
“JADI SELAMA INI KALIAN BUKAN CUMA MEMBOHONGIKU, TAPI JUGA MENCURI HASIL KERJAKU?”
Suaraku bergetar ketika membaca kembali proposal proyek senilai Rp8,4 miliar yang dikirim Rina.
Di halaman pertama, nama Selma tercantum sebagai penanggung jawab strategi. Sementara tanda tanganku muncul pada lembar persetujuan, padahal aku tidak pernah menandatanganinya.
Aku duduk sendirian di kamar hotel kawasan Gubeng, Surabaya. Lututku masih berdenyut akibat terjatuh di tengah hujan. Namun, rasa sakit itu tidak seberapa dibandingkan pengkhianatan yang baru saja kutemukan.
Tiga tahun aku mencintai Arga.
Tiga tahun pula aku menganggap Selma sebagai sahabat yang bisa dipercaya.
Ternyata keduanya mungkin telah menggunakan kepercayaanku untuk mengambil sesuatu yang jauh lebih berharga daripada hubungan kami.
Aku segera menghubungi Rina.
“Rin, jangan ubah atau hapus dokumen apa pun. Kalau ada pemeriksaan, kita harus bisa menunjukkan riwayat aslinya.”
“Iya, Nad. Tapi kamu harus hati-hati. Senin pagi, Selma akan diperkenalkan sebagai pemimpin proyek di depan direksi.”
Aku menatap kalender.
Masih ada dua hari.
“Kalau begitu, Senin pagi aku juga akan datang.”
Keesokan harinya, aku menemui Bu Ratih di sebuah kafe dekat Jalan Pemuda.
Beliau mendengarkan ceritaku tanpa menyela.
“Jadi kamu ingin pindah karena masalah pribadi?” tanyanya.
Aku menggeleng.
“Awalnya mungkin begitu, Bu. Tapi sekarang saya ingin bekerja di tempat yang menghargai kontribusi saya secara profesional.”
Bu Ratih tersenyum tipis.
“Itu alasan yang lebih baik. Namun, selesaikan dulu kewajibanmu di perusahaan lama. Jangan membawa dokumen rahasia klien ke perusahaan kami.”
Aku mengangguk.
Nasihat itu menyadarkanku bahwa membuktikan kecurangan tidak berarti aku boleh melanggar aturan yang selama ini kujunjung.
Sepulang dari pertemuan, aku mengumpulkan bukti yang memang berhak kusimpan, termasuk catatan pekerjaan pribadi, email penugasan, serta salinan evaluasi kinerjaku.
Aku juga menghubungi bagian kepatuhan perusahaan dan meminta agar riwayat persetujuan proposal diperiksa secara resmi.
Minggu malam, Arga akhirnya menelepon.
“Kamu di mana, Nad? Kenapa nggak pulang?”
“Di tempat yang aman.”
“Jangan berlebihan. Aku cuma mengantar Selma karena dia sakit.”
Aku tertawa pahit.
“Aku nggak menelepon untuk membahas payung, Mas.”
Arga terdiam.
“Aku mau tanya satu hal. Kenapa namaku dihapus dari proposal Pradipta?”
Hening.
Kemudian terdengar suara benda jatuh.
“Kamu dapat informasi itu dari siapa?”
“Jadi benar kamu tahu?”
“Nadira, dengarkan dulu. Ini keputusan manajemen.”
“Keputusan manajemen juga yang membuat tanda tanganku muncul tanpa persetujuanku?”
Arga menarik napas panjang.
“Kita bicarakan besok.”
“Tidak. Besok kita bicara di hadapan pihak yang berwenang memeriksa dokumen itu.”
Aku menutup telepon.
Untuk pertama kalinya, aku tidak menunggu dia menjelaskan kebohongannya.
Senin pagi, aku tiba di kantor pukul delapan.
Beberapa rekan kerja menatapku dengan heran. Mungkin karena foto Arga dan Selma di bawah payung masih menjadi bahan pembicaraan.
Aku berjalan melewati mereka tanpa menunduk.
Di ruang rapat lantai tujuh, Selma sudah duduk di samping Arga.
Dia mengenakan blazer putih dan tersenyum ketika melihatku.
“Nad, kamu masuk kerja? Katanya kemarin kamu sakit.”
“Aku memang terluka, Sel. Tapi masih bisa menghadiri rapat.”
Senyumnya memudar.
Beberapa menit kemudian, direktur utama, Pak Hendra, membuka pertemuan.
“Pagi ini kita akan menetapkan struktur tim proyek Pradipta.”
Selma langsung berdiri.
Namun, sebelum dia mulai presentasi, aku mengangkat tangan.
“Pak, saya meminta pemeriksaan atas keabsahan dokumen persetujuan proyek sebelum struktur tim disahkan.”
Ruangan mendadak sunyi.
Arga menatapku tajam.
“Nadira, ini bukan waktunya.”
“Justru sekarang waktunya, Mas.”
Aku menatap Pak Hendra.
“Dokumen yang beredar mencantumkan tanda tangan saya dan menyatakan bahwa saya menyetujui pengalihan tanggung jawab strategi kepada Selma. Saya tidak pernah memberikan persetujuan itu.”
Pak Hendra langsung meminta rapat ditunda.
Kepala bagian kepatuhan kemudian masuk bersama staf teknologi informasi.
Pemeriksaan awal menunjukkan bahwa dokumen tersebut diunggah melalui akun persetujuanku pada malam ketika Arga meminjam laptopku.
Namun, temuan itu belum membuktikan siapa yang menggunakan akun tersebut.
Arga segera berkata, “Nadira mungkin lupa. Dia sedang kelelahan waktu itu.”
Aku menatapnya.
“Kalau memang aku yang menyetujui, kenapa kamu tidak pernah membicarakannya denganku?”
Arga tidak menjawab.
Petugas teknologi informasi kemudian memperlihatkan catatan perubahan berkas.
Versi pertama mencantumkan namaku sebagai pemimpin strategi.
Versi berikutnya menggantinya dengan nama Selma.
Perubahan tersebut dilakukan dari perangkat kantor yang terdaftar atas nama Arga.
Wajah Selma mulai pucat.
Pak Hendra menatap keduanya.
“Saya ingin penjelasan tertulis dari kalian.”
Tiba-tiba Selma berdiri.
“Pak, saya hanya mengikuti arahan Mas Arga!”
Arga langsung menoleh.
“Selma!”
“Aku nggak mau disalahkan sendirian!”
Air mata Selma mulai mengalir.
Dia mengaku Arga menjanjikan promosi apabila dirinya bersedia mengambil alih presentasi proyek.
Namun, ketika Pak Hendra bertanya siapa yang menggunakan tanda tanganku, Selma menggeleng.
“Aku nggak tahu. Mas Arga yang mengurus dokumennya.”
Arga membantah.
Keduanya mulai saling menyalahkan.
Aku memandangi mereka tanpa berkata-kata.
Dua orang yang selama ini begitu kompak menyembunyikan sesuatu dariku kini tidak mampu mempertahankan cerita yang sama.
Pak Hendra menghentikan perdebatan.
“Cukup. Semua akses perubahan dokumen terkait proyek ini akan dibatasi sampai pemeriksaan selesai.”
Aku mengira itulah akhir kejutan hari itu.
Ternyata aku salah.
Siang harinya, bagian kepatuhan memanggilku kembali.
Di ruang kecil itu, Pak Hendra memperlihatkan laporan yang baru diterima dari tim audit internal.
Ternyata selama hampir dua tahun, sejumlah proposal yang kukerjakan pernah mengalami perubahan nama penanggung jawab menjelang tahap penilaian kinerja.
Sebagian kredit pekerjaan dialihkan kepada Selma.
Perubahan tersebut berpengaruh terhadap penilaian promosi dan pembagian bonus proyek.
Aku merasa seluruh tubuhku dingin.
“Jadi ini bukan pertama kalinya?”
Pak Hendra menggeleng.
“Kami masih memeriksa setiap kasus. Tetapi polanya cukup serius untuk diselidiki lebih lanjut.”
Aku teringat semua kesempatan yang pernah hilang.
Promosi yang tiba-tiba dibatalkan.
Bonus yang lebih kecil daripada perkiraanku.
Presentasi penting yang mendadak diserahkan kepada Selma.
Selama ini Arga selalu mengatakan bahwa aku belum cukup percaya diri untuk memimpin proyek besar.
Aku mempercayainya.
Padahal mungkin dialah orang yang sengaja membuatku merasa tidak mampu.
Sore itu, Selma menungguku di dekat lift.
“Nad, kita bisa bicara?”
Aku berhenti.
“Apa lagi?”
Dia menangis.
“Aku memang salah. Tapi hubungan kami nggak seperti yang kamu pikirkan.”
Aku menatapnya lama.
“Hubungan apa, Sel?”
Selma terdiam.
Aku tersenyum getir.
“Aku bahkan belum menanyakan hubungan kalian.”
Wajahnya seketika berubah.
Akhirnya dia mengaku bahwa dirinya dan Arga sudah menjalin hubungan diam-diam selama hampir dua tahun.
Aku merasa dadaku sesak, tetapi anehnya tidak ada lagi air mata.
“Kenapa kamu tega?” tanyaku.
Selma menunduk.
“Aku iri sama kamu, Nad. Kamu selalu berhasil. Semua orang menghargai kemampuanmu. Aku ingin punya kesempatan yang sama.”
“Kesempatan tidak harus didapat dengan mengambil milik orang lain.”
Dia menangis semakin keras.
Aku meninggalkannya.
Malam itu, Arga datang ke hotel tempatku menginap.
Dia berdiri di depan lobi dengan wajah kusut.
“Nadira, Mas salah. Tapi Mas masih sayang sama kamu.”
Aku memandang laki-laki yang dahulu ingin kunikahi itu.
“Kalau kamu benar-benar menyayangiku, kenapa kamu membuatku meragukan kemampuanku sendiri selama bertahun-tahun?”
Arga menunduk.
“Mas takut kamu lebih sukses.”
Jawaban itu membuatku terdiam.
“Aku tahu kamu pintar,” lanjutnya. “Setiap proyek besar selalu bergantung pada idemu. Mas takut suatu hari kamu sadar bahwa kamu nggak membutuhkan Mas.”
Aku menggeleng perlahan.
“Jadi kamu memilih menjatuhkanku supaya aku tetap bergantung padamu?”
Arga menangis.
Namun, untuk pertama kalinya, tangisannya tidak membuatku ingin kembali.
“Hubungan kita selesai, Mas.”
Aku berbalik dan masuk ke hotel.
Beberapa minggu kemudian, pemeriksaan internal menyimpulkan adanya pelanggaran serius dalam pengelolaan dokumen dan penilaian kontribusi proyek.
Arga diberhentikan setelah proses disipliner perusahaan. Selma juga menerima tindakan disipliner dan akhirnya mengundurkan diri.
Perusahaan memperbaiki catatan kontribusiku serta meninjau kembali hak bonus yang sebelumnya tidak diberikan.
Aku kemudian menerima tawaran kerja dari Bu Ratih.
Hari pertamaku di kantor baru terasa seperti memulai kehidupan dari awal.
Tidak ada hubungan yang harus kusembunyikan.
Tidak ada kekasih yang mengatur kesempatan karierku.
Tidak ada sahabat yang diam-diam mengambil hasil pekerjaanku.
Enam bulan kemudian, aku memimpin peluncuran kampanye nasional pertamaku sebagai kepala strategi merek.
Setelah presentasi selesai, Bu Ratih menghampiriku.
“Kamu tahu kenapa saya memilihmu, Nadira?”
Aku menggeleng.
“Karena ketika menghadapi masalah besar, kamu tidak hanya berusaha membuktikan bahwa orang lain salah. Kamu juga tetap menjaga integritas pekerjaanmu.”
Aku tersenyum.
Malam itu, ketika keluar dari gedung kantor, hujan kembali turun.
Aku berdiri sebentar di bawah kanopi.
Tiba-tiba aku teringat malam ketika Arga memilih memayungi Selma dan membiarkanku jatuh sendirian.
Dulu aku menganggap malam itu sebagai hari paling memalukan dalam hidupku.
Sekarang aku melihatnya berbeda.
Seandainya Arga tidak meninggalkanku di tengah hujan, mungkin aku masih terus mencari alasan untuk memaafkannya.
Seandainya aku tidak jatuh, mungkin aku tidak akan berhenti sejenak untuk melihat betapa buruknya hubungan yang sedang kupertahankan.
Dan seandainya Rina tidak mengirimkan foto proposal malam itu, mungkin aku masih membiarkan orang lain mengambil hasil kerja kerasku.
Aku membuka tas dan mengeluarkan payung biru yang baru kubeli.
Kemudian aku berjalan menuju tempat parkir.
Hujan masih deras.
Namun, kali ini aku tidak menunggu siapa pun datang melindungiku.
Aku sudah belajar membawa payungku sendiri.
