Aku langsung mengenali wajah perempuan yang merayap di hadapan motor kami.
Dialah perempuan berambut panjang yang kutemui sedang menyapu halaman rumah pagi tadi.
Perempuan yang mengatakan bahwa bayinya sudah meninggal.
Dan yang lebih mengerikan, dialah yang memperingatkanku agar tidak mempercayai Mbah Sartini.
Sekarang tubuhnya melengkung dalam posisi tidak wajar. Kedua tangannya mencengkeram tanah, sementara rambut panjangnya terseret di jalan berlumpur.
“Mas! Jalan, Mas!” Hanah berteriak dari belakang.
Aku tersentak dari ketakutan.
Tanganku buru-buru memutar gas, tetapi mesin motor justru mati.
Aku mencoba menyalakannya kembali.
Gagal.

“Ya Allah, jangan sekarang!”
Sosok perempuan itu terus merayap mendekat.
Runi menangis sambil menutup wajah.
“Ayah, aku takut!”
Aku memaksakan diri tetap tenang. Dengan satu tangan menggenggam setang, aku mencoba menghidupkan mesin menggunakan starter kaki.
Sekali.
Dua kali.
Pada percobaan ketiga, mesin akhirnya menyala.
Aku langsung memutar gas.
Motor melaju melewati sisi jalan yang masih cukup lebar. Roda belakang sempat tergelincir di tanah basah, tetapi aku berhasil menjaga keseimbangan.
Ketika kami melewati perempuan itu, terdengar suara jeritan melengking.
“KEMBALIKAN ANAKKU!”
Aku tidak berani menoleh.
Hanah menangis di belakangku.
“Mas, dia bilang apa?”
“Nggak usah dipikirkan! Pegang bayinya yang erat!”
Kami terus melaju sampai kawasan pemakaman tidak terlihat lagi.
Namun, setelah hampir dua puluh menit berkendara, aku menyadari sesuatu yang membuat dadaku kembali sesak.
Kami melewati pohon beringin yang sama untuk ketiga kalinya.
Di bawahnya terdapat sebuah batu besar dengan cat putih yang sudah mengelupas.
Aku sangat yakin karena sebelumnya sempat melihat kain merah tersangkut di salah satu akarnya.
Sekarang kain itu masih berada di sana.
“Han, kamu sadar nggak kita melewati tempat ini terus?”
Hanah mengangkat wajah.
“Iya, Mas. Aku juga merasa begitu.”
Aku menghentikan motor di pinggir jalan.
Kabut mulai menipis, tetapi langit masih terlihat kelabu.
“Apa kita salah jalan?” tanya Hanah.
Aku menggeleng.
“Jalan ini cuma satu. Dari tadi Mas nggak pernah belok.”
Runi tiba-tiba menunjuk ke arah pepohonan.
“Ayah, ada nenek.”
Aku langsung menoleh.
Di bawah pohon beringin, seorang perempuan tua berdiri memegang tongkat kayu.
Mbah Sartini.
Aku merasa darahku membeku.
Bagaimana mungkin perempuan tua itu sudah berada di sini?
Bukankah kami meninggalkannya di rumah hampir satu jam lalu?
“Mau pulang ke mana kalian?” tanyanya.
Suaranya terdengar biasa saja.
Namun, senyumnya membuatku semakin gelisah.
“Mbah, kok bisa ada di sini?”
“Ini jalan kampung saya. Kenapa saya nggak boleh ada di sini?”
Aku tidak menjawab.
Mbah Sartini melangkah mendekat.
Matanya tertuju kepada bayi dalam gendongan Hanah.
“Kasihan anak itu. Baru lahir sudah dibawa keliling hutan.”
Aku menarik napas panjang.
“Mbah, kami cuma ingin pulang. Tolong tunjukkan jalan keluar.”
Perempuan tua itu menghela napas.
“Jalan keluar ada. Tapi kalian harus mengembalikan sesuatu dulu.”
Aku langsung teringat jeritan perempuan berkebaya lusuh di dekat pemakaman.
Kembalikan anakku.
“Mengembalikan apa, Mbah?”
Mbah Sartini tidak menjawab.
Ia justru menatap Hanah.
“Nduk, kamu belum menceritakan semuanya kepada suamimu?”
Hanah langsung menegang.
Aku menoleh.
“Han, maksud Mbah apa?”
Istriku menggeleng cepat.
“Aku nggak tahu, Mas.”
Mbah Sartini tersenyum tipis.
“Kalau begitu, coba tanyakan kenapa dia datang ke rumah saya tiga bulan lalu.”
Aku membeku.
“Tiga bulan lalu?”
Hanah langsung menangis.
Aku menatapnya tidak percaya.
“Han, kamu pernah datang ke sini sebelum kita berangkat bersama?”
Hanah menunduk.
“Aku bisa jelaskan, Mas.”
“Jelaskan sekarang!”
Sebelum Hanah menjawab, Mbah Sartini mengangkat tongkatnya dan menunjuk ke arah jalan kecil di sebelah pohon beringin.
“Kalau ingin tahu kebenarannya, datanglah ke rumah kosong di ujung jalan itu.”
Aku menggeleng.
“Tidak, Mbah. Kami nggak mau kembali.”
Namun, ketika aku menoleh lagi, Mbah Sartini sudah tidak berada di tempatnya.
Aku terlonjak.
Baru beberapa detik lalu perempuan itu berdiri di hadapan kami.
Sekarang ia menghilang tanpa suara langkah.
Hanah mencengkeram bajuku.
“Mas, kita pergi saja.”
Aku menatap istriku.
“Tapi sebelum itu, kamu harus jujur.”
Hanah menangis semakin keras.
Akhirnya, dengan suara terbata-bata, ia mulai bercerita.
Tiga bulan sebelumnya, ketika usia kandungannya memasuki enam bulan, Hanah mengalami pendarahan dan harus dirawat di rumah sakit.
Dokter berhasil menangani kondisinya, tetapi Hanah sangat ketakutan karena pernah mengalami keguguran dua tahun lalu.
Saat itulah seorang perempuan di pasar menyarankan agar ia menemui Mbah Sartini.
Katanya, perempuan tua tersebut terkenal mampu membantu ibu hamil melalui doa dan ramuan tradisional.
“Aku datang diam-diam, Mas,” ujar Hanah.
“Kenapa nggak bilang kepadaku?”
“Karena aku tahu Mas pasti melarang.”
Aku menahan emosi.
“Lalu apa yang dilakukan Mbah Sartini?”
Hanah mengusap air matanya.
“Dia menyuruhku membawa bunga kantil, kain putih, dan sedikit tanah dari halaman rumah.”
Aku langsung teringat kendi di dekat anak sungai.
“Setelah itu?”
“Dia memberikan gelang benang merah untuk kupakai sampai melahirkan.”
Aku menatap pergelangan tangan Hanah.
Gelang itu memang masih ada.
Selama ini aku mengira hanya aksesori biasa.
“Katanya gelang itu untuk perlindungan,” lanjut Hanah.
“Tapi semalam, setelah anak kita lahir, Mbah Sartini mengambilnya sebentar. Dia mengikatkannya kembali setelah membawa bayi kita ke kamar belakang.”
Aku membeku.
“Mbah Sartini membawa bayi kita sendirian?”
Hanah mengangguk.
“Katanya mau membersihkan bayi dan memeriksa kondisinya.”
Aku merasa kepala berdenyut.
“Berapa lama?”
“Mungkin sepuluh menit.”
Aku memandang bayi yang sedang tertidur dalam gendongan Hanah.
Wajah mungilnya terlihat tenang.
Namun, tiba-tiba aku menyadari sesuatu.
Sejak meninggalkan rumah Mbah Sartini, bayi kami belum sekalipun menangis.
Bahkan ketika motor berhenti mendadak dan Hanah berteriak ketakutan, ia tidak terbangun.
“Han, coba bangunkan anak kita.”
Hanah mengerutkan kening.
“Kenapa, Mas?”
“Tolong.”
Hanah mengusap pipi bayi kami dengan lembut.
“Nak… bangun sebentar, Sayang.”
Tidak ada reaksi.
Ia mengusap telapak kaki bayi itu.
Tetap tidak ada gerakan.
Wajah Hanah mendadak pucat.
“Mas…”
Aku segera menepikan motor di bagian jalan yang datar dan turun untuk memeriksa bayi kami.
Dadanya masih bergerak.
Napasnya terdengar sangat pelan.
Namun, ia tampak sulit dibangunkan.
“Kita harus segera cari pertolongan medis,” kataku.
Hanah mulai menangis histeris.
Aku berusaha menghubungi layanan darurat, tetapi ponselku tidak mendapatkan sinyal.
Kami tidak mungkin terus berputar tanpa arah.
Saat itulah terdengar suara sepeda motor dari kejauhan.
Seorang lelaki tua melintas membawa dua keranjang rumput.
Aku langsung melambaikan tangan.
“Pak! Tolong berhenti!”
Lelaki itu mengurangi kecepatan.
“Ada apa, Mas?”
“Anak kami baru lahir. Kondisinya lemah sekali. Kami tersesat. Tolong tunjukkan jalan ke puskesmas!”
Lelaki itu segera turun.
Setelah melihat bayi kami, wajahnya berubah serius.
“Jangan lewat jalan besar itu. Ada jembatan putus di depan. Ikuti saya lewat jalan kebun.”
Aku hampir menangis lega.
Untuk pertama kalinya sejak pagi, kami bertemu seseorang yang memberikan jawaban masuk akal.
Aku segera mengikuti lelaki tersebut.
Sekitar lima belas menit kemudian, kami tiba di jalan beraspal.
Sinyal ponsel kembali muncul.
Aku langsung menghubungi bantuan medis.
Tak lama kemudian, sebuah ambulans dari puskesmas terdekat datang menjemput Hanah dan bayi kami.
Petugas segera memeriksa bayi tersebut dan membawanya ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap.
Runi ikut bersama Hanah, sementara aku mengikuti menggunakan motor.
Di rumah sakit, dokter mengatakan bayi kami mengalami penurunan suhu tubuh dan membutuhkan pemantauan serta perawatan segera.
Aku terduduk lemas.
Kalau kami terlambat menemukan jalan keluar, aku tidak berani membayangkan akibatnya.
Beberapa jam kemudian, kondisi bayi mulai membaik.
Hanah menangis sambil menggenggam tanganku.
“Maafkan aku, Mas.”
Aku mengusap wajah.
“Kita bicarakan semuanya setelah anak kita benar-benar aman.”
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Ketika seorang perawat membantu mengganti pakaian bayi, ia menemukan sesuatu yang diikatkan pada bagian dalam kain bedong.
Sebuah kantong kecil berwarna hitam.
Perawat menyerahkannya kepadaku.
“Pak, ini barang keluarga?”
Aku menggeleng.
Hanah juga terlihat bingung.
Aku membuka kantong tersebut dengan hati-hati.
Di dalamnya terdapat beberapa kuntum bunga kantil kering, benang merah, dan secarik kertas yang dilipat sangat kecil.
Aku membukanya.
Tulisan pada kertas itu membuat tengkukku dingin.
Anak yang dipinjam harus kembali sebelum malam ketujuh.
Aku langsung teringat perkataan Mbah Sartini.
Kalian harus mengembalikan sesuatu dulu.
Hanah mulai menangis lagi.
“Mas, aku nggak tahu soal kantong itu. Sumpah!”
Aku menggenggam tangannya.
“Aku percaya kamu nggak tahu soal ini. Tapi kita harus melaporkan apa yang terjadi.”
Keesokan harinya, setelah kondisi Hanah dan bayi cukup stabil, aku mendatangi kantor polisi terdekat.
Aku menceritakan kejadian di rumah Mbah Sartini, termasuk bagaimana bayi kami sempat dibawa ke kamar belakang tanpa pengawasan.
Petugas mencatat laporanku dan meminta bantuan aparat desa untuk memastikan identitas serta alamat perempuan tua tersebut.
Menjelang sore, seorang polisi menghubungiku.
“Pak, kami sudah mendatangi alamat yang Bapak sebutkan.”
Aku langsung berdiri.
“Bagaimana, Pak? Mbah Sartini ada?”
“Rumahnya memang ada, tetapi sudah lama kosong.”
Aku terdiam.
“Maksud Bapak?”
“Menurut kepala dusun, pemilik rumah bernama Sartini meninggal sekitar enam tahun lalu.”
Aku hampir menjatuhkan ponsel.
“Itu nggak mungkin, Pak! Istri saya melahirkan di sana kemarin!”
Petugas tersebut memintaku tetap tenang.
“Karena itulah kami sedang memeriksa kemungkinan ada orang lain yang menggunakan identitas dan rumah tersebut. Kami juga akan mencari keterangan warga.”
Setelah panggilan berakhir, aku duduk lama di koridor rumah sakit.
Pikiranku dipenuhi kebingungan.
Kalau Sartini sudah meninggal enam tahun lalu, siapa perempuan yang membantu persalinan Hanah?
Siapa yang mengambil ari-ari bayi kami?
Dan siapa sosok mengerikan yang kulihat di dekat anak sungai?
Malam harinya, ketika Hanah sedang beristirahat, seorang perempuan datang ke ruang perawatan.
Usianya sekitar empat puluh tahun. Ia mengenakan kerudung abu-abu dan membawa sebuah tas kain.
“Permisi, saya mencari keluarga bayi yang lahir di rumah Mbah Sartini.”
Aku langsung berdiri.
“Iya, Bu. Saya ayahnya.”
Perempuan tersebut memperkenalkan diri sebagai Sulastri, bidan desa yang pernah bertugas di wilayah itu.
Ia mengaku mendengar kabar tentang keluarga kami dari perangkat desa.
“Saya ingin menunjukkan sesuatu,” katanya.
Dari dalam tas, ia mengeluarkan sebuah foto lama.
Foto itu memperlihatkan tiga perempuan berdiri di depan rumah kayu.
Salah satunya adalah Mbah Sartini.
Aku langsung mengenalinya.
Namun, perhatianku tertuju kepada perempuan kedua.
Rambutnya panjang.
Tubuhnya tinggi.
Wajahnya sama persis dengan perempuan yang kulihat menyapu halaman dan kemudian merayap di depan motor kami.
“Bu, siapa perempuan ini?”
Sulastri menunduk.
“Namanya Laras.”
Aku menahan napas.
“Dia anak Sartini?”
“Bukan. Dia menantu Sartini.”
Aku mengerutkan kening.
Sulastri kemudian menceritakan bahwa bertahun-tahun lalu, Laras pernah melahirkan di rumah tersebut. Bayinya meninggal tidak lama setelah dilahirkan.
Perempuan itu mengalami kesedihan mendalam dan membutuhkan perawatan.
Namun, keluarganya justru menganggap keadaannya sebagai gangguan makhluk halus.
“Setelah beberapa waktu, Laras menghilang,” lanjut Sulastri.
Aku merasa bulu kuduk berdiri.
“Hilang ke mana?”
“Tidak pernah diketahui. Tapi sebelum menghilang, dia menuduh Sartini telah mengambil bayinya.”
Aku langsung menatap foto tersebut.
Jadi perempuan itu pernah mengalami sesuatu yang mirip dengan kejadian kami.
Sulastri kemudian mengeluarkan sebuah buku catatan tua.
“Ini milik Sartini. Saya menemukannya ketika membantu membersihkan rumah setelah pemakamannya. Dulu saya tidak mengerti beberapa catatan di dalamnya.”
Aku membuka halaman yang ditunjuknya.
Di sana terdapat daftar nama perempuan yang pernah melahirkan di rumah tersebut.
Sebagian diberi tanda silang merah.
Di sebelah beberapa nama tertulis keterangan mengenai bayi yang meninggal atau hilang.
Aku merasakan darahku membeku.
“Bu, kenapa catatan ini tidak pernah dilaporkan?”
Sulastri menunduk.
“Dulu saya mengira ini hanya catatan persalinan lama. Tetapi setelah mendengar cerita Bapak, saya mulai khawatir ada sesuatu yang tidak benar.”
Aku terus membalik halaman.
Sampai akhirnya menemukan sebuah foto kecil yang diselipkan di bagian belakang buku.
Foto seorang bayi perempuan.
Di bawahnya tertulis sebuah nama.
Hanah.
Aku membeku.
Nama istriku.
Tanggal pada foto tersebut menunjukkan lebih dari dua puluh tahun lalu.
Aku langsung menatap Sulastri.
“Bu, kenapa ada foto istri saya di buku ini?”
Perempuan itu terlihat terkejut.
“Istri Bapak bernama Hanah?”
Aku mengangguk.
Sulastri memejamkan mata.
“Ya Allah…”
“Ada apa, Bu?”
Ia menatapku dengan wajah pucat.
“Kalau benar perempuan dalam foto itu istri Bapak, berarti Hanah bukan orang asing bagi keluarga Sartini.”
Aku menelan ludah.
“Maksud Ibu?”
Sulastri menunjuk tulisan kecil di belakang foto.
Aku membaliknya.
Di sana terdapat catatan tangan.
Bayi Laras yang dinyatakan meninggal. Diserahkan kepada keluarga pengasuh dengan nama baru Hanah.
Aku merasa seluruh tubuhku kehilangan tenaga.
Hanah adalah bayi yang selama ini dianggap telah meninggal oleh Laras.
Berarti perempuan berambut panjang yang terus meminta bayinya dikembalikan sebenarnya sedang mencari anak kandungnya sendiri.
Dan anak itu kini telah dewasa.
Menjadi istriku.
Sulastri menatapku dengan mata berkaca-kaca.
“Kalau catatan ini benar, kita harus memeriksa dokumen kelahiran Hanah dan memastikan semuanya melalui bukti yang sah.”
Aku mengangguk perlahan.
Namun, ketika hendak menutup buku, aku melihat selembar kertas lain terselip di antara halaman.
Kertas itu berisi surat pendek yang ditulis Sartini beberapa hari sebelum kematiannya.
Aku membacanya dengan tangan gemetar.
Laras tidak pernah meninggalkan desa. Dia masih hidup. Aku menyembunyikannya karena takut rahasia tentang Hanah terbongkar. Kalau suatu hari Hanah kembali membawa anaknya, jangan biarkan mereka pergi sebelum kebenaran disampaikan.
Aku terdiam cukup lama.
Jadi mungkin selama ini kami bukan sedang dikejar arwah perempuan yang kehilangan bayinya.
Mungkin Laras benar-benar masih hidup.
Dan semua kejadian mengerikan yang kusaksikan berkaitan dengan trauma, kebohongan, serta rahasia keluarga yang disembunyikan selama puluhan tahun.
Namun, tepat ketika aku mulai memahami semuanya, terdengar suara Hanah memanggil dari dalam ruang perawatan.
“Mas!”
Aku langsung berlari masuk.
Hanah duduk di ranjang dengan wajah pucat.
Tangannya menunjuk ke arah jendela.
“Mas, tadi ada perempuan berdiri di luar.”
Aku menoleh.
Tidak ada siapa-siapa.
Namun, Hanah terus menangis.
“Dia bilang aku anaknya.”
Aku menggenggam tangan istriku.
“Han, tenang dulu.”
“Tapi, Mas…”
“Apa?”
Hanah menatapku dengan ketakutan.
“Dia juga bilang bayi kita bukan anak pertama yang lahir dari rahimku.”
Aku membeku.
“Apa maksudnya?”
Hanah menangis semakin keras.
“Dia bilang tiga tahun lalu aku pernah melahirkan bayi perempuan, tetapi ingatanku tentang persalinan itu sengaja dibuat hilang.”
Aku tidak mampu berkata-kata.
Sebab tiga tahun lalu, Hanah memang pernah dirawat cukup lama setelah mengalami kondisi medis serius yang selama ini kami yakini sebagai keguguran.
Namun, jika perkataan perempuan itu benar, berarti ada kemungkinan sesuatu yang jauh lebih besar telah disembunyikan dari kami.
Dan ketika aku kembali memeriksa buku catatan Sartini, aku menemukan sebuah halaman bertanggal tiga tahun lalu.
Di sana tertulis nama Hanah.
Di sebelahnya terdapat satu kalimat yang membuat tubuhku kembali gemetar.
Bayi perempuan lahir hidup. Diserahkan kepada keluarga yang sudah menunggu.
Aku menatap tulisan itu tanpa berkedip.
Selama ini aku mengira kami baru saja dikaruniai anak pertama.
Tetapi mungkin, di suatu tempat, ada seorang anak perempuan berusia tiga tahun yang sedang menunggu kami menemukannya.
Dan untuk mengetahui keberadaannya, kami harus kembali ke rumah Mbah Sartini.
Rumah tempat semua mimpi buruk ini bermula.
