KOK SEPI BANGET? Ayah baru saja meninggal dunia, tapi saat acara tahlilan, tak

“Kalau kalian memang nggak suka sama keluarga kami, silakan. Tapi jangan pernah menghina ibu saya lagi!” Suara Alya bergetar menahan amarah.

Bu Rini, Bu Tati, dan Bu Yuni langsung terdiam. Tak seorang pun menyangka perempuan muda yang baru beberapa bulan menjadi menantu Bu Sulastri itu berani membela mertuanya sedemikian rupa.

Namun, Bu Sulastri justru menarik tangan Alya.

“Sudah, Nak. Ibu nggak mau gara-gara Ibu, kamu jadi bermusuhan sama tetangga.”

Alya menoleh. Melihat mata mertuanya yang berkaca-kaca, kemarahannya perlahan berubah menjadi kesedihan.

“Bu, sejak kapan Ibu harus minta maaf hanya karena orang lain menyakiti hati Ibu?”

Bu Sulastri tidak menjawab.

Perempuan berusia enam puluh tahun itu sudah terlalu terbiasa mengalah. Sejak suaminya, Pak Harun, terkena stroke dua tahun lalu, hidup mereka memang berubah drastis. Warung sembako kecil milik keluarga terpaksa ditutup untuk membiayai pengobatan.

Putra tunggal mereka, Fajar, bekerja sebagai sopir perusahaan di Jakarta. Meski sudah lulus kuliah, Fajar belum mendapatkan pekerjaan sesuai bidangnya. Setiap bulan, sebagian besar gajinya dikirim untuk membantu kedua orang tuanya.

Enam bulan lalu, Fajar menikahi Alya, seorang perempuan yang bekerja sebagai staf keuangan di sebuah perusahaan swasta. Karena kondisi Pak Harun belum memungkinkan untuk bepergian, pernikahan mereka dilangsungkan sederhana di Jakarta.

Tidak ada pesta besar. Tidak ada acara unduh mantu di kampung.

Sejak itulah para tetangga semakin sering menjadikan keluarga Bu Sulastri bahan pembicaraan.

Padahal, tidak seorang pun tahu bahwa setiap kali menerima kiriman uang dari anaknya, Bu Sulastri selalu menyisihkan sebagian untuk membeli obat suaminya dan membantu seorang cucu yatim dari kerabat jauh yang tinggal di desa sebelah.

Untuk dirinya sendiri, tahu dan tempe sudah lebih dari cukup.

Siang itu, setelah membawa semua belanjaan masuk, Alya menemukan sebuah buku tulis lusuh di dekat lemari dapur.

Di dalamnya terdapat catatan pengeluaran Bu Sulastri.

Obat Bapak, Rp450.000.

Susu Bapak, Rp180.000.

Bantuan sekolah Riska, Rp200.000.

Belanja dapur, Rp150.000.

Pada halaman terakhir tertulis kalimat yang membuat Alya menangis.

Kalau uang kiriman Fajar masih tersisa, simpan untuk masa depan Fajar dan Alya. Jangan sampai anak-anak ikut susah seperti kami.

“Bu…” Alya menghampiri mertuanya yang sedang membersihkan sayuran. “Kenapa Ibu nggak pernah cerita kalau uang belanja Ibu tinggal sedikit?”

Bu Sulastri tersenyum.

“Fajar baru menikah, Nak. Kalian juga harus menabung. Ibu sama Bapak sudah tua. Nggak perlu macam-macam.”

“Tapi Ibu juga berhak hidup nyaman.”

“Melihat kalian bahagia saja Ibu sudah nyaman.”

Alya memeluk perempuan itu erat.

Sejak hari itu, Alya berjanji akan lebih sering pulang bersama Fajar untuk merawat kedua orang tuanya.

Sayangnya, janji itu belum sempat sepenuhnya ditepati.

Empat hari kemudian, Pak Harun meninggal dunia.

Pagi itu, Fajar sedang dalam perjalanan mengantar barang ke Bandung ketika menerima telepon dari ibunya. Ia langsung memutar balik kendaraan setelah mendapat izin atasannya.

Alya yang sedang bekerja juga segera pulang.

Saat mereka tiba, jenazah Pak Harun sudah disemayamkan di ruang tengah. Beberapa kerabat membantu mempersiapkan pemakaman, sementara Bu Sulastri duduk terpaku di samping suaminya.

“Pak… Fajar pulang, Pak…” bisik Fajar sambil menggenggam tangan ayahnya yang sudah dingin.

Tangisnya pecah.

Lelaki yang selama ini selalu terlihat kuat itu bersimpuh seperti anak kecil.

Pemakaman berlangsung menjelang sore. Beberapa warga ikut mengantarkan jenazah, tetapi Alya menyadari sesuatu yang aneh.

Bu Rini, Bu Tati, dan Bu Yuni tidak terlihat.

Malam harinya, keluarga mengadakan tahlilan di rumah. Fajar sudah meminta bantuan ketua RT untuk menyampaikan undangan kepada para tetangga.

Namun, hingga azan Isya selesai, ruang tamu tetap kosong.

Hanya beberapa kerabat dari luar kampung dan seorang ustaz yang datang.

Puluhan gelas air mineral tersusun rapi. Tikar sudah dibentangkan. Kotak makanan menumpuk di dekat pintu.

Alya berkali-kali melirik jam dinding.

“Mas, apa undangannya sudah disampaikan?”

“Sudah. Pak RT sendiri yang bilang akan mengabari warga.”

“Terus kenapa nggak ada yang datang?”

Fajar menggeleng.

Di sudut ruangan, Bu Sulastri menunduk sambil meremas ujung kerudungnya.

“Mungkin mereka sibuk, Nak.”

Namun, ketika Alya melihat air mata jatuh ke punggung tangan mertuanya, hatinya terasa diremas.

Setelah tahlilan selesai, Alya memutuskan membagikan makanan kepada tetangga.

“Biar nggak mubazir, Mas. Sekalian kita cari tahu kenapa mereka nggak datang.”

Fajar mengangguk dan ikut mengangkat kotak makanan.

Rumah pertama yang mereka datangi adalah rumah Bu Rini.

Begitu pintu dibuka, wajah perempuan itu langsung berubah.

“Mbak Alya?”

“Assalamualaikum, Bu. Ini ada makanan dari tahlilan Bapak.”

Bu Rini tidak segera menerima kotak itu.

“Maaf, Mbak. Saya nggak bisa ambil.”

Alya mengerutkan kening.

“Kenapa, Bu?”

“Takut nanti dibilang cuma mau makanan gratis.”

Alya tertegun.

“Siapa yang bilang begitu?”

Bu Rini tertawa hambar.

“Lho, kemarin Mbak sendiri yang bilang kami nggak pernah memikirkan perasaan orang lain. Terus semua dagangan tukang sayur diborong di depan kami. Kami malu, Mbak.”

“Tapi itu nggak ada hubungannya dengan tahlilan Bapak.”

“Buat Mbak mungkin nggak. Buat kami beda.”

Dari dalam rumah terdengar suara Bu Tati.

“Sudahlah, Rin. Bilang saja terus terang. Kami memang sepakat nggak datang. Biar mereka tahu rasanya dikucilkan.”

Darah Alya seketika berdesir.

“Jadi… kalian sengaja?”

Bu Tati muncul di ambang pintu.

“Iya! Kami memang salah sudah mengejek Bu Sulastri. Tapi Mbak juga mempermalukan kami di depan tukang sayur. Kami cuma mau kasih pelajaran.”

Fajar yang sejak tadi diam langsung maju.

“Pelajaran apa, Bu? Ayah saya baru meninggal!”

Suaranya meninggi.

“Kalau Ibu marah sama istri saya, kenapa harus melibatkan ibu saya yang sedang berduka?”

Bu Rini menunduk, tetapi Bu Tati masih bersikeras.

“Ya, salah sendiri kalau menantunya sombong!”

Tiba-tiba terdengar suara seorang lelaki tua dari belakang mereka.

“Cukup, Tati!”

Pak Darman, suami Bu Tati, berdiri di pagar dengan wajah merah padam.

“Kamu tahu siapa yang membayar biaya operasi saya waktu saya kecelakaan lima tahun lalu?”

Bu Tati terdiam.

“Pak Harun!”

Semua orang membeku.

“Waktu itu kita kekurangan uang delapan juta. Pak Harun datang membawa uang tanpa minta jaminan. Dia bahkan melarang saya cerita kepada siapa pun karena nggak mau kamu merasa berutang budi.”

Bu Tati menatap suaminya tidak percaya.

“Mas… kenapa aku nggak pernah tahu?”

“Karena kamu nggak pernah mau dengar cerita baik tentang orang yang kamu anggap miskin!”

Pak Darman mengusap wajahnya.

“Dan sekarang, waktu beliau meninggal, kamu malah mengajak orang-orang memboikot tahlilannya?”

Bu Tati langsung menangis.

Belum sempat siapa pun berbicara, Bu Yuni datang tergesa-gesa.

“Rin! Tati! Kalian harus lihat ini!”

Di tangannya terdapat sebuah amplop cokelat.

“Tadi Pak RT kasih tahu, sebelum meninggal Pak Harun menitipkan beberapa surat. Salah satunya buat suamiku.”

Bu Yuni membuka surat itu dengan tangan gemetar.

Isinya hanya beberapa kalimat.

Yuni dan keluarga, maaf kalau selama ini saya belum bisa banyak membantu. Saya dengar anak kalian masih kesulitan membayar uang sekolah. Ada sedikit tabungan yang saya titipkan kepada Pak RT. Tolong gunakan untuk pendidikan anak kalian. Jangan sampai dia berhenti sekolah.

Di bawahnya terdapat tanda tangan Pak Harun.

Bu Yuni menutup mulutnya.

“Ya Allah… selama ini aku malah menghina istrinya.”

Alya merasa lututnya melemas.

Ia baru menyadari bahwa mertuanya dan almarhum ayah mertuanya menyimpan begitu banyak kebaikan yang tidak pernah mereka ceritakan.

Namun, kejutan terbesar datang ketika Pak RT menghampiri mereka.

“Fajar, Alya, kalian harus pulang sekarang.”

“Ada apa, Pak?” tanya Fajar panik.

“Ibumu pingsan.”

Fajar langsung berlari.

Sesampainya di rumah, mereka mendapati Bu Sulastri terbaring di sofa, ditemani seorang kerabat. Napasnya lemah, wajahnya pucat.

“Ibu!”

Fajar berlutut di sampingnya.

Bu Sulastri perlahan membuka mata.

“Fajar… jangan marahi tetangga, ya, Nak.”

“Bu, sekarang jangan pikirkan mereka dulu.”

“Ibu cuma takut… setelah Bapak nggak ada, kita malah kehilangan saudara dan tetangga juga.”

Alya menangis mendengar ucapan itu.

Di belakang mereka, Bu Rini, Bu Tati, dan Bu Yuni berdiri dengan wajah penuh penyesalan.

Bu Tati akhirnya maju dan bersimpuh di dekat Bu Sulastri.

“Sulastri… maafkan aku.”

Bu Sulastri menoleh perlahan.

“Aku yang ngajak mereka nggak datang malam ini,” lanjut Bu Tati sambil terisak. “Aku sakit hati sama menantumu. Tapi aku nggak sadar sudah menyakiti kamu lebih dalam.”

Bu Rini ikut menangis.

“Kami keterlaluan, Las.”

Bu Sulastri menggenggam tangan mereka.

“Sudahlah. Aku sudah maafkan.”

“Tapi kami belum pantas dimaafkan,” bisik Bu Yuni.

“Kalau kalian benar-benar menyesal, besok datanglah. Kita doakan Pak Harun sama-sama.”

Keesokan malamnya, sesuatu yang tidak pernah dibayangkan Alya terjadi.

Sejak selepas Magrib, para tetangga mulai berdatangan membawa makanan, air mineral, dan tikar tambahan.

Ruang tamu yang sebelumnya kosong kini penuh hingga teras.

Pak Darman memimpin warga menata kursi. Bu Rini membantu di dapur. Bu Tati dan Bu Yuni membagikan makanan kepada para tamu.

Sebelum tahlilan dimulai, Pak RT berdiri membawa sebuah buku kecil peninggalan Pak Harun.

“Bapak dan Ibu sekalian, almarhum menitipkan satu pesan kepada saya.”

Ruangan mendadak hening.

“Beliau pernah berkata, kalau suatu hari saya meninggal, jangan biarkan istri saya merasa sendirian. Dia sudah terlalu lama mengurus saya sampai lupa mengurus dirinya sendiri.”

Bu Sulastri langsung menangis.

Pak RT melanjutkan dengan suara bergetar.

“Dan ada satu pesan khusus untuk Alya.”

Alya mengangkat wajah.

“Pak Harun bilang, kalau nanti beliau sudah nggak ada, beliau ingin mengucapkan terima kasih kepada menantunya. Karena sejak Alya masuk keluarga ini, Bu Sulastri mulai berani tersenyum lagi.”

Air mata Alya mengalir deras.

Ia tidak pernah tahu bahwa lelaki pendiam yang selama ini lebih banyak terbaring di tempat tidur itu memperhatikan setiap kebaikannya.

Fajar merangkul istrinya.

“Terima kasih sudah menjaga Ibu dan Bapak, Ya.”

Alya menggeleng sambil menangis.

“Aku belum melakukan apa-apa, Mas.”

Dari tempat duduknya, Bu Sulastri mengulurkan tangan.

Alya segera menghampiri.

“Nak,” bisik Bu Sulastri, “waktu kamu membela Ibu di depan tukang sayur, Ibu sebenarnya takut kamu jadi dibenci orang.”

Alya menggenggam tangannya.

“Tapi sekarang Ibu sadar, kamu bukan cuma membela Ibu. Kamu mengingatkan orang-orang bahwa orang miskin juga punya harga diri.”

Bu Sulastri memeluk menantunya erat.

“Bapak memang sudah pergi. Tapi Allah masih memberi Ibu seorang anak perempuan.”

Malam itu, Alya menangis di pelukan mertuanya.

Dan di antara puluhan orang yang datang mendoakan Pak Harun, Bu Rini, Bu Tati, dan Bu Yuni menangis paling lama.

Mereka akhirnya memahami sesuatu yang selama ini luput dari pandangan mereka.

Tahu dan tempe di meja makan Bu Sulastri bukanlah tanda kemiskinan yang pantas ditertawakan.

Itu adalah bukti pengorbanan seorang ibu yang rela mengurangi kebutuhannya sendiri demi orang-orang yang dicintainya.

Sementara Pak Harun, lelaki sederhana yang mereka pandang sebelah mata, ternyata meninggalkan warisan yang jauh lebih berharga daripada rumah besar atau harta melimpah.

Warisan berupa kebaikan yang diam-diam pernah menyelamatkan hidup orang lain.

Dan sejak malam itu, tidak ada lagi yang berani merendahkan Bu Sulastri.

Bukan karena menantunya mampu membeli seluruh dagangan tukang sayur.

Melainkan karena mereka akhirnya mengerti bahwa kekayaan seseorang tidak selalu terlihat dari apa yang tersaji di meja makannya, tetapi dari seberapa banyak hati yang pernah disentuh oleh kebaikannya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang