Aku baru saja ditarik keluar dari danau setelah seseorang mendorongku, tetapi suamiku bahkan tidak bertanya apakah aku baik-baik saja.
Raka justru memeluk Maya.
Dan ketika perempuan itu memegangi perutnya sambil menangis, laki-laki yang sudah enam tahun menjadi suamiku menatapku seolah-olah aku adalah orang paling kejam di dunia.
“Kalau terjadi sesuatu pada bayi itu, aku tidak akan pernah memaafkanmu.”
Kalimat itu terus terngiang di kepalaku bahkan setelah aku meninggalkan vila malam itu.
Namun yang jauh lebih menyakitkan bukanlah tuduhan Raka.
Melainkan kenyataan bahwa dia sama sekali tidak terkejut ketika melihat gelang logam di rekaman Rafi.
Dia tahu pemiliknya.
Dan sekarang, berdiri di ruang keamanan vila dengan rekaman kamera pengawas terpampang di layar, aku akhirnya tahu alasannya.
Orang yang menerima amplop dari Maya perlahan berbalik.
Wajahnya terlihat jelas.
Aku merasa seluruh tubuhku membeku.
“Tante Mira?”
Perempuan itu adalah kakak kandung mendiang ibu Raka.
Sejak aku menikah dengan Raka, aku memanggilnya Tante Mira.
Dia hadir dalam hampir semua acara keluarga. Dia orang pertama yang memelukku ketika ayah Raka meninggal tiga tahun lalu. Dia juga orang yang berkali-kali membelaku ketika keluarga besar mempertanyakan mengapa setelah enam tahun menikah aku dan Raka belum memiliki anak.
Gelang logam di pergelangan tangannya bahkan pernah kulihat dari dekat.
Hadiah ulang tahun dari Raka.
Aku menoleh kepada suamiku.

“Jadi kamu tahu.”
Raka tidak menjawab.
“Sejak kapan?”
“Nadia, dengarkan aku dulu.”
“Sejak kapan kamu tahu gelang itu milik Tante Mira?”
Raka mengusap wajahnya kasar.
“Sejak kamu mengirim foto itu.”
Aku tertawa kecil, tetapi mataku panas.
“Lalu kenapa kamu menyuruhku tidak datang ke rumah sakit?”
“Aku ingin memastikan sesuatu.”
“Memastikan atau menutupi?”
Raka terdiam.
Aku kembali menatap monitor.
Petugas keamanan memutar rekaman beberapa menit lebih awal.
Maya terlihat menyerahkan amplop kepada Tante Mira.
Suara tidak terekam, tetapi kamera lain di lorong ternyata memiliki mikrofon.
Petugas memperbesar volume.
Suara Maya terdengar samar.
“Begitu Nadia keluar dari rumah, semuanya akan kembali sesuai rencana.”
Kemudian suara Tante Mira.
“Kamu hanya perlu membuat Raka percaya bahwa Nadia membahayakan anaknya.”
Anaknya.
Aku menatap Raka.
Wajahnya semakin pucat.
“Maya hamil anakmu?”
Raka membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar.
Jawabannya sudah cukup.
Aku merasa seperti kembali jatuh ke danau.
Bedanya, kali ini tidak ada orang yang menarikku keluar.
“Berapa lama?”
“Nadia…”
“Berapa lama kalian tidur bersama?”
Raka menunduk.
“Satu kali.”
Aku tersenyum getir.
Aneh sekali bagaimana dua kata sederhana bisa menghancurkan enam tahun kehidupan.
“Satu kali ternyata cukup untuk menghasilkan seorang anak.”
“Aku mabuk malam itu.”
“Dan itu membuat semuanya lebih baik?”
“Tidak.”
Untuk pertama kalinya Raka tidak membela diri.
Aku mengambil tas.
Namun sebelum aku keluar, petugas keamanan memanggilku.
“Bu Nadia, ada rekaman lain.”
Aku berhenti.
Rekaman itu berasal dari kamera belakang vila.
Waktunya hanya dua menit sebelum aku didorong.
Tante Mira berjalan menuju danau.
Beberapa saat kemudian Maya menyusul.
Lalu aku terlihat datang dari arah lain.
Kamera berikutnya memperlihatkan sesuatu yang tidak terlihat dalam video Rafi.
Maya berdiri menghadapku.
Tante Mira bersembunyi di balik pepohonan.
Ketika Maya berkata bahwa sesuatu yang bukan milikku seharusnya tidak dipertahankan, Tante Mira bergerak mendekat dari belakang.
Tangannya mendorong punggungku.
Aku jatuh.
Tetapi yang terjadi setelahnya membuatku semakin bingung.
Maya langsung berbalik dan mencengkeram lengan Tante Mira.
Mereka tampak bertengkar.
Maya menunjuk ke arah danau berkali-kali.
Kemudian Tante Mira menamparnya.
Maya mundur hingga tersandung di dekat jembatan kayu.
Jadi Maya memang terlibat dalam rencana untuk menyingkirkanku dari kehidupan Raka.
Tetapi dia tidak tahu aku akan didorong ke danau.
“Dia berubah pikiran,” gumam Raka.
Aku menatapnya.
“Kamu tahu tentang rencana ini?”
“Tidak.”
Raka mendekati monitor.
“Tapi dua hari lalu Maya mengatakan sesuatu yang aneh. Dia bilang ingin mengakhiri semuanya.”
Aku tidak sempat menjawab.
Ponsel Raka berdering.
Rumah sakit.
Dia mengangkat telepon.
Wajahnya berubah.
“Apa?”
Beberapa detik kemudian telepon terlepas dari tangannya.
Aku tidak tahu kenapa, tetapi jantungku berdegup cepat.
“Ada apa?”
Raka menatapku.
“Maya hilang.”
Kami tiba di rumah sakit kurang dari satu jam kemudian.
Kamar Maya kosong.
Infusnya terlepas.
Tas dan ponselnya tertinggal.
Seorang perawat mengatakan seorang perempuan paruh baya sempat datang sekitar dua puluh menit sebelumnya.
Aku dan Raka saling berpandangan.
“Tante Mira,” kataku.
Kami langsung menghubungi polisi.
Namun saat petugas mulai memeriksa kamera rumah sakit, ponselku menerima pesan.
Dari nomor Maya.
Jangan percaya Raka.
Di bawahnya terdapat sebuah lokasi.
Sebuah rumah tua di Lembang.
Aku tidak memberi tahu Raka.
Untuk pertama kalinya sejak menikah, aku sadar bahwa aku tidak tahu siapa yang bisa dipercaya.
Aku hanya meneruskan lokasi itu kepada polisi, lalu pergi bersama dua petugas.
Rumah tersebut berdiri jauh dari jalan utama.
Ketika kami tiba, pintunya tidak terkunci.
Maya ditemukan di kamar belakang.
Dia tidak terluka parah, hanya terlihat sangat ketakutan.
Begitu melihatku, dia menangis.
“Nadia…”
Aku berdiri di ambang pintu.
Aku tidak tahu apakah ingin menamparnya atau mendengarkan penjelasannya.
“Apa sebenarnya yang kalian rencanakan?”
Maya menunduk.
“Tante Mira ingin kamu meninggalkan Raka.”
“Dan kamu setuju.”
Air matanya jatuh.
“Awalnya iya.”
“Kenapa?”
“Karena dia menjanjikan Raka akan menikahiku.”
Aku hampir tertawa.
Setidaknya dia jujur.
Maya kemudian mengatakan sesuatu yang jauh lebih besar daripada perselingkuhannya dengan Raka.
Tiga tahun lalu, setelah ayah Raka meninggal, kepemilikan Wijaya Group dibagi berdasarkan surat wasiat.
Raka memperoleh kendali operasional.
Tetapi sebagian besar saham keluarga ditempatkan dalam sebuah perwalian.
Ada satu syarat yang tidak pernah diberitahukan kepadaku.
Jika Raka meninggal tanpa keturunan sah, sebagian besar saham akan berpindah kepada cabang keluarga Tante Mira.
Namun jika Raka memiliki anak, hak itu akan diwariskan kepada anak tersebut.
“Lalu apa hubungannya denganku?”
Maya menatapku.
“Karena pernikahan kalian memiliki klausul lain.”
Aku membeku.
“Selama kamu masih menjadi istri sah Raka, setiap anak yang lahir dari perempuan lain tidak otomatis memperoleh hak keluarga sebelum status hukumnya ditetapkan.”
Aku mulai memahami.
Tante Mira bukan hanya ingin aku pergi.
Dia ingin pernikahan kami berakhir sebelum bayi Maya lahir.
“Lalu kenapa dia membantumu?”
“Karena dia bilang setelah aku menikah dengan Raka, dia akan memastikan anakku mendapat hak waris.”
“Tapi itu justru merugikan dia.”
Maya menggeleng perlahan.
“Itulah yang baru kuketahui kemarin.”
Dia mengambil sebuah amplop dari bawah kasur.
Di dalamnya terdapat salinan hasil pemeriksaan laboratorium.
Aku membacanya.
Lalu membacanya lagi.
Tanganku gemetar.
“Ini apa?”
Maya menangis.
“Bayi ini bukan anak Raka.”
Aku merasa ruangan mendadak sunyi.
Maya menjelaskan bahwa beberapa minggu setelah mengetahui dirinya hamil, Tante Mira memintanya merahasiakan pemeriksaan tertentu.
Maya curiga dan diam-diam melakukan tes sendiri.
Hasilnya menunjukkan usia kehamilan tidak sesuai dengan malam ketika dia bersama Raka.
Ayah biologis bayi itu adalah mantan kekasihnya.
“Tapi Tante Mira sudah tahu sejak awal,” katanya.
“Bagaimana mungkin?”
“Karena dialah yang menyuruhku mendekati Raka.”
Aku menatapnya tak percaya.
Maya mengaku Tante Mira mengetahui masalah rumah tanggaku dan Raka. Dia memanfaatkan kedekatan Maya sebagai sekretaris untuk menciptakan skandal.
Tujuannya bukan membuat Maya menjadi istri Raka.
Tujuannya membuat Raka percaya bahwa dia memiliki ahli waris.
Setelah aku bercerai, kebenaran tentang bayi itu akan dibuka.
Raka akan kehilangan pernikahannya, reputasinya hancur, dan konflik internal perusahaan akan membuat Tante Mira memiliki alasan untuk mengambil kendali.
“Kenapa kamu baru berhenti sekarang?”
Maya memegang perutnya.
“Karena kemarin dia mengatakan setelah semuanya selesai, anak ini tidak boleh pernah tahu siapa ayahnya.”
Dia menghela napas gemetar.
“Aku baru sadar baginya, bahkan anakku cuma alat.”
Polisi membawa Maya untuk memberikan keterangan.
Namun satu pertanyaan masih menggangguku.
Kenapa Raka begitu takut aku melihat rekaman?
Jawabannya datang malam itu.
Raka menungguku di rumah.
Di atas meja ada sebuah map.
“Aku seharusnya memberitahumu sejak lama.”
Aku tidak duduk.
“Memberitahuku apa?”
Dia membuka map tersebut.
Di dalamnya ada laporan keuangan dan dokumen transfer.
Selama hampir dua tahun, Raka diam-diam menyelidiki Tante Mira.
Ada transaksi mencurigakan dari beberapa perusahaan keluarga menuju rekening perusahaan cangkang.
Nilainya puluhan miliar rupiah.
Raka mencurigai Tante Mira melakukan penggelapan.
“Kenapa tidak melapor?”
“Karena aku belum punya bukti terakhir.”
“Dan Maya?”
“Awalnya aku meminta Maya membantu mengakses dokumen administrasi Tante Mira.”
Aku menatapnya tajam.
“Lalu kalian tidur bersama.”
Raka memejamkan mata.
“Iya.”
Tidak ada alasan yang bisa menghapusnya.
Dan dia tampaknya akhirnya memahami itu.
“Aku takut kamu melihat rekaman karena kalau Tante Mira tahu kita punya bukti, dia akan menghancurkan semuanya sebelum polisi bergerak.”
Aku menatap laki-laki di depanku.
Enam tahun lalu aku menikahinya karena percaya cinta berarti saling melindungi.
Ternyata Raka memiliki definisi lain tentang perlindungan.
Menyimpan rahasia.
Berbohong.
Memutuskan sendiri apa yang boleh kuketahui.
Bahkan ketika aku hampir kehilangan nyawa.
“Ketika aku jatuh ke danau,” kataku pelan, “orang pertama yang kamu peluk adalah Maya.”
Raka tidak mampu menatapku.
“Itulah satu-satunya bukti yang kubutuhkan.”
Tiga bulan kemudian, penyelidikan terhadap Tante Mira berkembang menjadi kasus besar.
Rekaman vila, kesaksian Maya, transaksi perusahaan, dan dokumen yang dikumpulkan Raka menjadi bagian dari bukti penyidikan.
Maya meninggalkan pekerjaannya dan pindah ke kota lain setelah melahirkan.
Aku tidak pernah menemuinya lagi.
Sedangkan aku mengajukan gugatan cerai.
Raka tidak menentangnya.
Pada hari terakhir sebelum sidang putusan, dia menungguku di luar pengadilan.
“Aku masih mencintaimu,” katanya.
Aku percaya.
Mungkin dia memang mencintaiku.
Tetapi aku akhirnya memahami bahwa cinta dan kemampuan menjaga sebuah pernikahan adalah dua hal berbeda.
“Aku juga pernah sangat mencintaimu.”
“Pernah?”
Aku tersenyum tipis.
“Enam tahun aku takut kehilanganmu. Sampai aku jatuh ke danau dan sadar bahwa orang yang sebenarnya hilang selama ini adalah diriku sendiri.”
Aku berjalan meninggalkannya.
Beberapa langkah kemudian seseorang memanggilku.
“Bu Nadia!”
Aku menoleh.
Rafi berlari dari seberang halaman bersama ibunya.
Anak yang merekam kejadian di vila itu tersenyum lebar.
Ibunya mengatakan Rafi memperoleh beasiswa dari sebuah yayasan setelah keberaniannya membantu penyelidikan diketahui.
Aku berjongkok di depannya.
“Kalau waktu itu kamu tidak merekam…”
Rafi menggeleng.
“Kalau waktu itu Ibu tidak percaya sama saya, videonya juga tidak ada gunanya.”
Aku terdiam.
Kalimat sederhana itu terasa jauh lebih dalam daripada yang mungkin dia sadari.
Selama bertahun-tahun aku selalu mencari kebenaran dari orang lain.
Dari Raka.
Dari Maya.
Dari keluarga Wijaya.
Padahal orang pertama yang seharusnya kupercaya adalah diriku sendiri.
Aku berdiri dan menatap langit Bandung yang mulai cerah setelah hujan.
Hari ketika aku didorong ke danau, kupikir seseorang mencoba menghancurkan hidupku.
Aku salah.
Mereka hanya menghancurkan kebohongan yang selama ini kusebut kehidupan.
Dan terkadang, kita memang harus jatuh cukup dalam sebelum akhirnya berani berenang menuju tempat yang benar-benar ingin kita tuju.
