“Ada seseorang yang melihatmu jatuh malam itu.”
Kalimat Ghost membuat seluruh tubuhku membeku. Suara monitor jantung di samping ranjang terdengar semakin jelas, seolah setiap detiknya sedang menghitung mundur menuju sebuah kebenaran yang selama ini terkubur.
Aku menatap layar ponsel di tangannya.
“Siapa?”

“Seorang petugas kebersihan bernama Pak Harun. Dia yang menemukanmu keesokan paginya.”
“Aku tahu. Dia membawaku ke rumah sakit.”
Ghost menggeleng perlahan.
“Bukan itu. Sebelum menemukanmu, dia sudah melihat seseorang keluar dari balkon rumahmu malam itu.”
Dadaku mendadak sesak.
Dalam ingatanku, malam itu hanya dipenuhi suara permainan kartu dari lantai atas, aroma rokok, dan lantai balkon yang terasa dingin. Aku ingat berdiri di dekat pagar, lalu tiba-tiba kehilangan keseimbangan.
Namun, setelahnya hanya ada kegelapan.
“Siapa orang itu?” tanyaku.
Ghost tidak langsung menjawab.
“Adik laki-laki ibumu. Namanya Damar.”
Aku menatapnya lama.
Paman Damar.
Nama yang hampir tidak pernah kusebut selama dua puluh tahun terakhir.
Dahulu dia sering datang ke rumah. Dia selalu membawa permen, berbicara dengan suara lembut, dan tersenyum di hadapan orang lain. Namun, ketika hanya ada kami berdua, senyumnya berubah menjadi sesuatu yang membuatku takut.
Aku menggenggam selimut.
“Dia bilang aku anak nakal,” bisikku.
Ghost mendekat.
“Apa?”
Aku menelan ludah.
“Malam itu, aku melihat Paman Damar mengambil sesuatu dari lemari kerja Ayah. Aku bertanya kenapa dia membuka lemari itu. Dia menyuruhku diam.”
Kenangan yang selama ini tampak seperti pecahan kaca mulai tersusun.
Aku ingat sebuah amplop cokelat.
Aku ingat Damar memasukkannya ke dalam jaket.
Dan aku ingat ancamannya.
“Kalau kamu mengadu, semua orang akan menganggapmu pembohong.”
Aku mulai gemetar.
Ghost tidak menyentuhku. Dia hanya duduk lebih dekat.
“Kamu tidak harus melanjutkannya sekarang.”
Namun, untuk pertama kalinya, aku justru ingin berbicara.
“Aku mengikutinya ke balkon. Aku bilang akan memberi tahu Ibu.”
Tenggorokanku terasa tercekat.
“Lalu dia menarik lenganku.”
Ingatan berikutnya muncul begitu jelas hingga aku hampir berteriak.
Tanganku mencengkeram pagar balkon. Damar berusaha melepaskan genggamanku. Aku menangis dan memohon agar dia berhenti.
Kemudian tubuhku jatuh.
Aku menutup mulut dengan tangan kanan.
“Dia yang membuatku jatuh.”
Ghost mengangguk pelan.
“Menurut laporan Pak Harun, dia mendengar suara benturan keras sekitar pukul sepuluh malam. Ketika melihat ke arah rumahmu, dia melihat seorang laki-laki berdiri di balkon sebelum masuk kembali ke dalam.”
“Kenapa dia tidak menolongku?”
“Dia mengira suara itu berasal dari barang yang jatuh. Semak-semak di halaman cukup tinggi. Dia baru menemukanmu ketika kembali bekerja pagi harinya.”
Air mataku mulai mengalir.
Selama bertahun-tahun aku menyalahkan diriku karena dianggap terlalu ceroboh.
Padahal aku adalah anak kecil yang sengaja dibiarkan berada dalam bahaya.
“Kenapa tidak ada yang memberitahuku?”
Ghost menatapku dengan wajah berat.
“Laporan itu tidak ditindaklanjuti secara menyeluruh. Orang tuamu menyatakan bahwa kamu jatuh saat bermain sendirian. Pak Harun tidak melihat langsung bagaimana kamu melewati pagar balkon, sehingga keterangannya dianggap belum cukup.”
Aku tertawa kecil, tetapi suaraku terdengar menyedihkan.
“Jadi, bahkan setelah hampir mati, aku tetap tidak dipercaya.”
“Dengarkan aku,” kata Ghost. “Kamu baru tujuh tahun. Kamu tidak bertanggung jawab atas apa yang dilakukan orang dewasa kepadamu.”
Aku memalingkan wajah.
Aku ingin mempercayainya.
Namun, rasanya sulit menerima sesuatu yang bertentangan dengan seluruh cara hidupku.
Malam berikutnya, aku terbangun karena mimpi buruk.
Dalam mimpi itu, aku kembali terbaring di antara semak-semak. Dadaku sakit, lenganku patah, dan lampu rumah masih menyala.
Aku berusaha memanggil seseorang.
Tidak ada jawaban.
Ketika membuka mata, napasku memburu.
Tiba-tiba terdengar ketukan pelan.
“Boleh masuk?”
Itu suara König.
Dia berdiri di ambang pintu sambil membawa dua gelas teh hangat.
“Aku mendengar kamu terbangun.”
Aku buru-buru mengusap wajah.
“Aku tidak apa-apa.”
König menatapku beberapa saat.
“Kamu tahu, kalimat itu mulai terdengar mencurigakan kalau keluar dari mulutmu.”
Aku hampir tersenyum.
Dia meletakkan teh di meja.
“Aku tidak akan memaksamu bercerita. Tapi aku bisa menemanimu sampai kamu tidur lagi.”
“Bukankah kamu harus beristirahat?”
“Aku bisa tidur nanti.”
“Kenapa?”
König mengangkat bahu.
“Karena kamu temanku.”
Aku menunduk.
Dua kata itu terasa asing.
Selama bekerja bersama mereka, aku menganggap diriku hanya seseorang yang bertugas mengirimkan koordinat dan menganalisis peta.
Aku tidak pernah menyadari bahwa keberadaanku memiliki arti lain.
Beberapa hari kemudian, Zhao, seorang penyelidik yang bekerja sama dengan tim hukum, menghubungiku.
Dia telah menemukan Pak Harun yang kini tinggal bersama putrinya di Bandung.
Lelaki itu sudah lanjut usia, tetapi masih mengingat kejadian malam tersebut.
Melalui panggilan video, wajahnya tampak penuh kerutan.
“Anak kecil yang jatuh itu kamu?” tanyanya dengan suara bergetar.
Aku mengangguk.
Matanya langsung berkaca-kaca.
“Maafkan Bapak. Bapak menyesal tidak memeriksa halaman malam itu.”
“Bapak menyelamatkan saya pagi harinya.”
“Tetapi kamu seharusnya tidak perlu menunggu selama itu.”
Aku terdiam.
Untuk pertama kalinya, seseorang meminta maaf atas penderitaanku tanpa mencoba mencari alasan.
Pak Harun kemudian menceritakan sesuatu yang mengejutkan.
Beberapa minggu setelah kejadian, dia pernah kembali ke rumah kami untuk menanyakan keadaanku. Namun, ibuku menyuruhnya pergi.
“Dia bilang kamu sudah sembuh dan tidak perlu mengungkit kejadian itu lagi.”
Aku memejamkan mata.
Ternyata bukan hanya malam itu mereka mengabaikanku.
Mereka juga berusaha memastikan tidak ada seorang pun membicarakannya.
Dengan bantuan penyelidik, aku mengajukan laporan baru. Kesaksian Pak Harun, catatan rumah sakit, dan dokumen lama dikumpulkan untuk diperiksa sesuai prosedur hukum.
Aku tahu tidak mudah membuktikan peristiwa yang telah terjadi puluhan tahun lalu.
Namun, kali ini aku tidak ingin diam.
Dua minggu kemudian, ibuku menelepon.
Aku hampir tidak mengenali suaranya.
“Kamu benar-benar melaporkan pamanmu?”
“Iya.”
“Kenapa harus mengungkit masa lalu? Kamu sudah dewasa.”
Aku menggenggam ponsel erat.
“Karena aku hampir meninggal malam itu.”
“Itu cuma kecelakaan!”
“Paman Damar menarik tanganku sampai aku jatuh.”
Ibuku terdiam.
Lalu dia mengatakan sesuatu yang menghancurkan sisa harapanku.
“Kamu tidak mengerti. Waktu itu Damar sedang kesulitan. Dia mengambil dokumen milik ayahmu karena punya masalah utang. Kalau kasus itu terbongkar, keluarga kita akan malu.”
Aku merasa seluruh ruangan berputar.
“Jadi Ibu tahu?”
Tidak ada jawaban.
“Ibu tahu dia yang membuatku jatuh?”
Suara ibuku akhirnya terdengar lagi.
“Kami pikir kamu akan sembuh. Dokter juga mengatakan kondisimu bisa ditangani.”
Aku tidak mampu berkata-kata.
Tiga tulang rusuk retak.
Lengan patah.
Semalaman terbaring sendirian.
Dan baginya, semua itu hanya persoalan yang akhirnya bisa diselesaikan oleh dokter.
“Ibu,” kataku perlahan, “aku menunggu sepanjang malam.”
“Jangan berlebihan.”
“Aku menunggu sampai matahari terbit.”
“Kamu selalu terlalu sensitif.”
Aku menutup mata.
Dahulu, kalimat seperti itu selalu membuatku merasa bersalah.
Namun, kali ini aku tidak lagi berusia tujuh tahun.
“Mulai sekarang, jangan hubungi aku lagi.”
Aku memutuskan panggilan.
Setelahnya, aku menangis begitu keras sampai luka di pinggangku kembali terasa nyeri.
Perawat datang memeriksa kondisiku. Ghost yang kebetulan berada di lorong ikut masuk.
Aku berusaha meminta maaf.
Namun, dia menggeleng.
“Tidak perlu.”
“Aku merepotkan kalian.”
“Kamu sedang terluka. Itu bukan merepotkan.”
Aku menatapnya sambil menangis.
“Bagaimana kalau suatu hari kalian bosan menolongku?”
Ghost menarik kursi.
“Kalau kamu membutuhkan bantuan, katakan. Kami tidak bisa menjanjikan selalu ada di setiap tempat, tetapi kami akan melakukan apa yang kami bisa.”
Untuk pertama kalinya, aku menyadari bahwa menerima pertolongan bukan berarti menjadi lemah.
Beberapa bulan kemudian, kondisiku pulih dan aku kembali bertugas.
Kasus masa kecilku masih menjalani proses pemeriksaan. Damar akhirnya dimintai keterangan setelah ditemukan dokumen lama yang berkaitan dengan kehilangan berkas milik ayahku. Aku tidak tahu bagaimana hasil akhirnya.
Namun, aku tidak lagi menggantungkan kesembuhanku pada pengakuan orang-orang yang pernah menyakitiku.
Suatu sore, saat sedang mengerjakan laporan, aku merasakan nyeri tajam di sisi pinggang.
Biasanya aku akan diam dan melanjutkan pekerjaan.
Namun, kali ini aku meletakkan tablet.
“Ghost.”
Dia menoleh.
“Ada apa?”
“Lukaku terasa sakit. Aku perlu pergi ke ruang medis.”
Ghost langsung berdiri.
“Baik. Aku antar.”
Tidak ada keterkejutan.
Tidak ada komentar yang merendahkan.
Dia hanya mengambil jaketnya dan berjalan bersamaku.
Di lorong, kami berpapasan dengan König dan Keegan.
“Mau ke mana?” tanya Keegan.
“Ruang medis,” jawabku.
König mengangguk.
“Semoga cepat membaik.”
Sesederhana itu.
Namun, dadaku terasa hangat.
Malamnya, aku membuka sebuah kotak kecil yang selama ini kusimpan di bagian terdalam lemari.
Di dalamnya terdapat gelang rumah sakit masa kecilku dan foto seorang anak perempuan berlengan gips.
Aku menatap foto itu cukup lama.
Dahulu aku membenci anak kecil dalam gambar tersebut karena terlalu lemah untuk menyelamatkan dirinya sendiri.
Sekarang aku melihatnya secara berbeda.
Dia bukan anak yang lemah.
Dia hanya anak yang membutuhkan pertolongan dan tidak mendapatkannya.
Aku meletakkan foto itu di atas meja, lalu mengambil selembar kertas.
Dengan tangan yang sudah tidak gemetar, aku menulis surat untuk diriku yang berusia tujuh tahun.
Aku mengatakan bahwa dia tidak bersalah.
Bahwa dia berhak menangis ketika kesakitan.
Bahwa dia tidak harus menjadi kuat setiap saat.
Dan bahwa suatu hari nanti, dia akan menemukan orang-orang yang datang bukan karena terpaksa, melainkan karena mereka peduli.
Ketika selesai menulis, terdengar ketukan dari pintu.
“Sudah makan?” suara König terdengar dari luar.
“Belum.”
“Kami pesan makanan. Mau bergabung?”
Aku memandangi surat di tanganku.
Lalu, untuk pertama kalinya, aku menjawab tanpa berpikir bahwa keberadaanku akan mengganggu siapa pun.
“Tunggu sebentar. Aku ikut.”
Saat membuka pintu, aku melihat Ghost, König, Keegan, dan Krueger berdiri di lorong.
Krueger mengangkat kantong makanan.
“Kami sengaja memesan kesukaanmu.”
Aku tertawa kecil.
“Kalian bahkan tahu makanan kesukaanku?”
Keegan tersenyum.
“Tentu saja. Kamu pikir kami tidak pernah memperhatikanmu?”
Aku terdiam sesaat.
Kemudian aku melangkah keluar dan menutup pintu kamar.
Dua puluh tahun lalu, seorang anak perempuan menunggu sepanjang malam di antara semak-semak, meyakini bahwa tidak seorang pun akan datang.
Kini, perempuan yang sama berjalan di antara orang-orang yang peduli kepadanya.
Aku tidak bisa mengubah malam ketika aku jatuh dari balkon.
Aku juga tidak bisa memaksa orang tuaku menjadi manusia yang lebih baik.
Namun, aku akhirnya memahami sesuatu yang seharusnya kuketahui sejak kecil.
Kesakitanku tidak harus mencapai batas yang membahayakan nyawa agar layak diperhatikan.
Dan aku tidak perlu hampir mati untuk pantas diselamatkan.
Sebab orang yang benar-benar peduli tidak selalu menunggu kita berteriak meminta pertolongan.
Terkadang, mereka hanya mengetuk pintu dan bertanya apakah kita sudah makan.
