NILAI 687 MEMBUATKU DILIRIK UNIVERSITAS IMPIAN, TAPI AYAH

“Pak Hendra, nama Nadira tidak bisa dicoret dari daftar beasiswa hanya karena Bapak memintanya.”

Suara Bu Ratna terdengar jelas dari balik pintu ruang kepala sekolah.

Aku berhenti melangkah.

Pukul tujuh pagi, sekolah masih relatif sepi. Aku sengaja datang lebih awal bersama Dimas karena khawatir Ayah akan menghubungi pihak sekolah sebelum aku sempat menjelaskan keadaan sebenarnya.

Ternyata kekhawatiranku benar.

Dari celah pintu yang sedikit terbuka, aku melihat Ayah duduk berhadapan dengan kepala sekolah. Di sampingnya ada seorang perempuan berkacamata yang tidak kukenal.

“Saya ayahnya!” bentak Ayah. “Saya yang membiayai hidupnya selama delapan belas tahun. Saya berhak menentukan dia kuliah di mana!”

Kepala sekolah, Pak Surya, menjawab dengan tenang.

“Kami menghormati Bapak sebagai orang tua Nadira. Tetapi Nadira sudah berusia delapan belas tahun. Kesempatan pendidikan ini juga merupakan haknya untuk dipertimbangkan.”

Ayah menggebrak meja.

“Pokoknya saya nggak setuju!”

Aku menarik napas panjang, lalu mengetuk pintu.

Semua orang menoleh.

“Nadira?” Bu Ratna langsung berdiri.

Aku masuk dengan Dimas di belakangku.

“Maaf, Pak. Saya datang untuk membicarakan beasiswa saya.”

Wajah Ayah langsung mengeras.

“Siapa yang menyuruhmu datang sepagi ini?”

“Saya sendiri, Yah.”

Ayah bangkit dari kursinya.

“Kita pulang sekarang!”

Aku mundur setengah langkah.

Namun, Bu Ratna segera menghampiriku.

“Pak Hendra, mohon duduk. Kita selesaikan dengan baik.”

Perempuan berkacamata itu kemudian memperkenalkan diri.

Namanya Laras, koordinator program beasiswa dari Yayasan Cakrawala Pendidikan.

Dia membuka sebuah map biru tua.

“Nadira, kami sudah meninjau nilai ujian, rapor, prestasi lomba, dan hasil wawancara awalmu.”

Jantungku berdebar kencang.

“Kami memutuskan memasukkan namamu ke dalam daftar kandidat utama penerima beasiswa penuh.”

Aku menutup mulut.

Beasiswa penuh.

Dua kata yang selama ini hanya berani kubayangkan diam-diam.

“Apakah artinya saya sudah diterima di Universitas Indonesia, Bu?” tanyaku.

Bu Laras menggeleng lembut.

“Belum. Proses penerimaan universitas tetap berjalan melalui jalurnya sendiri. Namun, jika kamu diterima di program studi yang memenuhi persyaratan, yayasan siap mempertimbangkan pendanaan biaya pendidikan dan bantuan hidup sesuai ketentuan program.”

Aku mengangguk cepat.

“Terima kasih, Bu.”

Untuk pertama kalinya sejak semalam, aku merasa masa depanku belum sepenuhnya tertutup.

Namun, Ayah tiba-tiba tertawa sinis.

“Kalau kalian tahu keadaan keluarga kami, kalian pasti nggak akan memilih dia.”

Aku menatapnya.

“Maksud Ayah?”

Ayah mengeluarkan sebuah map dari tas.

Di dalamnya terdapat formulir pengunduran diri dari program beasiswa.

Pada bagian bawah sudah tercantum namaku.

Dan sebuah tanda tangan.

Aku membeku.

“Itu bukan tanda tanganku.”

Ayah langsung menatapku tajam.

“Jangan kurang ajar!”

Aku mengambil dokumen tersebut dengan tangan gemetar.

Bentuk hurufnya memang menyerupai tanda tanganku.

Namun, ada bagian yang jelas berbeda.

“Pak Surya, saya tidak pernah menandatangani surat ini.”

Bu Laras segera meminta dokumen tersebut diperiksa.

Ayah berusaha mengambilnya kembali.

“Itu urusan keluarga!”

Aku mengangkat kepala.

“Kalau memang urusan keluarga, kenapa Ayah memakai namaku tanpa izin?”

Ruangan mendadak sunyi.

Dimas yang sejak tadi berdiri di dekat pintu akhirnya berbicara.

“Yah, Kak Nadira cuma mau kuliah. Kenapa sampai harus begini?”

Ayah menoleh dengan marah.

“Kamu diam! Kamu nggak tahu masalahnya!”

Namun, justru kalimat itu membuatku semakin curiga.

Masalah apa yang sebenarnya sedang disembunyikan Ayah?

Bu Ratna kemudian meminta waktu berbicara denganku secara terpisah.

Ayah menolak.

Tetapi Pak Surya menjelaskan bahwa pihak sekolah perlu memastikan kehendak Nadira secara langsung karena dokumen pengunduran diri tersebut diperselisihkan.

Akhirnya, Ayah keluar dengan wajah merah.

Sebelum pintu tertutup, dia menatapku.

“Kamu akan menyesal.”

Aku tidak menjawab.

Begitu beliau pergi, air mataku langsung jatuh.

Bu Ratna menyerahkan segelas air.

“Nadira, kamu aman?”

Aku mengangguk, lalu menggeleng.

“Semalam Ayah menampar saya, Bu.”

Wajah Bu Ratna berubah.

Aku menunjukkan bekas kemerahan di pipiku.

Untuk pertama kalinya, aku menceritakan semuanya.

Tentang prestasi yang selalu diremehkan.

Tentang kesempatan lomba yang dibatalkan.

Tentang uang tabunganku yang diambil.

Dan tentang ancaman Ayah untuk menghentikan kuliahku jika aku tidak mengikuti keinginannya.

Bu Ratna mendengarkan tanpa memotong.

Setelah aku selesai, beliau berkata pelan, “Kita akan membantu kamu mendapatkan pendampingan yang tepat. Kamu tidak harus menghadapi ini sendirian.”

Aku menangis semakin keras.

Selama ini, aku selalu mengira meminta pertolongan berarti mengkhianati keluarga.

Ternyata aku hanya sedang berusaha melindungi diriku sendiri.

Siang harinya, ketika aku masih berada di sekolah, Dimas mengirim pesan.

“Kak, aku menemukan sesuatu.”

Aku langsung meneleponnya.

“Apa?”

“Ayah marah-marah di rumah. Aku dengar dia bicara sama Ibu soal utang.”

Aku mengernyit.

“Utang apa?”

Dimas menarik napas panjang.

“Katanya uang kuliah Kakak sudah dipakai.”

Aku membeku.

“Uang kuliah?”

“Iya. Aku nggak ngerti maksudnya. Ayah bilang kalau Kakak dapat beasiswa dan kuliah jauh, semuanya bisa ketahuan.”

Tanganku mendadak dingin.

Malam itu, aku tidak langsung pulang.

Dengan bantuan Bu Ratna, aku menghubungi Tante Mira, adik kandung Ibu yang tinggal di Bekasi.

Tante datang menjemputku setelah mengetahui apa yang terjadi.

Ketika melihat pipiku, beliau langsung memelukku.

“Kenapa kamu nggak pernah cerita, Nak?”

Aku menangis.

“Aku takut semua orang bilang aku anak durhaka.”

Tante Mira mengusap rambutku.

“Mempertahankan hakmu untuk sekolah bukan berarti kamu durhaka.”

Malam itu aku tinggal di rumah Tante.

Keesokan harinya, Ibu datang sendirian.

Wajahnya terlihat lelah.

Begitu melihatku, beliau langsung menangis.

“Nadira, pulanglah. Ayahmu sedang marah sekali.”

Aku menatapnya.

“Bu, sebelum aku pulang, aku mau tahu uang kuliah yang Dimas maksud itu apa.”

Ibu langsung terdiam.

Aku menunggu.

Akhirnya beliau duduk.

“Tiga tahun lalu, Kakekmu meninggalkan tabungan pendidikan untukmu dan Dimas.”

Aku membeku.

“Kakek punya tabungan untuk kami?”

Ibu mengangguk.

“Masing-masing seratus lima puluh juta rupiah.”

Aku merasa napasku tertahan.

Kakek meninggal ketika aku duduk di kelas sembilan.

Beliau memang sering mengatakan ingin melihatku kuliah.

Namun, aku tidak pernah mengetahui bahwa beliau menyisihkan uang untuk pendidikan kami.

“Uangnya di mana sekarang, Bu?”

Ibu menunduk.

“Ayahmu mengambil sebagian tabungan itu untuk usaha.”

Aku menggenggam ujung kursi.

“Sebagian berapa?”

Ibu menangis.

“Uang bagianmu hampir habis.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Dan uang Dimas?”

“Masih ada.”

Ruangan terasa berputar.

Aku ingin marah.

Ingin berteriak.

Namun, yang keluar hanya pertanyaan lirih.

“Kenapa uangku yang dipakai?”

Ibu mengusap air matanya.

“Ayahmu bilang kamu perempuan. Setelah menikah nanti, suamimu yang akan menanggung kebutuhanmu.”

Aku tertawa getir.

Jadi itulah alasannya.

Bukan karena biaya pendidikan terlalu mahal.

Bukan karena mereka benar-benar khawatir aku tinggal jauh.

Melainkan karena sejak awal, masa depanku dianggap tidak sepenting masa depan adikku.

“Kenapa Ibu diam saja?”

Ibu menatapku dengan mata merah.

“Ibu takut melawan Ayah.”

Aku menggeleng perlahan.

“Tapi Ibu nggak takut aku kehilangan kesempatan kuliah?”

Ibu menutup wajahnya.

Tidak ada jawaban.

Aku akhirnya mengerti mengapa Ayah begitu keras menolak beasiswa.

Jika aku menerima bantuan pendidikan dan mulai mengurus dokumen keuangan sendiri, kemungkinan besar aku akan menanyakan tabungan yang ditinggalkan Kakek.

Ayah tidak ingin kebohongannya terbongkar.

Namun, aku tidak ingin mengambil kesimpulan hanya dari perkataan Ibu.

Aku meminta agar dokumen tabungan, riwayat transaksi, dan ketentuan pemberian dana dari Kakek diperiksa terlebih dahulu.

Tante Mira membantuku menghubungi notaris yang dahulu mengurus dokumen warisan keluarga.

Beberapa hari kemudian, kami menemukan salinan surat pemberian dana pendidikan yang memang mencantumkan namaku dan Dimas.

Dana tersebut dikelola oleh orang tua kami sampai kami cukup umur untuk mengurus kebutuhan pendidikan sendiri.

Aku memandangi nama Kakek pada dokumen itu.

Air mataku kembali mengalir.

Beliau sudah memikirkan masa depanku jauh sebelum aku sendiri tahu ingin menjadi apa.

Namun, orang yang seharusnya menjaga amanat itu justru menggunakannya untuk kepentingan lain.

Seminggu kemudian, aku akhirnya bertemu Ayah di rumah Tante Mira.

Kali ini, aku ditemani Ibu, Tante, dan seorang penasihat hukum keluarga.

Ayah datang dengan wajah keras.

“Kamu puas sekarang? Semua urusan keluarga dibongkar ke orang luar!”

Aku menatapnya.

“Yah, aku cuma ingin tahu kenapa uang pendidikan dari Kakek digunakan tanpa sepengetahuanku.”

Ayah terdiam.

Kemudian berkata ketus, “Uang itu kupakai untuk usaha keluarga. Kalau usahanya berhasil, kalian juga yang menikmati.”

Aku menarik napas panjang.

“Kalau begitu, kenapa Ayah nggak pernah memberitahuku?”

“Karena kamu masih anak kecil!”

“Sekarang aku sudah delapan belas tahun, Yah.”

Ayah mengalihkan pandangan.

Aku melanjutkan.

“Dan kenapa bagian Dimas tidak dipakai?”

Wajah Ayah memerah.

“Karena Dimas laki-laki! Dia harus punya modal untuk masa depannya!”

Aku membeku.

Dimas yang sejak tadi diam langsung berdiri.

“Yah, masa depan Kak Nadira juga penting.”

Ayah menoleh.

“Kamu jangan ikut campur!”

Dimas menggeleng.

“Aku justru mau ikut bicara. Aku nggak pernah minta uang Kakak dipakai untukku.”

Aku menatap adikku dengan mata berkaca-kaca.

Dia melanjutkan.

“Kalau Kakek memang membagi uang itu untuk kami berdua, ya masing-masing punya hak yang harus dihormati.”

Untuk pertama kalinya, Ayah kehilangan kata-kata.

Aku menatapnya.

“Yah, aku nggak datang untuk mempermalukan Ayah. Aku cuma ingin Ayah mengakui bahwa menggunakan uang pendidikan itu tanpa memberitahuku adalah kesalahan.”

Ayah memandang lantai.

Beberapa saat kemudian, suaranya terdengar lebih pelan.

“Usahaku gagal.”

Aku terdiam.

“Waktu itu aku pikir dalam enam bulan uangnya bisa kembali. Tapi barang-barang nggak laku. Aku punya utang kepada pemasok.”

Aku mendengarkan.

“Aku malu mengakuinya.”

Aku menelan ludah.

“Jadi Ayah memilih menyembunyikannya dan melarangku kuliah?”

Ayah tidak menjawab.

Aku mengusap air mata.

“Kalau Ayah jujur dari awal, mungkin kita bisa mencari jalan keluar bersama.”

Beliau menunduk semakin dalam.

Pertemuan itu tidak langsung membuat hubungan kami membaik.

Namun, akhirnya Ayah bersedia menyerahkan dokumen terkait penggunaan dana untuk diperiksa dan membahas cara penyelesaiannya secara bertanggung jawab.

Aku tidak meminta semuanya selesai dalam satu hari.

Aku hanya ingin kebenaran tidak lagi disembunyikan.

Sementara itu, proses seleksi beasiswaku terus berjalan.

Bu Ratna membantuku menyiapkan dokumen.

Tante Mira mendampingiku ketika harus menghadiri wawancara.

Dimas bahkan rela menemaniku mengerjakan latihan soal tambahan di perpustakaan.

Beberapa minggu kemudian, hasil seleksi perguruan tinggi diumumkan.

Aku membuka laman resmi dengan tangan gemetar.

Nadira Putri Maheswari.

Diterima.

Program studi yang kuimpikan di Universitas Indonesia.

Aku menutup mulut.

Air mata langsung mengalir.

“Dimas…”

Adikku yang duduk di sampingku segera menoleh.

“Kenapa, Kak?”

Aku memutar layar laptop ke arahnya.

Dia membaca beberapa detik.

Kemudian berteriak.

“KAKAK LOLOS!”

Tante Mira berlari keluar dari dapur.

“Ada apa?”

Dimas langsung memelukku.

“Kak Nadira diterima di UI!”

Kami bertiga menangis dan tertawa bersamaan.

Beberapa hari berikutnya, yayasan juga mengirimkan surat keputusan bahwa aku terpilih sebagai penerima beasiswa penuh sesuai ketentuan program.

Biaya pendidikan dan sebagian besar kebutuhan hidupku akan dibantu selama aku memenuhi persyaratan akademik yang berlaku.

Aku membaca surat itu berkali-kali.

Untuk pertama kalinya, aku merasa bisa mengejar impian tanpa harus mengorbankan seluruh masa depan karena masalah keuangan keluarga.

Namun, kejutan terbesar datang seminggu sebelum keberangkatanku ke Depok.

Ayah datang ke rumah Tante Mira.

Dia membawa sebuah amplop cokelat.

Aku menatapnya dengan cemas.

“Ada apa, Yah?”

Ayah duduk perlahan.

Wajahnya terlihat jauh lebih lelah daripada terakhir kali kami bertemu.

“Ini untukmu.”

Aku membuka amplop tersebut.

Di dalamnya terdapat beberapa dokumen dan bukti pembayaran awal untuk pengembalian dana pendidikan yang pernah digunakan.

Aku menatap Ayah.

“Yah…”

Beliau mengangkat tangan.

“Belum semuanya. Ayah masih harus menyelesaikan sisanya.”

Aku terdiam.

Ayah melanjutkan.

“Selama ini Ayah mengira mendidik anak berarti membuat mereka selalu menurut.”

Aku menatapnya.

“Tapi ternyata Ayah justru membuatmu takut mengatakan apa yang kamu inginkan.”

Air mataku mulai jatuh.

Ayah menarik napas panjang.

“Maafkan Ayah karena sudah memukulmu.”

Aku tidak langsung menjawab.

Beliau menunduk.

“Dan maaf karena mengambil uang pendidikanmu tanpa pernah meminta persetujuan.”

Aku menggenggam amplop itu erat-erat.

“Yah, aku masih sakit hati.”

Ayah mengangguk.

“Ayah tahu.”

“Aku butuh waktu.”

Beliau menatapku dengan mata berkaca-kaca.

“Ayah mengerti.”

Aku mengusap pipi.

“Tapi aku berharap setelah ini Ayah nggak lagi menganggap pendidikan anak perempuan sebagai sesuatu yang kurang penting.”

Ayah menunduk.

“Iya, Nadira.”

Aku tidak langsung memeluknya.

Aku juga tidak merasa harus segera memaafkan semuanya.

Namun, untuk pertama kalinya, Ayah mengakui kesalahannya tanpa menyalahkanku.

Dan itu menjadi awal yang berbeda dari semua pertengkaran kami sebelumnya.

Hari keberangkatan akhirnya tiba.

Aku berdiri di depan rumah Tante Mira dengan koper besar dan ransel berisi buku.

Dimas membantu memasukkan barang-barangku ke bagasi mobil.

Ibu datang membawa bekal nasi goreng.

“Nadira, ini buat kamu makan di perjalanan.”

Aku menerimanya.

“Terima kasih, Bu.”

Ibu memelukku erat.

“Belajar yang rajin, ya.”

Aku tersenyum.

“Pasti.”

Kemudian Ayah berjalan mendekat.

Beliau tidak banyak bicara.

Hanya menyerahkan sebuah kotak kecil.

Aku membukanya.

Di dalamnya terdapat pulpen hitam sederhana.

“Dulu Kakekmu memberikan pulpen ini kepada Ayah ketika pertama kali bekerja,” katanya.

Aku menatapnya.

“Kenapa Ayah kasih ke aku?”

Ayah tersenyum sedih.

“Karena sekarang kamu yang sedang memulai perjalanan baru.”

Aku menggenggam pulpen itu.

“Terima kasih, Yah.”

Ayah menepuk bahuku.

“Kali ini, kalau kamu punya impian, jangan takut menceritakannya.”

Aku mengangguk.

Dalam perjalanan menuju Depok, aku memandangi jalanan dari jendela mobil.

Aku teringat semua malam ketika belajar sendirian.

Semua lomba yang gagal kuikuti.

Semua kalimat yang membuatku meragukan kemampuan sendiri.

Dan malam ketika aku pulang membawa nilai 687, tetapi justru mendapat tamparan karena berani mempertanyakan perlakuan keluargaku.

Dulu, aku mengira angka itu akan menjadi bukti bahwa aku akhirnya cukup baik untuk membuat semua orang bangga.

Namun, sekarang aku memahami sesuatu.

Nilai 687 bukan ukuran seluruh nilai diriku.

Aku tetap berharga bahkan ketika gagal.

Aku tetap pantas dihormati meskipun tidak menjadi juara.

Dan aku tetap memiliki hak menentukan masa depan meskipun orang lain tidak menyetujui pilihanku.

Beberapa bulan kemudian, ketika aku mengenakan jaket almamater kuning untuk pertama kalinya, aku mengambil foto di depan gedung fakultas.

Aku mengirimkannya ke grup keluarga.

Tidak lama kemudian, Dimas membalas.

“Keren banget, Kak!”

Ibu mengirimkan emotikon hati.

Namun, pesan yang paling lama kutunggu justru datang dari Ayah.

Beliau menulis singkat.

“Ayah bangga sama kamu, Nadira. Bukan cuma karena kamu diterima di UI, tapi karena kamu berani memperjuangkan masa depanmu.”

Aku membaca kalimat itu berulang kali.

Air mataku jatuh.

Untuk pertama kalinya, Ayah mengatakan bahwa dia bangga tanpa menambahkan syarat apa pun.

Aku menyimpan ponsel, kemudian berjalan menuju ruang kuliah.

Di sekelilingku, mahasiswa baru sibuk berbicara dan tertawa.

Aku masih merasa gugup.

Masih memiliki banyak pertanyaan.

Masih takut menghadapi kegagalan.

Namun, aku tidak lagi menganggap semua perasaan itu sebagai tanda kelemahan.

Aku tahu perjalanan ini tidak akan mudah.

Aku harus belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, menjaga prestasi akademik, dan membangun kehidupan yang lebih mandiri.

Namun, untuk pertama kalinya, masa depan terasa benar-benar menjadi milikku.

Aku berhenti sebentar di depan pintu ruang kuliah.

Kemudian menarik napas panjang.

Di dalam tas, map biru berisi dokumen prestasi dan surat beasiswa masih kusimpan dengan rapi.

Bukan karena aku ingin terus hidup dalam bayang-bayang nilai ujian.

Melainkan karena map itu mengingatkanku pada satu keputusan penting.

Keputusan untuk tidak menyerahkan seluruh hidupku kepada ketakutan orang lain.

Aku tersenyum.

Kemudian melangkah masuk.

Karena akhirnya aku mengerti bahwa keberhasilan terbesar bukanlah membuat semua orang mengakui bahwa kita hebat.

Keberhasilan terbesar adalah tetap berani membangun masa depan sendiri, bahkan ketika orang-orang terdekat belum mampu melihat potensi yang kita miliki.

Dan hari itu, ketika dosen pertama memasuki ruangan, aku membuka buku catatan baru lalu menuliskan satu kalimat di halaman paling depan.

“Aku belajar bukan untuk membuktikan bahwa aku cukup berharga. Aku belajar karena masa depanku layak diperjuangkan.”

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang