“Dulu aku dan Wira hampir menikah.”
Rantang kosong yang kubawa terasa mendadak berat. Aku menatap Citra, menunggu ia tertawa dan mengatakan bahwa semuanya hanya salah paham.
Namun, perempuan itu justru menunduk.
“Dia belum pernah cerita?”
Aku menggeleng.
“Maaf. Kupikir kamu sudah tahu.”
“Lalu kenapa kamu menikah dengan sepupunya?”
Citra meremas sudut undangan di tangannya.
“Karena aku pengecut.”
Sebuah sepeda motor lewat di antara kami. Aku bergeser ke tepi jalan, tetapi kakiku terasa sulit digerakkan.
“Keluargaku tidak setuju aku menikah dengan buruh bangunan,” lanjutnya. “Waktu Damar datang melamar, aku menerima. Pekerjaannya di kantor, penghasilannya tetap. Aku pikir hidupku akan lebih mudah.”
“Mas Wira masih menunggumu?”
“Tidak. Dia mengembalikan semua barangku sebelum menikah denganmu.”
Jawaban itu seharusnya menenangkan. Entah kenapa, dadaku malah semakin sesak.
Mungkin karena aku teringat ucapanku sendiri saat pertama kali datang ke rumah Murni. Aku pernah mengeluhkan kamar sempit, kamar mandi di dekat sumur, bahkan tangan Wira yang kasar ketika membantuku turun dari mobil.
Aku berbeda dari Citra hanya karena aku telanjur menjadi istrinya.
“Kenapa meminta maaf lewat aku?”
“Wira tidak membalas pesanku. Aku ingin semuanya selesai baik-baik sebelum hari Minggu.”
Aku menerima undangan itu tanpa berjanji apa-apa.
Di rumah, Murni sedang memilah beras di atas tampah. Ia menoleh ketika aku duduk di sebelahnya.
“Wira sudah makan, Neng?”
“Sudah, Bu.”
Aku meletakkan undangan di lantai.
“Citra tadi memberiku ini.”
Jari-jari Murni berhenti bergerak.
“Ibu tahu tentang mereka?”
Murni mengangguk pelan.
“Kenapa tidak ada yang memberitahuku?”
“Bukan karena ingin menyembunyikan. Wira bilang urusannya dengan Citra sudah selesai. Ibu juga tidak ingin kamu merasa dibandingkan.”
Aku memperhatikan beras yang berserakan di antara ujung jarinya.
“Mas Wira sedih waktu ditinggalkan?”
“Iya. Tapi yang paling menyakitkan justru perkataan Sukma.”
Aku mengangkat wajah.
“Bude Sukma?”
“Ibu Damar,” jawabnya. “Dia bilang Wira harus tahu diri. Katanya, perempuan seperti Citra tidak mungkin mau hidup dengan orang yang setiap hari pulang membawa debu.”
Aku terdiam.
Pagi tadi, perempuan yang sama mengangkat gelang emasnya untuk membuktikan bahwa anaknya tidak mungkin mengambil cincinku.
Malamnya, Wira pulang ketika aku sedang menyiapkan air hangat. Ia berhenti di ambang dapur, tampak heran melihatku membawa baskom.
“Untuk membersihkan luka di tanganmu,” kataku.
Ia melihat goresan di dekat ibu jarinya, lalu tersenyum kecil.
“Cuma kena ujung genteng.”
“Tetap harus dibersihkan.”
Wira duduk. Saat aku menyentuhkan kain basah ke tangannya, ia sedikit meringis.
“Aku bertemu Citra.”
Tangannya menegang, tetapi tidak ditarik.
“Dia cerita?”
“Iya.”
“Kalau ada yang ingin kamu tanyakan, tanyakan saja.”
Aku menatap wajahnya.
“Kenapa kamu membelaku tadi pagi?”
Keningnya berkerut.
“Karena itu cincinmu.”
“Bahkan setelah sikapku selama ini?”
Wira terdiam sesaat.
“Kalau kamu pernah menyakitiku, bukan berarti aku boleh membiarkan orang lain mengambil milikmu.”
Aku menunduk. Air di baskom bergetar terkena tetesan air mataku.
“Maaf,” bisikku.
Wira tidak buru-buru menjawab. Ia membiarkanku menyelesaikan membersihkan lukanya, lalu mengambil kain dari tanganku.
“Aku dengar,” katanya pelan.
Hari Minggu, kami datang bersama Murni. Wira mengenakan kemeja putih yang kusetrika sendiri. Aku memakai kebaya sederhana, dengan cincin Ibu kembali melingkar di jariku.
Sukma menyambut kami di dekat pintu gedung serbaguna. Senyumnya menipis saat melihat Murni.
“Akhirnya datang juga. Murni, bantu di belakang, ya. Orang katering kurang.”
Murni refleks hendak melangkah, tetapi aku menggenggam tangannya.
“Bu Murni diundang sebagai tamu, Bude.”
“Namanya keluarga, masa tidak mau membantu?”
“Kalau memang perlu bantuan, kita bisa tanyakan kepada petugasnya bersama-sama.”
Sukma mendengus. Ia menunjuk meja di dekat pintu dapur.
“Duduk sana saja. Meja depan untuk tamu kantor Damar.”
Wira meraih siku ibunya.
“Kita duduk dulu, Bu.”
Aku mengikuti mereka. Belum sempat kami mengambil minuman, seorang pelayan datang membawa amplop cokelat.
“Maaf, Bu. Ini ada titipan untuk Ibu Murni.”
Di dalamnya ada gelang emas dan selembar kuitansi gadai.
Wajah Murni langsung pucat.
“Itu gelang Ibu?” tanyaku.
Ia mengangguk.
“Dulu dipinjam Sukma untuk tambahan modal. Katanya sebentar.”
Di kuitansi tertulis nama Sukma. Tanggalnya hampir dua tahun lalu.
Ada kertas kecil terselip di balik gelang.
Aku yang menebusnya. Maaf baru berani mengembalikan sekarang. Laras.
Aku mencari Laras. Ia berdiri di ujung lorong, lalu segera mendekat ketika pandangan kami bertemu.
“Maaf, Bulik,” katanya kepada Murni. “Aku baru tahu gelang ini bukan milik Ibu setelah kejadian cincin Mbak Jelita.”
“Uang tebusannya dari mana?” tanya Wira.
“Tabunganku.”
Sebelum Murni menjawab, Sukma muncul.
“Laras! Kamu sedang apa?”
Matanya jatuh pada gelang di tangan Murni. Wajahnya berubah.
“Jangan bikin keributan di pernikahan Damar,” katanya lirih, tetapi tajam.
Aku berdiri.
“Kami sedang bicara baik-baik.”
“Itu urusan keluarga!”
“Justru karena keluarga, gelang pinjaman seharusnya dikembalikan.”
Beberapa orang menoleh. Sukma mendekat, suaranya meninggi.
“Murni juga banyak berutang budi padaku!”
Murni perlahan bangkit. Tangannya gemetar, tetapi ucapannya terdengar jelas.
“Aku berterima kasih kalau pernah ditolong, Sukma. Tapi gelang ini peninggalan suamiku. Aku meminjamkannya karena percaya kepadamu.”
Sukma membuka mulut, lalu terdiam ketika Damar datang bersama Citra.
“Ada apa, Bu?”
Laras menyerahkan kuitansi itu kepada kakaknya.
Damar membacanya, kemudian menatap ibunya. Wajahnya tampak malu.
“Nanti kita bicarakan di rumah,” katanya. Ia beralih kepada Murni. “Maaf, Bulik.”
Citra memandangi kami. Ketika matanya bertemu dengan Wira, ia menunduk.
Wira mengangguk singkat, lalu mengajak kami kembali duduk. Ia tidak terlihat puas melihat Sukma kehilangan kata-kata. Perhatiannya justru tertuju pada ibunya yang masih menggenggam gelang itu erat-erat.
Dalam perjalanan pulang, Murni tertidur di kursi belakang mobil sewaan kami.
“Aku tadi terlalu keras?” tanyaku.
Wira menggeleng.
“Terima kasih sudah menemani Ibu bicara.”
Aku menyentuh punggung tangannya.
“Aku juga masih harus memperbaiki banyak hal.”
“Iya,” jawabnya.
Kejujurannya membuatku tersenyum, meski mataku terasa panas.
Beberapa hari kemudian, Laras datang mengembalikan uang tebusan yang sempat diselipkan Murni ke tasnya. Ia juga membawa sekantong cabai.
Kali ini, sebelum masuk, ia mengetuk pintu dan menunggu dipersilakan.
Aku membukakan pintu untuknya.
Di dapur, Murni sedang memasak. Wira duduk memperbaiki kaki kursi yang goyah. Ketika melihatku, ia menggeser tempat duduk, menyisakan ruang di sebelahnya.
Aku duduk di sana, lalu meletakkan tanganku di atas tangannya tanpa lagi menghindari kulitnya yang kasar.
