
Maya baru selesai memotret surat itu ketika terdengar ketukan dari pagar.
Bu Ratna berdiri di luar, kali ini sendirian.
“Tadi ada kertas tercecer di halamanmu?” tanyanya.
Maya menyelipkan dokumen ke dalam rumah sebelum mendekat.
“Kertas apa, Bu?”
“Arsip lama. Tidak penting. Kalau ketemu, berikan kepada saya.”
“Kalau arsip lingkungan, sebaiknya diserahkan ke Pak RT.”
Senyum Bu Ratna menghilang.
“Jangan mengurus sesuatu yang kamu tidak pahami, Maya. Ibumu dulu juga terlalu jauh ikut campur.”
Kalimat itu membuat Maya menatapnya lebih tajam.
“Justru karena ada nama Ibu saya, saya perlu memahami.”
Bu Ratna pergi tanpa berpamitan.
Maya segera menghubungi nomor tak dikenal tadi. Panggilannya dijawab seorang lelaki dengan napas berat.
“Saya Pak Seno. Dulu sekretaris RT.”
Nama itu dikenalnya. Pak Seno pindah ke rumah anaknya setelah istrinya meninggal.
“Kenapa Bapak menyelipkan surat di halaman saya?”
“Itu salinan milik saya. Pagi tadi saya datang untuk mengantarkannya kepada Endah. Saya melihat kalian bertengkar dan takut suratnya direbut.”
“Halaman apa yang dihilangkan?”
“Catatan tentang uang pembangunan akses.”
Maya duduk perlahan.
Sebelas tahun lalu, warga mengumpulkan dana untuk memperbaiki jalur belakang dan membuat landaian menuju jalan utama. Bu Ratna, yang menjadi bendahara, bertugas membayar tukang.
Namun, sebagian jalur tidak pernah dibangun.
“Laporan pengeluarannya mencantumkan pekerjaan selesai,” kata Pak Seno. “Ibumu menemukan kuitansi yang nilainya tidak sesuai dengan keterangan tukang.”
“Lalu beliau melapor?”
“Beliau meminta pemeriksaan dalam rapat. Sesudah itu, beliau justru dituduh memecah warga.”
Maya memandangi pot bunga peninggalan ibunya.
Ia ingat suatu malam ketika beberapa tetangga datang berdebat. Ibunya menyuruhnya belajar di kamar. Esok harinya, dua bangku baru dipindahkan ke halaman, dan pagar samping dibuka.
Selama ini Maya mengira ibunya sekadar mengubah tata rumah.
“Ibumu mengizinkan sebagian tanahnya dipakai sementara,” lanjut Pak Seno. “Sampai jalur warga selesai diperbaiki. Kesepakatan itulah yang kamu temukan.”
“Kenapa sebelas tahun tidak selesai?”
Pak Seno terdiam.
“Karena kami semua membiarkannya.”
Sore itu Maya menemui Bu Endah. Ia membawa surat tersebut, tetapi tidak langsung membahas uang.
“Bu, Ibu tahu siapa yang mengirim foto ini?”
Bu Endah mengangguk.
“Saya yang memberikannya kepada Pak Seno.”
“Kenapa tidak cerita langsung?”
Perempuan itu menunduk.
“Dulu saya pernah mencoba membela ibumu. Setelah itu, bantuan untuk memperbaiki atap rumah saya dibatalkan. Saya takut Ardi ikut dipersulit.”
Maya menarik kursi mendekat.
Ardi keluar dari kamar dengan kursi rodanya.
“Saya baru tahu ceritanya minggu lalu,” katanya. “Saya minta Ibu mencari salinan kesepakatan. Saya tidak mau setiap keluar rumah harus merasa sedang merepotkan Mbak Maya.”
“Kamu tidak merepotkan.”
“Saya tahu. Tapi akses saya tidak boleh bergantung pada kebaikan satu orang selamanya.”
Ucapan itu membuat Maya terdiam.
Esok paginya, kendaraan penjemput Ardi datang lebih awal. Jalur samping bersih. Maya berdiri di teras ketika Ardi melintas, lalu melihat dua warga memperhatikan dari ujung gang.
Salah satunya perempuan yang kemarin merekamnya.
Beberapa menit kemudian, video pertengkaran mereka muncul di grup warga.
Potongannya dimulai saat Maya berkata tidak dan berakhir ketika pagar dikunci.
Keterangan di bawahnya menyebut Maya melarang kegiatan sosial di rumahnya.
Jarinya sempat gemetar. Namun, ia tidak membalas dengan kemarahan.
Ia mengunggah foto kesepakatan lama.
“Saya mengizinkan halaman dipakai jika jalur ini tetap kosong. Kemarin syarat itu ditolak. Saya meminta rapat untuk membahas akses warga dan riwayat pembangunannya.”
Grup mendadak ramai.
Bu Ratna menulis bahwa dokumen tersebut sudah kedaluwarsa.
Pak RT yang baru, Pak Fajar, meminta semua pihak membawa arsip ke balai warga.
Rapat diadakan dua hari kemudian.
Maya datang bersama Bu Endah dan Ardi. Pak Seno hadir didampingi anaknya, membawa map yang ujungnya mulai terkelupas.
Bu Ratna duduk di baris depan.
“Ini cuma salah paham soal acara,” katanya. “Tidak perlu membuka urusan lama.”
Pak Fajar meletakkan buku rapat di meja.
“Justru ada halaman yang hilang.”
Bekas sobekannya terlihat jelas di antara dua catatan bertanggal berurutan.
Pak Seno mengeluarkan salinan karbon.
“Saya menyimpan rangkapnya.”
Di sana tercatat keberatan ibu Maya terhadap laporan pembayaran. Ada pula keputusan bahwa bendahara harus menunjukkan bukti penyelesaian pekerjaan.
Bu Ratna merapatkan kedua tangannya.
“Uangnya sudah dipakai untuk kebutuhan lingkungan lain.”
“Kebutuhan apa?” tanya Pak Fajar.
Tidak ada jawaban.
Seorang lelaki tua bangkit dari belakang.
“Saya tukangnya. Waktu itu baru dibayar untuk membersihkan tanah. Pengecoran dibatalkan.”
Maya mengenali Pak Ujang, yang kini berjualan sayur keliling.
Ia meletakkan buku catatan kecil di meja. Jumlah pembayaran di sana jauh lebih rendah daripada laporan bendahara.
Rapat yang semula penuh bisik-bisik mendadak sunyi.
Bu Ratna akhirnya mengaku sebagian dana dipinjam untuk menutup utang usaha suaminya. Ia berniat mengembalikan, tetapi terus menunda. Ketika ibu Maya menuntut penjelasan, ia meminta pengurus lama menyelesaikannya diam-diam.
Pak Fajar tidak menjanjikan penyelesaian malam itu. Arsip dikumpulkan, laporan keuangan akan diperiksa, dan pengurus lama diminta memberikan keterangan.
Namun, satu hal diputuskan segera: akses Ardi harus tetap terbuka, dan pembangunan jalur warga kembali direncanakan.
Sebelum rapat selesai, Ardi mengangkat tangan.
“Saya tidak datang untuk membuat siapa pun malu. Saya cuma ingin bisa berangkat terapi tanpa menunggu meja dipindahkan.”
Tak seorang pun menyela.
Beberapa minggu kemudian, pemeriksaan keuangan masih berjalan. Jalur baru mulai dikerjakan setelah ukuran dan kemiringannya dibahas bersama Ardi serta tukang.
Perempuan yang merekam Maya mengunggah penjelasan utuh dan meminta maaf.
Bu Ratna belum pernah datang ke rumahnya lagi.
Saat membereskan map peninggalan ibu, Maya menemukan kuitansi pembelian semen dengan tanggal sebelas tahun lalu. Di belakangnya terselip surat pendek untuk Bu Endah.
Kalau jalan ini belum selesai, gunakan halaman saya. Jangan merasa berutang. Dulu suamimu yang mengantar Maya ke rumah sakit saat saya tidak punya kendaraan.
Maya membaca kalimat itu berulang kali.
Ia masih ingat lampu-lampu jalan yang berkelebat malam itu, tubuh demamnya dibungkus jaket seorang tetangga. Selama ini ia bahkan tidak tahu siapa yang mengantarnya.
Sore harinya, ia membawa surat itu ke sebelah.
Bu Endah tersenyum sambil menyeka mata.
“Bapak Ardi selalu bilang, waktu itu kamu menggenggam jarinya sampai rumah sakit.”
Maya memandang jalur yang kini sedang diratakan.
Besok, kursi roda Ardi akan melewatinya lagi.
Kali ini, ia tahu ibunya tidak pernah membangun jalan itu sendirian.
