Raka tidak langsung menjawab.
Ia hanya menunduk perlahan.
Kemudian, tanpa berkata apa-apa, ia mengeluarkan sebuah dompet kain lusuh dari sakunya.
Dengan sangat hati-hati, ia menghitung lembar demi lembar uang yang telah ia kumpulkan selama hampir setahun.
“Ini uang saya, Pak.”
Pak Darto menggeleng.
“Sudah saya bilang, Nak. Tidak perlu dibayar.”

Raka tetap menyodorkan uang itu.
“Tidak, Pak. Saya tetap mau membayarnya.”
“Tapi kenapa? Dia tidak seperti anak anjing lain.”
Raka tersenyum tipis.
“Justru karena itu.”
Pak Darto mengernyit, belum memahami maksud bocah itu.
Raka menarik sedikit celana panjangnya.
Di balik kain itu terlihat sebuah penyangga logam yang menempel dari lutut hingga mata kaki kirinya.
Kaki kirinya jauh lebih kecil dibanding kaki kanannya.
Pak Darto membeku.
“Sejak umur tiga tahun saya kena polio, Pak.”
Suara Raka terdengar tenang.
“Dokter bilang saya juga tidak akan pernah bisa berjalan seperti anak-anak lain.”
Ia mengusap perlahan penyangga di kakinya.
“Dulu saya juga sering jatuh.”
“Bahkan sekarang masih kadang jatuh.”
“Tapi ibu selalu bilang… orang yang paling mengerti rasa sakit adalah orang yang pernah merasakannya.”
Pak Darto terdiam.
Dadanya terasa sesak.
Raka kembali menatap anak anjing kecil yang sedang berusaha berdiri.
“Kalau semua orang hanya memilih yang sempurna…”
“…siapa yang akan memilih dia?”
Beberapa menit kemudian…
Raka pulang dengan membawa kotak kardus kecil.
Di dalamnya, anak anjing itu meringkuk diam.
Sesekali ia mendongak melihat wajah Raka.
Seolah masih tidak percaya akhirnya ada seseorang yang menginginkannya.
Sesampainya di rumah sederhana mereka, ibunya membuka pintu.
“Raka?”
Matanya membelalak melihat isi kardus.
“Kamu beli anjing?”
Raka mengangguk.
“Iya, Bu.”
Ibunya tersenyum, tetapi kemudian melihat cara anak anjing itu berjalan.
“Dia sakit?”
“Bukan sakit.”
Raka menggeleng.
“Dia memang seperti ini sejak lahir.”
Ibunya memandang putranya beberapa detik.
Lalu tersenyum lebih lebar.
“Ibu mengerti kenapa kamu memilih dia.”
Malam itu mereka memberi nama anak anjing tersebut.
Harapan.
Karena Raka berkata,
“Kalau semua orang sudah kehilangan harapan pada dia… biar aku yang memberinya.”
Hari-hari berikutnya tidak mudah.
Harapan sering terjatuh.
Ia tidak bisa mengejar kupu-kupu.
Tidak mampu berlari saat anak-anak lain memainkan bola bersama anjing mereka.
Bahkan naik satu anak tangga saja membutuhkan usaha yang besar.
Tetapi setiap kali Harapan jatuh…
Raka selalu duduk di sampingnya.
“Ayo.”
“Coba lagi.”
Pelan-pelan.
Sedikit demi sedikit.
Kalimat yang sama yang dulu selalu diucapkan ibunya kepada dirinya.
Tanpa sadar…
Harapan mulai belajar.
Bukan menjadi anjing tercepat.
Tetapi menjadi anjing yang tidak pernah menyerah.
Di sekolah, keadaan Raka jauh berbeda.
Teman-temannya sering mengejek jalannya.
“Eh, robot datang!”
“Pincang!”
“Larinya lambat banget!”
Beberapa anak bahkan sengaja berlari melewatinya sambil tertawa.
Setiap pulang sekolah, Harapan selalu sudah menunggu di depan pintu.
Begitu melihat Raka, ia akan menyeret tubuh kecilnya secepat mungkin.
Meski jalannya terpincang-pincang…
Ekornya bergoyang begitu keras hingga seluruh tubuhnya ikut berguncang.
Seakan berkata,
“Aku senang kamu pulang.”
Hari-hari yang berat menjadi terasa lebih ringan.
Suatu sore hujan turun sangat deras.
Raka belum juga pulang dari sekolah.
Harapan mondar-mandir di depan rumah.
Ibunya mulai cemas.
Biasanya Raka sudah tiba sejak setengah jam lalu.
Tak lama kemudian terdengar suara warga berteriak.
“Anak jatuh di dekat jembatan!”
Beberapa orang berlari ke arah sungai kecil di belakang sekolah.
Ternyata roda sepeda Raka tergelincir di jalan licin.
Ia jatuh ke saluran air yang arusnya sedang deras.
Kakinya tersangkut ranting.
Ia tidak mampu berdiri.
Orang-orang belum menyadari posisi tepatnya.
Namun Harapan lebih dulu berlari.
Atau lebih tepatnya…
Berusaha berlari sekuat tenaga.
Tubuh kecilnya tersandung berkali-kali.
Ia jatuh.
Bangun lagi.
Jatuh lagi.
Tetapi tidak berhenti.
Sesampainya di tepi sungai, Harapan menggonggong sekeras-kerasnya.
Sekali.
Dua kali.
Puluhan kali.
Warga mengikuti suara gonggongannya.
“Di sana!”
“Itu ada anak!”
Beberapa pria segera turun.
Raka berhasil diangkat tepat sebelum arus membawa tubuhnya lebih jauh.
Ibunya memeluknya sambil menangis.
Sedangkan Harapan hanya terduduk kelelahan.
Napasnya terengah-engah.
Kakinya gemetar hebat.
Namun matanya terus memandang Raka.
Seolah memastikan sahabatnya baik-baik saja.
Keesokan harinya, cerita itu menyebar ke seluruh kampung.
Semua orang datang melihat Harapan.
“Anjing cacat itu yang menyelamatkan Raka?”
“Iya.”
“Kalau bukan karena gonggongannya…”
“Mungkin sudah terlambat.”
Pak Darto ikut datang.
Ia memandang Harapan yang sedang tidur di pangkuan Raka.
Matanya berkaca-kaca.
“Maafkan saya.”
Raka tersenyum bingung.
“Untuk apa, Pak?”
“Dulu saya bilang dia tidak berharga.”
Pak Darto mengusap kepala Harapan perlahan.
“Ternyata saya yang salah.”
“Yang cacat bukan nilainya.”
“Tetapi cara saya menilainya.”
Sejak hari itu, Pak Darto mengubah cara beternaknya.
Ia tidak lagi hanya menjual anak-anak anjing yang paling sehat.
Ia mulai bekerja sama dengan dokter hewan dan komunitas penyayang satwa.
Anjing-anjing yang lahir dengan kondisi khusus dirawat lebih baik.
Ia bahkan memasang papan baru di depan rumahnya.
Bukan lagi sekadar:
“ANAK ANJING DIJUAL.”
Melainkan:
“SETIAP HEWAN LAYAK MENDAPATKAN KELUARGA.”
Banyak orang yang awalnya datang hanya untuk membeli anjing, akhirnya pulang dengan cara pandang yang berbeda.
Tahun-tahun berlalu.
Raka tumbuh menjadi remaja.
Harapan semakin tua.
Jalannya tetap pincang.
Bahkan kini lebih lambat dibanding dulu.
Bulu di sekitar moncongnya mulai memutih.
Suatu sore mereka duduk di taman tempat anak-anak bermain.
Seorang bocah kecil menghampiri.
“Om…”
“Kenapa anjingnya jalannya aneh?”
Raka tersenyum.
Karena pertanyaan itu mengingatkannya pada masa kecilnya.
Ia mengelus kepala Harapan.
“Karena Tuhan membuatnya berbeda.”
“Kasihan ya?”
Raka menggeleng.
“Tidak.”
“Yang kasihan adalah orang yang hanya bisa melihat kekurangan orang lain.”
Bocah itu berpikir sejenak.
Lalu berjongkok dan mengusap kepala Harapan.
“Kalau begitu…”
“Aku tetap mau berteman sama dia.”
Harapan mengibaskan ekornya pelan.
Mungkin ia tidak mengerti semua kata-kata itu.
Tetapi ia tahu satu hal.
Ia dicintai.
Dan itu sudah lebih dari cukup.
Karena nilai seseorang—atau seekor makhluk hidup—tidak pernah ditentukan oleh kesempurnaan fisiknya, melainkan oleh kasih sayang yang mampu ia berikan dan keberanian orang lain untuk melihatnya dengan hati.
