Pria itu berjalan perlahan.
Rambutnya sudah memutih di pelipis, tetapi posturnya masih tegak. Tatapannya tajam, namun ketika matanya jatuh pada kalung di atas meja kaca, seluruh ketegangan di wajahnya berubah menjadi sesuatu yang tidak pernah kuduga.
Air mata.
Ia berhenti tepat dua langkah di depanku.
“Tunjukkan kalung itu.”
Manajer toko menyerahkannya dengan kedua tangan.

Pria itu membalik liontin kecil berbentuk bunga melati tersebut, lalu membuka bagian belakangnya. Dengan kuku jarinya, ia menekan titik kecil yang hampir tak terlihat.
Klik.
Sebuah ruang rahasia terbuka.
Di dalamnya tersimpan foto kecil yang sudah memudar.
Seorang perempuan muda sedang menggendong bayi.
Perempuan itu adalah ibuku.
Bayi itu…
adalah aku.
Tangannya mulai gemetar.
“Lestari…” bisiknya lirih.
Aku menelan ludah.
“Siapa Anda?”
Pria itu menutup mata beberapa detik, seolah mengumpulkan keberanian yang hilang selama puluhan tahun.
“Namaku Surya Wijaya.”
“Dan ibumu…”
Ia menarik napas panjang.
“…adalah perempuan yang pernah menyelamatkan hidupku.”
Aku mengernyit.
“Aku tidak mengerti.”
Surya meminta semua pegawai meninggalkan ruangan.
Bahkan dua petugas keamanan ikut keluar.
Kini hanya tersisa kami bertiga.
Manajer toko menuangkan teh hangat dengan tangan yang masih bergetar.
Surya menatapku lama.
“Dua puluh lima tahun lalu aku hanyalah seorang pengusaha kecil.”
“Suatu malam mobilku mengalami kecelakaan di daerah Puncak.”
“Hujan deras.”
“Mobil terbalik.”
“Bensin bocor.”
“Tak ada seorang pun yang berhenti.”
Ia tersenyum pahit.
“Kecuali ibumu.”
Aku terdiam.
“Ia mengeluarkanku dari mobil beberapa detik sebelum mobil itu meledak.”
Aku memandang foto kecil itu.
“Ibu… tidak pernah bercerita.”
Surya mengangguk.
“Karena setelah itu justru hidupnya yang berubah.”
Ia mengeluarkan dompet kulit tua.
Dari dalamnya terdapat foto lain.
Foto ibuku ketika masih muda.
Mereka berdiri berdampingan.
Tidak berpelukan.
Tidak bergandengan tangan.
Hanya tersenyum.
“Ibumu bekerja di perusahaanku selama beberapa tahun.”
“Dia menolak semua hadiah yang kuberikan.”
“‘Kalau Bapak ingin membalas budi,’ katanya, ‘perlakukan karyawan dengan baik.'”
Air mataku mulai jatuh.
Itu memang sangat mirip dengan ibuku.
“Ketika dia berhenti bekerja dan menikah, kami kehilangan kontak.”
“Aku baru tahu beberapa tahun kemudian bahwa suaminya meninggal.”
“Setelah itu dia menghilang.”
Surya menggenggam kalung itu erat.
“Yang kutahu hanya satu.”
“Dia berkata…”
“‘Kalau suatu hari anakku datang membawa kalung ini, tolong jangan biarkan dia merasa sendirian.'”
Dunia di sekelilingku seperti berhenti.
Aku bahkan tidak mampu menangis.
“Ibu… mengatakan itu?”
Surya mengangguk pelan.
“Aku sudah mencari kalian selama dua puluh tahun.”
“Tapi Jakarta terlalu besar.”
“Data lama hilang.”
“Alamat berpindah.”
“Nomor telepon tidak aktif.”
“Dan hari ini…”
Ia tersenyum dengan mata yang masih basah.
“…akhirnya kau datang sendiri.”
Aku masih belum percaya.
“Aku hanya ingin menjual kalung ini.”
“Ternyata kalung itu tidak pernah dibuat untuk dijual.”
Surya menyerahkan sebuah amplop cokelat.
“Ini surat dari ibumu.”
Aku membeku.
“Tidak mungkin.”
“Aku bahkan tidak tahu surat itu ada.”
“Ibumu menitipkannya kepadaku.”
“Dengan satu syarat.”
“Hanya boleh kuberikan jika kau sendiri datang membawa kalung ini.”
Tanganku gemetar ketika membuka amplop yang sudah menguning itu.
Tulisan tangan ibu langsung membuat dadaku sesak.
Untuk anakku, Nadia.
Kalau kamu membaca surat ini, berarti hidup sedang sangat berat.
Maaf.
Ibu tidak mampu meninggalkan banyak harta.
Karena yang ibu miliki memang tidak banyak.
Tapi ibu berharap kamu tidak menjual kalung ini sebelum benar-benar kehabisan harapan.
Bukan karena nilainya.
Melainkan karena orang yang menyimpannya.
Pak Surya pernah berjanji.
Bukan untuk membalas jasaku.
Tetapi untuk menjaga masa depanmu jika suatu hari kamu benar-benar membutuhkan pertolongan.
Kalau hari itu tiba…
Jangan malu.
Karena menerima bantuan bukan berarti kamu lemah.
Yang membuat seseorang lemah adalah berhenti menjadi orang baik setelah hidup menyakitinya.
Tetaplah menjadi anak yang jujur.
Tetaplah menjadi perempuan yang kuat.
Dan jangan pernah membalas kebencian dengan kebencian.
Ibu selalu mencintaimu.
Aku menangis tanpa suara.
Selama bertahun-tahun aku mengira ibu hanya meninggalkan kalung tua.
Ternyata…
ia meninggalkan jalan pulang.
Surya tidak langsung menawarkan uang.
Ia justru bertanya,
“Sekarang ceritakan semuanya.”
Aku menceritakan perceraian.
Rumah yang dirampas.
Mobil yang diambil.
Tabungan yang habis karena biaya pengacara.
Bagaimana Arman menyembunyikan aset melalui nama saudaranya.
Bagaimana ia berbohong di depan hakim bahwa seluruh usahanya sedang merugi.
Aku bahkan menunjukkan salinan putusan pengadilan yang selalu kubawa di tas.
Surya membacanya perlahan.
Semakin lama wajahnya semakin dingin.
“Lalu sekarang kau tinggal di mana?”
“Sebuah apartemen kecil di pinggir Jakarta.”
“Sudah menunggak dua bulan.”
Ia mengangguk.
“Tidak usah bayar lagi.”
Aku buru-buru menggeleng.
“Aku tidak ingin dikasihani.”
Surya tersenyum tipis.
“Bukan dikasihani.”
“Diangkat kembali.”
Dua hari kemudian aku dipanggil ke kantor pusat Wijaya Group.
Barulah aku mengetahui siapa sebenarnya Surya.
Bukan sekadar pengusaha.
Ia adalah pendiri salah satu grup properti dan investasi terbesar di Indonesia.
Aku merasa salah masuk gedung.
Sementara aku masih memakai sepatu yang solnya hampir lepas.
Di ruang rapat, Surya memperkenalkanku kepada seluruh direksi.
“Mulai hari ini Nadia akan bekerja bersama kita.”
Aku langsung panik.
“Tapi saya tidak punya pengalaman.”
Surya tersenyum.
“Ibumu pernah berkata…”
“‘Kemampuan bisa diajarkan.”
‘Kejujuran tidak.'”
Ia menggeser sebuah map kepadaku.
“Posisi ini memang kosong.”
“Dan aku rasa orang yang tepat akhirnya datang.”
Aku membuka map itu.
Bukan posisi sekretaris.
Bukan resepsionis.
Melainkan…
Kepala Divisi Program Sosial dan Kesejahteraan Karyawan.
Aku terdiam.
“Kenapa saya?”
“Karena orang yang pernah kehilangan segalanya biasanya paling tahu bagaimana menghargai manusia.”
Sementara itu…
Di sisi lain kota…
Arman sedang tertawa bersama teman-temannya di sebuah restoran mewah.
Ia baru saja membeli mobil baru.
Salah seorang temannya menunjukkan layar ponsel.
“Man…”
“Itu bukannya mantan istrimu?”
Arman melirik sekilas.
Di layar terlihat foto berita bisnis.
Surya Wijaya sedang berjabat tangan denganku di depan logo perusahaan.
Judulnya berbunyi:
“Pendiri Wijaya Group Mengangkat Nadia Purnama Memimpin Program Transformasi Kesejahteraan Karyawan.”
Senyum Arman perlahan menghilang.
“Itu…”
“Itu pasti orang yang mirip.”
Namun beberapa detik kemudian muncul video konferensi pers.
Wajahku terlihat jelas.
Arman langsung berdiri sampai kursinya terjatuh.
“Itu benar-benar Nadia…”
Tangannya mulai berkeringat.
Karena untuk pertama kalinya sejak perceraian…
ia sadar bahwa perempuan yang dulu ia buang tanpa belas kasihan ternyata baru saja memasuki dunia yang tidak akan pernah mampu ia sentuh.
Dan yang belum ia ketahui…
Surya baru saja memerintahkan tim audit hukumnya untuk membuka kembali seluruh transaksi perusahaan Arman selama lima tahun terakhir.
“Bukan untuk balas dendam,” kata Surya pelan kepada pengacaranya.
“Tapi karena orang yang tega menipu mantan istrinya di depan pengadilan biasanya juga sedang menipu banyak orang lain.”
Tanpa disadari Arman…
kehilangan Nadia ternyata bukan akhir dari keberuntungannya.
Melainkan awal dari runtuhnya seluruh kehidupan yang selama ini ia bangun di atas kebohongan.
