“Aduh, Nadhira… dada Ibu sakit sekali. Tolong Ibu, Nak!”
Aku berdiri di ambang pintu kamar, memandangi perempuan yang sedang menggeliat di sofa ruang tamu itu.
Bu Marni memegangi dadanya dengan tangan kanan. Wajahnya berkerut menahan sakit, sementara tangan kirinya meraih ke arahku.
Kalau kejadian ini berlangsung kemarin, aku pasti sudah menangis ketakutan.
Namun pagi ini berbeda.
Aku baru saja mendengar percakapannya melalui telepon.
Dan yang lebih mengerikan, semua ini persis seperti peringatan diriku dari masa depan.
“Ibu sakit sejak kapan?” tanyaku sambil mendekat.
“Sejak semalam. Rasanya seperti ditusuk-tusuk. Ibu takut penyakit jantung Ibu kambuh.”
Aku mengangguk.

“Kalau begitu, kita ke rumah sakit sekarang.”
Mendengar jawabanku, gerakan Ibu mendadak terhenti.
“Tidak perlu, Nak. Ibu sudah menghubungi dokter kenalan Ibu. Katanya Ibu harus menjalani pengobatan khusus yang biayanya sangat mahal.”
“Berapa?”
“Kurang lebih tiga miliar rupiah.”
Aku hampir tertawa.
Rumah peninggalan Kakek di kawasan Jakarta Selatan memang bernilai sekitar empat miliar rupiah.
Terlalu kebetulan jika biaya pengobatan Ibu hampir menyamai harga rumah itu.
“Nadhira, Ibu tahu ini berat. Tapi kalau rumah peninggalan Kakek dijual, mungkin Ibu masih punya kesempatan hidup.”
Air mata mengalir di pipinya.
Aku menatap perempuan yang telah melahirkanku itu cukup lama.
“Ibu, rumah itu satu-satunya peninggalan Kakek untukku.”
“Ibu tahu, Sayang. Tapi apa kamu tega membiarkan ibu kandungmu meninggal?”
Aku menarik napas panjang.
“Tentu tidak. Makanya aku akan memanggil ambulans sekarang. Kalau benar kondisi Ibu separah itu, rumah sakit pasti bisa memberikan penanganan darurat.”
Aku mengeluarkan ponsel.
Tiba-tiba Ibu bangkit dari sofa.
“Jangan!”
Suaranya begitu keras hingga aku terkejut.
Beberapa detik kemudian, dia kembali memegangi dada.
“Maksud Ibu, jangan buang uang untuk ambulans. Ibu masih bisa bertahan.”
Aku memasukkan kembali ponselku.
“Kalau begitu, kita tunggu sampai Ibu siap diperiksa dokter.”
Wajahnya berubah masam.
“Nadhira, kamu sekarang tidak percaya kepada Ibu?”
Aku tersenyum tipis.
“Aku hanya ingin Ibu sembuh.”
Aku meninggalkannya di ruang tamu.
Begitu pintu kamar tertutup, kedua kakiku hampir kehilangan tenaga.
Ternyata mengetahui seseorang sedang berbohong tidak membuat pengkhianatan terasa lebih ringan.
Justru sebaliknya.
Setiap kata manisnya sekarang terasa seperti pisau yang perlahan ditancapkan ke dadaku.
Aku duduk di tepi tempat tidur dan mengeluarkan sepuluh lembar kupon lotere dari dompet.
Angka-angka itu masih sama.
03-08-13-14-26-28.
Nomor khusus 23.
Aku memandanginya lama.
Lotere tersebut merupakan undian internasional yang kuikuti melalui agen berlisensi di luar negeri. Pengundian akan berlangsung tiga hari lagi.
Jika sosok masa depanku benar, sepuluh kupon itu akan mengubah seluruh hidupku.
Namun jika dia salah, aku akan kehilangan uang tabunganku dan mungkin kesempatan terakhir untuk melarikan diri.
Siang harinya, Rendy datang bersama Siska.
Aku mendengar suara mereka dari ruang tamu.
“Tante, bagaimana? Nadhira sudah mau menjual rumahnya?” bisik Siska.
“Belum. Anak itu sekarang keras kepala sekali.”
“Kalau begitu, biar aku yang membujuk,” jawab Rendy.
Aku segera menyalakan perekam suara di ponsel.
Beberapa saat kemudian, mereka mengetuk pintu kamarku.
“Nadhira, boleh masuk?”
Aku membuka pintu.
Rendy langsung meraih tanganku.
“Sayang, aku dengar Tante Marni sakit. Kenapa kamu tidak cerita?”
Siska berdiri di belakangnya dengan wajah penuh kekhawatiran.
“Nadhira, kamu jangan terlalu memikirkan uang. Kesehatan Tante lebih penting.”
Aku memandangi keduanya.
Rendy adalah pacarku sejak kelas dua SMA.
Selama dua tahun, aku mengira dia laki-laki paling tulus yang pernah kukenal.
Siska bahkan lebih lama berada dalam hidupku.
Dia mendekatiku ketika aku baru masuk SMA, selalu menemaniku belajar, mendengarkan keluh kesahku, dan menghiburku setiap kali aku merindukan Kakek.
Sekarang aku tahu semuanya hanya sandiwara.
“Kalau kalian begitu khawatir, bagaimana kalau kita membawa Ibu ke rumah sakit?” tanyaku.
Rendy terdiam.
Siska cepat-cepat menjawab.
“Tante sudah punya dokter sendiri. Kita harus menghormati keputusannya.”
“Kalau begitu, kalian bisa membantu membayar pengobatannya.”
Senyum Siska membeku.
“Maksudmu?”
“Kalian berdua sangat menyayangi Ibu, bukan? Aku yakin kalian mau membantu.”
Rendy melepaskan tanganku.
“Nadhira, kenapa kamu bicara seperti itu? Kami cuma ingin membantu.”
“Aku juga.”
Aku tersenyum.
“Makanya aku sedang mencari cara agar Ibu mendapat perawatan tanpa harus menjual rumah Kakek.”
Mereka saling berpandangan.
Saat itulah aku melihat sesuatu yang membuat darahku mendidih.
Di pergelangan tangan Siska terdapat gelang emas berbentuk bunga kecil.
Aku mengenali gelang itu.
Dua bulan lalu, Rendy mengatakan dia kehilangan uang tabungan karena membantu ayahnya membayar utang.
Aku memberinya dua puluh juta rupiah.
Gelang di tangan Siska adalah model yang pernah kulihat di toko perhiasan dengan harga hampir sama.
“Siska, gelangmu bagus.”
Dia refleks menyembunyikan tangannya.
“Oh, ini hadiah ulang tahun dari sepupuku.”
Rendy langsung mengalihkan pembicaraan.
Aku tidak mendesak.
Belum waktunya.
Malam itu, setelah mereka pulang, aku menghubungi seorang pengacara bernama Pak Hendra.
Beliau adalah sahabat lama Kakek yang pernah membantu mengurus surat warisan.
Aku meminta pertemuan secara pribadi.
Keesokan paginya, kami bertemu di kantornya di kawasan Kuningan.
Setelah mendengarkan ceritaku, Pak Hendra mengeluarkan map berwarna cokelat.
“Nadhira, sebenarnya ada sesuatu yang perlu kamu ketahui.”
Beliau membuka sebuah dokumen.
“Rumah peninggalan Kakek sudah terdaftar atas namamu sejak kamu berusia enam belas tahun. Ibumu tidak mempunyai hak untuk menjualnya tanpa persetujuanmu.”
“Aku tahu, Pak.”
“Tapi ada hal lain.”
Beliau mengeluarkan surat yang sudah menguning.
“Kakekmu pernah meminta saya menyimpan ini. Katanya, surat ini hanya boleh diberikan ketika kamu mulai meragukan orang-orang di sekitarmu.”
Tanganku gemetar ketika membuka amplop tersebut.
Tulisan tangan Kakek langsung membuat mataku panas.
Nadhira, cucu kesayangan Kakek.
Kalau suatu hari kamu membaca surat ini, berarti ada sesuatu yang tidak berjalan baik.
Kakek tidak pernah membenci ibumu. Namun Kakek juga tidak pernah benar-benar memercayainya.
Ada alasan mengapa rumah ini diberikan langsung kepadamu.
Jangan pernah menyerahkan sesuatu yang menjadi hakmu hanya karena seseorang menggunakan hubungan darah untuk membuatmu merasa bersalah.
Keluarga seharusnya menjadi tempat berlindung, bukan tempat seseorang kehilangan segalanya.
Air mataku jatuh membasahi kertas.
Ternyata Kakek sudah mengetahui sifat Ibu jauh sebelum aku menyadarinya.
Pak Hendra menyerahkan satu dokumen lagi.
Itu adalah salinan catatan kependudukan lama yang pernah diperoleh Kakek secara sah.
Di sana tercantum nama seorang anak perempuan.
Siska Maharani.
Nama ibunya adalah Marni.
Aku menutup mulut.
Meskipun sudah diperingatkan oleh sosok masa depanku, melihat bukti tertulis tetap membuat dadaku sesak.
“Siska benar-benar adik kandungku?”
Pak Hendra mengangguk pelan.
“Setidaknya dokumen ini menunjukkan ibumu sebagai ibu kandungnya. Kakekmu pernah mencoba meminta penjelasan, tetapi ibumu selalu menghindar.”
Aku menatap foto Kakek yang kusimpan di ponsel.
“Kakek, kenapa Kakek tidak memberitahuku?”
Pak Hendra menjawab lirih.
“Mungkin beliau berharap ibumu akan berubah.”
Tiga hari kemudian, hasil undian diumumkan.
Aku menonton siaran resminya sendirian di kamar.
Angka pertama muncul.
03.
Jantungku berdegup keras.
08.
Tanganku mulai berkeringat.
13.
14.
Aku hampir tidak bisa bernapas.
26.
28.
Kemudian angka khusus terakhir muncul.
23.
Ponselku terlepas dari tangan.
Aku menatap layar televisi tanpa berkedip.
Semua angka cocok.
Sepuluh kuponku memenangkan hadiah utama.
Aku menangis.
Bukan karena uangnya.
Melainkan karena untuk pertama kalinya sejak Kakek meninggal, aku merasa masa depanku masih bisa diselamatkan.
Setelah melalui proses verifikasi, pemeriksaan dokumen, dan pengurusan kewajiban pajak yang berlaku, hadiah bersih yang menjadi hakku mencapai ratusan miliar rupiah.
Aku tidak langsung membeli apa pun.
Langkah pertamaku adalah menyewa konsultan hukum dan penasihat keuangan independen.
Aku juga membuka rekening khusus dan memastikan tidak seorang pun di rumah mengetahui kemenangan tersebut.
Sesuai pesan masa depanku, aku mulai menyusun rencana pembelian emas batangan melalui lembaga perdagangan resmi.
Namun aku tidak membeli satu ton sekaligus.
Penasihat keuanganku menjelaskan bahwa transaksi sebesar itu membutuhkan pengadaan bertahap, pemeriksaan sumber dana, pengamanan, dan penyimpanan profesional.
Aku mengikuti sarannya.
Sebagian dana dialokasikan untuk emas, sebagian lagi untuk properti produktif dan instrumen keuangan yang lebih likuid.
Sementara itu, surat penerimaanku dari Universitas Airlangga akhirnya tiba.
Aku diterima di program studi yang selama ini kuimpikan.
Untuk pertama kalinya, aku benar-benar bisa tersenyum.
Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.
Suatu malam, ketika aku sedang mengemas pakaian untuk pindah ke Surabaya, Ibu masuk ke kamarku tanpa mengetuk.
Di tangannya terdapat sebuah dokumen.
“Nadhira, Ibu sudah menemukan pembeli rumah.”
Aku menatapnya.
“Aku tidak pernah setuju menjual rumah.”
Wajahnya mengeras.
“Kamu pikir Ibu membesarkanmu tanpa biaya?”
“Kakek yang membesarkanku.”
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipiku.
Aku terdiam.
Ibu menunjuk wajahku dengan tangan gemetar.
“Anak tidak tahu diri! Kalau bukan karena Ibu, kamu tidak akan lahir!”
Aku perlahan mengangkat kepala.
“Kalau begitu, kenapa Ibu meninggalkanku sejak kecil?”
Dia membeku.
“Dan kenapa Ibu tidak pernah memberitahuku tentang Siska?”
Wajahnya langsung pucat.
“Kamu… tahu dari mana?”
Aku mengeluarkan salinan dokumen yang diberikan Pak Hendra.
“Ibu, Siska itu anak kandung Ibu juga, bukan?”
Beberapa detik berlalu tanpa suara.
Kemudian Ibu tertawa pendek.
“Jadi akhirnya kamu tahu.”
Tidak ada penyesalan dalam suaranya.
“Siska memang anak Ibu. Dia tumbuh bersama Ibu. Tidak seperti kamu yang sejak kecil selalu dimanjakan Kakekmu.”
Aku menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Jadi karena Kakek memberikan rumah kepadaku, Ibu membenciku?”
“Rumah itu seharusnya menjadi milik Ibu!”
Suara Ibu meninggi.
“Kakekmu selalu menganggap Ibu tidak mampu mengurus keluarga. Dia menyerahkan semuanya kepada anak kecil sepertimu!”
Aku menggeleng.
“Kakek hanya ingin melindungiku.”
Ibu mendekat.
“Kalau kamu tidak menandatangani surat penjualan rumah, jangan pernah menganggap Ibu sebagai ibumu lagi.”
Aku menghapus air mata.
“Baik.”
Jawabanku membuatnya tertegun.
“Apa?”
“Aku tidak akan menandatangani apa pun. Dan mulai hari ini, Ibu tidak perlu lagi berpura-pura menyayangiku.”
Aku mengambil koper.
“Besok aku berangkat ke Surabaya.”
Ibu tertawa sinis.
“Dengan uang apa? Kamu pikir bisa hidup sendiri tanpa bantuan Ibu?”
Aku tidak menjawab.
Sebab dia belum tahu bahwa perempuan yang sedang dihinanya kini mempunyai kekayaan yang bahkan tidak pernah berani dia bayangkan.
Keesokan harinya, Rendy menungguku di depan rumah.
“Nadhira, kita harus bicara.”
Aku berjalan melewatinya.
Dia menarik lenganku.
“Kamu benar-benar memilih Universitas Airlangga? Kenapa tidak bilang kepadaku?”
“Karena itu keputusanku.”
“Tapi kita sudah berjanji kuliah bersama!”
Aku menatapnya.
“Rendy, sejak kapan kamu dan Siska berpacaran?”
Wajahnya berubah.
“Apa maksudmu?”
“Aku hanya ingin mendengar jawabanmu.”
Dia menghela napas.
“Nadhira, kamu terlalu curiga.”
Aku mengeluarkan ponsel dan memperlihatkan foto yang dikirim seorang teman.
Dalam foto itu, Rendy sedang mencium kening Siska di sebuah kafe.
Foto tersebut diambil dua minggu sebelumnya.
Rendy kehilangan kata-kata.
“Aku bisa jelaskan.”
“Tidak perlu.”
“Nadhira, dengarkan dulu!”
Aku melepaskan tangannya.
“Selama ini aku mengira kehilanganmu adalah hal paling menakutkan. Ternyata yang lebih menakutkan adalah menghabiskan hidup bersama seseorang yang tidak pernah benar-benar mencintaiku.”
Aku masuk ke mobil yang telah kupesan.
Rendy masih berdiri di depan pagar ketika mobil meninggalkan rumah.
Enam bulan berlalu.
Aku mulai menjalani kehidupan baru di Surabaya.
Aku menyewa apartemen sederhana dekat kampus, mengikuti perkuliahan, dan berteman dengan orang-orang yang tidak mengetahui latar belakang keuanganku.
Untuk pertama kalinya, aku bisa menjadi Nadhira tanpa harus terus-menerus menyenangkan orang lain.
Sementara itu, investasi propertiku mulai berkembang.
Melalui perusahaan pengelola aset yang kubentuk bersama tim profesional, aku membeli beberapa bangunan komersial dan lahan di kawasan yang memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang.
Aku juga mendirikan yayasan beasiswa atas nama Kakek.
Namun suatu sore, Pak Hendra menelepon.
“Nadhira, ada masalah dengan rumah peninggalan Kakek.”
Aku langsung berdiri.
“Masalah apa?”
“Ibumu diduga menggunakan dokumen palsu untuk mengajukan pinjaman dengan menjadikan rumah itu sebagai jaminan.”
Darahku terasa dingin.
“Bagaimana mungkin?”
“Permohonannya sudah terdeteksi bermasalah. Kami sedang menyiapkan laporan dan langkah hukum.”
Aku segera terbang ke Jakarta.
Setibanya di kantor Pak Hendra, aku menemukan fakta yang jauh lebih buruk.
Bu Marni, Siska, dan Rendy ternyata telah bekerja sama dengan seorang perantara untuk mencoba mendapatkan uang menggunakan dokumen kepemilikan rumah yang dipalsukan.
Mereka mengira aku masih gadis polos yang tidak akan memeriksa apa pun.
Namun dokumen kepemilikan asli, riwayat pendaftaran tanah, dan bukti tanda tanganku tersimpan dengan aman.
Upaya mereka gagal.
Setelah penyelidikan, kasus tersebut diproses oleh pihak berwenang.
Ketika aku datang untuk memberikan keterangan, Siska menangis begitu melihatku.
“Kak Nadhira, tolong. Aku tidak mau masuk penjara.”
Itulah pertama kalinya dia memanggilku Kakak.
Aku menatapnya.
“Kamu tahu sejak kapan kita bersaudara?”
Dia menunduk.
“Sejak sebelum kita masuk SMA.”
Aku merasakan sesuatu runtuh di dalam dada.
“Jadi sejak pertama kali kamu mendekatiku, kamu sudah tahu?”
Siska mengangguk sambil menangis.
“Ibu bilang kalau aku bisa membuatmu percaya, suatu hari rumah Kakek akan menjadi milik kami.”
“Dan Rendy?”
Siska menutup wajahnya.
“Awalnya dia tidak tahu. Tapi setelah kami dekat, aku menceritakan semuanya.”
Aku memejamkan mata.
Seluruh kenangan masa remajaku tiba-tiba terasa asing.
Persahabatan yang kuanggap tulus.
Cinta pertama yang kubanggakan.
Perhatian seorang ibu yang selalu kurindukan.
Semuanya dibangun di atas kebohongan.
“Aku tidak akan mencabut keteranganku,” kataku pelan.
Siska terisak.
“Tapi kita saudara!”
Aku menatapnya.
“Justru karena kita saudara, seharusnya kamu tahu betapa berharganya kepercayaan itu.”
Aku meninggalkannya tanpa menoleh.
Beberapa minggu kemudian, Ibu meminta bertemu.
Aku datang bersama Pak Hendra.
Perempuan yang dulu selalu tampil rapi itu kini terlihat jauh lebih tua.
Begitu melihatku, dia menangis.
“Nadhira, Ibu salah. Ibu benar-benar menyesal.”
Aku duduk di hadapannya.
“Dulu, waktu aku masih kecil, setiap malam aku bertanya kepada Kakek kenapa Ibu tidak pulang.”
Air mataku mulai jatuh.
“Kakek selalu bilang Ibu sedang bekerja keras supaya suatu hari kita bisa hidup bersama.”
Ibu menunduk.
“Aku percaya selama bertahun-tahun.”
Aku menarik napas.
“Ketika Ibu akhirnya pulang, aku pikir doaku terkabul.”
“Nadhira…”
“Ternyata Ibu pulang bukan karena merindukanku.”
Ibu menangis semakin keras.
Aku mengeluarkan sebuah amplop.
Di dalamnya terdapat surat pernyataan bahwa aku tidak akan memberikan bantuan untuk menutupi tindakan melanggar hukum, tetapi bersedia membiayai pemeriksaan kesehatan dan pengobatan yang benar-benar diperlukan melalui pembayaran langsung kepada fasilitas medis.
“Aku tidak ingin Ibu sakit atau kelaparan,” kataku.
“Tapi aku juga tidak akan menyerahkan hidupku untuk dihancurkan lagi.”
Ibu menatap amplop itu.
“Rumah Kakek bagaimana?”
“Rumah itu tetap milikku.”
Aku berdiri.
“Dan aku tidak akan menjualnya.”
Saat meninggalkan ruangan, aku mendengar Ibu memanggil namaku.
Namun kali ini, aku tidak kembali.
Dua puluh tahun kemudian, aku berdiri di halaman rumah peninggalan Kakek.
Bangunannya telah direnovasi tanpa menghilangkan bentuk aslinya.
Rumah itu kini menjadi pusat pendidikan gratis bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Di dinding ruang utama, tergantung foto Kakek dengan senyum hangat yang selalu kurindukan.
Investasi emas yang kubeli bertahun-tahun lalu telah meningkat nilainya, meskipun perjalanan pasar tidak selalu mulus. Perusahaan propertiku pun berkembang menjadi bisnis besar yang mempekerjakan ribuan orang.
Aku bukan lagi gadis delapan belas tahun yang ketakutan menghadapi masa depan.
Aku adalah seorang perempuan yang berhasil membangun kehidupannya sendiri.
Sore itu, ketika seluruh murid sudah pulang, aku duduk sendirian di ruang kerja Kakek.
Tiba-tiba udara di depanku bergetar.
Cahaya kebiruan muncul perlahan.
Aku membeku.
Di hadapanku berdiri seorang perempuan tua dengan rambut memutih dan wajah penuh keriput.
Sosok yang sama seperti dua puluh tahun lalu.
Namun kali ini, dia tersenyum.
“Kamu berhasil, Nadhira.”
Aku berdiri dengan mata berkaca-kaca.
“Kamu… diriku dari masa depan?”
Perempuan itu mengangguk.
“Aku datang untuk melihat apakah kamu benar-benar mengubah semuanya.”
Aku menatapnya lama.
“Kenapa kamu memberitahuku angka lotere itu? Kenapa kamu tidak langsung memperingatkanku tentang semua bukti pengkhianatan mereka?”
Dia tersenyum sedih.
“Karena dalam kehidupanku, aku pernah mengetahui kebenarannya. Tetapi aku tetap tidak berani pergi.”
Aku terdiam.
“Aku terlalu takut kehilangan keluarga. Terlalu takut hidup sendirian. Bahkan ketika mereka mengambil rumah Kakek, aku masih berharap mereka akan menyayangiku.”
Air matanya mengalir.
“Uang itu bukan hadiah terpenting yang kuberikan kepadamu.”
“Lalu apa?”
“Kesempatan untuk memilih dirimu sendiri.”
Aku menangis.
Perempuan itu melangkah mendekat.
“Dan ada satu hal lagi yang harus kamu ketahui.”
“Apa?”
“Pada hari kamu membeli tiket lotere, sebenarnya aku tidak yakin angka itu akan menang.”
Aku terkejut.
“Bagaimana mungkin?”
“Aku melihat hasil undian dari kemungkinan masa depan yang berbeda. Namun setiap kali aku mencoba mengubah masa lalu, masa depan juga ikut berubah.”
Dia menggenggam tanganku.
“Aku mengambil risiko karena tahu satu hal. Sekalipun kamu tidak memenangkan uang itu, kamu tetap bisa menyelamatkan dirimu dengan meninggalkan orang-orang yang menyakitimu.”
Aku menatap wajah tuanya.
“Jadi selama ini…”
“Yang menyelamatkanmu bukan angka keberuntungan, Nadhira.”
Cahaya di sekeliling tubuhnya mulai memudar.
“Melainkan keberanianmu untuk tidak lagi menerima pengkhianatan sebagai bentuk cinta.”
Aku mencoba menahan tangannya.
“Tunggu! Apakah kita akan bertemu lagi?”
Dia tersenyum.
“Tidak perlu. Aku akhirnya bisa beristirahat.”
Sosoknya perlahan menghilang.
Aku berdiri sendirian di ruangan itu.
Di luar jendela, suara anak-anak yang sedang bermain terdengar riang dari halaman.
Aku memandangi foto Kakek.
Kemudian aku menyadari sesuatu yang membuat air mataku kembali jatuh.
Perempuan tua yang datang menemuiku bukanlah gambaran masa depanku sekarang.
Dia adalah Nadhira dari kehidupan yang tidak pernah berhasil diselamatkan.
Selama dua puluh tahun, dia membawa penderitaannya sendiri agar aku bisa menjalani kehidupan yang berbeda.
Aku mendekati foto Kakek dan menyentuh bingkainya.
“Kek, sekarang aku mengerti.”
Aku tersenyum di tengah air mata.
“Warisan terbesar yang Kakek tinggalkan bukan rumah ini.”
Di meja kerjaku terdapat sebuah surat dari penerima beasiswa pertama yayasan kami.
Seorang gadis yatim piatu menulis bahwa dia akhirnya diterima di fakultas kedokteran dan ingin membantu anak-anak yang tidak mampu berobat.
Aku membaca surat itu sekali lagi.
Lalu aku berbisik pelan.
“Warisan terbesar Kakek adalah kesempatan untuk membuat hidup orang lain menjadi lebih baik.”
Malam itu, untuk pertama kalinya, aku tidak lagi berharap bisa mengubah masa lalu.
Karena aku telah menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada mengetahui masa depan.
Aku akhirnya bisa berdamai dengan hidupku sendiri.
