Namaku Arif. Aku tinggal di sebuah desa kecil di pinggiran Yogyakarta, tempat hampir semua orang saling mengenal. Di desa kami, kabar tentang seseorang bisa sampai ke ujung kampung bahkan sebelum azan berikutnya terdengar.
Karena itulah, ketika Mutinah meninggal saat melahirkan anak pertamanya, seluruh desa berduka seolah kehilangan anggota keluarga sendiri.
Mutinah adalah tetanggaku sejak kecil. Perempuan itu tidak banyak bicara, tetapi selalu tersenyum ketika berpapasan. Setelah menikah dengan Raka dua tahun lalu, hidupnya terlihat sederhana dan bahagia. Mereka tinggal di rumah peninggalan orang tua Raka, tak jauh dari rumahku.
Semua orang tahu betapa Mutinah menantikan kelahiran anak pertamanya.
Namun malam itu, ia tidak pernah pulang dari klinik.
Bayinya selamat.
Mutinah tidak.
Tiga hari setelah pemakamannya, sesuatu mulai terjadi.
Hampir tengah malam, pintu rumahku diketuk keras.
Ketika kubuka, Sari, pemilik warung di ujung desa, berdiri dengan wajah pucat.
“Arif… aku melihat Mutinah.”
Aku menatapnya beberapa detik.
“Jangan bercanda.”
“Aku serius.”
Sari bersumpah bahwa beberapa menit sebelumnya ia melihat seorang perempuan berbaju putih berdiri di bawah pohon mangga di depan rumah Raka.
Rambutnya panjang terurai.
Kepalanya tertunduk.

Ketika Sari melewatinya, perempuan itu perlahan mengangkat wajah.
“Itu Mutinah,” bisik Sari.
Aku tidak mempercayainya.
Setidaknya sampai malam berikutnya.
Sekitar pukul satu dini hari, aku terbangun karena mendengar suara perempuan menangis.
Awalnya pelan.
Kemudian semakin jelas.
Aku memberanikan diri membuka pintu.
Jalan kampung kosong. Lampu jalan berpendar redup di antara pepohonan.
Lalu aku melihatnya.
Di ujung jalan berdiri seorang perempuan berbaju putih.
Rambut hitamnya jatuh sampai ke pinggang.
“Siapa?”
Perempuan itu perlahan menoleh.
Darahku seperti berhenti mengalir.
Wajah itu menyerupai Mutinah.
Aku membanting pintu dan tidak berani membukanya lagi sampai matahari terbit.
Keesokan paginya desa gempar.
Bukan hanya aku dan Sari.
Pak Wiryo mengaku melihat perempuan berbaju putih berdiri dekat sumur tua. Keluarga Bu Sri mendengar suara perempuan menimang bayi sekitar pukul dua dini hari.
Orang-orang mulai menyebutnya Kuntilanak Mutinah.
Namun setelah beberapa malam, aku menyadari sesuatu.
Sosok itu tidak pernah muncul sembarangan.
Ia hanya terlihat di tiga tempat.
Rumah Raka.
Sumur tua.
Dan sebuah gudang kosong di ujung desa.
Aku mulai mengingat sesuatu yang terjadi beberapa minggu sebelum Mutinah meninggal.
Suatu malam aku pernah melihat sepeda motor Raka terparkir di dekat gudang.
Aku mendatangi rumahnya.
Raka terlihat jauh lebih kurus dibanding saat pemakaman. Bayinya dirawat oleh ibunya di rumah sebelah.
Aku langsung bertanya.
“Malam sebelum Mutinah dibawa ke klinik, kamu pergi ke gudang, kan?”
Wajah Raka berubah.
“Tidak.”
“Aku pernah melihat motormu di sana.”
Raka bangkit.
“Arif, jangan ikut campur.”
Nada suaranya membuatku semakin yakin.
Malam itu aku mengawasi gudang.
Pukul sebelas lewat empat puluh menit, sosok putih itu muncul.
Aku takut.
Tetapi rasa penasaran lebih kuat.
Aku mengikutinya dari kejauhan.
Sosok itu berjalan menuju belakang gudang lalu menghilang di balik tembok.
Ketika aku tiba di sana, tidak ada siapa-siapa.
Namun di tanah berlumpur terdapat jejak sandal.
Aku membeku.
Hantu meninggalkan jejak?
Jejak itu menuju pintu belakang gudang yang terkunci.
Keesokan harinya aku mencari Dimas, mantan penjaga gudang.
Ketika kusebut nama Mutinah, ia terdiam cukup lama.
“Dia pernah datang ke gudang?” tanyaku.
Dimas akhirnya mengangguk.
“Seminggu sebelum melahirkan.”
“Untuk apa?”
Ia tidak menjawab. Sebaliknya, ia membuka sebuah laci dan mengeluarkan ponsel lama.
“Mutinah menitipkan ini.”
Aku mengenalinya.
Itu ponsel Mutinah.
Di dalamnya terdapat beberapa rekaman suara.
Aku memutar rekaman terakhir.
Suara Mutinah terdengar gemetar.
“Kalau sesuatu terjadi padaku, jangan percaya semuanya hanya kebetulan. Aku menemukan rahasia Raka.”
Dalam rekaman berikutnya, Mutinah bercerita bahwa selama beberapa bulan Raka diam-diam bertemu seorang perempuan bernama Nadira di gudang.
Awalnya Mutinah mengira suaminya berselingkuh.
Ternyata Nadira bekerja di klinik tempat Mutinah memeriksakan kehamilannya.
Mereka menyembunyikan dokumen mengenai bayi Mutinah.
Aku langsung menemui Raka.
Kutaruh ponsel itu di meja.
“Jelaskan.”
Begitu melihatnya, wajah Raka kehilangan warna.
“Dari mana kamu mendapatkannya?”
“Kenapa Mutinah bilang kamu menyembunyikan dokumen tentang bayinya?”
Raka menatapku dengan mata merah.
Namun sebelum ia menjawab, terdengar suara tangisan perempuan dari halaman.
Kami menoleh bersamaan.
Sosok putih berdiri di luar pagar.
Kali ini jaraknya hanya beberapa meter.
Tangannya perlahan terangkat.
Menunjuk Raka.
Kemudian sosok itu berjalan menuju sumur tua.
Aku mengejarnya.
Raka ikut dari belakang.
Di balik sumur, aku menemukan tanah yang terlihat baru digali.
Kami menggali dengan tangan.
Di sana terdapat sebuah kotak besi.
Di dalamnya ada dokumen klinik, foto, dan surat tulisan tangan Mutinah.
Tanganku bergetar ketika membukanya.
“Arif, kalau kamu menemukan surat ini, orang yang membuatku harus diam bukan Raka.”
Aku menatap Raka.
Ia berdiri kaku.
Aku kembali membaca.
Nama seseorang tertulis di bagian akhir.
Dokter Hendra.
Aku hampir tidak percaya.
Dokter Hendra bukan orang asing.
Ia pemilik klinik tempat Mutinah melahirkan sekaligus salah satu tokoh yang paling dihormati di desa. Ia sering mengadakan pemeriksaan gratis dan membantu warga yang tidak mampu.
“Kenapa namanya ada di sini?” tanyaku.
Raka akhirnya terduduk.
Lalu ia menangis.
“Aku seharusnya cerita dari awal.”
Beberapa bulan sebelumnya, Raka menerima telepon dari Nadira. Perempuan itu bekerja di bagian administrasi klinik.
Nadira menemukan kejanggalan dalam arsip pemeriksaan Mutinah.
Ada hasil pemeriksaan darah yang diganti.
Ada nomor rekam medis yang berbeda.
Yang paling aneh, terdapat dokumen persetujuan tindakan medis yang memuat tanda tangan Mutinah, padahal tanggal pada dokumen itu bahkan sebelum Mutinah datang untuk pemeriksaan.
Raka dan Nadira mulai menyelidiki diam-diam.
Mereka bertemu di gudang karena takut percakapan mereka diketahui.
“Kenapa kamu tidak memberitahu Mutinah?”
“Aku mau melindunginya.”
Raka menunduk.
“Tapi dia mengikuti aku ke gudang. Dia mendengar semuanya.”
Mutinah kemudian menemukan fakta yang jauh lebih besar.
Selama bertahun-tahun, klinik tersebut diduga melakukan manipulasi administrasi terhadap sejumlah pasien bersalin. Beberapa keluarga menerima tagihan untuk prosedur yang tidak pernah dilakukan. Ada pula dokumen persetujuan medis yang dibuat tanpa sepengetahuan pasien.
Mutinah mengumpulkan salinannya.
Namun seseorang mengetahui hal itu.
“Dokter Hendra?” tanyaku.
Raka mengangguk.
“Dia meminta semua dokumen dikembalikan.”
“Dan kamu menyerahkannya?”
“Tidak.”
Raka menunjuk kotak besi.
“Kami sembunyikan.”
Aku menatap surat Mutinah lagi.
Ada satu kalimat yang membuat tengkukku merinding.
“Kalau aku tidak sempat menyerahkan bukti ini, cari perempuan berbaju putih. Dia tahu tempat aku menyembunyikannya.”
Aku menatap Raka.
“Apa maksudnya?”
Raka justru terlihat sama bingungnya.
Kami membawa dokumen itu ke rumah kepala desa.
Namun sebelum kami sampai, sebuah mobil berhenti di depan kami.
Dokter Hendra turun.
Wajahnya tidak lagi ramah seperti biasanya.
“Berikan kotaknya.”
Aku mundur.
“Kenapa?”
“Karena kalian tidak mengerti apa yang kalian bawa.”
Raka berdiri di depanku.
“Justru sekarang kami mengerti.”
Dokter Hendra mendekat.
“Mutinah meninggal karena komplikasi persalinan. Jangan membuat fitnah berdasarkan dokumen yang kalian sendiri tidak pahami.”
Aku hampir percaya pada ketenangannya.
Sampai sebuah suara terdengar dari belakang.
“Dokumen itu saya yang salin.”
Kami menoleh.
Nadira berdiri di dekat pohon.
Dan aku langsung merasa seluruh tubuhku dingin.
Ia mengenakan pakaian putih.
Rambutnya panjang.
Posturnya persis sosok yang selama ini kami lihat.
“Jadi… kamu?”
Nadira mengangguk.
Dialah “Kuntilanak Mutinah”.
Setelah Mutinah meninggal, Nadira takut bukti akan ditemukan dan dimusnahkan. Ia sengaja muncul malam-malam dengan pakaian putih untuk mengarahkan perhatian ke tiga tempat yang berhubungan dengan bukti.
Rumah Raka.
Gudang.
Sumur tua.
“Tapi wajahnya…” kataku.
Nadira mengeluarkan masker silikon tipis dan sehelai kain dari tasnya.
Dari kejauhan, di bawah cahaya redup, siapa pun yang sedang ketakutan bisa melihat wajah yang ingin mereka lihat.
Namun masih ada satu hal yang tidak masuk akal.
“Malam kedua,” kataku. “Aku melihat sosok itu pukul satu.”
Nadira mengernyit.
“Saya tidak keluar malam itu.”
Aku terdiam.
Sari juga melihat sosok tersebut malam pertama.
Nadira menggeleng lagi.
“Saya baru mulai melakukannya malam keempat setelah pemakaman.”
Tidak seorang pun berbicara.
Dokter Hendra mencoba pergi, tetapi Raka menahannya sampai beberapa warga datang.
Dokumen kemudian diserahkan kepada pihak berwenang. Penyelidikan tidak hanya memeriksa dugaan manipulasi administrasi klinik, tetapi juga menelaah kembali prosedur medis yang diterima Mutinah. Nadira menyerahkan salinan arsip yang ia simpan.
Beberapa minggu kemudian, hasil penyelidikan awal menunjukkan bahwa kematian Mutinah memang berkaitan dengan komplikasi persalinan yang serius. Namun ditemukan pula sejumlah pelanggaran administratif dan prosedural yang selama ini disembunyikan oleh pihak klinik. Dokter Hendra harus mempertanggungjawabkan banyak hal, meski tidak semua tuduhan yang beredar di desa terbukti benar.
Raka akhirnya mengakui kesalahan terbesarnya.
Bukan karena ia membunuh Mutinah.
Melainkan karena ia terlalu lama menyimpan rahasia dengan alasan ingin melindungi istrinya.
“Kalau sejak awal aku jujur,” katanya suatu sore sambil menggendong anaknya, “mungkin Mutinah tidak perlu menghadapi semuanya sendirian.”
Aku tidak tahu bagaimana menjawabnya.
Desa kami perlahan kembali tenang.
Cerita tentang Kuntilanak Mutinah mulai menghilang.
Orang-orang akhirnya tahu bahwa sebagian penampakan hanyalah Nadira.
Sampai tiga bulan kemudian.
Malam itu aku sedang pulang dari rumah Raka.
Ketika melewati sumur tua, aku mendengar suara perempuan bersenandung.
Aku berhenti.
Tidak ada siapa-siapa.
Lalu kulihat seseorang berdiri di bawah pohon mangga.
Perempuan berbaju putih.
Aku menarik napas panjang.
“Nadira?”
Sosok itu tidak menjawab.
Aku mengambil ponsel dan menelepon Nadira.
Ia mengangkat setelah dua dering.
“Kenapa, Mas Arif?”
“Sekarang kamu di mana?”
“Di Jakarta. Saya baru selesai memberikan keterangan tambahan.”
Tanganku langsung dingin.
Sosok di bawah pohon perlahan mengangkat wajah.
Kali ini aku tidak melihat monster.
Tidak ada mata merah.
Tidak ada wajah mengerikan.
Aku melihat Mutinah.
Wajahnya sama seperti ketika masih hidup.
Tenang.
Ia memandang ke arah rumah Raka.
Dari jendela rumah itu terdengar tangisan bayi.
Sosok Mutinah tersenyum.
Kemudian ia berbalik dan berjalan ke dalam kegelapan.
Aku tidak mengejarnya.
Keesokan paginya Raka datang membawa sesuatu.
Sebuah amplop tua ditemukan di bawah bantal bayi.
Di dalamnya hanya ada selembar kertas.
Tulisan tangan Mutinah.
Raka mengenalinya.
Aku pun mengenalinya.
Kalimatnya pendek.
“Jangan ajari anak kita untuk takut pada kebenaran.”
Raka menangis sambil memeluk bayinya.
Aku berdiri di sampingnya tanpa mengatakan apa pun.
Sampai hari ini aku tidak tahu siapa yang meletakkan surat itu.
Mungkin surat tersebut sudah lama terselip di sana.
Mungkin seseorang menemukannya lalu diam-diam mengembalikannya.
Atau mungkin ada hal-hal di dunia ini yang memang tidak membutuhkan penjelasan.
Sejak malam itu tidak pernah ada lagi sosok putih di desa kami.
Namun setiap kali melewati rumah Raka menjelang tengah malam, terkadang aku masih mencium aroma melati dari arah pohon mangga.
Dan anehnya, aku tidak lagi merasa takut.
Karena akhirnya aku mengerti.
Tidak semua sosok yang kembali dari kegelapan datang untuk meneror orang yang masih hidup.
Ada yang hanya ingin memastikan bahwa kebenaran yang mereka tinggalkan tidak ikut dikuburkan bersama mereka.
