NENEK MENUNTUT PARA CUCUNYA MEMBERI TUNJANGAN 15 JUTA RUPIAH PER BULAN

Kemunculan nenek itu membuat suasana pesta yang semula hangat berubah hening.

Perempuan tua bernama Nenek Sulastri itu datang dengan kebaya mahal, diantar mobil mewah milik anak bungsunya. Begitu turun, ia langsung berjalan ke tengah keramaian seolah-olah dialah tamu kehormatan.

Beberapa warga saling berpandangan.

“Bukankah dulu beliau tidak pernah datang menjenguk mereka?”

“Katanya waktu orang tua empat anak itu meninggal, beliau bahkan tidak mau membuka pintu rumah.”

Rizky melihat dari kejauhan.

Selama beberapa detik, ia hanya diam.

Lalu ia melangkah mendekat, menundukkan kepala, dan mencium tangan neneknya.

“Assalamualaikum, Nek.”

Nenek Sulastri tersenyum tipis.

“Waalaikumsalam.”

Untuk pertama kalinya setelah lebih dari lima belas tahun, mereka berdiri saling berhadapan.

Orang-orang mengira semuanya akan berakhir dengan air mata haru.

Namun mereka salah.


Sejak hari itu, Nenek Sulastri mulai sering datang.

Awalnya hanya seminggu sekali.

Lalu dua kali.

Kemudian hampir setiap hari.

Ia selalu membawa cerita yang sama kepada warga desa.

“Aku bangga sekali sama cucu-cucuku.”

“Dinda dokter spesialis.”

“Laras direktur perusahaan.”

“Nadia artis biola terkenal.”

“Semua itu cucuku.”

Kalimat “cucuku” mendadak menjadi kata favoritnya.

Padahal selama bertahun-tahun, bahkan nama mereka pun hampir tidak pernah ia sebut.

Ironisnya, setiap kali diwawancarai media lokal yang meliput keberhasilan tiga bersaudara itu, Nenek Sulastri selalu duduk paling depan.

“Saya memang dari dulu mendidik keluarga supaya mengutamakan pendidikan.”

Rizky yang kebetulan melihat tayangan itu hanya mematikan televisi.

Ia tidak berkata apa-apa.

Dinda mengepalkan tangan.

“Mas, beliau bohong.”

Rizky hanya tersenyum.

“Biarkan.”

“Tapi…”

“Kalau kita sibuk meluruskan semua kebohongan orang, hidup kita habis untuk marah.”


Beberapa bulan kemudian…

Sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah Rizky.

Keluar seorang pria berpakaian rapi.

“Pak Rizky?”

“Iya.”

“Saya pengacara Bu Sulastri.”

Rizky mengernyit.

“Pengacara?”

Pria itu menyerahkan sebuah map.

“Klien saya meminta saya menyampaikan surat resmi.”

Rizky membuka perlahan.

Semakin lama wajahnya semakin datar.

Di halaman terakhir tertulis dengan jelas.

TUNTUTAN TUNJANGAN HIDUP

Isinya membuat siapa pun yang membacanya terdiam.

Nenek Sulastri menuntut agar keempat cucunya memberikan uang tunjangan sebesar lima belas juta rupiah setiap bulan.

Dibagi rata.

Alasannya karena mereka dianggap memiliki kewajiban moral merawat orang tua.

Lebih mengejutkan lagi…

Di bagian akhir surat tertulis ancaman.

“Bila permintaan ini tidak dipenuhi, saya akan mengajukan gugatan ke pengadilan atas dasar penelantaran orang tua.”

Rizky membaca sampai selesai.

Lalu melipat kembali surat itu.

Hanya satu kalimat yang keluar dari mulutnya.

“Baik.”

Tidak marah.

Tidak membanting meja.

Tidak mengusir pengacara itu.

Jawaban yang terlalu tenang justru membuat sang pengacara bingung.


Malam itu, empat bersaudara berkumpul.

Dinda langsung meledak.

“Ini keterlaluan!”

Laras membanting surat di meja.

“Waktu kita kelaparan, beliau ke mana?”

Nadia sampai menangis.

“Aku masih ingat waktu umur sembilan tahun kita datang ke rumahnya minta beras.”

“Beliau menyuruh kita pulang.”

Rizky tetap diam.

Beberapa menit kemudian ia berkata pelan.

“Kalian masih ingat hari itu?”

Semua mengangguk.

Bagaimana mungkin mereka lupa?

Hari itu hujan deras.

Rumah bocor.

Tidak ada nasi.

Mereka hanya punya garam.

Rizky mengajak ketiga adiknya berjalan hampir empat kilometer menuju rumah nenek.

Saat itu Nadia demam.

Dinda menangis karena lapar.

Laras bahkan pingsan di jalan.

Sesampainya di rumah…

Mereka mengetuk pintu.

Nenek membuka sedikit.

“Ada apa?”

Rizky menunduk.

“Nek… kami belum makan.”

“Boleh pinjam beras? Nanti kalau saya sudah gajian saya ganti.”

Nenek tidak langsung menjawab.

Ia justru melihat ke belakang.

Takut tetangga melihat.

Lalu berkata dingin.

“Kalau kubantu sekarang, nanti kalian ketagihan.”

BRAK!

Pintu ditutup tepat di depan wajah mereka.

Hari itu mereka pulang dalam hujan.

Nadia yang masih kecil bertanya sambil menggigil.

“Mas… apakah kita bukan keluarga beliau?”

Rizky memeluk adiknya erat.

“Kita keluarga.”

“Lalu kenapa beliau tidak sayang?”

Rizky tidak bisa menjawab.

Malam itu mereka hanya makan nasi yang dipinjam dari tetangga.

Peristiwa itulah yang tidak pernah benar-benar hilang dari ingatan mereka.


Dua minggu kemudian…

Surat panggilan mediasi benar-benar datang.

Ternyata Nenek Sulastri tidak menggertak.

Ia serius.

Berita itu langsung menyebar ke seluruh desa.

Media lokal ikut meliput.

Judul-judul berita mulai bermunculan.

“Nenek Menggugat Cucu-Cucu Sukses karena Tidak Diberi Nafkah.”

Komentar publik langsung terbelah.

Sebagian menyalahkan cucu.

“Biar bagaimanapun tetap nenek.”

Namun sebagian lain mulai bertanya.

“Kenapa baru sekarang muncul?”

“Apa dulu beliau benar-benar merawat mereka?”

Pertanyaan-pertanyaan itu terus bergulir.


Hari mediasi akhirnya tiba.

Ruangan penuh.

Ada wartawan.

Tokoh masyarakat.

Perwakilan desa.

Pengacara kedua belah pihak.

Nenek Sulastri duduk dengan wajah penuh keyakinan.

Begitu diberi kesempatan berbicara, ia langsung menangis.

“Aku hanya ingin menikmati masa tua.”

“Aku sudah tua.”

“Cucu-cucuku semuanya kaya.”

“Apa salah kalau mereka memberiku lima belas juta sebulan?”

Beberapa orang mulai mengangguk simpati.

Tangisnya terdengar meyakinkan.

Lalu mediator menoleh kepada Rizky.

“Pak Rizky, apakah ada yang ingin disampaikan?”

Rizky berdiri perlahan.

Ia tidak membawa pengacara.

Hanya membawa sebuah koper tua berwarna cokelat.

Koper yang sudah usang.

Semua orang penasaran.

Rizky membuka koper itu perlahan.

Di dalamnya tidak ada uang.

Tidak ada dokumen tanah.

Tidak ada perhiasan.

Yang ada hanyalah puluhan amplop lusuh, buku harian kecil, kuitansi rumah sakit, foto-foto lama, surat penolakan bantuan keluarga, dan sebuah perekam suara lawas yang selama belasan tahun ia simpan rapi.

Rizky mengangkat buku harian pertama.

“Yang Mulia, sebelum membahas apakah kami wajib menanggung beliau…”

Ia berhenti sejenak.

“…izinkan saya menceritakan siapa sebenarnya yang selama ini menanggung siapa.”

Seluruh ruangan mendadak sunyi.

Bahkan wartawan menghentikan suara keyboard mereka.

Tak seorang pun menyadari…

Bahwa koper tua itu menyimpan rahasia yang sanggup membalikkan seluruh persidangan, sekaligus menghancurkan topeng yang selama bertahun-tahun dipakai Nenek Sulastri di hadapan semua orang.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang