SAYA PURA-PURA BUTA SETELAH KECELAKAAN. SUAMI SAYA MALAH MEMBAWA SELINGKUHANNYA KE RUMAH UNTUK MENGURAS SELURUH SAHAM SAYA, TANPA TAHU MATA SAYA SUDAH SEMBUH!

Nama yang muncul di layar ponsel itu membuat napas saya tertahan.

Dimas Pradana.

Adik kandung saya sendiri.

Orang yang selama bertahun-tahun saya biayai sekolahnya, saya masukkan ke perusahaan, dan saya percaya untuk memegang sebagian dokumen paling penting milik keluarga.

Saya membaca pesan dari Maya, mantan asisten pribadi saya, sekali lagi.

Dimas adalah saksi dalam dokumen penjaminan saham. Tanda tangannya tercantum sebagai pihak yang menyatakan Mbak Kirana menandatangani berkas itu secara sadar.

Tangan saya terasa dingin.

Bukan karena takut.

Melainkan karena untuk pertama kalinya, saya menyadari bahwa pengkhianatan Arya ternyata jauh lebih dalam daripada yang saya bayangkan.

Saya mengetik cepat.

Jangan hubungi Dimas. Jangan beri tahu siapa pun kalau kita sudah tahu. Besok pagi datang ke kantor pusat, tapi jangan masuk lewat lobi utama.

Maya membalas singkat.

Baik, Mbak.

Saya mematikan layar ponsel dan kembali memasangnya di bawah bantal tepat ketika terdengar bunyi gagang pintu ditekan.

Arya masuk.

Saya buru-buru menutup mata.

Langkah kakinya mendekati ranjang.

Dia duduk di tepi tempat tidur dan mengelus rambut saya seolah-olah masih menjadi suami paling penyayang di dunia.

“Kirana?”

Saya tidak menjawab.

Dia menunggu beberapa detik.

Kemudian saya merasakan jemarinya bergerak ke arah meja samping ranjang.

Suara laci dibuka.

Dia sedang mencari sesuatu.

Saya menahan napas.

Untungnya, ponsel rahasia itu berada di bawah sisi bantal yang saya tiduri.

Setelah beberapa saat, Arya berdiri.

Sebelum keluar, dia berbisik pelan.

“Besok semuanya selesai.”

Pintu tertutup.

Saya membuka mata.

“Benar,” gumam saya dalam hati.

“Besok semuanya selesai.”

Hanya saja bukan seperti yang dia bayangkan.

Pagi berikutnya, pukul delapan lewat tiga puluh menit, sebuah mobil hitam membawa kami menuju gedung kantor pusat perusahaan di kawasan Sudirman.

Saya duduk di kursi belakang bersama Arya.

Perban masih menutupi mata saya.

Sheila duduk di depan.

Sepanjang perjalanan, mereka beberapa kali berbicara menggunakan pesan di ponsel karena mengira saya tidak bisa melihat.

Saya mengintip dari celah kecil perban.

Sheila mengetik.

Setelah rapat, kita langsung ke bank?

Arya membalas.

Iya. Setelah keputusan wali sah disetujui, saham Kirana bisa dipindahkan ke holding baru.

Sheila tersenyum kecil.

Tangannya bergerak ke perut yang masih tampak rata.

Saya memalingkan wajah ke jendela.

Ada sesuatu yang terasa sakit di dada saya.

Bukan karena kehilangan Arya.

Perasaan itu sudah mati sejak saya melihatnya mencium kening Sheila di taman belakang rumah kami.

Yang menyakitkan adalah kenyataan bahwa orang yang pernah saya anggap keluarga ternyata menganggap seluruh hidup saya hanya sebagai angka dalam laporan aset.

Sesampainya di kantor, suasananya berbeda dari biasanya.

Puluhan pemegang saham sudah berkumpul di ruang rapat lantai tiga puluh dua.

Beberapa direktur senior menatap saya dengan iba ketika Arya menuntun saya masuk.

“Kirana, hati-hati,” katanya keras-keras agar semua orang mendengar.

Saya sengaja menyentuh ujung meja dan hampir tersandung.

Beberapa orang langsung berdiri.

“Bu Kirana, pelan-pelan.”

Arya memainkan perannya dengan sempurna.

“Saya sebenarnya tidak ingin Kirana datang dalam kondisi seperti ini,” katanya dengan suara berat.

“Tapi saya merasa semua pemegang saham berhak melihat sendiri keadaannya.”

Saya duduk diam.

Di ujung meja, Pak Rendy membuka map.

“Agenda hari ini berkaitan dengan kondisi kesehatan Ibu Kirana dan keberlangsungan perusahaan.”

Arya berdiri.

Dia menarik napas panjang.

“Kalian semua tahu Kirana membangun perusahaan ini bersama saya selama bertahun-tahun.”

Bohong pertama.

Perusahaan itu sudah berdiri dua tahun sebelum saya menikah dengannya.

Modal awalnya berasal dari warisan ibu saya.

“Tapi setelah kecelakaan,” lanjut Arya, “kondisi fisik dan emosional Kirana menurun drastis.”

Beberapa orang berbisik.

Saya mendengar suara seorang komisaris senior.

“Bukankah kebutaannya sementara?”

Arya terlihat sedikit kaku.

“Kami belum tahu.”

Pak Rendy segera menimpali.

“Selain gangguan penglihatan, ada kekhawatiran mengenai kondisi psikologis Ibu Kirana.”

“Berdasarkan apa?”

Suara itu datang dari Pak Surya, salah satu pemegang saham lama.

Ruangan mendadak tenang.

Pak Rendy mengeluarkan selembar dokumen.

“Evaluasi medis.”

Jantung saya berdetak sedikit lebih cepat.

Jadi mereka berhasil mendapatkan surat lain.

“Ditandatangani siapa?” tanya Pak Surya.

“Dokter Ridwan.”

Saya hampir tertawa.

Mereka benar-benar ceroboh.

Saya mengangkat kepala.

“Tolong bacakan.”

Arya mendekati saya.

“Kirana, kamu tidak perlu memikirkan hal-hal berat.”

“Bacakan.”

Nada suara saya membuatnya berhenti.

Pak Rendy mulai membaca.

Surat itu menyatakan saya mengalami gangguan kecemasan berat, disorientasi, serta penurunan kemampuan mengambil keputusan akibat trauma kecelakaan.

Setelah selesai, saya bertanya.

“Tanggal suratnya?”

Pak Rendy ragu.

“Kemarin.”

“Jam berapa ditandatangani?”

Arya menatapnya tajam.

Saya tersenyum kecil.

“Sulit menjawab?”

Sheila yang duduk di kursi belakang mendadak angkat bicara.

“Mbak Kirana, semua orang di sini cuma ingin membantu.”

Saya menoleh ke arahnya.

“Siapa yang mengizinkan sekretaris pribadi hadir dalam rapat pemegang saham?”

Sheila membeku.

Arya buru-buru berkata.

“Sheila membantu saya.”

“Dalam kapasitas apa?”

Tidak ada jawaban.

Saya kemudian menghadap ke arah Pak Rendy.

“Silakan lanjutkan agenda.”

Pak Rendy menelan ludah.

“Dengan mempertimbangkan kondisi Ibu Kirana, diajukan keputusan sementara untuk memberikan kuasa penuh pengelolaan saham kepada Bapak Arya Mahendra.”

Dokumen dibagikan kepada para pemegang saham.

Saya bisa melihat beberapa orang mulai membacanya dengan serius.

Arya tampak percaya diri.

Dia mengira kemenangan sudah berada dalam genggamannya.

Kemudian pintu ruang rapat terbuka.

Dimas masuk.

Saya merasakan sesuatu runtuh di dalam dada.

Adik saya terlihat pucat.

Dia menghindari wajah saya.

Arya tersenyum.

“Bagus. Dimas juga hadir sebagai keluarga terdekat Kirana.”

Dimas duduk di sebelah kanan saya.

Tangannya gemetar.

Saya bisa melihatnya jelas dari balik perban.

“Mas Dimas,” kata Pak Rendy, “Anda membenarkan bahwa dalam beberapa minggu terakhir kondisi kakak Anda tidak stabil?”

Dimas terdiam lama.

Arya mengetuk meja perlahan dengan jarinya.

Sebuah isyarat.

Dimas akhirnya berkata.

“Iya.”

Satu kata itu terasa lebih menyakitkan daripada seluruh kebohongan Arya.

Saya menggenggam tangan di bawah meja.

Pak Rendy melanjutkan.

“Dan Anda juga menjadi saksi penandatanganan dokumen penjaminan saham beberapa minggu lalu?”

“Iya.”

“Apakah Ibu Kirana menandatanganinya dengan sadar?”

Dimas menunduk.

“Iya.”

Ruangan mulai riuh.

Saya berdiri.

Arya segera memegang siku saya.

“Kirana, duduk.”

Saya melepaskan tangannya.

Kemudian, perlahan, saya menarik ujung perban di belakang kepala.

Ruangan langsung sunyi.

Perban jatuh ke meja.

Saya membuka kedua mata saya.

Tidak ada tatapan kosong.

Tidak ada kebingungan.

Saya melihat tepat ke wajah Arya.

Warna wajahnya hilang seketika.

Sheila berdiri dari kursinya.

“Kamu…”

Saya tersenyum.

“Selamat pagi.”

Tidak seorang pun bergerak.

Arya mundur setengah langkah.

“Matamu…”

“Sudah pulih empat hari lalu.”

Suara kursi bergeser terdengar di seluruh ruangan.

Saya menatap satu per satu orang di sana.

“Saya sengaja tidak memberi tahu siapa pun karena saya ingin tahu apa yang dilakukan orang-orang terdekat saya saat mereka menganggap saya tidak bisa melihat.”

Wajah Pak Rendy berubah pucat.

Saya mengeluarkan sebuah perangkat kecil dari saku jaket.

“Saya juga merekamnya.”

Arya langsung maju.

“Kirana, jangan membuat pertunjukan.”

Saya menekan tombol.

Suara Arya terdengar melalui pengeras suara ruang rapat.

Asal dia buat surat keterangan bahwa kondisi mental Kirana terganggu akibat kebutaan, aku otomatis jadi wali resminya.

Kemudian suara Sheila.

Setelah dapat semua sahamnya, kamu langsung ceraikan dia kan?

Ruangan meledak oleh bisikan.

Arya meraih perangkat itu, tetapi dua petugas keamanan perusahaan segera berdiri menghadangnya.

“Saya CEO perusahaan ini!” bentaknya.

Saya menatapnya.

“Tidak lagi.”

Arya tertawa pendek.

“Kamu pikir rekaman seperti itu cukup untuk menjatuhkan aku?”

Saya mengangguk.

“Tidak.”

Pintu terbuka lagi.

Maya masuk membawa dua orang auditor independen dan seorang pengacara dari firma hukum yang tidak pernah bekerja dengan Arya.

Di belakang mereka muncul dua penyidik.

Wajah Arya berubah total.

Maya meletakkan beberapa map di atas meja.

“Ini bukti transaksi dari empat perusahaan cangkang,” katanya.

“Total dana perusahaan yang dipindahkan mencapai delapan puluh enam miliar rupiah.”

Pak Surya langsung berdiri.

“Apa?”

Maya melanjutkan.

“Dan ini dokumen pemalsuan tanda tangan Ibu Kirana untuk menjaminkan saham ke bank.”

Semua mata beralih kepada Arya.

Namun saya belum selesai.

Saya mengambil surat yang diberikan Dokter Ridwan.

“Dokter Ridwan tidak pernah menandatangani surat evaluasi yang dibacakan tadi.”

Pak Rendy langsung berdiri.

“Itu tidak benar!”

“Benarkah?”

Saya menatap pintu.

Seorang pria masuk dengan didampingi petugas.

Dokter Ridwan.

Arya menatapnya seolah melihat hantu.

Bukannya dibawa keluar Jakarta seperti perintah Arya, Dokter Ridwan justru berhasil meminta perlindungan setelah menghubungi polisi melalui seorang rekannya.

“Saya tidak pernah menandatangani surat itu,” kata Dokter Ridwan tegas.

“Tanda tangan saya dipalsukan.”

Pak Rendy terduduk.

Arya berbalik ke arah Dimas.

“Bilang sesuatu!”

Adik saya gemetar hebat.

Saya menatapnya.

“Dimas.”

Matanya berkaca-kaca.

“Apa yang Arya janjikan kepadamu?”

Dia menutup wajah.

“Maaf, Kak.”

“Berapa?”

“Dua miliar.”

Ruangan kembali riuh.

Dimas menggeleng kuat-kuat.

“Tapi aku belum terima semuanya. Aku terlilit utang. Arya tahu. Dia bilang cuma butuh namaku sebagai saksi.”

Saya menatapnya lama.

“Dan kamu menjual kakakmu sendiri.”

Dimas mulai menangis.

Saya tidak membentaknya.

Justru itulah yang membuatnya semakin hancur.

“Saya memaafkanmu sebagai adik,” kata saya pelan.

“Tapi saya tidak akan melindungimu dari akibat perbuatanmu.”

Dua petugas meminta Arya, Pak Rendy, dan Dimas tetap berada di ruangan untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Sheila perlahan mundur menuju pintu.

Saya memanggilnya.

“Sheila.”

Dia berhenti.

Saya berjalan mendekat.

Untuk pertama kali sejak kecelakaan, dia melihat saya berdiri tegak tanpa tongkat, tanpa bantuan siapa pun.

“Kamu menang,” katanya dengan wajah pucat.

Saya menggeleng.

“Ini bukan pertandingan antara kamu dan saya.”

Dia menatap saya dengan kebencian.

“Kamu pikir Arya mencintaiku?”

Saya diam.

Sheila tertawa getir.

“Dia tidak mencintai siapa pun.”

Kemudian dia mengeluarkan ponselnya.

“Ada sesuatu yang harus kamu tahu.”

Arya langsung berteriak.

“Sheila, diam!”

Sheila menatapnya.

“Kamu mau menyeret aku sendirian?”

Dia membuka sebuah rekaman percakapan.

Suara Arya terdengar jelas.

Setelah saham pindah, Sheila tidak dibutuhkan lagi. Anak itu juga belum tentu anakku. Beri dia uang dan suruh pergi.

Wajah Sheila seketika runtuh.

Tangannya menyentuh perutnya.

Saya melihat kemarahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih menyakitkan.

Kesadaran.

Dia baru memahami bahwa dirinya juga hanya alat.

Namun kejutan terakhir datang ketika Maya menyerahkan sebuah amplop kepada saya.

“Mbak, ini hasil pemeriksaan asal transaksi perusahaan cangkang.”

Saya membukanya.

Nama pemilik manfaat terakhir tercantum di sana.

Bukan Arya.

Bukan Sheila.

Saya mengangkat wajah.

Pemilik akhirnya adalah perusahaan milik ayah Arya.

Seluruh ruangan membeku.

Arya menutup mata.

Saya akhirnya mengerti.

Dia tidak sekadar berselingkuh dan ingin merebut kekayaan saya.

Keluarganya sejak awal memang telah merancang pengambilalihan perusahaan.

Arya menikahi saya ketika perusahaan mulai tumbuh.

Selama sepuluh tahun, sedikit demi sedikit mereka menempatkan orang-orang mereka di bagian hukum, keuangan, bahkan di sekitar keluarga saya.

Kecelakaan saya hanya memberi mereka kesempatan untuk mempercepat rencana.

Saya menatap lelaki yang pernah menjadi suami saya.

“Jadi selama sepuluh tahun…”

Arya tidak menjawab.

Saya tertawa kecil, meskipun mata saya terasa panas.

“Pernahkah ada satu hari saja ketika pernikahan kita nyata?”

Untuk pertama kalinya, wajah Arya tidak menunjukkan kesombongan.

Hanya ketakutan.

“Aku pernah mencintaimu.”

Saya menatapnya lama.

“Mungkin.”

“Tapi orang yang benar-benar mencintai tidak akan menunggu pasangannya kehilangan penglihatan untuk merampas seluruh hidupnya.”

Hari itu, rapat pemegang saham berubah menjadi rapat luar biasa.

Dengan bukti transaksi, pemalsuan dokumen, serta dugaan konflik kepentingan yang terungkap, kewenangan Arya dibekukan sementara dan audit menyeluruh dimulai.

Beberapa bulan kemudian, pernikahan kami berakhir.

Proses hukum terhadap berbagai pihak terus berjalan.

Saya tidak pernah kembali kepada Arya.

Saya juga tidak pernah mengizinkan rasa sakit membuat saya berubah menjadi orang yang sama kejamnya dengan mereka.

Dimas menjalani proses hukumnya sendiri.

Saya tetap mengunjunginya sekali.

Dia menangis ketika melihat saya.

“Kak, kenapa masih datang?”

Saya duduk di seberangnya.

“Karena kamu tetap adik saya.”

Wajahnya seolah mendapatkan sedikit harapan.

Namun saya melanjutkan.

“Tapi menjadi keluarga tidak berarti saya harus menghapus kesalahanmu.”

Dia menunduk.

Itulah terakhir kalinya saya melihat Dimas sebelum persidangannya dimulai.

Setahun kemudian, saya berdiri di depan jendela kantor lantai tiga puluh dua.

Jakarta terlihat kecil dari atas sana.

Maya masuk membawa laporan tahunan.

“Bu Kirana, laba perusahaan naik lagi.”

Saya tersenyum.

“Bagus.”

Dia hendak keluar ketika berhenti di pintu.

“Boleh saya bertanya sesuatu?”

“Apa?”

“Waktu mata Ibu pertama kali sembuh, kenapa Ibu tidak langsung membongkar semuanya?”

Saya menatap pantulan diri saya di kaca.

Karena selama empat hari berpura-pura buta, saya melihat sesuatu yang mungkin tidak akan pernah saya lihat jika kecelakaan itu tidak terjadi.

Saya melihat siapa yang tetap menggenggam tangan saya ketika mereka mengira saya tidak memiliki apa-apa.

Saya melihat siapa yang mendekat hanya karena menginginkan sesuatu.

Dan saya melihat siapa yang tersenyum kepada saya sambil diam-diam menyiapkan pisau di belakang punggung.

Saya tersenyum tipis.

“Kadang kehilangan penglihatan justru membuat kita melihat manusia jauh lebih jelas.”

Maya mengangguk dan pergi.

Saya kembali memandang kota.

Kecelakaan itu hampir merenggut mata saya.

Tetapi pada akhirnya, kebutaan sementara itu justru menyelamatkan seluruh hidup saya.

Karena ternyata hal paling berbahaya bukanlah hidup tanpa bisa melihat.

Melainkan hidup bertahun-tahun di samping orang yang salah, sambil percaya bahwa kita sudah mengenalnya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang