Tiga hari setelah Bima resmi menjalani hukuman, Karin meneleponku sebanyak tujuh belas kali sebelum pukul sembilan pagi.
Aku sengaja tidak langsung mengangkatnya.

Saat itu, aku sedang duduk di ruang kerja pengacaraku, Maya Prameswari, di kawasan Kuningan. Di hadapan kami tergeletak setumpuk dokumen yang telah kususun selama enam bulan terakhir.
“Dia mulai panik,” kataku sambil memperlihatkan layar ponsel.
Maya tersenyum tipis.
“Wajar. Selama ini dia terbiasa mendapatkan apa pun hanya dengan menangis. Sekarang kita lihat apakah air matanya masih berguna ketika berhadapan dengan dokumen resmi.”
Ponselku kembali bergetar.
Kali ini aku mengangkatnya.
“Kak Sinta!” Karin langsung berseru. “Aku sudah menunggu transfernya dari kemarin! Pemilik apartemen baru terus menagih uang muka. Kakak kan sudah janji!”
Aku menatap Maya yang sedang memeriksa berkas.
“Maaf, Karin. Aku sedang mengurus surat kuasa Bima. Kalau belum selesai, aku tidak bisa memastikan pembayaran dari dana yang secara hukum boleh digunakan.”
“Tapi Kak Bima sudah setuju!”
“Bagus. Berarti kamu bisa bantu mengingatkan dia untuk menandatangani dokumen yang sudah dikirim pengacaraku.”
Karin terdiam beberapa detik.
“Surat kuasa apa, Kak?”
“Surat kuasa khusus untuk mengurus administrasi keuangan, mengakses dokumen perusahaan yang berkaitan dengan kewajiban Bima, dan memeriksa semua pembayaran yang selama ini dilakukan atas namanya. Supaya semuanya jelas dan kamu tidak kesulitan lagi.”
“Oh, begitu.” Suaranya langsung melunak. “Kalau cuma begitu, pasti gampang.”
Aku tersenyum.
“Memang gampang, Karin. Asalkan tidak ada yang disembunyikan.”
Setelah telepon berakhir, Maya menatapku serius.
“Sinta, ingat. Surat kuasa ini tidak otomatis memberimu hak mengambil aset Bima atau mengendalikan perusahaan. Kewenangannya terbatas pada hal yang tertulis dan sah secara hukum.”
“Aku tahu, Mbak. Aku tidak ingin mengambil sesuatu yang bukan milikku.”
“Lalu apa tujuanmu?”
Aku menggeser sebuah map biru ke hadapannya.
“Aku ingin mereka berhenti menggunakan namaku sebagai dompet, dan aku ingin penyidik mendapatkan bukti yang selama ini mereka sembunyikan.”
Maya membuka map itu.
Di halaman pertama terdapat daftar transaksi dari PT Adiputra Konstruksi kepada perusahaan konsultan bernama PT Lentera Cemerlang Abadi.
Perusahaan yang ternyata terdaftar atas nama seorang perempuan bernama Karin Aurelia.
Selama tiga tahun, perusahaan tersebut menerima pembayaran hampir delapan miliar rupiah untuk jasa konsultasi yang tidak memiliki laporan pekerjaan yang memadai.
Maya menghela napas panjang.
“Kalau bukti ini terverifikasi, bukan cuma reputasi keluarga Adiputra yang terancam.”
Aku mengangguk.
“Karena itu aku ingin semuanya diperiksa secara resmi.”
Siang harinya, aku mengunjungi Bima di lembaga pemasyarakatan bersama pengacaranya.
Begitu melihatku, wajah Bima langsung berbinar.
“Sayang!”
Aku duduk di seberangnya.
Tubuhnya tampak lebih kurus dibandingkan ketika persidangan. Rambut yang biasanya tertata sempurna kini terlihat berantakan.
“Aku kangen kamu, Sin.”
Aku tersenyum lembut.
“Aku juga memikirkan keadaan Abang.”
Bima menggenggam tanganku.
“Karin bilang kamu mau mengurus semua kebutuhannya. Terima kasih, ya. Aku benar-benar lega.”
Aku menunduk sejenak.
“Bang, aku mau bantu. Tapi aku punya satu syarat.”
Wajahnya langsung berubah serius.
“Syarat apa?”
“Aku tidak mau memberikan uang tanpa mengetahui asal, tujuan, dan dasar pembayarannya. Aku ingin semua urusan keuangan Abang transparan. Termasuk uang yang selama ini diberikan kepada Karin.”
Bima menarik tangannya perlahan.
“Kenapa harus sampai sejauh itu?”
“Karena aku istrimu, Bang. Kalau nanti ada masalah keuangan, namaku juga bisa ikut terseret.”
Dia terdiam.
Aku melanjutkan dengan hati-hati.
“Pengacaraku sudah menyiapkan surat kuasa khusus. Isinya memberi kewenangan untuk meminta salinan dokumen pembayaran dan administrasi tertentu yang berkaitan dengan kewajiban pribadi Abang, sepanjang diizinkan hukum. Kalau perusahaan punya dokumen terkait, tetap harus melalui prosedur resmi.”
Bima memandang berkas tersebut.
“Jadi kamu bisa bantu Karin setelah aku tanda tangan?”
“Aku akan meninjau kebutuhannya yang benar-benar diperlukan. Tapi aku tidak berjanji membiayai kemewahannya dengan uang pribadiku.”
Bima menghela napas.
Untuk pertama kalinya, aku melihat sedikit keraguan di matanya.
Namun kemudian dia berkata, “Baiklah. Aku percaya kamu.”
Dia membaca dokumen itu bersama pengacaranya sebelum menandatanganinya.
Ketika pena menyentuh halaman terakhir, aku merasakan sesuatu yang selama empat tahun tidak pernah kurasakan.
Kebebasan.
Bukan karena aku berhasil menjebaknya, melainkan karena akhirnya aku berani menetapkan batas yang tidak bisa lagi mereka langgar.
Seminggu kemudian, Karin datang ke rumahku di Pondok Indah tanpa pemberitahuan.
Dia mengenakan gaun putih mahal, membawa tas bermerek, dan memakai kacamata hitam besar.
Begitu masuk, dia langsung duduk di sofa.
“Kak, aku sudah menunggu terlalu lama. Mana uang tiga ratus jutanya?”
Aku sedang membaca dokumen di meja makan.
“Karin, aku sudah memeriksa tagihan yang kamu kirim.”
Wajahnya berbinar.
“Jadi sudah bisa ditransfer?”
“Belum.”
Senyumnya menghilang.
“Maksudnya?”
“Tagihan perawat pribadi yang kamu kirim berasal dari sebuah layanan yang mengatakan tidak pernah membuat kontrak denganmu. Sementara pemilik apartemen mengonfirmasi bahwa uang muka yang diminta hanya tiga puluh juta, bukan dua ratus juta.”
Karin langsung berdiri.
“Kakak menyelidiki aku?”
“Aku memverifikasi tagihan sebelum membayar. Itu hal yang wajar.”
“Kakak sudah janji mau membantu!”
“Aku berjanji membantu mengurus kebutuhanmu, bukan menyerahkan uang tanpa pertanggungjawaban.”
Wajah Karin memerah.
“Kak Sinta jangan sok berkuasa! Kak Bima rela masuk penjara demi aku. Kakak cuma istri yang kebetulan dinikahinya!”
Kalimat itu menghantam bagian hatiku yang pernah terluka.
Namun kali ini aku tidak menangis.
Aku justru menatapnya dengan tenang.
“Kalau begitu, kenapa kamu masih meminta uang kepada istri yang menurutmu tidak berarti?”
Karin terdiam.
Aku mengambil sebuah amplop dari meja.
“Ada sesuatu yang perlu kamu lihat.”
Di dalamnya terdapat salinan dokumen pembayaran apartemen di Kuningan dan daftar transaksi perusahaan miliknya.
Karin memucat.
“Dari mana Kakak mendapatkan ini?”
“Dari berkas yang sah kuakses dan salinan dokumen yang sudah kumiliki sebelumnya.”
Tangannya gemetar.
“Kakak mau apa?”
“Aku ingin kamu mengatakan yang sebenarnya kepada penyidik. Tentang kecelakaan itu. Tentang uang perusahaan. Tentang semua kebohongan yang membuat seseorang terluka dan orang lain masuk penjara.”
Karin menggeleng cepat.
“Aku tidak tahu apa-apa!”
“Kalau begitu, kamu tidak perlu takut ketika diperiksa.”
Dia menyambar tasnya dan bergegas pergi.
Namun sebelum keluar, dia berbalik.
“Kakak akan menyesal!”
Aku menatapnya tanpa berkedip.
“Mungkin. Tapi aku lebih menyesal kalau terus diam.”
Dua hari kemudian, Pak Hendra datang bersama Bu Ratna.
Mereka tidak membawa buah tangan seperti biasanya.
Mereka membawa ancaman.
“Sinta, kamu sudah keterlaluan!” bentak Pak Hendra begitu memasuki ruang tamu.
Aku berdiri dengan tenang.
“Ada apa, Pa?”
“Kenapa kamu meminta dokumen pembayaran dari bagian keuangan perusahaan?”
“Karena ada transaksi yang menggunakan nama dan kewajiban pribadi Bima. Permintaan dokumennya melalui jalur resmi, Pa.”
Pak Hendra membanting sebuah map ke meja.
“Perusahaan itu bukan urusanmu!”
Aku mengangguk.
“Betul. Karena itulah saya juga tidak mau lagi diminta menanggung kewajibannya dengan uang pribadi saya.”
Bu Ratna langsung menangis.
“Kamu mau menghancurkan keluarga sendiri?”
Aku memandang perempuan yang selama bertahun-tahun memperlakukanku seperti pembantu berpendidikan tinggi.
“Ma, siapa yang menghancurkan keluarga ini? Saya yang meminta laporan keuangan, atau orang yang mengambil uang perusahaan untuk membiayai perempuan lain?”
Pak Hendra mendadak terdiam.
Aku melanjutkan.
“Dan satu hal lagi. Saya sudah menyerahkan bukti-bukti yang relevan kepada pihak berwenang melalui pengacara.”
Wajah Pak Hendra berubah pucat.
“Kamu melakukan apa?”
“Apa yang seharusnya dilakukan sejak awal.”
Malam itu, untuk pertama kalinya, Pak Hendra meninggalkan rumahku tanpa mampu memberikan perintah apa pun.
Penyelidikan kemudian berkembang.
Pihak berwenang memeriksa kembali peristiwa tabrak lari berdasarkan informasi dan bukti tambahan yang diserahkan beberapa saksi. Rekaman kamera dari sebuah toko di dekat lokasi ternyata memperlihatkan seorang perempuan keluar dari kursi pengemudi sebelum Bima tiba.
Perempuan itu adalah Karin.
Saksi yang selama ini takut berbicara akhirnya memberikan keterangan.
Namanya Pak Dedi, petugas parkir yang melihat Karin menangis sambil menelepon seseorang sesaat setelah kecelakaan.
“Saya takut kehilangan pekerjaan,” katanya kepada penyidik. “Tapi setelah melihat kondisi korban, saya enggak bisa terus diam.”
Bukti tersebut tidak otomatis menghapus putusan terhadap Bima. Pengacaranya harus menempuh upaya hukum yang tersedia, sementara pengakuan palsunya sendiri turut diperiksa.
Karin kemudian menjalani pemeriksaan atas dugaan keterlibatannya dalam kecelakaan itu.
Sementara penyelidikan terhadap transaksi PT Adiputra Konstruksi memasuki tahap baru.
Selama proses tersebut, aku mengunjungi rumah sakit tempat korban kecelakaan menjalani rehabilitasi.
Namanya Pak Agus, seorang ayah berusia empat puluh dua tahun yang memiliki dua anak perempuan.
Kaki kirinya masih sulit digerakkan.
Istrinya, Bu Rini, menyambutku dengan wajah penuh kelelahan.
“Bu Sinta, saya tahu Ibu istrinya Pak Bima.”
Aku menunduk.
“Saya datang bukan untuk meminta Ibu memaafkan siapa pun.”
Bu Rini memandangku heran.
“Saya hanya ingin memastikan hak keluarga Ibu tidak dilupakan. Pengacara saya bisa membantu meninjau jalur tuntutan ganti rugi yang tersedia, kalau Ibu berkenan.”
Bu Rini mulai menangis.
“Suami saya dulu kerja dari pagi sampai malam. Sekarang untuk berdiri saja susah, Bu.”
Aku menggenggam tangannya.
“Saya tahu uang tidak bisa mengembalikan keadaan seperti semula. Tapi setidaknya orang yang bertanggung jawab tidak boleh melarikan diri dari akibat perbuatannya.”
Hari itu, aku menyadari bahwa selama ini aku terlalu sibuk memikirkan penghinaan yang kuterima.
Padahal ada keluarga lain yang kehilangan jauh lebih banyak.
Beberapa minggu kemudian, Maya meneleponku dengan kabar penting.
“Sinta, ada perkembangan.”
Aku langsung duduk tegak.
“Apa, Mbak?”
“Karin akhirnya memberikan keterangan tambahan. Dia mengakui bahwa dirinya yang mengemudi saat kecelakaan.”
Aku memejamkan mata.
“Akhirnya.”
“Tapi ada satu hal lagi.”
“Apa?”
“Dia mengatakan bahwa Pak Hendra mengetahui rencana Bima mengambil alih kesalahan sejak malam kejadian.”
Aku terdiam.
Maya melanjutkan.
“Penyidik masih harus memverifikasi keterangannya, tetapi ada percakapan yang diserahkan sebagai bukti pendukung.”
Dua bulan kemudian, Bima memintaku datang menemuinya.
Ketika aku tiba, dia tidak lagi tersenyum seperti biasanya.
Matanya merah.
“Sinta,” katanya lirih, “aku sudah tahu semuanya.”
Aku duduk di hadapannya.
“Tahu apa, Bang?”
“Tentang dokumen perusahaan. Tentang Papa. Tentang Karin yang akhirnya mengaku.”
Aku mengangguk.
Bima menatapku lama.
“Jadi sejak awal kamu memang tidak berniat membiayai Karin?”
“Tidak dengan uang pribadiku.”
Dia tertawa pahit.
“Aku kira kamu akan melakukan apa pun yang kuminta.”
“Memang selama empat tahun aku selalu begitu.”
Air matanya mulai jatuh.
“Aku pikir masuk penjara demi Karin adalah bukti bahwa aku laki-laki yang bertanggung jawab.”
Aku menatapnya.
“Bertanggung jawab kepada siapa, Bang? Kepada Karin yang menabrak orang lalu kabur? Atau kepada keluarga yang ingin menyembunyikan masalahnya?”
Bima menunduk.
“Aku bodoh.”
“Ya, Bang. Kamu membuat keputusan yang sangat bodoh. Dan keputusan itu melukai banyak orang.”
Untuk beberapa saat, kami hanya mendengar suara langkah petugas di koridor.
Kemudian Bima bertanya dengan suara bergetar.
“Masih ada kesempatan buat kita?”
Aku mengeluarkan sebuah amplop putih dari tas.
Bima menatapnya dengan bingung.
“Apa itu?”
“Permohonan cerai yang sudah didaftarkan pengacaraku.”
Tangannya membeku.
“Sinta…”
“Aku tidak melakukan ini karena kamu masuk penjara. Aku melakukannya karena selama bertahun-tahun kamu memilih perempuan lain, membohongiku, dan menganggap kesetiaanku sebagai kewajiban yang tidak ada batasnya.”
Bima menangis.
“Aku menyesal.”
“Aku percaya kamu mungkin benar-benar menyesal sekarang. Tapi penyesalan tidak selalu berarti kita harus kembali bersama.”
Aku berdiri.
Sebelum meninggalkan ruangan, Bima memanggilku sekali lagi.
“Sin, apa kamu pernah benar-benar mencintaiku?”
Aku berhenti.
Pertanyaan itu membuat dadaku sesak.
“Pernah, Bang. Sampai aku lupa mencintai diriku sendiri.”
Enam bulan setelah hari persidangan itu, hidupku berubah sepenuhnya.
Proses hukum yang melibatkan Karin dan keuangan perusahaan masih berjalan. Pak Hendra kehilangan kendali operasional perusahaan setelah pemegang saham menunjuk pengurus sementara. Bima tetap menjalani proses hukum sesuai putusan dan upaya hukum yang ditempuhnya.
Aku tidak mengambil saham perusahaan atau apartemen Karin.
Aku juga tidak menerima uang yang bukan hakku.
Setelah proses perceraian selesai, aku kembali menggunakan nama Sinta Maharani, nama yang pernah kupakai sebelum menikah.
Aku membuka firma arsitektur kecil di Jakarta dan mempekerjakan lima orang desainer muda.
Di sudut ruang kerjaku, kusimpan sebuah foto sederhana.
Foto Pak Agus yang sedang belajar berjalan kembali dengan bantuan alat rehabilitasi, didampingi istri dan kedua anaknya.
Setiap kali melihat foto itu, aku teringat bahwa keadilan bukan sekadar membuat orang yang menyakiti kita merasakan kesakitan yang sama.
Keadilan adalah memastikan kebenaran tidak lagi dikubur hanya karena seseorang memiliki uang dan kekuasaan.
Suatu sore, sebuah surat tiba di kantorku.
Pengirimnya Bima.
Aku membukanya perlahan.
Di dalamnya hanya terdapat beberapa kalimat tulisan tangan.
Sinta, dulu aku mengira pengorbanan terbesar adalah masuk penjara demi orang yang kucintai. Sekarang aku sadar, pengorbanan terbesar justru pernah kamu lakukan setiap hari, ketika kamu mengubur kebahagiaanmu demi mempertahankan rumah tangga kita. Aku tidak meminta kamu kembali. Aku hanya ingin mengatakan bahwa kamu benar. Cinta tidak seharusnya menuntut seseorang kehilangan harga dirinya.
Aku membaca surat itu sampai selesai.
Untuk pertama kalinya, aku menangis tanpa merasa marah.
Lalu aku melipatnya dan menyimpannya ke dalam laci.
Di luar jendela, matahari sore menyinari gedung-gedung Jakarta.
Ponselku berdering.
Bu Rini menelepon.
“Bu Sinta, saya cuma mau bilang, hari ini suami saya berhasil berjalan sepuluh langkah tanpa bantuan orang lain.”
Suaranya bergetar penuh kebahagiaan.
Aku tersenyum dengan mata basah.
“Alhamdulillah, Bu. Itu kabar terbaik yang saya dengar hari ini.”
Setelah telepon ditutup, aku berdiri di depan jendela cukup lama.
Dulu, pada hari Bima divonis penjara, aku memang menangis dan berjanji akan mengurus kehidupan Karin.
Bima mengira janjiku berarti aku akan terus memberikan uang, menyembunyikan kebohongan, dan menanggung kesalahan mereka.
Dia tidak memahami satu syarat yang sejak awal telah kusiapkan.
Semua bantuan harus dimulai dengan kejujuran dan pertanggungjawaban.
Dan ternyata, syarat sederhana itulah yang paling mereka takuti.
Aku akhirnya memahami satu hal yang tidak pernah diajarkan keluarga Adiputra kepadaku.
Perempuan yang baik bukanlah perempuan yang selalu mengalah.
Perempuan yang baik juga berhak berkata cukup.
Sebab terkadang, kemenangan terbesar bukan ketika kita berhasil membuat orang lain kehilangan segalanya.
Melainkan ketika kita akhirnya berhenti kehilangan diri sendiri demi mempertahankan seseorang yang tidak pernah benar-benar menghargai kita.
