Tanpa berpikir panjang, aku langsung berlari menuju pemakaman. Suara Runi yang tadi terdengar dari kejauhan terus terngiang di telingaku.
“Runi! Bapak datang, Nak!”
Aku menerobos jalan setapak yang dipenuhi ilalang. Sandalku beberapa kali tersangkut akar pohon, tetapi aku tidak peduli. Bayangan putriku dikubur hidup-hidup membuat dadaku terasa hendak meledak.
Ketika sampai di gerbang pemakaman, aku melihat cahaya lampu bergerak di antara batu-batu nisan.
“Pak! Tunggu!”
Cahaya itu mendadak berhenti.
Aku berlari semakin cepat hingga akhirnya melihat lelaki tua yang tadi menunjukkan jalan menuju rumah dukun bayi. Ia sedang berdiri di samping sebuah makam baru.
Di dekat kakinya terdapat cangkul dan gundukan tanah basah.

“Anak saya mana, Pak?” bentakku sambil mencengkeram lengannya.
Lelaki itu tampak terkejut.
“Anak apa, Mas?”
“Jangan pura-pura! Tadi ada anak laki-laki bilang Bapak membawa Runi ke sini!”
Wajah lelaki itu berubah pucat.
“Astaghfirullah. Mas, sejak tadi saya di sini sendirian. Saya baru selesai menggali makam untuk pemakaman besok pagi.”
Aku tidak percaya.
“Terus suara anak saya tadi dari mana?”
Lelaki itu menatapku lama, kemudian bertanya dengan suara pelan.
“Anak Mas pakai baju merah muda?”
Aku langsung mengangguk.
“Iya! Bapak lihat?”
Ia menunjuk ke arah sebuah bangunan kecil di belakang pemakaman.
“Tadi saya melihat anak perempuan berlari ke sana. Tapi dia tidak sendirian.”
Jantungku berdegup semakin keras.
“Sama siapa?”
“Sama seorang anak laki-laki.”
Aku teringat anak yang membawa obor tadi.
Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut, aku berlari menuju bangunan tersebut.
Ternyata bangunan itu sebuah musala kecil yang sudah lama tidak digunakan. Pintunya terbuka sedikit, sementara dari dalam terdengar suara seperti orang sedang menangis.
“Runi?”
Aku mendorong pintu.
Di sudut ruangan, putriku duduk memeluk kedua lututnya.
“Ya Allah, Runi!”
Aku langsung menghambur dan memeluknya erat.
Tubuh kecilnya gemetar. Kedua pipinya basah oleh air mata.
“Maafkan Bapak, Nak. Bapak nggak akan ninggalin kamu lagi.”
Runi mencengkeram bajuku. Tangannya menunjuk ke arah jendela sambil mengeluarkan suara terbata-bata.
“A… a… nak… ta… nah…”
Aku mengusap rambutnya.
“Sudah, Nak. Kita pulang.”
Namun, Runi menggeleng keras.
Ia meraih tanganku dan menariknya menuju bagian belakang musala.
Di sana terdapat sebuah sumur tua yang sebagian mulutnya tertutup papan kayu.
Tiba-tiba, aku mendengar suara rintihan.
“Tolong…”
Aku membeku.
Suara itu bukan berasal dari Runi.
“Tolong saya…”
Aku segera menyalakan senter ponsel dan mengarahkannya ke dalam sumur.
Betapa terkejutnya aku ketika melihat seorang anak laki-laki terperosok di dasar sumur yang sudah mengering.
Usianya sekitar sepuluh tahun. Bajunya penuh lumpur dan salah satu kakinya terjepit batang kayu.
“Tahan, Dek! Bapak cari bantuan!”
Aku segera menelepon nomor darurat dan memanggil penjaga makam.
Lelaki tua itu datang bersama dua warga yang kebetulan melintas di jalan utama. Tidak lama kemudian, petugas penyelamat dan warga desa berdatangan.
Anak laki-laki itu akhirnya berhasil diangkat dalam keadaan lemas, tetapi masih sadar.
Saat petugas membaringkannya di tandu, aku memperhatikan wajahnya.
Dadaku mendadak terasa dingin.
Anak itu sangat mirip dengan bocah yang tadi memberitahuku bahwa Runi sedang dikubur hidup-hidup.
Bedanya, bocah di hadapanku mengenakan kaus biru yang penuh lumpur, bukan pakaian lusuh seperti yang kulihat sebelumnya.
“Siapa namamu, Nak?” tanyaku.
“F… Fajar,” jawabnya lemah.
“Kenapa kamu bisa jatuh ke situ?”
Fajar menelan ludah.
“Sore tadi saya cari kambing. Terus papan sumurnya patah. Saya jatuh.”
Aku terdiam.
“Terus siapa anak yang tadi bawa obor?”
Fajar mengerutkan kening.
“Obor apa, Pak?”
Belum sempat aku menjawab, ponselku berdering.
Nama Hanah muncul di layar.
Aku langsung mengangkatnya.
“Mas! Kamu di mana?” terdengar suara istriku yang menangis.
“Han, aku sudah ketemu Runi. Kamu gimana? Bayinya sudah lahir?”
“Belum, Mas! Aku di IGD Puskesmas! Tadi aku dibawa ambulans!”
Aku tersentak.
“Ambulans? Bukannya kamu di rumah dukun bayi?”
Hanah terdiam sejenak.
“Rumah dukun bayi apa, Mas? Tadi setelah Mas keluar, nenek yang menolongku menelepon bidan desa. Katanya persalinanku berisiko dan harus dibawa ke Puskesmas. Aku sudah berkali-kali telepon Mas, tapi nggak tersambung!”
Aku segera memeriksa layar ponsel.
Ada tujuh belas panggilan tak terjawab.
Dengan bantuan salah seorang warga, aku membawa Runi menyusul Hanah ke Puskesmas.
Ketika tiba, istriku sudah berada di ruang bersalin. Seorang bidan menjelaskan bahwa kondisi bayi perlu dipantau karena detak jantungnya sempat menurun.
Aku menunggu di luar sambil memangku Runi.
Anak itu terlihat sangat kelelahan. Namun, setiap kali aku mencoba menidurkannya, ia justru memegang tanganku erat-erat.
Sekitar satu jam kemudian, tangisan bayi terdengar dari ruang bersalin.
Aku langsung berdiri.
Tak lama, seorang bidan keluar sambil tersenyum.
“Selamat, Pak. Bayinya perempuan. Ibu dan bayinya dalam keadaan stabil.”
Aku terduduk sambil mengucapkan syukur berkali-kali.
Namun, kebahagiaanku mendadak bercampur rasa heran ketika bidan itu berkata,
“Untung tadi ada seorang nenek yang cepat menghubungi kami. Kalau terlambat sedikit saja, kondisi ibu dan bayi bisa lebih berbahaya.”
“Memangnya nenek itu siapa, Bu?”
“Katanya Bu Marni. Dulu beliau memang pernah jadi dukun bayi di desa sebelah.”
Aku mengangguk.
Setidaknya sekarang aku tahu nama perempuan yang telah menolong istriku.
Keesokan paginya, aku kembali ke rumah sederhana tempat Hanah sempat ditolong. Aku ingin mengucapkan terima kasih sekaligus memberikan sedikit uang.
Namun, begitu sampai, aku terkejut melihat rumah itu tertutup rapat.
Seorang perempuan paruh baya yang sedang menyapu halaman rumah sebelah menghampiriku.
“Cari siapa, Mas?”
“Bu Marni, Bu. Kemarin beliau menolong istri saya.”
Perempuan itu menatapku dengan heran.
“Bu Marni sudah meninggal lima tahun lalu.”
Darahku seolah berhenti mengalir.
“Jangan bercanda, Bu. Kemarin sore saya ketemu beliau.”
“Betul, Mas. Rumah ini memang peninggalan beliau. Sekarang dipakai sesekali oleh anaknya kalau pulang kampung.”
Aku berusaha mengingat setiap kejadian malam sebelumnya.
Rumah itu, pohon besar, perempuan berambut putih, semuanya terasa begitu nyata.
“Kalau begitu, boleh saya lihat foto Bu Marni?”
Perempuan itu mengajakku ke rumahnya dan menunjukkan sebuah foto lama yang terpajang di ruang tamu.
Aku langsung mengenali wajah tersebut.
Perempuan yang menolong Hanah memang Bu Marni.
Namun, sebelum pikiranku semakin jauh, tetangga itu menjelaskan bahwa anak Bu Marni bernama Bu Sulastri, seorang kader kesehatan yang sering membantu warga membawa ibu hamil ke Puskesmas.
“Orangnya mirip sekali sama almarhumah ibunya,” katanya.
Aku mulai merasa ada penjelasan yang lebih masuk akal.
Setelah meminta nomor telepon Bu Sulastri, aku menghubunginya.
Ternyata benar, dialah perempuan yang menolong Hanah malam itu.
“Maaf, Pak. Saya tadi malam pakai kebaya lama milik ibu saya karena baru pulang dari acara keluarga. Mungkin Bapak kira saya sudah tua sekali karena lampunya redup,” katanya sambil tertawa kecil.
Aku ikut tertawa lega.
Akan tetapi, masih ada satu hal yang belum terjawab.
Siapa anak laki-laki pembawa obor yang menyuruhku mencari Runi di pemakaman?
Beberapa hari kemudian, aku mendapat kabar dari orang tua Fajar. Anak mereka sudah pulang dari rumah sakit dengan kaki yang masih diperban.
Aku mengajak Hanah dan Runi menjenguknya.
Sesampainya di rumah Fajar, ibunya langsung menangis sambil memeluk Runi.
“Terima kasih, Nak. Kalau bukan karena kamu, mungkin anak Ibu nggak akan ketolong.”
Runi tersenyum malu.
Aku kemudian menceritakan kejadian tentang bocah pembawa obor.
Ayah Fajar mendengarkan dengan saksama.
“Mas, malam itu ada teman Fajar yang ikut mencarinya. Namanya Dimas. Dia memang membawa lampu darurat kecil karena listrik di sekitar makam sempat padam.”
Aku tertegun.
“Dimas? Anak berbaju lusuh?”
“Iya. Dia sudah cari Fajar ke mana-mana. Katanya sempat ketemu seorang bapak di dekat rumah kosong.”
Aku menarik napas panjang.
Akhirnya misteri itu mulai terungkap.
Ternyata Dimas tidak sedang menakut-nakutiku. Ia melihat Runi berlari menuju pemakaman, kemudian berusaha menyusulnya. Karena panik dan berbicara terburu-buru, ucapannya tentang penggalian makam mungkin telah membuatku salah paham.
Namun, yang paling mengejutkan justru datang dari Fajar.
Anak itu menatap Runi sambil tersenyum.
“Kak, makasih, ya. Waktu aku teriak dari sumur, cuma Kakak yang dengar.”
Aku menoleh kepada putriku.
“Runi dengar suara Fajar?”
Ia mengangguk.
“Te… to… long…”
Suaranya masih terbata-bata, tetapi untuk pertama kalinya aku benar-benar memahami perkataannya.
Aku memeluknya erat.
Selama ini, aku terlalu sibuk mengkhawatirkan keterlambatan bicaranya sampai sering mengabaikan apa yang sebenarnya ingin ia sampaikan.
Padahal, sejak awal perjalanan malam itu, Runi sudah berusaha memperingatkanku.
Beberapa minggu kemudian, aku mengajak Runi menjalani pemeriksaan perkembangan di rumah sakit kabupaten. Dokter menyarankan terapi wicara rutin serta pemeriksaan pendengaran dan perkembangan lanjutan agar kebutuhannya bisa dipahami dengan lebih baik.
Hanah menggenggam tanganku ketika dokter menjelaskan semuanya.
“Mas, Runi nggak pernah kekurangan kasih sayang. Dia cuma butuh kita lebih sabar mendengarkan.”
Aku mengangguk sambil menahan air mata.
Sejak kejadian malam itu, aku juga mulai berani menetapkan batasan kepada Ibu. Aku tetap menghormatinya, tetapi tidak akan membiarkan Hanah dan anak-anak kami dihina lagi.
Suatu sore, ketika aku sedang menggendong bayi kami di teras, Runi menghampiriku sambil membawa selembar kertas.
Di atasnya terdapat gambar seorang anak perempuan berdiri di samping sumur, seorang anak laki-laki sedang berbaring di bawahnya, dan seorang lelaki berlari mendekat.
Di bawah gambar itu, Runi menulis dengan huruf besar yang tidak rata.
BAPAK DATANG.
Aku tersenyum sambil memeluknya.
“Iya, Nak. Bapak datang.”
Runi menatapku lama, lalu mengucapkan sesuatu dengan perlahan.
“Ba… pak… de… ngar…”
Aku terdiam.
Air mataku langsung jatuh.
Dua kata terakhir itu terasa lebih menghantam hatiku daripada seluruh kejadian menakutkan yang kami alami malam itu.
Selama sepuluh tahun, aku selalu berharap putriku suatu hari bisa berbicara seperti anak-anak lain.
Namun, pada malam kelahiran adiknya, justru Runi yang mengajariku sesuatu yang jauh lebih penting.
Bahwa seorang anak tidak harus mampu berbicara dengan sempurna untuk memiliki sesuatu yang berharga untuk disampaikan.
Dan terkadang, yang paling dibutuhkan seorang anak bukanlah orang tua yang selalu mempunyai jawaban, melainkan orang tua yang bersedia mendengarkan.
Sejak hari itu, setiap kali Runi menarik tanganku dan berusaha mengatakan sesuatu, aku selalu menghentikan pekerjaanku.
Aku menatap matanya, menggenggam tangannya, lalu berkata dengan lembut.
“Bapak dengar, Nak. Pelan-pelan saja. Bapak dengarkan.”
