“Dan Vanessa.”
Untuk beberapa detik, aku hanya mendengar bunyi generator dari luar tenda dan suara petugas medis yang berlari di antara para korban.
Fikri meraih lenganku.
“Bu Maya, kita harus pindah sekarang.”
Aku memasukkan flashdisk ke dalam saku bagian dalam jaketku. Kakiku masih berdenyut hebat, tetapi ketakutan yang kurasakan bukan lagi tentang gempa.

“Kalau mereka tahu kamu di sini, kenapa kamu tetap datang?”
Fikri menatapku.
“Karena kalau saya tidak datang, nama Ibu yang akan hancur.”
Kalimat itu membuatku berdiri meski rasa sakit hampir menjatuhkanku.
Kami meminta seorang petugas memindahkanku ke tenda medis lain dengan alasan perlu pemeriksaan lanjutan. Fikri berjalan beberapa meter di belakang, berpura-pura tidak mengenalku.
Belum lima menit kami keluar, dua laki-laki berkemeja perusahaan masuk ke tenda tempatku dirawat sebelumnya.
Aku mengenal salah satunya.
Dimas.
Kepala keamanan internal perusahaan Ardi.
Aku menatap Fikri.
Dia juga melihatnya.
“Sekarang Ibu percaya?”
Aku tidak menjawab.
Di dalam ambulans yang membawaku ke rumah sakit di Mataram, aku membuka ponsel dan mengirim satu pesan kepada satu-satunya orang yang saat itu kupercaya, Ratri, sahabatku sejak kuliah yang sekarang bekerja sebagai pengacara korporasi di Jakarta.
Aku tidak menjelaskan panjang lebar.
Aku hanya menulis bahwa jika dalam dua belas jam aku tidak menghubunginya, dia harus membuka folder cloud yang pernah kubagikan kepadanya.
Lalu kukirim foto flashdisk dan satu kalimat.
Jangan hubungi Ardi.
Balasan Ratri datang kurang dari semenit.
Apa yang terjadi?
Aku menatap layar beberapa saat.
Kemudian mengetik.
Aku baru tahu suamiku mungkin bukan cuma selingkuh.
Malam itu aku dirawat karena retak ringan pada pergelangan kaki dan dehidrasi. Fikri duduk di kursi dekat pintu kamar.
Baru setelah lewat tengah malam dia menjelaskan semuanya.
Tiga tahun sebelumnya, perusahaan Ardi memenangkan beberapa kontrak pembangunan fasilitas komersial dan pergudangan di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Untuk mendapatkan persetujuan operasional, proyek-proyek itu membutuhkan inspeksi keselamatan, audit jalur evakuasi, dan sertifikasi tertentu.
Sebagian pekerjaan benar-benar dilakukan.
Sebagian lainnya hanya ada di atas kertas.
PT Bumi Sarana Nusantara menerbitkan invoice.
Perusahaan Ardi membayar.
Uangnya kemudian mengalir ke beberapa rekening.
“Termasuk rekening Pak Ardi?” tanyaku.
Fikri menggeleng.
“Tidak langsung. Itu yang bikin mereka merasa aman.”
“Vanessa?”
“Sebagian ke rekening ibunya. Sebagian masuk ke dua perusahaan lain.”
Aku menatap flashdisk di meja.
“Lalu namaku?”
Fikri menarik napas.
“Bu Maya punya reputasi di bidang manajemen risiko. Nomor sertifikasi Ibu dipakai untuk membuat laporan terlihat sah.”
Aku merasa mual.
“Siapa yang memalsukan tanda tanganku?”
“Saya tidak tahu siapa yang pertama kali membuatnya. Tapi saya punya email yang menunjukkan Pak Ardi tahu.”
Aku menutup mata.
Perselingkuhan masih bisa disebut pengkhianatan terhadap pernikahan.
Ini berbeda.
Ardi telah mengubah namaku menjadi tameng.
Lebih buruk lagi, jika salah satu fasilitas mengalami kecelakaan, dokumen itu bisa membuatku terlihat sebagai orang yang menyatakan bangunan tersebut aman.
“Kenapa kamu menyimpan semua ini?”
Fikri tersenyum pahit.
“Karena dua tahun lalu teman saya di bagian teknis menolak menandatangani laporan palsu. Tiga minggu kemudian dia dipecat karena pelanggaran disiplin yang tidak pernah dia lakukan.”
“Dan kamu takut mengalami hal yang sama?”
“Saya sudah mengalaminya.”
Ternyata Fikri tidak mengundurkan diri seperti yang dikatakan Ardi.
Dia dipaksa keluar.
Sekitar pukul dua pagi, ponselku berdering.
Ardi.
Kali ini aku mengangkatnya.
“Maya!”
Suaranya terdengar panik.
“Kamu di rumah sakit mana? Aku dari tadi cari kamu!”
Aku diam.
“Maya, dengar. Soal tadi di hotel, aku bisa jelaskan.”
“Apa yang mau kamu jelaskan? Kenapa kamu meninggalkanku atau kenapa nomor sertifikasiku ada di dokumen perusahaanmu?”
Hening.
Hanya dua detik.
Tetapi dua detik itu sudah cukup.
“Maya, kamu dapat apa dari Fikri?”
Bukan penyangkalan.
Bukan kebingungan.
Dia langsung menyebut Fikri.
Aku menatap laki-laki di depanku.
“Jadi kamu memang tahu.”
“Maya, dengarkan aku. Fikri sakit hati karena dipecat. Dia mencuri data perusahaan.”
“Apakah tanda tanganku dipalsukan?”
“Maya…”
“Ya atau tidak?”
Ardi mengembuskan napas panjang.
“Itu lebih rumit.”
Aku tertawa kecil.
Sebelas tahun menikah dengannya mengajariku satu hal.
Ketika Ardi berkata sesuatu rumit, biasanya artinya sesuatu itu benar tetapi dia belum menemukan kebohongan yang cukup bagus.
“Pulang ke Jakarta,” katanya. “Kita bicara berdua.”
“Vanessa di sebelahmu?”
Dia tidak menjawab.
Aku menutup telepon.
Pagi berikutnya aku terbang ke Jakarta setelah dokter mengizinkan perjalanan dengan alat penyangga kaki.
Aku tidak pulang ke rumah.
Aku langsung menemui Ratri.
Selama hampir tujuh jam, kami memeriksa isi flashdisk.
Ada ratusan dokumen.
Email.
Invoice.
Laporan inspeksi.
Bukti transfer.
Versi asli dan versi yang telah diubah.
Namaku muncul dalam sebelas laporan.
Sebelas.
Pada empat laporan, tanda tanganku dipindai.
Pada tujuh lainnya, digunakan tanda tangan digital.
Nomor sertifikasi profesional milikku tercantum di semuanya.
Namun ada satu file yang membuat Ratri berhenti menggulir layar.
“Maya.”
“Apa?”
Dia memperbesar sebuah email.
Pengirimnya Ardi.
Penerimanya Vanessa dan direktur keuangan perusahaan.
Tanggalnya enam belas bulan sebelumnya.
Isinya singkat.
Gunakan format laporan Maya yang lama. Jangan ubah terlalu banyak supaya tidak menarik perhatian auditor.
Tanganku menjadi dingin.
Ratri menatapku.
“Ini bukan lagi masalah rumah tangga.”
“Aku tahu.”
“Kita harus buat salinan. Banyak.”
Hari itu kami melakukan tiga hal.
Menyerahkan bukti awal melalui kuasa hukum kepada kepolisian.
Mengirim paket dokumen terverifikasi kepada komite audit dan direksi independen perusahaan.
Dan menghubungi organisasi profesi yang menerbitkan sertifikasiku agar mereka mengetahui bahwa identitasku diduga digunakan tanpa izin.
Aku tidak mengunggah apa pun ke media sosial.
Aku tidak membuat video menangis.
Aku tidak menulis nama Vanessa.
Aku hanya memastikan bukti masuk ke tangan orang-orang yang memiliki kewenangan memeriksanya.
Ardi datang ke apartemen Ratri malam itu.
Dia berdiri di luar hampir empat puluh menit.
“Maya!”
Aku mendengar suaranya dari balik pintu.
“Kamu sedang menghancurkan perusahaan yang dibangun keluarga kita!”
Aku membuka pintu, tetapi tidak membiarkannya masuk.
Wajahnya tampak jauh lebih tua dibanding tiga hari sebelumnya.
“Perusahaan keluarga kita?”
“Kamu tahu maksudku.”
“Tidak. Itu perusahaan keluargamu. Namaku hanya kamu gunakan ketika butuh tanda tangan.”
Wajahnya menegang.
“Aku tidak pernah bermaksud menyeretmu.”
“Tapi kamu melakukannya.”
“Itu cuma dokumen administrasi.”
“Dokumen keselamatan bukan administrasi, Ardi.”
Dia menurunkan suara.
“Kamu tidak mengerti bagaimana bisnis besar bekerja.”
Kalimat itu hampir membuatku tersenyum.
“Aku memahami risiko. Itu pekerjaanku.”
“Aku bisa memperbaikinya.”
“Seperti kamu memperbaiki keadaan di Lombok?”
Dia terdiam.
Aku menatapnya lurus.
“Waktu kamu melihatku terjepit, apa yang kamu pikirkan?”
“Maya, jangan lakukan ini.”
“Aku ingin tahu.”
Dia mengusap wajah.
“Aku panik.”
“Kamu melihatku.”
“Aku pikir petugas akan menyelamatkanmu.”
“Lalu kenapa setelah itu kamu memintaku jangan bicara dengan polisi?”
Matanya berubah.
Untuk pertama kalinya aku melihat ketakutan yang sebenarnya.
Bukan takut kehilangan istri.
Takut kehilangan kendali.
“Maya, kalau dokumen itu keluar, bukan cuma aku yang kena.”
“Siapa lagi?”
Dia tidak menjawab.
Aku menutup pintu.
Dua minggu berikutnya bergerak lebih cepat daripada yang bisa kubayangkan.
Komite audit membentuk investigasi internal. Beberapa pembayaran vendor dibekukan. Polisi memanggil Fikri, staf procurement lama, direktur keuangan, dan akhirnya Ardi.
Vanessa menghilang dari kantor selama beberapa hari.
Kemudian pengacaranya menghubungi penyidik.
Dia ingin memberikan keterangan.
Aku mengira Vanessa akan melindungi Ardi.
Ternyata aku salah.
Saat diperiksa, Vanessa menyerahkan ponsel lama yang masih menyimpan percakapan dengan Ardi.
Pesan-pesan itu menunjukkan hubungan mereka.
Tetapi yang lebih penting, ada percakapan tentang PT Bumi Sarana Nusantara.
Ibunya memang tercatat sebagai pemilik.
Namun menurut Vanessa, Ratna bahkan tidak memahami bisnis perusahaan itu.
Namanya dipinjam.
Orang yang mengendalikan pembayaran sebenarnya adalah Ardi bersama direktur keuangan.
Vanessa mengaku awalnya hanya membantu administrasi.
Kemudian hubungan mereka berubah.
Saat itulah Ardi mulai menggunakan ketergantungannya sebagai alat.
Kalau Vanessa keluar, ibunya bisa ikut terseret.
Kalau Vanessa bicara, seluruh transaksi akan diarahkan kepadanya.
Aku membencinya karena perselingkuhan itu.
Namun ketika membaca keterangannya, aku memahami satu hal yang tidak nyaman.
Dalam skema Ardi, kami berdua digunakan dengan cara berbeda.
Aku sebagai nama profesional.
Vanessa sebagai nama keluarga dan hubungan pribadi.
Sebulan kemudian, direksi memberhentikan sementara Ardi dari seluruh fungsi eksekutif sampai investigasi selesai.
Keluarganya datang menemuiku.
Ibu mertuaku menangis di ruang tamu apartemen Ratri.
“Maya, tolong cabut laporanmu. Ardi memang salah, tapi dia suamimu.”
Aku menatap perempuan yang selama sebelas tahun kupanggil Mama.
“Kalau hari itu saya meninggal di Lombok, apakah Mama akan meminta Ardi mempertahankan nama saya?”
Dia tidak mampu menjawab.
Aku melanjutkan pelan.
“Ini bukan lagi soal pernikahan.”
Aku mengambil map abu-abu yang kubawa dari rumah.
Map asli.
Yang pertama kali membuatku curiga.
“Ini soal orang-orang yang bekerja di gedung yang dinyatakan aman menggunakan nama saya.”
Dia menangis.
Tetapi kali ini aku tidak merasa bersalah.
Beberapa bulan kemudian, penyelidikan menemukan bahwa kerugian perusahaan jauh lebih besar daripada tiga invoice yang pertama kulihat. Sejumlah transaksi sedang diproses sebagai bagian dari perkara, sementara organisasi profesiku menyatakan ada indikasi kuat penggunaan identitas dan tanda tangan tanpa persetujuanku.
Ardi dan aku menjalani proses perceraian.
Kami bertemu sekali sebelum sidang pertama.
Tidak ada pengacara di ruangan itu.
Tidak ada Vanessa.
Hanya kami.
Dia tampak kurus.
“Aku kehilangan semuanya,” katanya.
Aku memandangnya.
“Tidak.”
Dia mengangkat kepala.
“Kamu kehilangan hal-hal yang selama ini kamu kira milikmu.”
“Apa bedanya?”
“Besar.”
Aku meletakkan map abu-abu di meja.
“Kamu punya perusahaan. Jabatan. Uang. Istri yang percaya padamu. Orang-orang yang bekerja untukmu. Kamu menganggap semuanya bisa dipakai selama berguna.”
Dia menatap map itu lama.
“Apa kamu benar-benar tidak pernah berpikir untuk memaafkanku?”
Aku teringat debu di Lombok.
Kakiku yang terjepit.
Suara baling-baling.
Sepatu cokelat itu berlari menjauh.
“Aku sudah memaafkan satu hal.”
Wajahnya berubah seolah melihat sedikit harapan.
“Apa?”
“Kamu meninggalkanku di bawah reruntuhan.”
Dia terdiam.
“Karena kalau kamu tidak melakukan itu, mungkin aku masih akan pulang bersamamu. Mungkin aku masih akan percaya penjelasanmu. Mungkin aku akan membiarkanmu meyakinkanku bahwa semua dokumen itu hanya kesalahpahaman.”
Aku berdiri.
“Tapi ketika helikopter itu terbang, kamu menunjukkan sesuatu yang selama sebelas tahun tidak pernah bisa kulihat dengan jelas.”
“Apa?”
“Siapa dirimu ketika harus memilih antara menyelamatkan orang lain dan menyelamatkan dirimu sendiri.”
Aku meninggalkannya di sana.
Kupikir itulah akhir ceritanya.
Ternyata belum.
Enam bulan setelah gempa, Fikri meneleponku.
“Bu Maya, saya menemukan sesuatu waktu memindahkan backup lama.”
Dia mengirim sebuah foto.
Aku membukanya.
Itu foto dokumen internal perusahaan bertanggal hampir empat tahun sebelumnya.
Sebelum PT Bumi Sarana Nusantara berdiri.
Sebelum Ardi mengenal Vanessa.
Di bagian bawah terdapat persetujuan penggunaan format audit eksternal.
Dan di sana ada namaku.
Namun bukan tanda tanganku.
Ada catatan kecil dalam email yang menyertainya.
Format Maya aman dipakai. Dia istri saya. Kalau suatu hari ditanya, saya yang akan bicara dengannya.
Tanggal email itu membuatku terduduk.
Hari itu adalah ulang tahun pernikahan kami yang ketujuh.
Malam ketika Ardi memberiku sebuah kalung dan mengatakan aku adalah satu-satunya orang yang benar-benar dia percaya.
Saat itulah aku akhirnya memahami sesuatu.
Vanessa bukan awal dari pengkhianatan.
Gempa Lombok juga bukan saat Ardi berubah menjadi seseorang yang tidak kukenal.
Aku hanya baru melihatnya.
Selama bertahun-tahun aku mengira map abu-abu itu menyimpan rahasia suamiku.
Ternyata bukan.
Map itu menyimpan bukti tentang betapa lama aku hidup bersama seseorang yang menganggap kepercayaanku sebagai aset yang bisa dipakai tanpa izin.
Aku berdiri di depan jendela apartemen sambil memegang foto dokumen itu.
Kakiku sudah pulih. Bekas lukanya masih ada, tipis di dekat pergelangan.
Aneh sekali.
Dari semua luka yang kuterima di Lombok, justru luka itu yang paling tidak ingin kuhapus.
Karena setiap kali melihatnya, aku teringat bahwa pada hari suamiku meninggalkanku di bawah reruntuhan, dia sebenarnya melakukan satu hal yang tidak pernah berhasil dia lakukan selama sebelas tahun pernikahan kami.
Dia membebaskanku.
Bukan ketika dia naik ke helikopter.
Bukan ketika polisi mulai memeriksa dokumen.
Bukan ketika direksi mencopot jabatannya.
Aku bebas ketika, di bawah beton dan debu itu, aku berhenti menunggu dia kembali dan memilih menyelamatkan diriku sendiri.
