Perawat muda itu berkali-kali mengeluh karena petugas kebersihan rumah sakit yang sudah lanjut usia lebih suka menghabiskan waktu berbicara dengan pasien-pasien kesepian daripada segera menyapu lantai.

Chloe berdiri beberapa detik di depan ember berisi air hangat itu.

Tangannya menggenggam gagang pel, tetapi pikirannya masih tertinggal di lorong depan ruang operasi, pada seorang lelaki tua berseragam petugas kebersihan yang duduk sendirian menunggu seseorang yang bahkan bukan keluarganya.

Selama tiga tahun menjadi perawat, Chloe merasa sudah memahami arti merawat orang sakit.

Malam itu, untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa mungkin selama ini ia hanya memahami separuhnya.

Ia membawa ember keluar dari ruang penyimpanan dan mulai mengepel Kamar 304.

Bu Gable masih terjaga.

Perempuan berusia tujuh puluhan itu menoleh ketika Chloe masuk.

“Earl mana?”

“Sedang menunggu Pak Hargrove selesai operasi.”

Bu Gable tersenyum tipis.

“Tentu saja.”

Chloe berhenti mengepel.

“Ibu mengenalnya cukup dekat?”

“Semua pasien lama mengenal Earl.”

Jawaban itu membuat Chloe mengerutkan kening.

Bu Gable menunjuk kursi di samping tempat tidur.

“Duduklah sebentar kalau kau tidak terlalu sibuk.”

Biasanya Chloe akan mengatakan bahwa ia masih memiliki pekerjaan. Namun malam itu ia meletakkan gagang pel ke dinding dan duduk.

Bu Gable menatap ke jendela yang gelap.

“Tiga tahun lalu suamiku meninggal di rumah sakit ini. Kanker paru-paru. Malam terakhirnya, aku tertidur di kursi karena sudah dua hari tidak pulang.”

Ia terdiam sebentar.

“Ketika aku bangun, suamiku sudah pergi.”

Chloe menunduk.

“Maaf.”

“Aku juga berpikir dia meninggal sendirian.” Bu Gable menggeleng. “Ternyata tidak.”

Chloe sudah tahu kelanjutan ceritanya sebelum perempuan itu mengucapkannya.

“Earl ada di sana?”

Bu Gable mengangguk.

“Dia sedang membersihkan lorong ketika suamiku memanggil. Earl duduk di sampingnya hampir empat puluh menit. Ketika napas suamiku mulai melemah, Earl menggenggam tangannya.”

Suara Bu Gable bergetar.

“Setelah suamiku meninggal, Earl tidak pernah menceritakan apa yang mereka bicarakan. Dia cuma bilang, ‘Frank tidak sendirian, Bu. Itu yang penting.’”

Chloe menatap lantai.

Entah kenapa, lantai yang begitu sering ia tuntut agar bersih mendadak terasa tidak terlalu penting.

Pukul 05.17, lampu di atas pintu ruang operasi akhirnya padam.

Chloe sedang memeriksa obat ketika telepon di meja perawat berbunyi.

Operasi Arthur selesai.

Robekan aortanya berhasil diperbaiki.

Kondisinya masih kritis, tetapi stabil.

Chloe langsung berjalan menuju ruang operasi.

Earl masih berada di kursi yang sama.

Kepalanya tertunduk, kedua tangannya terlipat di atas perut.

Ia tertidur.

Untuk pertama kalinya Chloe memperhatikannya benar-benar.

Ada noda cairan pembersih pada celananya. Sol sepatunya sudah menipis. Rambut putihnya berantakan.

Lelaki itu tampak sangat lelah.

“Earl.”

Earl terbangun.

“Pak Hargrove?”

“Operasinya berhasil.”

Earl mengembuskan napas panjang.

“Syukurlah.”

Tidak ada ekspresi bangga.

Tidak ada ucapan bahwa kalau bukan karena dirinya Arthur mungkin tidak akan mau dioperasi.

Ia hanya berdiri dan bertanya, “Kapan saya boleh melihatnya?”

“Belum sekarang.”

Earl mengangguk.

“Kalau begitu saya selesaikan Kamar 304.”

Chloe menahan lengannya.

“Sudah saya kerjakan.”

Earl memandangnya.

“Maaf?”

“Saya sudah mengepelnya.”

Beberapa detik mereka hanya saling menatap.

Kemudian Earl tersenyum.

Senyum kecil, tetapi cukup untuk membuat Chloe merasa lebih malu daripada jika lelaki itu memarahinya.

“Terima kasih, Bu Perawat.”

“Panggil saya Chloe.”

Earl mengangguk.

“Baik, Chloe.”

Sejak malam itu, sesuatu berubah.

Bukan Earl.

Chloe.

Ia mulai memperhatikan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah masuk ke dalam catatan medis.

Ia memperhatikan seorang pasien yang selalu meminta televisi menyala bukan karena ingin menonton, tetapi karena takut tidur dalam kesunyian.

Ia memperhatikan perempuan tua yang terus menanyakan jam karena anaknya berjanji menelepon pukul delapan.

Ia mulai mengenali perbedaan antara pasien yang kesakitan dan pasien yang ketakutan.

Dan ia mulai memahami mengapa Earl kadang membutuhkan lima belas menit untuk membersihkan kamar yang sebenarnya bisa selesai dalam tujuh menit.

Arthur Hargrove sadar dua hari kemudian.

Kalimat pertamanya bukan tentang operasi.

“Earl mana?”

Chloe tertawa kecil.

“Saya akan memanggilnya.”

Earl datang membawa sebuah gelas kertas berisi kopi.

Arthur menatapnya lama.

“Aku masih hidup.”

“Kelihatannya begitu.”

Arthur tertawa lemah.

Kemudian wajahnya berubah serius.

“Kau berbohong kepadaku?”

“Tentang apa?”

“Clara. Tentang sungai itu.”

Earl menarik kursi.

“Tidak.”

Arthur memejamkan mata.

“Aku ingin tahu semuanya.”

Earl mengangguk.

Lalu ia menceritakan malam empat tahun sebelumnya.

Clara, istri Arthur, memang pernah dirawat saat badai es memutus akses jalan. Kondisinya memburuk cepat.

Earl sedang membersihkan kamar sebelah ketika mendengar Clara menangis.

Ia masuk.

Clara mengatakan bahwa ia takut meninggal sebelum Arthur tiba.

Earl duduk bersamanya.

Mereka berbicara tentang pernikahan selama lima puluh dua tahun, tentang anak mereka yang meninggal ketika masih bayi, tentang bengkel kecil yang dibangun Arthur dari nol, dan tentang sungai tempat mereka pertama kali berciuman.

Sebelum kondisinya memburuk, Clara menggenggam tangan Earl.

“Kalau aku pergi sebelum Arthur sampai, jangan biarkan dia berpikir aku takut pada akhirnya.”

Earl berjanji.

Arthur menangis mendengarnya.

Namun kemudian ia bertanya sesuatu yang membuat Chloe, yang berdiri di dekat pintu, membeku.

“Kenapa kau melakukan semua ini, Earl?”

Earl diam cukup lama.

Akhirnya ia memandang cincin kawinnya.

“Karena ketika Martha meninggal, seseorang melakukannya untuk saya.”

Chloe menatapnya.

Selama ini ia mengira Earl berada di samping istrinya ketika Martha meninggal.

Ternyata ceritanya tidak sesederhana itu.

Enam bulan sebelumnya, ketika Martha dirawat karena gagal jantung, Earl masih bekerja.

Martha meminta suaminya pulang sebentar untuk mandi dan tidur.

“Besok pagi bawakan aku sisir yang bagus,” katanya. “Aku terlihat seperti habis bertengkar dengan angin.”

Itu percakapan terakhir mereka.

Dua jam setelah Earl pulang, kondisi Martha tiba-tiba memburuk.

Ketika telepon rumah sakit datang, Earl mengemudi secepat mungkin.

Ia terlambat sebelas menit.

Martha sudah meninggal.

Tetapi ia tidak sendirian.

Seorang perawat muda yang bahkan tidak mengenal keluarga Benton tetap berada di samping Martha setelah sifnya berakhir.

Perawat itu menggenggam tangannya hingga monitor berhenti.

“Namanya Rebecca,” kata Earl. “Saya tidak pernah lupa.”

Arthur mengusap matanya.

“Jadi sejak itu kau melakukan hal yang sama untuk orang lain?”

Earl tersenyum.

“Jauh sebelum itu juga. Tapi setelah Martha pergi, saya jadi lebih paham betapa berharganya satu tangan ketika tidak ada keluarga yang bisa datang.”

Chloe keluar dari kamar sebelum mereka melihat matanya mulai basah.

Beberapa minggu kemudian, rumah sakit menjadi jauh lebih sibuk.

Musim flu datang lebih awal. Ruang rawat penuh. Staf kekurangan tenaga.

Pada suatu malam, Chloe menemukan Earl duduk di Kamar 306 bersama seorang pemuda bernama Dimas Pratama, mahasiswa Indonesia yang sedang mengikuti program pertukaran dan mengalami komplikasi jantung saat mengunjungi kerabatnya di Amerika.

Dimas hanya berusia dua puluh dua tahun.

Keluarganya berada ribuan kilometer jauhnya.

Ia terus menatap layar ponselnya.

“Jam berapa di Jakarta?” tanya Earl.

“Siang.”

“Sudah menelepon ibumu?”

Dimas menggeleng.

“Kalau saya bilang saya masuk rumah sakit, Ibu pasti panik. Dia tidak bisa datang ke sini.”

Earl duduk di sampingnya.

“Kadang orang tua lebih takut tidak tahu apa-apa daripada tahu anaknya sedang sakit.”

Dimas tersenyum pahit.

“Bapak punya anak?”

Pertanyaan itu membuat Earl terdiam.

“Satu.”

“Di mana?”

“Sudah lama kami tidak bicara.”

Chloe yang sedang mengganti infus berhenti sesaat.

Itu bagian lain dari kehidupan Earl yang tidak pernah ia ketahui.

Putra tunggal Earl, Michael, pindah ke Ohio dua belas tahun lalu setelah bertengkar hebat dengan ayahnya.

Martha terus mencoba mendamaikan mereka.

Tidak pernah berhasil.

Ketika Martha meninggal, Michael datang ke pemakaman, berdiri jauh dari ayahnya, lalu pulang tanpa mengatakan apa pun.

Malam itu, setelah mendengar cerita Earl, Dimas akhirnya menelepon ibunya.

Ia menangis hampir sepanjang percakapan.

Tiga hari kemudian, sebelum keluar dari rumah sakit, Dimas memberikan secarik kertas kepada Earl.

“Apa ini?”

“Nomor telepon anak Bapak.”

Earl membeku.

Chloe menatap Dimas.

Pemuda itu tersenyum.

“Saya mencarinya di internet. Maaf kalau lancang.”

Earl menatap nomor itu lama.

“Aku tidak tahu harus bilang apa.”

Dimas mengangkat bahu.

“Waktu saya menelepon ibu, saya juga tidak tahu mau bilang apa. Jadi saya cuma bilang, ‘Bu, saya kangen.’ Ternyata itu cukup.”

Earl memasukkan kertas itu ke saku.

Namun selama berminggu-minggu, ia tidak pernah menelepon.

Sampai suatu malam Chloe menemukan Earl terduduk di ruang penyimpanan dengan tangan menekan dada.

Wajahnya pucat.

Ember di sampingnya terguling.

“Earl!”

Chloe berlari.

Kali ini bukan Earl yang menemani pasien.

Earl menjadi pasien.

Hasil pemeriksaan menunjukkan penyumbatan berat pada salah satu pembuluh darah jantungnya.

Ia membutuhkan tindakan segera.

Ketika dibawa menuju ruang prosedur, Earl terlihat tenang.

Terlalu tenang.

Chloe berjalan di samping ranjangnya.

“Takut?”

Earl tertawa kecil.

“Sedikit.”

“Pembohong.”

Earl memandangnya.

Kemudian untuk pertama kalinya sejak Chloe mengenalnya, ketakutan terlihat jelas di mata lelaki tua itu.

“Saya tidak mau pergi dengan urusan yang belum selesai.”

Chloe langsung mengerti.

Ia merogoh saku seragam Earl dan menemukan secarik kertas yang sudah kusut.

Nomor Michael.

“Telepon dia.”

“Sudah terlalu lama.”

“Earl.”

Lelaki itu menatapnya.

Chloe menggenggam tangannya.

“Kadang orang lebih takut tidak tahu apa-apa daripada mendengar sesuatu yang menyakitkan. Ingat?”

Earl tersenyum lemah.

“Itu kata-kata saya.”

“Sekarang dengarkan sendiri.”

Earl akhirnya menelepon.

Sambungan tersambung setelah empat dering.

“Halo?”

Earl tidak bisa bicara.

Suara di seberang kembali terdengar.

“Halo?”

Air mata mengalir di pipi Earl.

“Michael.”

Hening.

Lalu suara laki-laki itu berubah.

“Ayah?”

Earl menutup mata.

“Saya kangen.”

Hanya dua kata.

Namun seperti yang dikatakan Dimas, ternyata itu cukup.

Empat puluh menit kemudian, Earl dibawa masuk.

Kali ini Chloe yang berjalan di samping ranjangnya sampai pintu tertutup.

Tindakannya berhasil.

Ketika Earl membuka mata beberapa jam kemudian, Chloe sedang berdiri di sampingnya.

Namun ia bukan satu-satunya orang di sana.

Seorang lelaki berusia sekitar empat puluh tahun berdiri di dekat jendela.

Wajahnya sangat mirip Earl.

Earl menatapnya tanpa berkedip.

“Michael?”

Lelaki itu mendekat.

“Aku menyetir secepat mungkin.”

Earl mencoba duduk.

Michael segera memegang bahunya.

“Jangan. Kata perawat Ayah harus istirahat.”

Earl menangis.

Michael juga.

Tidak ada pidato panjang.

Tidak ada permintaan maaf sempurna yang bisa menghapus dua belas tahun.

Michael hanya menarik kursi ke samping tempat tidur dan menggenggam tangan ayahnya.

Persis seperti yang dilakukan Earl kepada begitu banyak orang.

Beberapa bulan kemudian, Earl kembali bekerja, tetapi hanya tiga malam seminggu.

Di dekat meja perawat lantai tiga kini terdapat sebuah papan kecil.

Bukan aturan medis.

Bukan jadwal obat.

Tulisan itu dibuat atas usulan Chloe.

Jika seorang pasien tidak memiliki keluarga yang bisa menemani, staf yang sedang senggang boleh duduk bersamanya beberapa menit.

Mereka menyebutnya Lima Menit Earl.

Suatu malam, seorang perawat baru melihat Earl duduk terlalu lama bersama pasien dan berbisik kepada Chloe,

“Bukankah dia seharusnya membersihkan lantai?”

Chloe menatap lelaki tua itu.

Earl sedang mendengarkan seorang pasien bercerita tentang cucunya.

Di sampingnya, ember dan pel menunggu.

Chloe tersenyum.

“Biarkan saja.”

“Tapi pekerjaannya?”

Chloe memandang lantai yang mengilap, lalu kembali menatap Earl.

“Dia sedang mengerjakannya.”

Perawat baru itu tampak bingung.

Chloe tidak menjelaskan.

Karena akhirnya ia memahami ucapan Brenda malam itu.

Earl memang membersihkan lebih dari sekadar lantai.

Ada ketakutan yang tidak bisa dibersihkan dengan disinfektan.

Ada kesepian yang tidak bisa disembuhkan dengan obat.

Dan terkadang, di sebuah rumah sakit pada pukul tiga pagi, hal paling berharga yang bisa diberikan seseorang kepada manusia lain bukanlah keahlian, jabatan, atau jawaban.

Melainkan sebuah kursi kosong, beberapa menit waktu, dan satu tangan yang bersedia tetap menggenggam ketika semua orang lain harus pergi.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang