaan investasi yang selama ini dianggap sebagai investor pasif.

Ratna melanjutkan.

“Nusantara Pangan Mandiri memiliki lima puluh satu persen saham perusahaan ini setelah restrukturisasi utang dua tahun lalu.”

Bima mengangkat kepala.

Ratna mengeluarkan satu dokumen terakhir.

“Saya pemilik manfaat sekaligus pemegang kendali Nusantara Pangan Mandiri.”

Tidak ada yang bergerak.

Hendra sampai lupa menutup mulut.

Aris menatap Ratna seolah baru pertama kali melihat perempuan itu.

Esteban memucat.

Victor berdiri.

“Ini permainan.”

“Bukan,” jawab Ratna. “Ini audit.”

Ia menekan tombol pada laptop.

Layar besar di dinding menyala.

Muncul daftar transaksi.

Pembayaran fiktif.

Tagihan pakan yang dinaikkan.

Biaya kendaraan palsu.

Transfer ke perusahaan yang terafiliasi dengan Victor.

Lalu muncul rekaman percakapan.

Suara Esteban terdengar jelas dari rekaman telepon yang diperoleh melalui audit perangkat perusahaan.

“Begitu likuidasi dimulai, kau ambil gudang dan jalur distribusi. Bagianku jangan terlambat.”

Wajah Victor langsung berubah.

Esteban berteriak, “Itu ilegal! Kau tidak boleh merekam!”

Ratna tetap tenang.

“Pengacara akan menentukan apa yang bisa digunakan secara hukum. Tapi transfer bank, faktur palsu, dan perusahaan cangkang tidak membutuhkan rekaman itu untuk menjelaskan diri mereka sendiri.”

Bima menutup map.

“Proses likuidasi saya hentikan sementara.”

Victor menunjuk Ratna.

“Kau pikir kau menang?”

Ratna menatapnya.

“Saya tidak datang untuk menang.”

Ia menunjuk para pekerja yang berdiri di belakang.

“Saya datang untuk mengetahui kenapa dua puluh dua orang bekerja enam belas jam sehari dan hanya makan sekali sementara laporan perusahaan mencatat anggaran makan mereka tiga kali sehari.”

Hendra menunduk.

Beberapa pekerja mengepalkan tangan.

Ratna melanjutkan dengan suara lebih rendah.

“Orang bisa memalsukan angka. Tapi kelaparan sulit dipalsukan.”

Polisi yang sejak tadi menunggu di luar masuk bersama dua penyidik dari Medan.

Esteban menoleh kepada Aris.

“Ris, aku keluargamu.”

Aris menatap pamannya lama.

“Aku tahu.”

“Bantu aku.”

Aris menarik napas.

“Selama ini aku pikir keluarga berarti melindungi satu sama lain.”

Ia melihat para pekerja.

“Ternyata aku salah. Keluarga juga berarti tidak membiarkan satu orang menghancurkan hidup puluhan orang lainnya.”

Esteban dibawa keluar untuk pemeriksaan.

Victor menyusul setelah pengacaranya berbicara singkat dengan penyidik.

Tiga minggu kemudian, peternakan itu tidak lagi sama.

Produksi daging asap meningkat.

Dua restoran besar di Medan menandatangani kontrak tahunan.

Seluruh pekerja kembali menerima gaji penuh.

Jam kerja dibatasi.

Makan tiga kali sehari menjadi aturan tertulis perusahaan.

Aris tetap memimpin operasional, tetapi kali ini setiap pengeluaran harus melewati sistem audit digital.

Suatu sore, Hendra menemukan Ratna sedang memasukkan pakaian ke dalam koper.

“Ibu mau pergi?”

“Kontrak saya enam puluh hari.”

“Tapi ini perusahaan Ibu.”

Ratna tersenyum.

“Justru karena itu saya harus tahu apakah perusahaan bisa berjalan tanpa saya.”

Hendra terdiam.

“Kenapa Ibu datang sebagai konsultan biasa? Kenapa tidak bilang sejak awal kalau Ibu pemegang saham utama?”

Ratna menutup kopernya.

“Kalau saya datang sebagai pemilik, semua orang akan menunjukkan wajah terbaik mereka.”

Ia melihat keluar jendela.

Para pekerja sedang makan sore sambil tertawa.

“Tapi kalau saya datang sebagai orang yang dianggap tidak penting, saya bisa melihat bagaimana mereka memperlakukan orang yang menurut mereka tidak punya kuasa.”

Hendra mengangguk perlahan.

Sebelum pergi, Ratna menyerahkan sebuah amplop kepadanya.

Di dalamnya ada surat pengangkatan.

Hendra membaca jabatan barunya dua kali.

Kepala Operasional Produksi.

Matanya memerah.

“Saya cuma pengawas kandang.”

“Dulu.”

“Kenapa saya?”

Ratna mengambil tasnya.

“Karena saat semua orang sibuk mencari siapa yang harus disalahkan, kamu adalah orang pertama yang mengambil alat pemadam ketika truk terbakar.”

Ratna berjalan menuju mobil.

Aris sudah menunggu di samping pintu.

“Ada satu hal yang belum kupahami,” katanya.

“Apa?”

“Kenapa memilih perusahaan kami?”

Ratna terdiam beberapa saat.

Kemudian ia mengeluarkan sebuah foto lama dari dompet.

Seorang pria muda berdiri di depan gudang pengasapan yang sama, dua puluh tahun sebelumnya.

Aris mengambil foto itu.

Wajahnya berubah.

“Aku kenal dia.”

Ratna mengangguk.

“Itu ayah saya.”

Aris menatapnya tidak percaya.

“Ayahmu pernah bekerja di sini?”

“Sebelas tahun.”

Ratna memandang cerobong tua yang kini kembali mengeluarkan asap.

“Dia kehilangan pekerjaannya ketika manajemen lama menutup gudang pengasapan. Setelah itu hidup kami berubah. Tapi sebelum meninggal, dia selalu bilang tempat ini sebenarnya bisa menyelamatkan banyak keluarga kalau dikelola oleh orang yang benar.”

Aris mengembalikan foto itu perlahan.

Ratna membuka pintu mobil.

“Ayah saya tidak pernah punya saham di perusahaan ini.”

Ia tersenyum tipis.

“Jadi saya membelinya.”

Mobil Ratna bergerak meninggalkan peternakan.

Di belakangnya, asap tipis naik dari cerobong tua menuju langit Simalungun.

Enam puluh hari sebelumnya, dua puluh dua orang bekerja enam belas jam hanya untuk mendapat satu piring makanan.

Kini dari bangunan yang pernah dianggap rongsokan itu, mereka mengirim produk ke berbagai kota dan pulang dengan upah yang layak.

Tak seorang pun di sana kembali menertawakan tubuh Ratna.

Namun bagi Ratna, itu bukan kemenangan yang penting.

Karena sejak awal ia tidak datang untuk membuktikan bahwa orang-orang telah salah menilainya.

Ia datang untuk membuktikan sesuatu yang pernah dikatakan ayahnya.

Sebuah usaha tidak benar-benar bangkrut ketika kehilangan uang.

Ia bangkrut ketika orang-orang yang memegang kekuasaan mulai menganggap manusia lebih murah daripada keuntungan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang