“PRIA TERKAYA DI DESA MENIKAHI SEORANG PEMBANTU YANG MEMILIKI TIGA ANAK… NAMUN PADA MALAM PERTAMA, KETIKA WANITA ITU MEMBUKA PAKAIANNYA, APA YANG TERLIHAT MEMBUAT JIWA SANG PRIA KAYA TERGUNCANG…”

Raka tidak melihat tubuh seorang perempuan yang berubah setelah melahirkan.

Ia juga tidak melihat bekas operasi seperti yang sempat ia bayangkan.

Yang terlihat di depan matanya adalah deretan bekas luka panjang dan tidak beraturan di bahu, punggung, serta sisi tubuh Sari. Sebagian telah memudar menjadi garis keputihan, tetapi beberapa tampak seperti bekas luka bakar lama.

Raka tercekat.

“Sari…”

Sari buru-buru menarik kembali pakaiannya. Wajahnya pucat. Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh.

“Maaf, Mas.”

“Kenapa kamu minta maaf?”

Sari tidak menjawab.

Ia hanya menunduk sambil memeluk tubuhnya sendiri, seolah-olah sedang berusaha menyembunyikan sesuatu yang selama bertahun-tahun membuatnya malu.

Raka tidak mendekat.

Ia sadar bahwa satu langkah yang salah bisa membuat Sari semakin ketakutan.

“Aku tidak akan menyentuhmu kalau kamu belum siap,” katanya pelan. “Tapi tolong katakan kepadaku. Siapa yang melakukan ini?”

Pertanyaan itu membuat tubuh Sari bergetar.

Untuk beberapa saat hanya terdengar suara pendingin ruangan.

Kemudian Sari duduk di tepi ranjang.

“Tidak ada laki-laki yang melakukan ini, Mas.”

Raka mengernyit.

“Lalu?”

Sari menarik napas panjang.

“Api.”

Satu kata itu mengubah suasana kamar.

Delapan tahun sebelumnya, ketika Sari baru berusia sembilan belas tahun, ia tinggal di sebuah desa kecil di lereng Gunungkidul bersama bibinya.

Orang tuanya telah meninggal saat ia masih duduk di bangku SMP. Sejak itu Sari bekerja apa saja untuk membantu keluarga bibinya, mulai dari menjaga warung hingga mencuci pakaian tetangga.

Di rumah sebelah tinggal tiga bersaudara.

Dimas berusia tujuh tahun.

Bayu lima tahun.

Nisa baru tiga tahun.

Ayah mereka bekerja sebagai buruh proyek di luar kota, sedangkan ibu mereka sering membantu di pasar.

Sari sangat dekat dengan ketiga anak itu.

Suatu malam, terjadi korsleting listrik.

Api menjalar dari dapur ke ruang tengah begitu cepat.

Orang-orang berteriak.

Tetangga berhamburan keluar.

Saat itu Sari mendengar tangisan dari dalam rumah.

Dimas, Bayu, dan Nisa masih terjebak.

“Semua orang bilang jangan masuk,” ujar Sari dengan suara semakin kecil. “Tapi saya mendengar Nisa menangis memanggil ibunya.”

Sari masuk.

Sekali.

Ia membawa keluar Nisa.

Kemudian ia kembali.

Ia menemukan Bayu bersembunyi di bawah meja dan membawanya keluar.

Ketika semua orang mengira tidak mungkin ada orang yang bisa masuk lagi, Sari kembali untuk ketiga kalinya.

Dimas ditemukan dalam keadaan hampir pingsan di kamar belakang.

Sari berhasil mendorong anak itu keluar melalui jendela.

Namun sebelum dirinya sempat menyusul, sebagian plafon yang terbakar runtuh.

Punggung dan bahunya terkena bara serta pecahan kayu.

Sari dirawat berbulan-bulan.

“Ketiga anak itu selamat,” katanya.

Raka menatapnya tanpa berkedip.

“Dimas, Bayu, dan Nisa?”

Sari mengangguk.

Raka seakan baru memahami sesuatu.

“Mereka bukan anak-anakmu?”

Sari tersenyum getir.

“Bukan.”

Raka berdiri.

Bukan karena marah kepada Sari.

Ia marah kepada dirinya sendiri.

Selama bertahun-tahun, orang-orang di rumahnya membicarakan perempuan itu seolah-olah mengetahui seluruh hidupnya.

Dan ia, meski tidak pernah ikut mengejek, tetap pernah mempercayai sebagian cerita tersebut.

“Kenapa kamu tidak pernah menjelaskan?”

Sari menatapnya.

“Menjelaskan kepada siapa?”

Pertanyaan sederhana itu membuat Raka terdiam.

“Kalau orang sudah memutuskan ingin percaya sesuatu, penjelasan saya tidak akan mengubah apa-apa. Saya pernah mencoba menjelaskan di tempat kerja sebelumnya. Mereka malah bilang saya membuat cerita supaya dikasihani.”

Sari menyeka air matanya.

“Jadi saya berhenti menjelaskan.”

“Lalu uang yang kamu kirim setiap bulan?”

“Untuk mereka.”

Setelah kebakaran, ayah ketiga anak itu mengalami kecelakaan kerja dan meninggal dua tahun kemudian. Ibu mereka kemudian jatuh sakit.

Sari yang saat itu bekerja di Yogyakarta mulai mengirim uang untuk biaya sekolah mereka.

“Kenapa kamu sampai mengirim hampir seluruh gajimu?”

Sari tersenyum tipis.

“Karena mereka hampir kehilangan masa depan pada malam saya menyelamatkan mereka. Kalau sudah diberi kesempatan kedua untuk hidup, rasanya sayang kalau kesempatan itu hilang hanya karena tidak punya uang sekolah.”

Raka tidak mampu berkata apa-apa.

Ia mendekati Sari perlahan.

Kali ini Sari tidak mundur.

Raka mengambil selendang yang terjatuh dan menyampirkannya kembali ke bahu istrinya.

Kemudian ia berkata,

“Bekas luka itu tidak membuatku takut.”

Sari menggigit bibir.

“Mas tidak merasa… jijik?”

Raka langsung menggeleng.

“Aku justru malu karena selama ini aku merasa sedang menjadi orang baik dengan menerima masa lalumu.”

Matanya mulai memerah.

“Padahal ternyata aku bahkan tidak mengenal setengah dari kebaikanmu.”

Malam pertama mereka tidak berjalan seperti malam pengantin yang dibayangkan banyak orang.

Mereka hanya duduk berdampingan sampai lewat tengah malam.

Sari menceritakan hidupnya.

Raka mendengarkan.

Dan ketika Sari akhirnya tertidur, Raka tetap terjaga cukup lama.

Keesokan paginya, masalah lain justru menunggu mereka.

Ibu Ratih datang tanpa mengetuk pintu kamar.

“Sari, turun. Ada yang mau saya bicarakan.”

Nada suaranya dingin.

Di ruang keluarga sudah berkumpul beberapa kerabat.

Di atas meja terdapat sejumlah dokumen.

Ibu Ratih menatap Sari.

“Saya tidak tahu bagaimana kamu berhasil membuat anak saya menikahimu. Tapi saya ingin semuanya jelas sejak awal.”

Raka baru turun beberapa menit kemudian.

“Ada apa ini, Bu?”

“Saya hanya melindungi keluarga.”

Ibu Ratih mendorong sebuah dokumen ke arah Sari.

Isinya perjanjian mengenai aset keluarga.

Namun yang membuat Raka marah bukan dokumen tersebut.

Melainkan kalimat ibunya berikutnya.

“Termasuk tiga anakmu itu. Jangan berharap mereka mendapat bagian dari kekayaan keluarga Pratama.”

Ruangan langsung hening.

Sari menatap kertas tersebut.

Kemudian, untuk pertama kalinya sejak bekerja di rumah itu, ia menatap Ibu Ratih tanpa menundukkan kepala.

“Mereka bukan anak saya, Bu.”

Beberapa orang saling berpandangan.

Ibu Ratih tertawa kecil.

“Tidak perlu berbohong sekarang.”

Sari tidak membalas.

Ia mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah foto lama.

Foto itu memperlihatkan seorang gadis muda terbaring di rumah sakit dengan tubuh diperban. Di samping tempat tidurnya berdiri tiga anak kecil bersama seorang perempuan.

Sari menjelaskan semuanya.

Tidak ada suara selama beberapa detik.

Namun seorang kerabat masih berbisik,

“Cerita seperti itu bisa dibuat.”

Raka langsung menoleh tajam.

Sebelum ia sempat menjawab, terdengar suara kendaraan berhenti di halaman.

Seorang petugas rumah datang menghampiri.

“Pak Raka, ada tiga orang mencari Bu Sari.”

Sari terlihat bingung.

“Siapa?”

Tak lama kemudian, masuklah dua pemuda dan seorang perempuan muda.

Pemuda tertua mengenakan kemeja putih dan membawa map. Pemuda kedua memakai jaket kampus. Perempuan termuda masih mengenakan seragam sekolah.

Begitu melihat Sari, perempuan itu langsung berlari.

“Kak Sari!”

Nisa memeluk Sari erat.

Sari terkejut.

“Kalian kenapa datang ke sini?”

Dimas tersenyum.

“Kami dengar Kakak menikah. Masa kami tidak datang?”

Bayu mengeluarkan sebuah kotak sederhana.

“Kami nabung buat beli hadiah.”

Suasana ruang keluarga berubah total.

Dimas kemudian mengetahui apa yang sedang dibicarakan.

Wajahnya langsung serius.

Ia membuka map yang dibawanya.

Di dalamnya terdapat kliping koran lokal lama tentang kebakaran delapan tahun sebelumnya.

Salah satu judulnya berbunyi tentang seorang remaja perempuan yang mengalami luka bakar setelah menyelamatkan tiga anak dari rumah yang terbakar.

Ada foto Sari.

Ada nama ketiga anak tersebut.

Ada pula surat penghargaan dari pemerintah desa.

“Kak Sari tidak pernah mau menyimpan ini,” kata Dimas. “Jadi ibu saya yang menyimpannya.”

Ibu Ratih membeku.

Dimas menatap perempuan itu.

“Kami memang bukan anak kandung Kak Sari. Tapi kalau bukan karena dia, kami bahkan tidak akan berdiri di sini.”

Bayu menambahkan,

“Dia membiayai sekolah kami bertahun-tahun. Padahal kami sudah berkali-kali bilang akan mengembalikannya nanti.”

Nisa masih menggenggam tangan Sari.

“Saya mau kuliah keperawatan setelah lulus. Karena Kak Sari bilang hidup yang pernah diselamatkan sebaiknya dipakai untuk membantu orang lain.”

Mata Sari langsung berkaca-kaca.

Namun kejutan belum selesai.

Dimas kemudian menyerahkan sebuah amplop kepada Sari.

“Apa ini?”

“Surat penerimaan kerja.”

Ternyata Dimas baru saja diterima bekerja sebagai teknisi di sebuah perusahaan energi di Yogyakarta.

Ia datang bukan hanya untuk menghadiri pernikahan.

Ia datang untuk mengatakan bahwa mulai bulan berikutnya, Sari tidak perlu lagi mengirimkan uang sebanyak biasanya.

“Sekarang giliran kami menjaga Ibu dan Kak Sari.”

Sari menangis.

Untuk pertama kalinya, Ibu Ratih kehilangan kata-kata.

Beberapa hari berikutnya, kabar mengenai masa lalu Sari menyebar.

Namun seperti biasanya, kabar yang baik tidak selalu menghentikan lidah manusia.

Sebagian orang mulai mengatakan bahwa Sari sengaja menyelamatkan anak-anak itu agar suatu hari dianggap sebagai pahlawan.

Ada pula yang menuduh kisah tersebut sengaja diungkap setelah menikahi Raka.

Raka ingin melawan semua orang.

Sari justru melarangnya.

“Mas, jangan.”

“Mereka menghina kamu.”

“Biarkan.”

“Aku tidak bisa membiarkan orang mengatakan apa saja tentang istriku.”

Sari tersenyum.

“Dulu saya juga berpikir saya harus menjawab semua orang. Lama-lama saya sadar, hidup terlalu pendek kalau dipakai untuk membuktikan diri kepada orang yang memang tidak ingin percaya.”

Kalimat itu tinggal lama dalam pikiran Raka.

Beberapa bulan kemudian, Raka membuat keputusan yang mengejutkan keluarganya.

Ia mendirikan sebuah yayasan pendidikan bagi anak-anak dari keluarga pekerja berpenghasilan rendah.

Namun ketika para wartawan lokal bertanya apakah yayasan itu dibuat untuk menghormati istrinya, Raka menjawab,

“Bukan untuk menghormati nama seseorang. Ini untuk meneruskan sesuatu yang sudah dilakukan istri saya jauh sebelum saya mengenalnya.”

Sari tidak pernah mau menjadi ketua.

Ia memilih mengurus program beasiswa dari belakang layar.

Dimas menjadi salah satu relawan teknis.

Bayu, setelah lulus kuliah, membantu mengelola program pendidikan.

Beberapa tahun kemudian Nisa benar-benar masuk sekolah keperawatan.

Hubungan Sari dengan Ibu Ratih juga perlahan berubah.

Tidak terjadi dalam semalam.

Tidak ada pelukan dramatis.

Tidak ada permintaan maaf panjang.

Hanya perubahan-perubahan kecil.

Suatu pagi, Ibu Ratih melihat Sari sedang mengoleskan obat pada bagian bekas luka di bahunya yang kadang masih terasa gatal ketika cuaca panas.

Ibu Ratih berhenti di depan pintu.

“Sakit?”

Sari sedikit terkejut.

“Kadang, Bu.”

Ibu Ratih terdiam.

Lalu berkata pelan,

“Dulu saya bilang rumah ini akan menjadi panti asuhan.”

Sari tidak menjawab.

“Saya salah.”

Itulah permintaan maaf pertama Ibu Ratih.

Sederhana.

Tetapi cukup.

Setahun setelah pernikahan mereka, Sari melahirkan seorang bayi perempuan.

Raka menangis lebih keras daripada Sari ketika pertama kali menggendong putrinya.

Beberapa hari setelah pulang dari rumah sakit, Dimas, Bayu, dan Nisa datang berkunjung.

Mereka berdiri mengelilingi tempat tidur bayi.

Raka bercanda,

“Nah, sekarang kalian benar-benar punya adik.”

Nisa tertawa.

“Berarti Kak Sari sekarang resmi punya empat anak?”

Semua orang tertawa.

Sari menggeleng.

“Tiga anak itu bukan anakku.”

Dimas pura-pura tersinggung.

“Setelah semua uang sekolah yang Kakak keluarkan, sekarang kami tidak diakui?”

Sari tertawa sambil menangis.

Kemudian ia memandang mereka satu per satu.

Dimas yang dulu ia tarik keluar dari rumah penuh asap.

Bayu yang dulu ia temukan bersembunyi ketakutan.

Nisa yang dulu ia gendong keluar sambil menutupi tubuh kecilnya dari bara api.

Lalu ia menatap bayi perempuan di sampingnya.

“Baiklah,” katanya.

“Empat.”

Raka tersenyum.

Saat itulah ia akhirnya memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan oleh kekayaan keluarganya.

Pada malam pertama pernikahan mereka, ia mengira rahasia terbesar Sari adalah bekas luka di tubuhnya.

Ternyata bukan.

Rahasia terbesar perempuan itu adalah betapa banyak hidup yang diam-diam telah ia selamatkan tanpa pernah merasa perlu menceritakannya kepada siapa pun.

Dan tiga anak yang selama bertahun-tahun dianggap sebagai noda dalam masa lalunya justru merupakan bukti paling nyata tentang siapa Sari sebenarnya.

Bukan perempuan dengan masa lalu buruk.

Bukan pembantu yang beruntung menikahi orang kaya.

Melainkan seseorang yang pernah masuk ke dalam kobaran api tiga kali demi anak-anak yang bahkan bukan darah dagingnya.

Raka kemudian sadar bahwa malam ketika ia menikahi Sari, bukan Sari yang mendapatkan kehidupan baru.

Justru dirinya.

Sebab untuk pertama kalinya, pria yang selama hidupnya memiliki hampir segala sesuatu itu akhirnya belajar bahwa kekayaan terbesar seseorang bukanlah berapa banyak yang berhasil ia kumpulkan.

Melainkan berapa banyak kehidupan yang menjadi lebih baik karena ia pernah hadir di dalamnya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang