Bercerai?

“Kalau Ibu saya meninggal malam ini, apa Mas masih akan bertanya kenapa saya pergi ke rumah sakit?”

Kalimat itu keluar dari mulut Bella sebelum dia sempat menahannya.

Di seberang telepon, Adnan langsung terdiam.

“Apa maksudmu, Bella?”

Bella menggigit bibir. Air matanya kembali mengalir ketika melihat pintu ruang perawatan tempat ibunya terbaring.

“Tidak ada. Lupakan saja.”

“Bella, tunggu! Ibumu kenapa?”

Namun, Bella sudah memutuskan sambungan telepon.

Dia tidak punya tenaga untuk menjelaskan apa pun kepada pria yang selama tiga tahun terakhir membuatnya merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri.

Bella kembali duduk di kursi lorong rumah sakit. Di tangannya terdapat selembar kertas hasil pemeriksaan dokter.

Diagnosis sementara yang tertulis di sana membuat tubuhnya gemetar.

Dokter menemukan massa mencurigakan di paru-paru Bu Ranti. Kondisinya sudah cukup serius hingga menyebabkan batuk berdarah. Pemeriksaan lanjutan, termasuk biopsi, diperlukan untuk memastikan penyebab dan menentukan pengobatan yang tepat.

Namun, ada satu kalimat dokter yang terus terngiang di kepala Bella.

“Kami harus melakukan pemeriksaan lanjutan secepat mungkin. Kondisi ibu Anda tidak boleh dibiarkan.”

Bella menunduk sambil menutup wajahnya.

Baru beberapa jam lalu dia memikirkan perceraian. Sekarang, dia bahkan tidak tahu bagaimana caranya menyelamatkan ibunya.

Ponselnya kembali bergetar.

Nama Adnan muncul di layar.

Bella menolak panggilan itu.

Beberapa detik kemudian, sebuah pesan masuk.

Bella, kirim alamat rumah sakitnya. Aku akan datang.

Bella membaca pesan tersebut tanpa ekspresi.

Selama ini, setiap kali dia membutuhkan Adnan, pria itu selalu mempunyai alasan untuk tidak berada di sisinya.

Ketika Bella demam tinggi, Adnan sedang menemani seorang wanita bernama Selena menghadiri acara perusahaan.

Ketika Bu Ranti menjalani pemeriksaan kesehatan enam bulan lalu, Adnan membatalkan janjinya karena Selena mengalami kecelakaan kecil.

Bahkan pada ulang tahun pernikahan mereka yang ketiga, Adnan tidak pulang karena harus mengantar Selena ke bandara.

Bella baru mengetahui semua itu setelah melihat percakapan mereka.

Selena bukan sekadar rekan kerja.

Wanita itu adalah cinta pertama Adnan yang kembali hadir dalam hidupnya.

Dan Adnan tidak pernah benar-benar melepaskannya.

Bella mematikan layar ponselnya.

“Sekarang sudah terlambat, Mas,” bisiknya.

Tak lama kemudian, Key tiba di rumah sakit setelah menerima pesan dari Bella.

“Bell!”

Key berlari menghampirinya.

Begitu melihat sahabatnya, Bella langsung berdiri dan memeluknya erat.

“Key, aku takut.”

“Ada apa dengan Bu Ranti?”

Bella menyerahkan hasil pemeriksaan dokter.

Key membacanya dengan wajah semakin serius.

“Kita belum tahu hasil pastinya, Bell. Jangan langsung memikirkan kemungkinan terburuk.”

“Tapi kalau ternyata Ibu sakit parah bagaimana? Aku baru saja mendapatkan pekerjaan. Tabunganku juga tidak banyak.”

“Kita cari jalan keluarnya sama-sama.”

Bella menggeleng sambil menangis.

“Aku bahkan belum sempat membuat Ibu bahagia, Key.”

Key menggenggam kedua bahunya.

“Dengarkan aku. Sekarang yang paling penting adalah memastikan Ibumu mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan. Kita urus semuanya satu per satu.”

Bella mengangguk lemah.

Malam itu, Key membantu mengurus administrasi rumah sakit dan memeriksa kepesertaan BPJS Kesehatan Bu Ranti. Mereka juga menanyakan kemungkinan rujukan dan pemeriksaan lanjutan yang dapat ditanggung sesuai prosedur.

Bella sedikit lega setelah mengetahui ada beberapa pilihan yang bisa ditempuh.

Namun, kegelisahannya belum hilang.

Menjelang pukul sembilan malam, seorang perawat mempersilakan Bella menemui ibunya.

Bu Ranti sedang berbaring dengan selang oksigen terpasang di hidungnya.

Melihat putrinya masuk, wanita itu berusaha tersenyum.

“Kenapa matamu bengkak, Nak?”

Bella segera mengusap pipinya.

“Tidak apa-apa, Bu. Bella cuma capek.”

Bu Ranti mengulurkan tangan.

“Duduk sini.”

Bella mendekat dan menggenggam tangan ibunya.

Beberapa saat mereka hanya saling memandang.

Lalu Bu Ranti bertanya pelan.

“Kamu sedang ada masalah dengan Adnan, ya?”

Bella membeku.

“Kenapa Ibu bertanya begitu?”

“Ibu ini sudah tua, Bella. Tapi Ibu belum pikun.”

Bella menunduk.

Bu Ranti mengusap punggung tangan putrinya.

“Setiap kali kamu datang ke rumah, kamu selalu tersenyum. Tapi belakangan ini, senyummu tidak pernah sampai ke mata.”

Air mata Bella kembali jatuh.

“Maafkan Bella, Bu.”

“Untuk apa?”

“Bella gagal mempertahankan rumah tangga.”

Bu Ranti terdiam.

Bella menarik napas panjang sebelum akhirnya mengungkapkan semuanya.

Tentang Adnan yang mencintai Selena.

Tentang malam-malam ketika dia menunggu suaminya pulang.

Tentang pesan-pesan mesra yang tidak sengaja dibacanya.

Dan tentang keputusannya untuk bercerai.

“Ibu pasti kecewa, ya?”

Bu Ranti justru menarik tangan Bella mendekat.

“Nak, kenapa kamu berpikir begitu?”

“Karena Ibu selalu bilang pernikahan harus dipertahankan.”

“Ibu memang pernah bilang begitu. Tapi Ibu tidak pernah menyuruhmu mempertahankan pernikahan dengan mengorbankan harga dirimu.”

Bella mengangkat wajah.

Bu Ranti tersenyum sedih.

“Ibu melahirkanmu bukan supaya kamu menghabiskan hidup meminta cinta dari orang yang tidak mau memberikannya.”

Tangis Bella pecah.

“Ibu tidak marah?”

“Ibu cuma sedih karena anak Ibu menanggung semuanya sendirian.”

Bella memeluk ibunya dengan hati-hati.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dia merasa tidak perlu berpura-pura kuat.

Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.

Pintu kamar tiba-tiba terbuka.

Adnan berdiri di ambang pintu.

Kemeja kantornya kusut. Wajahnya terlihat tegang.

“Bella.”

Bella langsung melepaskan pelukannya.

“Mas datang untuk apa?”

Adnan menatap Bu Ranti yang terbaring lemah.

“Ibu sakit separah ini, kenapa kamu tidak memberitahuku?”

Bella tertawa hambar.

“Memangnya Mas pernah punya waktu untuk mendengarkan?”

Adnan terdiam.

Bu Ranti memperhatikan keduanya dengan sorot mata sedih.

“Adnan, duduklah dulu.”

Namun, Bella segera berdiri.

“Tidak perlu, Bu. Mas Adnan pasti sibuk.”

“Bella, aku datang karena khawatir!”

“Khawatir kepada siapa, Mas? Kepadaku atau karena takut orang lain tahu Mas menelantarkan istri sendiri?”

Wajah Adnan memerah.

“Jangan bicara seperti itu di depan Ibu.”

Bella menatapnya tajam.

“Kenapa? Mas takut Ibu tahu?”

“Bella!”

“Sudah, Adnan.”

Suara Bu Ranti yang lemah membuat keduanya terdiam.

Wanita itu menatap menantunya.

“Ibu hanya ingin bertanya satu hal.”

Adnan menunduk.

“Apa, Bu?”

“Apakah kamu masih mencintai Bella?”

Keheningan menyelimuti kamar.

Adnan membuka mulut, tetapi tidak ada jawaban yang keluar.

Bella tersenyum getir.

“Nah, Bu. Sekarang Ibu sudah tahu jawabannya.”

Dia mengambil tasnya.

“Mas, kita bicara di luar.”

Di lorong rumah sakit, Bella berhenti di dekat jendela.

Adnan menyusulnya.

“Aku tahu kamu marah karena Selena.”

Bella menoleh.

“Jangan sebut namanya seolah-olah masalah kita cuma karena dia.”

“Lalu apa lagi?”

“Mas benar-benar tidak tahu?”

Adnan menghela napas.

“Aku mengakui pernah dekat lagi dengannya. Tapi aku tidak pernah berniat meninggalkanmu.”

Bella menatap suaminya seolah baru pertama kali melihat wajah pria itu.

“Jadi Mas ingin mempertahankan aku sebagai istri, sementara hati Mas tetap untuk wanita lain?”

“Hubunganku dengan Selena tidak sesederhana itu.”

“Pernikahan kita juga tidak sesederhana itu, Mas.”

Adnan terdiam.

Bella mengeluarkan sebuah amplop dari tasnya.

Di dalamnya terdapat salinan dokumen yang telah dia siapkan bersama Key untuk berkonsultasi mengenai perceraian.

“Aku ingin bercerai.”

Adnan menatap amplop itu dengan wajah berubah pucat.

“Tidak.”

“Mas tidak bisa terus menolak kenyataan.”

“Aku tidak akan menceraikanmu.”

“Kenapa?”

Adnan tidak menjawab.

Bella tersenyum pahit.

“Mas bahkan tidak bisa mengatakan bahwa Mas mencintaiku.”

Kalimat itu menghantam Adnan lebih keras daripada teriakan apa pun.

Bella memasukkan kembali amplop tersebut.

“Aku akan mengurusnya melalui pengadilan. Mas tidak perlu khawatir, aku tidak akan menuntut harta yang bukan hakku.”

“Bella, kita bisa membicarakan ini.”

“Kita punya tiga tahun untuk bicara, Mas. Tapi selama tiga tahun itu, hanya aku yang berusaha.”

Bella berbalik meninggalkannya.

Adnan berdiri mematung.

Untuk pertama kalinya, dia menyadari bahwa wanita yang selalu menunggunya mungkin benar-benar akan pergi.

Keesokan paginya, Adnan kembali datang membawa makanan dan beberapa kebutuhan Bu Ranti.

Namun, Bella tidak berada di kamar.

Bu Ranti sedang duduk bersandar di tempat tidur.

“Bella ke mana, Bu?”

“Sedang mengurus administrasi.”

Adnan meletakkan barang bawaannya.

“Ibu, saya ingin meminta maaf.”

Bu Ranti memandangnya lama.

“Adnan, Ibu pernah sangat percaya kepadamu.”

Adnan menunduk.

“Ketika kamu melamar Bella, kamu bilang akan menjaganya.”

“Saya tahu, Bu.”

“Tapi ternyata anak Ibu lebih sering menangis setelah menikah daripada sebelum menikah.”

Adnan tidak mampu menjawab.

Bu Ranti menarik napas perlahan.

“Apa kamu tahu kenapa Bella tidak pernah menceritakan masalah rumah tangganya kepada Ibu?”

Adnan menggeleng.

“Karena dia takut Ibu sakit. Bahkan ketika hatinya sendiri hancur, dia masih memikirkan orang lain.”

Mata Adnan mulai memerah.

“Ibu tidak meminta kamu kembali mencintainya. Cinta tidak bisa dipaksakan.”

Bu Ranti berhenti sebentar.

“Tapi kalau kamu memang tidak bisa membahagiakannya, jangan menghalangi dia mencari kebahagiaannya sendiri.”

Adnan menutup wajah dengan kedua tangan.

Saat itulah ponselnya berdering.

Selena menelepon.

Adnan menatap nama itu beberapa detik sebelum menjawab.

“Adnan, kamu di mana? Aku sudah menunggumu di restoran.”

“Aku di rumah sakit.”

“Masih mengurus Bella?”

Adnan mengerutkan kening.

“Ibunya sedang sakit.”

“Bukankah kamu sudah membayar biaya rumah sakitnya? Memangnya masih kurang?”

Adnan terdiam.

Selama ini, dia selalu menganggap Selena sebagai wanita yang memahami dirinya.

Namun, mendengar nada tidak peduli dalam suara wanita itu, ada sesuatu yang berubah di hatinya.

“Selena, kita bicara nanti.”

“Adnan, jangan bilang kamu mulai merasa bersalah kepada istrimu.”

“Aku memang bersalah.”

“Apa?”

“Aku sudah menyakiti Bella.”

Selena tertawa sinis.

“Jadi sekarang kamu mau menjadi suami yang baik?”

Adnan memutuskan sambungan.

Dia menatap layar ponselnya cukup lama.

Baru sekarang dia menyadari betapa mudahnya dia mengabaikan seseorang yang selama ini selalu memikirkan dirinya.

Beberapa hari kemudian, hasil pemeriksaan lanjutan Bu Ranti keluar.

Dokter menjelaskan bahwa massa di paru-parunya merupakan kanker yang membutuhkan penanganan oleh tim spesialis. Rencana pengobatan harus disesuaikan dengan hasil pemeriksaan lengkap dan kondisi fisiknya.

Bella menangis ketika mendengar penjelasan itu.

Namun, Bu Ranti justru menggenggam tangannya.

“Jangan menangis terus, Nak. Ibu masih di sini.”

Bella mengangguk sambil menghapus air mata.

“Kita akan berjuang sama-sama, Bu.”

Sejak hari itu, kehidupan Bella berubah.

Pagi hari dia bekerja di sebuah perusahaan desain interior di Jakarta Selatan. Sore harinya, dia menemani ibunya menjalani pemeriksaan dan pengobatan.

Key sering datang membantu ketika Bella harus lembur.

Adnan beberapa kali menawarkan bantuan keuangan, tetapi Bella menolak ketergantungan pribadi itu. Dia hanya meminta Adnan menyelesaikan kewajiban yang memang menjadi tanggung jawabnya selama mereka masih terikat perkawinan.

Dua minggu kemudian, Bella resmi mengajukan gugatan cerai ke Pengadilan Agama.

Ketika menerima pemberitahuan perkara, Adnan langsung mendatangi tempat kerja Bella.

“Bella, apa kamu benar-benar akan melakukan ini?”

Bella menatapnya tenang.

“Aku sudah mengajukannya, Mas.”

“Aku sudah mengakhiri hubunganku dengan Selena.”

Bella terdiam sesaat.

Lalu dia bertanya, “Mas melakukan itu karena mencintaiku atau karena takut kehilangan seseorang yang selalu ada untuk Mas?”

Adnan tidak mampu menjawab.

Bella tersenyum kecil.

“Itulah masalahnya. Mas baru mencari aku setelah aku berhenti menunggu.”

Adnan meraih tangannya, tetapi Bella menariknya perlahan.

“Aku menyesal, Bella.”

“Aku percaya.”

Adnan mengangkat wajah dengan penuh harapan.

“Tapi penyesalan Mas tidak otomatis menghapus luka yang sudah terjadi.”

Bella berjalan meninggalkannya.

Adnan tidak lagi mengejar.

Untuk pertama kalinya, dia menghormati keputusan istrinya.

Bulan-bulan berikutnya tidak mudah.

Ada hari ketika Bu Ranti terlalu lemah untuk bangun dari tempat tidur. Ada malam ketika Bella menangis diam-diam di kamar mandi karena takut kehilangan ibunya.

Namun, ada pula hari-hari kecil yang membuat mereka kembali tersenyum.

Ketika Bu Ranti berhasil menghabiskan semangkuk bubur.

Ketika hasil evaluasi dokter menunjukkan kondisi yang cukup baik untuk melanjutkan terapi.

Ketika Bella menerima gaji pertamanya dan membelikan ibunya selimut baru.

Pada suatu malam, Bu Ranti memanggil Bella ke kamar.

“Nak, ambilkan kotak kayu di lemari Ibu.”

Bella menurut.

Kotak itu sudah tua, dengan ukiran bunga kecil di bagian tutupnya.

Di dalamnya terdapat beberapa surat, foto masa kecil Bella, dan sebuah buku tabungan.

“Ibu ingin kamu menyimpannya.”

Bella membuka buku itu.

Matanya membesar.

“Bu, uang sebanyak ini dari mana?”

Bu Ranti tersenyum.

“Dari hasil menjahit dan menyulam selama bertahun-tahun.”

Bella menatap angka yang tercetak pada halaman terakhir.

Jumlahnya tidak fantastis, tetapi cukup untuk menjadi modal awal kehidupan baru.

“Kenapa Ibu tidak pernah cerita?”

“Karena Ibu ingin kamu belajar berdiri dengan kakimu sendiri. Tapi Ibu juga ingin kamu tahu, kalau suatu hari kamu jatuh, masih ada tempat untuk berpijak.”

Bella menangis sambil memeluk ibunya.

“Bella tidak butuh uang ini, Bu. Bella cuma butuh Ibu sembuh.”

Bu Ranti mengusap rambutnya.

“Ibu juga ingin sembuh, Nak. Ibu masih ingin melihat kamu benar-benar bahagia.”

Beberapa bulan kemudian, proses perceraian Bella dan Adnan akhirnya selesai.

Di luar gedung pengadilan, Adnan menghampiri Bella.

Wajahnya tampak lebih kurus.

“Bella.”

Bella berhenti.

“Ada apa?”

Adnan mengeluarkan sebuah amplop.

“Ini bukan untuk membeli maafmu. Aku hanya ingin mengembalikan uang tabunganmu yang dulu kupakai untuk membantu bisnis Selena tanpa sepengetahuanmu.”

Bella terkejut.

Selama ini, dia mengira uang tersebut digunakan Adnan untuk kebutuhan perusahaan.

“Jadi selama ini…”

Adnan mengangguk dengan wajah penuh penyesalan.

“Aku sudah mengembalikannya ke rekeningmu. Semua bukti transfer ada di sini.”

Bella menerima amplop itu.

“Terima kasih karena akhirnya Mas jujur.”

Adnan menatapnya.

“Kalau suatu hari nanti aku berubah menjadi orang yang lebih baik, apa kita masih punya kesempatan?”

Bella terdiam cukup lama.

Angin sore berembus di antara mereka.

Kemudian dia menjawab pelan.

“Semoga Mas benar-benar berubah. Tapi jangan berubah demi mendapatkanku kembali.”

Adnan menunduk.

“Berubahlah supaya Mas tidak menyakiti orang lain seperti Mas menyakitiku.”

Bella berbalik.

Kali ini, langkahnya tidak lagi berat.

Setahun kemudian, sebuah toko kecil bernama Ranti Living resmi dibuka di kawasan Depok.

Toko itu menjual perlengkapan rumah dan dekorasi kain hasil rancangan Bella, termasuk sulaman buatan ibunya.

Bu Ranti duduk di dekat jendela toko dengan wajah bahagia. Pengobatannya masih harus dilanjutkan dan kesehatannya tetap dipantau, tetapi kondisinya cukup stabil untuk menikmati hari itu bersama putrinya.

Key sibuk memotret dekorasi toko untuk diunggah ke media sosial.

“Bell, lihat! Pesanan pertama kita masuk!”

Bella tertawa bahagia.

“Serius?”

“Bukan cuma satu. Sudah lima!”

Bu Ranti ikut tersenyum.

“Ibu bilang juga apa? Anak Ibu pasti bisa.”

Bella menghampiri dan memeluknya.

“Ini semua karena Ibu.”

Tiba-tiba seorang kurir datang membawa sebuket bunga putih.

“Untuk Ibu Bella.”

Bella menerima bunga itu dengan bingung.

Tidak ada nama pengirim.

Hanya sebuah kartu kecil.

Terima kasih karena pernah mencintaiku dengan tulus. Maaf karena aku baru memahami nilainya setelah kehilanganmu. Semoga kamu selalu bahagia.

Bella langsung mengenali tulisan tangan Adnan.

Dia membaca kartu itu sekali lagi, lalu tersenyum tipis.

Tidak ada air mata.

Tidak ada keinginan untuk kembali.

Bella meletakkan bunga tersebut di meja dekat pintu masuk.

“Dari siapa, Nak?” tanya Bu Ranti.

“Dari seseorang yang pernah menjadi bagian hidup Bella.”

Bu Ranti mengangguk pelan.

“Kamu masih sedih?”

Bella memandang ibunya, Key, dan toko kecil yang mereka bangun dengan penuh perjuangan.

Kemudian dia menggeleng.

“Tidak, Bu.”

Dia menggenggam tangan ibunya.

“Dulu Bella pikir kehilangan Mas Adnan berarti kehilangan masa depan.”

“Sekarang?”

Bella tersenyum.

“Sekarang Bella tahu, masa depan tidak pernah hilang hanya karena seseorang memilih pergi.”

Bu Ranti memeluk putrinya.

Di luar, hujan turun perlahan membasahi jalanan Depok.

Bella teringat malam ketika dia duduk sendirian di lorong rumah sakit, menggenggam hasil pemeriksaan ibunya sambil merasa seluruh dunianya runtuh.

Saat itu, dia mengira hidupnya sudah berakhir.

Padahal, tanpa disadarinya, kehidupan yang sebenarnya justru sedang dimulai.

Dan ketika Bella membalik papan kecil di pintu toko dari tulisan tutup menjadi buka, dia menyadari satu hal yang selama ini tidak pernah dia pahami.

Perceraian bukanlah kegagalannya mencintai seseorang.

Kegagalannya dulu adalah terus melupakan dirinya sendiri demi mempertahankan cinta yang tidak pernah dibalas.

Kini dia tidak lagi menunggu seseorang pulang untuk membuatnya merasa berharga.

Karena akhirnya, Bella telah menemukan jalan pulang kepada dirinya sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang