Ketukan kedua terdengar sebelum siapa pun sempat bergerak.
Kali ini lebih jelas.
Tok.
Suara itu berasal dari dalam peti.
Ibu Kartini merasa seluruh darah di tubuhnya mengalir turun ke telapak kaki.
“Buka petinya sekarang!”

Teriakannya memecah keheningan pemakaman.
Baskoro langsung menangkap lengan ibunya.
“Ibu sudah kehilangan akal. Siti sudah meninggal.”
Kartini menepis tangan putranya.
“Kalau dia sudah meninggal, kenapa kau takut petinya dibuka?”
Wajah Baskoro berubah.
Hanya sesaat, tetapi cukup bagi Kartini untuk melihatnya.
Ketakutan.
Bukan kesedihan seorang suami yang baru kehilangan istri dan anaknya.
Ketakutan seseorang yang rahasianya hampir terbongkar.
Pak Darsa, mandor perkebunan yang telah bekerja untuk keluarga Adiningrat lebih dari tiga puluh tahun, berlari mengambil linggis dari gudang kecil dekat pemakaman.
Baskoro mencoba menghalanginya.
“Siapa pun yang membuka peti itu akan saya pecat!”
Tak seorang pun bergerak.
Kemudian Kartini berdiri di hadapan putranya.
“Perkebunan ini masih atas namaku.”
Baskoro terdiam.
“Kalau ada yang dipecat karena membantu membuka peti Siti, kau yang akan meninggalkan rumah ini lebih dulu.”
Pak Darsa memasukkan ujung linggis ke bawah penutup peti.
Baut pertama terlepas.
Kemudian baut kedua.
Baskoro mundur perlahan.
Baut ketiga.
Tangannya mulai gemetar.
Ketika baut terakhir jatuh ke tanah, Baskoro tiba-tiba berbalik hendak pergi.
“Darto, tahan dia.”
Dua pekerja segera berdiri menghalangi jalannya.
“Ibu tidak tahu apa yang Ibu lakukan,” desis Baskoro.
Kartini tidak menjawab.
Penutup peti diangkat.
Beberapa pelayat langsung menutup mulut.
Seorang perempuan menjerit.
Di dalam peti memang ada Siti.
Namun perempuan itu tidak mengenakan kain kafan sebagaimana yang dibayangkan semua orang. Tubuhnya terbaring di antara beberapa karung besar berisi tanah basah dan batu yang sengaja dimasukkan untuk membuat peti sangat berat.
Dan tangan Siti bergerak.
Sangat lemah.
Jarinya menggores bagian dalam peti.
“Siti!”
Kartini hampir jatuh saat meraih menantunya.
Kelopak mata Siti terbuka sedikit.
Bibirnya pucat.
Napasnya tipis, tetapi masih ada.
“Dia hidup!” teriak seseorang.
Kepanikan langsung pecah.
Kartini menyentuh pipi Siti.
“Nak, dengar Ibu. Kamu aman.”
Bibir Siti bergerak.
Hanya satu kata yang berhasil keluar.
“Bayiku…”
Kartini membeku.
Ia menoleh ke arah perut Siti.
Perut yang kemarin masih besar kini telah mengempis.
“Di mana bayinya?”
Semua mata beralih kepada Baskoro.
Putranya tidak menjawab.
Kartini bangkit.
“Di mana cucuku?”
“Siti kehilangan bayinya di klinik.”
“Kalau begitu jasadnya di mana?”
Baskoro menelan ludah.
“Sudah diurus.”
“Diurus siapa?”
Tidak ada jawaban.
Kartini menatap putranya seolah baru pertama kali melihat lelaki yang telah dilahirkannya sendiri.
“Telepon polisi,” katanya kepada Pak Darsa.
Baskoro langsung memberontak.
“Jangan!”
Itulah kesalahan terbesarnya.
Karena satu kata itu menghapus keraguan semua orang.
Siti segera dibawa ke rumah sakit kabupaten menggunakan mobil perkebunan. Dokter yang memeriksanya mengatakan kondisinya kritis akibat obat penenang dalam dosis tinggi dan kehilangan banyak cairan, tetapi ia masih hidup.
Yang lebih mengejutkan, dokter memastikan Siti telah melahirkan beberapa jam sebelumnya.
Bayinya lahir hidup.
Kartini duduk di lorong rumah sakit dengan kedua tangan gemetar.
Baskoro telah dibawa polisi untuk dimintai keterangan, tetapi terus bersikeras bahwa istrinya meninggal di klinik dan ia hanya mengikuti arahan dokter.
Menjelang malam, Siti akhirnya sadar.
Kartini masuk sendirian.
Begitu melihat ibu mertuanya, air mata Siti mengalir.
“Maaf, Bu.”
Kartini menggenggam tangannya.
“Jangan minta maaf. Ceritakan semuanya.”
Siti menarik napas panjang.
Tiga minggu sebelumnya, ia tidak sengaja menemukan dokumen di ruang kerja Baskoro.
Awalnya ia hanya mencari kartu pemeriksaan kehamilan yang hilang.
Namun di dalam laci terkunci yang kuncinya tertinggal di meja, Siti menemukan surat perjanjian penjualan sebagian perkebunan kepada sebuah perusahaan properti.
Tanda tangan Kartini tercantum di bawahnya.
Padahal Kartini tidak pernah berniat menjual tanah warisan keluarga.
Siti memotret dokumen tersebut.
Ketika memeriksa lebih jauh, ia menemukan transfer uang dalam jumlah besar ke rekening sebuah perusahaan milik seseorang bernama Renata Wijaya.
Nama itu tidak asing.
Renata adalah mantan kekasih Baskoro.
“Aku bertanya kepada Mas Baskoro,” bisik Siti.
“Dia mengaku?”
Siti menggeleng.
“Dia marah. Dia bilang aku perempuan miskin yang tidak berhak ikut campur urusan keluarga Adiningrat.”
Dua hari kemudian, Baskoro berubah.
Ia menjadi sangat perhatian.
Membelikan perlengkapan bayi.
Mengantar Siti memeriksakan kandungan.
Meminta maaf.
Siti sempat percaya suaminya menyesal.
Sampai malam sebelum pemakaman.
Baskoro mengatakan akan membawa Siti ke sebuah klinik karena dokter kandungannya menduga persalinan akan segera dimulai.
Namun klinik itu hampir kosong.
Siti diberi suntikan.
Setelah itu ingatannya kabur.
“Aku masih sempat mendengar bayi menangis,” katanya sambil terisak.
Kartini menahan napas.
“Aku dengar anakku menangis, Bu. Dia hidup.”
Kemudian Siti mendengar suara Baskoro berbicara dengan seseorang.
“Pastikan perempuan itu tidak bangun sebelum dikuburkan.”
Kartini menutup mulut.
Siti mulai menangis lebih keras.
“Mas Baskoro bilang kalau aku mati, semua orang akan menganggapnya komplikasi persalinan. Setelah itu dia akan menikahi Renata.”
“Tapi kenapa kamu dimasukkan bersama batu dan tanah?”
“Aku tidak tahu.”
Jawabannya ditemukan polisi beberapa jam kemudian.
Klinik tempat Siti dibawa ternyata telah tutup resmi enam bulan sebelumnya.
Bangunan itu diam-diam masih digunakan oleh seorang mantan dokter bernama Arif Nugraha untuk melakukan praktik ilegal.
Ketika polisi menggerebek tempat tersebut, Arif sudah melarikan diri.
Namun kamera pengawas belum sempat dihancurkan seluruhnya.
Rekaman memperlihatkan Baskoro membawa Siti yang tidak sadarkan diri keluar dari ruang bersalin.
Dalam rekaman lain, seorang perawat menyerahkan bayi laki-laki kepada perempuan berjaket hitam.
Perempuan itu adalah Renata.
Kartini hampir tidak mampu berdiri ketika polisi menunjukkan gambar tersebut.
“Jadi cucu saya masih hidup?”
“Kemungkinan besar.”
Polisi kemudian menemukan pesan antara Baskoro dan Renata.
Rencananya jauh lebih kejam daripada yang dibayangkan siapa pun.
Baskoro ingin menjual perkebunan setelah Kartini meninggal.
Namun selama bertahun-tahun Kartini menolak menandatangani dokumen apa pun.
Baskoro akhirnya memalsukan tanda tangannya.
Siti mengetahui pemalsuan itu.
Karena itulah Siti harus disingkirkan.
Sedangkan bayi mereka diperlukan untuk rencana berikutnya.
Baskoro dan Renata berniat membesarkan bayi tersebut sebagai anak mereka setelah menikah, sehingga Baskoro tetap terlihat sebagai ayah tunggal yang malang di mata keluarga dan masyarakat.
Lalu mengapa petinya dipenuhi batu?
Jawabannya sederhana sekaligus mengerikan.
Arif awalnya menyuntikkan obat dengan dosis yang menurut perhitungannya akan membuat Siti tidak bernapas saat diperiksa secara sederhana.
Baskoro tidak ingin rumah sakit resmi melakukan autopsi.
Karena itu pemakaman harus dilakukan secepat mungkin.
Batu dan tanah dimasukkan untuk memastikan bahwa jika Siti terbangun sebelum dikubur, ia tidak akan mampu menggerakkan peti atau membuat suara yang cukup keras.
Namun mereka salah menghitung satu hal.
Beratnya menjadi terlalu berlebihan.
Keserakahan mereka sendiri membuat peti itu tidak bisa dipindahkan.
Tiga hari pencarian dilakukan.
Renata akhirnya ditemukan di sebuah vila sewaan di kawasan Lembang.
Ketika polisi mendobrak pintunya, seorang bayi laki-laki ditemukan sedang tidur di kamar lantai dua.
Kartini menerima telepon itu pukul empat pagi.
Ia berlari menuju kamar Siti.
“Cucumu ditemukan.”
Siti menangis sebelum Kartini selesai berbicara.
“Dia hidup?”
“Hidup.”
Beberapa jam kemudian, bayi itu dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan.
Ketika perawat meletakkannya di sisi Siti, perempuan itu menatap wajah kecil anaknya lama sekali.
Tangannya gemetar saat menyentuh pipinya.
“Raka,” bisiknya.
Kartini berdiri di belakangnya sambil menangis.
Ia telah kehilangan putranya hari itu.
Bukan karena Baskoro ditangkap.
Melainkan karena ia akhirnya menerima kenyataan bahwa anak yang selama ini selalu ia lindungi telah tumbuh menjadi seseorang yang tidak lagi ia kenali.
Proses hukum berjalan berbulan-bulan.
Arif akhirnya tertangkap di Surabaya.
Renata mengaku bekerja sama karena Baskoro menjanjikan pernikahan dan kepemilikan sebagian perkebunan.
Baskoro sendiri terus menyangkal hingga jaksa memperlihatkan rekaman, pesan, dokumen palsu, dan kesaksian para pekerja.
Namun kejutan terakhir datang dari Siti.
Saat sidang hampir selesai, pengacaranya menyerahkan sebuah rekaman suara.
Siti ternyata telah curiga sejak menemukan dokumen penjualan tanah.
Malam ketika Baskoro mengancamnya pertama kali, ia merekam percakapan mereka melalui ponselnya.
Suara Baskoro terdengar jelas di ruang sidang.
“Kalau harus memilih antara kamu dan semua yang menjadi milikku, jangan pernah berharap aku memilih kamu.”
Ruangan hening.
Siti menatap lelaki yang pernah ia cintai.
Tidak ada kebencian di wajahnya.
Hanya kekecewaan.
Baskoro akhirnya menundukkan kepala.
Setahun kemudian, perkebunan Adiningrat tidak dijual.
Kartini justru mengubah struktur kepemilikannya.
Sebagian keuntungan perkebunan dialokasikan untuk dana pendidikan anak-anak pekerja, dan pengelolaannya diserahkan kepada sebuah yayasan independen.
Siti memilih tidak kembali ke rumah utama.
Ia tinggal bersama Raka di sebuah rumah sederhana di tepi perkebunan sambil mengelola koperasi para pekerja.
Suatu sore, ketika Raka mulai belajar berjalan, Kartini datang membawa sebuah kotak kayu kecil.
“Apa ini, Bu?”
“Surat warisan.”
Siti langsung menggeleng.
“Aku tidak membutuhkan harta keluarga Adiningrat.”
Kartini tersenyum.
“Ini bukan untukmu.”
Ia memandang Raka yang sedang tertawa mengejar kupu-kupu.
“Ini untuk dia. Tapi bukan perkebunan.”
Siti membuka kotak itu.
Di dalamnya terdapat sertifikat sebuah lahan kecil dan surat tulisan tangan Kartini.
Tanah tersebut akan digunakan untuk membangun klinik bersalin gratis bagi keluarga pekerja perkebunan.
Kartini menamainya Klinik Siti.
Air mata memenuhi mata Siti.
“Kenapa memakai namaku?”
Kartini memandang hamparan teh yang diterpa cahaya senja.
“Karena dulu keluarga ini terlalu sibuk menjaga nama besar sampai lupa menjaga manusia.”
Ia menggenggam tangan menantunya.
“Mulai sekarang, biarkan nama keluarga kita dikenang bukan karena kekayaannya, tetapi karena nyawa yang berhasil diselamatkan.”
Dari kejauhan terdengar tawa Raka.
Siti memandang anaknya, lalu langit yang mulai berwarna jingga.
Ia teringat peti gelap itu.
Empat baut baja.
Tumpukan batu.
Dan ketukan lemah yang hampir tidak didengar siapa pun.
Bertahun-tahun kemudian, penduduk desa masih menceritakan hari ketika delapan pria dewasa tidak mampu mengangkat sebuah peti jenazah.
Sebagian menyebutnya keajaiban.
Sebagian mengatakan bumi memang menolak menerima seseorang yang belum waktunya pergi.
Namun Siti tidak pernah mempercayai cerita mistis itu.
Baginya, peti tersebut menjadi terlalu berat karena orang-orang yang ingin menguburnya hidup-hidup memasukkan terlalu banyak batu untuk menutupi kejahatan mereka sendiri.
Dan justru karena keserakahan itulah ia selamat.
Terkadang, kejahatan tidak terbongkar karena seseorang datang sebagai pahlawan.
Terkadang, kejahatan menghancurkan dirinya sendiri karena terlalu banyak kebohongan yang harus dibawa.
Dan pada hari itu, peti Siti bukan terlalu berat karena kutukan.
Peti itu terlalu berat karena seorang lelaki mencoba mengubur seluruh dosanya bersama seorang perempuan yang masih hidup.
