Pertama kali aku melihat Pak Elias berhenti di depan Kamar 214, aku mengira dia sedang menguping sesuatu yang bukan urusannya.
Tiga minggu kemudian, aku baru tahu bahwa setiap malam lelaki tua itu sebenarnya sedang menunggu seseorang yang tidak akan pernah membuka pintu itu lagi.
Saat itu aku berusia enam belas tahun. Nenekku dirawat di Kamar 213 setelah terjatuh di dapur rumahnya di Bandung. Dokter mengatakan kondisinya tidak terlalu serius, tetapi ia harus menjalani beberapa pemeriksaan karena tekanan darahnya sering turun tiba-tiba.
Setiap sore sepulang sekolah, Ibu mengantarkanku ke rumah sakit.
Dan hampir setiap malam, sekitar pukul 21.40, Pak Elias muncul.
Seragam abu-abunya selalu sedikit kusut. Serangkaian kunci tergantung di pinggangnya. Ia membersihkan lorong, mengosongkan tempat sampah, mengganti kantong plastik, lalu mengepel lantai dengan gerakan lambat dan teliti.
Namun Kamar 214 selalu menjadi tempat terakhir.
Sebelum masuk, ia akan berhenti.
Menundukkan kepala.
Lalu menyentuh sesuatu di dalam saku seragamnya.
Aku pernah mengatakan kepada Perawat Carla bahwa tingkahnya menyeramkan.
“Dia tidak akan mengganggu siapa pun,” jawab Carla.

Nada suaranya membuatku malu, tetapi rasa penasaranku belum hilang.
Apalagi penghuni Kamar 214 juga membuatku penasaran.
Namanya Aditya.
Usianya mungkin sekitar dua puluh tahun. Tubuhnya kurus, rambutnya dipotong sangat pendek, dan hampir sepanjang hari ia tidur. Aku hanya beberapa kali melihatnya berjalan menggunakan alat bantu sambil ditemani perawat.
Tidak pernah ada keluarga yang datang.
Tidak ada bunga.
Tidak ada buah.
Tidak ada suara orang tertawa dari kamarnya.
Suatu sore, aku sedang membeli air mineral ketika melihat Aditya duduk sendirian di kursi dekat jendela lorong.
Aku memberanikan diri menyapanya.
“Hai.”
Dia menoleh.
“Kamu dari 213, ya?”
Aku terkejut.
“Kok tahu?”
“Kamu berisik.”
Aku langsung tersinggung.
Dia tersenyum tipis.
“Bercanda.”
Aku duduk dua kursi darinya.
Dari dekat, wajahnya terlihat jauh lebih pucat.
“Kamu sudah lama di sini?”
“Dua bulan.”
“Orang tuamu jarang datang?”
Pertanyaan itu keluar begitu saja.
Senyumnya langsung hilang.
“Sudah tidak ada.”
Aku merasa bodoh.
“Maaf.”
Aditya mengangkat bahu.
“Bapak meninggal waktu aku kecil. Ibu tiga tahun lalu.”
“Lalu kamu tinggal sama siapa?”
“Sendiri.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Beberapa detik kemudian, Aditya menunjuk ke arah Kamar 213.
“Nenekmu beruntung.”
“Kenapa?”
“Ada yang menunggu.”
Kalimat itu terus terngiang di kepalaku bahkan setelah aku kembali ke kamar Nenek.
Malam itu, Pak Elias datang seperti biasa.
Pukul 21.40.
Namun kali ini aku memperhatikannya lebih dekat.
Saat berhenti di depan Kamar 214, tangannya masuk ke saku.
Aku melihat benda yang dikeluarkannya.
Sebuah mobil-mobilan kecil berwarna merah.
Pak Elias menggenggamnya beberapa detik sebelum memasukkannya kembali.
Aku semakin bingung.
Keesokan harinya, kondisi Aditya memburuk.
Aku terbangun dari kursi di samping tempat tidur Nenek karena mendengar suara langkah kaki berlari.
Dua perawat masuk ke Kamar 214.
Kemudian seorang dokter.
Monitor berbunyi cepat.
Aku berdiri di ambang pintu Kamar 213.
Tak lama kemudian Pak Elias muncul dari ujung lorong membawa ember dan pel.
Begitu melihat orang-orang berkerumun di depan Kamar 214, wajahnya berubah.
Ember itu dilepaskannya begitu saja.
Air tumpah ke lantai.
“Elias!”
Carla mencoba menghentikannya, tetapi lelaki tua itu berlari menuju kamar.
Aku belum pernah melihat orang seusianya bergerak secepat itu.
“Dit, Bapak di sini.”
Aku membeku.
Bapak?
Carla segera menutup pintu.
Sekitar dua puluh menit kemudian, Pak Elias keluar.
Matanya merah.
Aku tidak bisa menahan diri.
“Pak.”
Dia berhenti.
“Aditya itu anak Bapak?”
Pak Elias menatapku cukup lama.
Kemudian ia menggeleng.
“Bukan.”
“Lalu kenapa tadi Bapak bilang…”
“Karena dulu dia pernah memanggil saya begitu.”
Dia mengambil embernya dan berjalan pergi.
Aku semakin tidak mengerti.
Dua hari berikutnya Aditya tidak keluar dari kamar.
Aku mulai merasa bersalah karena sebelumnya menganggap Pak Elias aneh.
Akhirnya aku bertanya kepada Carla.
Kali ini Carla menghela napas panjang.
“Kalau mau tahu, tanya langsung kepada Pak Elias.”
Malam itu aku menunggunya di dekat ruang penyimpanan.
“Pak Elias.”
Dia menoleh.
“Saya mau minta maaf.”
“Untuk apa?”
“Saya pernah bilang ke Perawat Carla kalau Bapak menyeramkan.”
Untuk pertama kalinya aku melihat Pak Elias tertawa kecil.
“Memangnya saya kelihatan menyeramkan?”
“Sedikit.”
Dia tertawa lagi.
Kemudian aku bertanya tentang mobil-mobilan merah itu.
Tawanya langsung berhenti.
Pak Elias duduk di bangku lorong.
Tangannya masuk ke saku dan mengeluarkan mobil kecil yang catnya sudah terkelupas.
“Ini punya anak saya.”
Aku ikut duduk.
“Anak Bapak?”
“Namanya Raka.”
Pak Elias menatap mobil itu.
“Kalau masih hidup, umurnya sekarang tiga puluh dua.”
Aku diam.
“Dia meninggal di rumah sakit ini?”
Pak Elias mengangguk.
“Tepat di Kamar 214.”
Dadaku terasa sesak.
Cerita itu ternyata terjadi enam belas tahun lalu.
Saat itu Pak Elias bukan petugas kebersihan.
Ia memiliki bengkel kecil di Cimahi. Istrinya sudah meninggal lebih dulu karena kanker, sehingga Raka menjadi satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Ketika berusia enam belas tahun, Raka mengalami kecelakaan saat pulang sekolah.
Pak Elias sedang bekerja ketika rumah sakit menelepon.
Ia berangkat secepat mungkin.
Namun jalanan macet akibat hujan deras.
Ketika akhirnya tiba, semuanya sudah terlambat.
“Saya tidak sempat bilang kalau saya ada di sana,” katanya.
Suaranya bergetar.
“Saya tidak sempat pegang tangannya.”
Mobil merah itu adalah mainan kesayangan Raka ketika masih kecil.
Setelah kematian putranya, Pak Elias kehilangan bengkel karena utang biaya pengobatan istrinya. Beberapa tahun kemudian, ketika rumah sakit membuka lowongan petugas kebersihan, ia melamar.
“Bapak sengaja kerja di sini karena Kamar 214?”
Dia mengangguk.
“Awalnya iya.”
“Kenapa?”
Pak Elias tersenyum pahit.
“Karena saya bodoh.”
Aku ingin menyangkal, tetapi dia melanjutkan.
“Saya pikir kalau saya terus berada dekat kamar itu, rasa bersalah saya akan hilang.”
“Tapi tidak?”
“Tidak pernah.”
Aku memandang pintu 214.
“Lalu Aditya?”
Pak Elias terdiam.
“Pertama kali dia masuk dua bulan lalu, saya hampir jatuh waktu melihat wajahnya.”
“Mirip Raka?”
“Sangat.”
Bukan hanya wajah.
Usia Aditya juga sama dengan usia Raka ketika meninggal.
Enam belas tahun.
Aku tertegun.
Aku selama ini mengira Aditya berusia sekitar dua puluh.
“Dia sakit apa?”
“Kelainan jantung bawaan.”
Pak Elias menunduk.
“Suatu malam saya membersihkan kamarnya. Dia sedang menangis. Katanya takut mati sendirian.”
Pak Elias menelan ludah.
“Saya duduk di sampingnya. Tidak tahu harus bilang apa. Jadi saya cuma bilang, kalau malam dia takut, panggil saja saya.”
“Terus?”
“Dia bercanda. Katanya, kalau begitu saya boleh panggil Bapak?”
Aku menahan napas.
Pak Elias tersenyum.
“Saya bilang boleh.”
Sejak malam itu, Pak Elias selalu membersihkan Kamar 214 paling akhir.
Kadang mereka bicara tentang sepak bola.
Kadang tentang makanan.
Kadang mereka hanya diam.
Pak Elias berhenti di depan pintu setiap malam bukan karena menguping.
Ia hanya memastikan Aditya masih terjaga sebelum masuk.
Tiga hari kemudian, Nenek diizinkan pulang.
Seharusnya aku senang.
Namun sebelum pergi, aku menyeberang ke Kamar 214.
Aditya sedang duduk di tempat tidur.
“Kamu pulang?” tanyanya.
“Nenekku yang pulang.”
“Sama saja.”
Aku tertawa.
Kemudian aku melihat sebuah mobil merah di meja samping tempat tidurnya.
“Pak Elias kasih?”
Aditya mengangguk.
“Katanya pinjam.”
Aku tahu Pak Elias tidak pernah berniat mengambilnya kembali.
Aku meninggalkan nomor ponselku kepada Aditya.
“Kalau bosan, chat.”
Dia mengangkat alis.
“Kamu kasihan sama aku?”
“Nggak.”
“Terus?”
“Karena kamu berisik.”
Dia tertawa.
Itulah terakhir kali aku melihatnya dalam keadaan sadar.
Empat hari kemudian, Carla menghubungi Ibu.
Aditya mengalami gagal jantung.
Aku memaksa Ibu mengantarkanku ke rumah sakit.
Ketika tiba, lorong depan Kamar 214 penuh orang.
Aku melihat Pak Elias duduk di lantai dekat dinding.
Untuk pertama kalinya, ia tidak mengenakan seragam.
Ia memakai kemeja putih sederhana.
Tangannya gemetar.
“Adit sudah pergi,” katanya.
Aku duduk di sebelahnya.
Tidak tahu harus berkata apa.
Ternyata sebelum meninggal, Aditya meminta seorang perawat mengambil amplop dari lacinya.
Di bagian depan tertulis nama Pak Elias.
Lelaki tua itu membuka surat tersebut dengan tangan gemetar.
Tulisan Aditya tidak rapi.
Pak Elias membacanya pelan.
“Pak, saya tahu saya bukan Raka. Dan Bapak juga tahu saya bukan anak Bapak. Tapi dua bulan terakhir adalah pertama kalinya sejak Ibu meninggal saya merasa punya seseorang yang akan datang kalau saya panggil. Jadi kalau suatu hari saya tidak ada, jangan berdiri lagi di depan pintu ini untuk menunggu saya. Pulanglah.”
Pak Elias berhenti membaca.
Air matanya jatuh ke kertas.
Masih ada satu kalimat terakhir.
“Raka mungkin tidak sempat mengatakan ini, jadi biar saya yang bilang. Bapak sudah datang. Bapak tidak terlambat.”
Pak Elias menutup wajahnya.
Aku belum pernah melihat orang dewasa menangis seperti itu.
Bukan keras.
Bukan dramatis.
Hanya seperti seseorang yang telah menahan napas selama enam belas tahun dan akhirnya diizinkan bernapas kembali.
Sebulan kemudian, aku datang ke rumah sakit bersama Nenek untuk kontrol.
Secara refleks aku melihat jam ketika menunjukkan pukul 21.40.
Aku pergi ke lantai tempat Kamar 214 berada.
Pintu kamar itu terbuka.
Pasien baru sedang tidur di dalamnya.
Tetapi Pak Elias tidak ada.
Aku bertanya kepada Carla.
“Pak Elias mana?”
Carla tersenyum.
“Dia berhenti kerja minggu lalu.”
Aku terdiam.
“Kenapa?”
Carla membuka laci meja perawat dan memberikan sebuah foto kepadaku.
Di foto itu, Pak Elias berdiri di depan bengkel kecil. Papan sederhana tergantung di atas pintunya.
Bengkel Raka.
“Dia buka bengkel lagi,” kata Carla.
Aku tersenyum.
“Mobil merahnya?”
Carla menggeleng.
“Dikuburkan bersama Aditya.”
Bertahun-tahun kemudian, setelah aku cukup dewasa untuk memahami betapa mudahnya kita menilai kehidupan seseorang hanya dari beberapa detik yang kita lihat, aku masih sering mengingat lorong itu.
Aku ingat pernah menganggap seorang lelaki tua menyeramkan hanya karena ia berdiri terlalu lama di depan sebuah pintu.
Padahal aku tidak tahu bahwa di balik pintu itu terdapat dua anak yang terpisah enam belas tahun, dan seorang ayah yang selama bertahun-tahun menghukum dirinya sendiri karena datang beberapa menit terlambat.
Aku juga akhirnya memahami sesuatu yang dulu tidak kupahami ketika Perawat Carla menatapku dengan kecewa.
Kita sering melihat orang dari bagian hidup mereka yang paling mudah terlihat.
Seragamnya.
Pekerjaannya.
Kebiasaannya.
Kesalahannya.
Namun kita hampir tidak pernah melihat kehilangan yang mereka bawa diam-diam di dalam saku.
Seperti sebuah mobil kecil berwarna merah.
Dan kadang-kadang, seseorang tidak membutuhkan kita untuk menyelamatkan hidupnya.
Ia hanya membutuhkan kepastian bahwa ketika ia memanggil dalam ketakutan, akan ada seseorang yang datang.
Pak Elias mengira selama enam belas tahun ia terlambat menemui putranya.
Padahal mungkin hidup hanya membutuhkan waktu selama itu untuk mempertemukannya dengan seorang anak lain yang juga sedang menunggu seorang ayah.
