Pukul 16.32.
Aku masih menatap jam dinding ketika Iptu Aditya berteriak kepada anggotanya agar segera bergerak. Setiap detik terasa seperti pisau yang mengiris dadaku. Purwakarta bukan berada di seberang jalan. Jika lalu lintas padat, perjalanan dari Bandung bisa memakan waktu lebih dari satu jam.
Sementara kami hanya punya waktu sampai pukul enam.
“Alamatnya!” bentak Iptu Aditya kepada Rizky.

Rizky tersenyum tipis.
“Cari sendiri.”
Aku hampir menerjangnya, tetapi Budi menahan bahuku.
Iptu Aditya justru terlihat tenang. Ia mengambil ponsel Rizky, membuka percakapan dengan Ibu Siti, lalu menemukan foto sebuah paket yang pernah dikirim ke rumah itu. Pada sudut resinya masih terlihat alamat lengkap.
Sebuah rumah di daerah pinggiran Purwakarta.
“Kita dapat.”
Kami langsung berangkat.
Aku duduk di mobil bersama Budi. Dua kendaraan polisi melaju di depan kami. Rizky dan Ibu Siti dibawa dengan kendaraan berbeda.
Sepanjang perjalanan, tanganku menggenggam foto Putri dari ponsel itu.
Lima tahun.
Bagaimana seorang ibu bisa hidup selama lima tahun tanpa mengetahui bahwa anaknya sedang menunggu pertolongan?
Aku teringat percakapan terakhir kami sebelum Putri dikabarkan mengalami kecelakaan.
Saat itu Putri datang ke rumahku sendirian. Wajahnya terlihat gelisah.
“Bu, kalau suatu hari Putri tiba-tiba tidak bisa menghubungi Ibu, jangan langsung percaya apa pun yang orang katakan.”
Aku tertawa kecil saat itu.
“Kamu bicara apa, Nak?”
Putri hanya memelukku.
“Pokoknya Ibu ingat saja.”
Tiga hari kemudian, Rizky menelepon.
Putri meninggal.
Baru sekarang aku memahami peringatan itu.
Pukul 17.41 kami tiba di depan sebuah rumah dua lantai yang berdiri agak jauh dari permukiman padat. Cat dindingnya kusam. Halaman depannya dipenuhi rumput tinggi, seolah rumah itu sudah lama tidak dihuni.
Namun sebuah mobil boks putih terparkir di samping rumah dengan mesin menyala.
“Polisi! Jangan bergerak!”
Beberapa petugas langsung mengepung bangunan.
Dua laki-laki yang berada di dekat mobil boks mencoba melarikan diri. Salah satunya berhasil ditangkap di halaman, sementara yang lain berlari ke belakang rumah sebelum akhirnya diamankan.
Aku hendak masuk, tetapi Iptu Aditya menghadang.
“Ibu tunggu di luar.”
“Anak saya ada di dalam!”
“Kami belum tahu kondisi rumahnya.”
“Aku sudah menunggu lima tahun!”
Suaraku pecah.
Iptu Aditya menatapku beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk kepada Budi.
“Jangan jauh dari saya.”
Kami masuk.
Rumah itu berbau lembap.
Ruang tamunya hampir kosong. Hanya ada sofa tua, meja plastik, dan beberapa kardus obat.
Petugas memeriksa setiap ruangan.
Tidak ada Putri.
“Ruang bawah tanahnya di mana?” tanyaku panik.
Tidak ada pintu menuju bawah.
Tidak ada tangga.
Tidak ada apa pun.
Aku mulai kehilangan kendali.
“Rizky bilang dia ada di sini!”
Salah seorang petugas kemudian memanggil dari dapur.
“Pak, ada sesuatu.”
Kami berlari ke sana.
Di belakang lemari pendingin tua terdapat bagian dinding yang warnanya sedikit berbeda. Setelah lemari digeser, terlihat sebuah pintu besi sempit yang hampir menyatu dengan tembok.
Terkunci.
Salah satu kunci yang ditemukan di tas Ibu Siti akhirnya berhasil membukanya.
Begitu pintu terbuka, udara dingin dan bau lembap menyeruak dari bawah.
Ada tangga beton menurun ke kegelapan.
“Putri!”
Aku berteriak.
Tidak ada jawaban.
Kami turun.
Satu anak tangga.
Dua.
Tiga.
Semakin ke bawah, napasku semakin berat.
Di ujung tangga terdapat lorong sempit dengan sebuah pintu besi lain.
Gemboknya sudah terbuka.
Hatiku langsung tenggelam.
Pintu didorong.
Kosong.
Hanya ada kasur tipis seperti yang kulihat dalam foto, sebotol air, beberapa bungkus makanan, dan sehelai selimut.
“Tidak…”
Aku masuk sambil memanggil namanya.
“Putri!”
Tidak ada jawaban.
Kemudian Budi melihat sesuatu di lantai.
Sebuah gelang perak kecil.
Aku langsung mengenalinya.
Aku memberikan gelang itu kepada Putri ketika dia lulus kuliah.
“Ini miliknya.”
Kakiku lemas.
“Mereka sudah membawanya pergi.”
Salah seorang petugas memeriksa ruangan lalu menunjuk sebuah pintu kecil di belakang rak.
Pintu itu mengarah ke lorong lain.
Kami mengikutinya hingga tiba di bagian belakang rumah.
Di sana terlihat bekas roda kendaraan pada tanah basah.
Iptu Aditya segera menghubungi tim di luar.
“Periksa mobil boks!”
Beberapa detik kemudian terdengar teriakan.
“Pak! Di sini!”
Aku berlari.
Pintu belakang mobil boks dibuka.
Di dalamnya terdapat selimut, tali, botol air, dan sebuah kursi roda.
Namun Putri tidak ada.
Salah satu laki-laki yang ditangkap akhirnya bicara setelah didesak polisi.
“Perempuan itu dibawa keluar sekitar sepuluh menit sebelum kalian datang.”
“Ke mana?”
“Saya tidak tahu. Pak Darman yang bawa.”
“Mobil apa?”
“Avanza abu-abu.”
Iptu Aditya segera menyebarkan informasi kendaraan tersebut.
Aku melihat jam.
17.53.
Tujuh menit menuju pukul enam.
Rizky ternyata tidak berbohong.
Pemindahan memang sudah dimulai.
Namun sesuatu terasa janggal.
Jika mereka hendak memindahkan Putri pukul enam, mengapa dia sudah dibawa pukul 17.40?
Aku kembali menatap ruang bawah tanah.
Di atas kasur ada gelas plastik yang masih berisi sedikit air.
Lalu mataku menangkap sesuatu.
Di bawah kasur terdapat goresan-goresan pada lantai semen.
Aku berjongkok.
Goresan itu bukan acak.
Ada tulisan.
IBU MASIH HIDUP?
Aku langsung menangis.
Putri tidak tahu apakah aku masih hidup.
Lima tahun dikurung membuatnya bahkan tidak mengetahui keadaan ibunya sendiri.
Kemudian Budi menemukan tulisan lain.
DARMAN BAIK.
Aku menatapnya.
“Darman?”
Bukankah lelaki bernama Darman yang baru saja membawa Putri pergi?
Belum sempat kami memahami maksudnya, telepon Iptu Aditya berdering.
Sebuah Avanza abu-abu ditemukan berhenti di sebuah SPBU sekitar dua belas kilometer dari rumah.
Kami langsung bergerak.
Ketika tiba di sana, mobil itu kosong.
Tetapi petugas SPBU mengatakan seorang laki-laki dan seorang perempuan kurus baru saja berpindah ke sebuah mobil lain.
“Perempuannya kelihatan sakit?” tanyaku.
Petugas itu mengangguk.
“Tapi dia berjalan sendiri. Laki-lakinya malah seperti membantu dia.”
Aku terdiam.
Darman baik.
Tiba-tiba ponsel Rizky yang masih dibawa Iptu Aditya berdering.
Nomor tidak dikenal.
Iptu Aditya mengaktifkan pengeras suara.
“Halo?”
Suara laki-laki terdengar.
“Putri aman.”
Aku langsung mendekati ponsel.
“Siapa kamu?”
“Darman.”
“Di mana anakku?”
Hening sejenak.
Kemudian terdengar suara perempuan.
Sangat pelan.
Sangat lemah.
Namun aku mengenal suara itu bahkan jika seluruh dunia mengatakan aku salah.
“Ibu?”
Tubuhku langsung kehilangan tenaga.
“Putri!”
Tangisku pecah.
“Ya Allah, Putri! Ini Ibu!”
Dari seberang telepon terdengar isakan.
“Ibu masih hidup?”
Pertanyaan itu menghancurkan hatiku lebih daripada apa pun.
“Masih, Nak. Ibu masih hidup. Ibu mencari kamu.”
Putri menangis.
Darman kemudian mengambil kembali telepon.
“Saya tidak bisa memberi lokasi lewat telepon ini. Mereka punya orang lain yang belum tertangkap. Saya akan kirim lokasi melalui nomor polisi.”
Beberapa menit kemudian koordinat dikirim.
Kami tiba di sebuah klinik kecil di pinggiran Purwakarta.
Aku turun sebelum mobil benar-benar berhenti.
Di salah satu ruangan, seorang perempuan duduk di atas ranjang pemeriksaan dengan selimut menutupi tubuhnya.
Rambutnya telah dipotong pendek.
Tubuhnya kurus.
Wajahnya pucat.
Tetapi ketika mata kami bertemu, aku melihat anak kecil yang dulu selalu berlari memelukku setiap kali pulang sekolah.
“Putri…”
Dia berdiri dengan kaki gemetar.
“Ibu…”
Kami saling berlari.
Aku memeluknya.
Untuk pertama kalinya setelah lima tahun, aku bisa merasakan tubuh anakku.
Hangat.
Hidup.
Nyata.
Putri menangis di dadaku.
“Aku pikir Ibu sudah meninggal.”
Aku menjauh sedikit.
“Siapa yang bilang?”
“Rizky.”
Ternyata kebohongan mereka jauh lebih kejam daripada yang kubayangkan.
Rizky mengatakan kepadaku bahwa Putri meninggal.
Kepada Putri, dia mengatakan bahwa aku meninggal beberapa bulan setelah kecelakaan.
Mereka memutus harapan kami dari kedua arah.
Setelah kondisinya lebih tenang, Putri akhirnya menceritakan semuanya.
Lima tahun sebelumnya, ia menemukan Rizky dan Ibu Siti diam-diam menggunakan dokumen pribadinya untuk mengajukan pinjaman dan memindahkan aset warisan almarhum ayahnya.
Putri berniat melapor.
Malam sebelum dia pergi menemui pengacara, Rizky mengajaknya berkendara ke Subang dengan alasan ingin berdamai.
Kecelakaan itu ternyata benar-benar terjadi.
Namun Putri tidak meninggal.
Ia hanya mengalami cedera dan kehilangan kesadaran.
Rizky serta ibunya memanfaatkan kecelakaan itu untuk membuat cerita bahwa Putri tewas.
Seorang jenazah perempuan tak dikenal yang kondisinya sulit dikenali digunakan untuk memperkuat kebohongan mereka.
Setelah Putri sadar, dia sudah berada di rumah Purwakarta.
“Mereka menyuruhku menandatangani dokumen,” katanya.
“Kalau aku menolak, mereka memberiku obat sampai aku tidak sadar.”
Aku menggenggam tangannya.
“Kenapa Darman menolongmu?”
Putri menatap laki-laki berusia sekitar lima puluh tahun yang berdiri di dekat pintu.
Darman menunduk.
“Saya dibayar untuk menjaga rumah itu,” katanya. “Awalnya saya diberi tahu bahwa Bu Putri mengalami gangguan berat dan berbahaya kalau keluar.”
Namun beberapa bulan kemudian, Darman mulai curiga.
Putri selalu berbicara dengan jelas ketika tidak berada di bawah pengaruh obat.
Dia terus meminta satu hal.
Tolong cari ibuku.
Darman diam-diam mulai mengurangi obat yang seharusnya diberikan.
Hari itu, ketika Putri mencoba kabur, Ibu Siti panik dan memerintahkan pemindahan.
Darman menyadari mungkin mereka hendak menghilangkan Putri selamanya.
Karena itulah dia membawa Putri pergi lebih awal.
Namun masih ada satu pertanyaan.
Mengapa Rizky begitu yakin Putri akan dipindahkan pukul enam?
Jawabannya muncul malam itu.
Polisi menemukan buku catatan Ibu Siti dan membongkar seluruh rencana.
Putri bukan hendak dibawa ke luar pulau.
Itu hanya cerita yang sengaja disampaikan kepada Rizky.
Rencana sebenarnya jauh lebih sederhana.
Ibu Siti berniat meninggalkan Putri di sebuah tempat terpencil setelah mendapatkan tanda tangan terakhir yang diperlukan untuk menjual sebidang tanah warisan bernilai miliaran rupiah.
Yang paling mengejutkan, Rizky sendiri ternyata juga sedang ditipu oleh ibunya.
Sebagian besar uang hasil pengalihan aset tidak pernah masuk ke rekening Rizky.
Ibu Siti telah memindahkannya ke rekening lain atas namanya sendiri.
Ketika polisi menunjukkan bukti itu, Rizky hanya bisa menatap ibunya dengan wajah kosong.
“Ibu bilang semua ini buat kita.”
Ibu Siti tidak menjawab.
Untuk pertama kalinya, kesombongannya runtuh.
Beberapa bulan kemudian, penyelidikan berkembang menjadi perkara besar. Orang-orang yang membantu pemalsuan dokumen dan penyekapan Putri ikut diperiksa. Proses hukum berjalan panjang, sementara aset yang masih bisa dilacak dibekukan untuk proses pemulihan.
Tetapi bagiku, tidak ada harta yang lebih penting daripada satu hal.
Putri pulang.
Pemulihannya tidak mudah.
Pada minggu-minggu pertama, dia sering terbangun tengah malam karena merasa pintu kamarnya dikunci.
Dia takut berada di ruangan gelap.
Dia bahkan menyimpan segelas air di samping tempat tidur karena bertahun-tahun hidup dengan ketakutan bahwa air minumnya akan dicampur obat.
Aku tidak pernah memaksanya melupakan semuanya.
Aku hanya menemaninya.
Suatu pagi, hampir setahun setelah kami menemukannya, Putri mengajakku pergi ke makam yang selama lima tahun kukira sebagai makamnya.
Kami berdiri di depan batu nisan bertuliskan namanya.
Putri membacanya lama.
Lalu dia menggenggam tanganku.
“Bu, siapa sebenarnya yang dikuburkan di sini?”
Pertanyaan itu membuatku terdiam.
Polisi akhirnya berhasil mengidentifikasi perempuan yang dimakamkan dengan nama Putri sebagai seorang korban kecelakaan lain yang identitasnya saat itu belum ditemukan.
Keluarganya ternyata telah mencarinya selama bertahun-tahun.
Hari itu, setelah proses hukum dan identifikasi selesai, keluarga perempuan tersebut datang.
Seorang ibu tua berdiri di depan makam sambil menangis.
Aku memandangnya dari kejauhan.
Lima tahun lalu, aku menangisi makam anak yang ternyata bukan anakku.
Sementara di tempat lain, seorang ibu mencari anak yang ternyata berada di makam yang setiap minggu kudatangi.
Putri menggenggam tanganku semakin erat.
Saat itulah aku memahami sesuatu.
Kebohongan Rizky dan Ibu Siti tidak hanya mencuri lima tahun dari hidup kami.
Kebohongan itu telah membuat dua orang ibu hidup dalam kesedihan yang salah.
Satu menangisi anak yang sebenarnya masih hidup.
Satu lagi mencari anak yang sebenarnya telah lama dimakamkan.
Aku berjalan menghampiri perempuan tua itu.
Tanpa banyak bicara, kami berpelukan.
Di belakangku, Putri berdiri di bawah cahaya matahari pagi.
Hidup.
Bebas.
Dan untuk pertama kalinya setelah lima tahun, tidak ada lagi pintu yang menguncinya dari dunia.
Aku akhirnya mengerti bahwa hari ketika ponsel Rizky tertinggal di dapur bukanlah hari ketika keluargaku hancur.
Hari itu adalah hari ketika sebuah kebohongan besar akhirnya kehilangan tempat untuk bersembunyi.
