Aku tidak menangis ketika mengetahui keluargaku telah menyerahkan identitasku kepada polisi. Air mataku justru mengering saat melihat Ibu menggenggam tangan Nabila, seolah kakakku adalah satu-satunya anak yang perlu diselamatkan malam itu.
“Kalau aku menolak, apa yang akan Ibu lakukan?” tanyaku pelan.

Ibu menghela napas. “Jangan mempersulit keadaan, Dira. Polisi belum tentu bisa membuktikan siapa yang menyetir. Kalian punya wajah yang sama.”
Aku menatapnya lama.
“Jadi Ibu sudah memikirkan semuanya?”
Tidak ada jawaban.
Nabila mendekat sambil mengusap pipinya yang basah. “Aku janji akan menanggung semua biaya kalau kamu harus pakai pengacara. Setelah masalahnya selesai, aku enggak akan menyusahkanmu lagi.”
Aku hampir tertawa mendengarnya. Kakakku masih menganggap kebebasan seseorang bisa dipinjam seperti uang atau pakaian.
“Bagaimana kalau korban meninggal?” tanyaku.
Wajah Nabila langsung mengeras.
“Jangan ngomong sembarangan!”
Aku mengambil ponsel dari meja.
“Kalau begitu, kita cari tahu keadaan mereka sekarang.”
Ayah tiba-tiba merebut ponselku.
“Kamu tidak boleh menghubungi siapa pun sebelum kita sepakat!”
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku menatap Ayah tanpa rasa takut.
“Ayah boleh mengambil ponselku. Tapi Ayah tidak bisa mengubah siapa yang mengemudikan mobil itu.”
Aku masuk ke kamar dan mengambil tas kerja. Untungnya, ponsel cadanganku masih tersimpan di dalam laci bersama beberapa dokumen kantor.
Tanpa mereka ketahui, sejak pertengkaran pertama tadi aku telah mengaktifkan perekam suara.
Semua perkataan Nabila, termasuk pengakuannya membuat surat palsu, telah tersimpan.
Namun aku tahu rekaman itu saja tidak cukup.
Aku membutuhkan bukti yang tidak bisa dibantah, bahkan oleh orang-orang yang memiliki wajah sama denganku.
Pukul satu dini hari, aku meninggalkan rumah melalui pintu belakang. Hujan masih turun ketika aku memesan taksi daring menuju rumah sakit tempat para korban dirawat.
Di ruang tunggu instalasi gawat darurat, seorang lelaki tua duduk dengan pakaian basah dan tangan gemetar.
Namanya Pak Suryanto. Dia adalah ayah dari perempuan yang tertabrak.
Ketika aku menyebut nama korban, lelaki itu langsung berdiri.
“Kamu keluarga pengemudi mobil itu?”
Aku mengangguk dengan tenggorokan tercekat.
“Nama saya Nadira. Mobil yang menabrak putri Bapak milik saya, tetapi bukan saya yang mengemudikannya.”
Matanya memerah.
“Anak saya, Ratih, masih di ruang operasi. Suaminya patah tulang kaki. Cucu saya baru delapan tahun, sekarang dirawat karena cedera kepala.”
Aku merasa lantai di bawah kakiku seolah menghilang.
Delapan tahun.
Hanya setahun lebih tua daripada Arga.
“Maafkan saya, Pak.”
Pak Suryanto menggeleng.
“Kalau bukan kamu yang menyetir, jangan meminta maaf untuk kesalahan orang lain. Bantu kami mendapatkan keadilan.”
Kalimat sederhana itu membuat dadaku sesak. Seorang asing yang baru mengenalku beberapa menit ternyata lebih menghargai hidupku daripada keluargaku sendiri.
Pagi harinya, aku mendatangi kantor polisi didampingi Raka, seorang teman kuliah yang kini bekerja sebagai pengacara.
Aku menyerahkan rekaman suara, riwayat panggilan ke layanan 110, pesan yang kukirim kepada Nabila, serta bukti keberadaanku di rumah pada malam kecelakaan.
“Apakah ada saksi yang melihat Anda di rumah?” tanya penyidik.
“Ada. Tetangga saya, Bu Rini. Beliau mengantar makanan sekitar pukul sepuluh dan melihat saya menjaga kedua keponakan.”
Raka kemudian meminta agar petugas mengamankan rekaman kamera pengawas di sekitar persimpangan dan memeriksa keaslian surat pengakuan yang menggunakan namaku.
Penyidik menjelaskan bahwa surat yang dibawa Fajar belum membuktikan aku bersalah. Identitas pengemudi tetap harus dipastikan melalui penyelidikan.
Aku mengembuskan napas panjang.
Untuk pertama kalinya sejak malam sebelumnya, aku merasa masih memiliki kesempatan mempertahankan hidupku sendiri.
Namun kejutan berikutnya datang ketika penyidik memperlihatkan foto mobil yang rusak.
Di kaca samping pengemudi terdapat bercak darah.
“Saudari Nabila terluka malam itu?” tanyanya.
Aku teringat sesuatu.
Ketika pulang, Nabila memakai jaket panjang meskipun biasanya dia tidak tahan mengenakan pakaian tebal.
Aku juga melihat perban kecil di pergelangan tangan kirinya.
“Sepertinya iya.”
Pemeriksaan terhadap mobil dan rekaman kamera kemudian memperkuat arah penyelidikan. Kamera sebuah minimarket merekam Nabila keluar dari sisi pengemudi beberapa saat setelah kecelakaan, lalu berjalan menjauh sebelum petugas tiba.
Wajahnya terlihat jelas ketika dia melewati lampu toko.
Tetapi ada satu hal yang membuatku semakin terkejut.
Dalam rekaman itu, Nabila tidak sendirian.
Fajar muncul menggunakan sepeda motor, menghampirinya, lalu memberikan sebuah jaket dan membawa istrinya pergi.
Artinya, Fajar mengetahui siapa pengemudi sebenarnya sejak awal.
Ketika penyidik memperlihatkan rekaman tersebut kepadanya, Fajar akhirnya mengakui keterlibatannya dalam upaya menutupi kejadian itu.
Dia juga mengungkap sesuatu yang selama ini tidak kuketahui.
Nabila ternyata memiliki utang hampir tiga ratus juta rupiah dari pinjaman daring dan kartu kredit.
Mobilku sudah beberapa kali dijanjikan kepada penagih utang, meskipun surat kepemilikannya berada di tanganku.
“Kalau Nadira masuk penjara, kami pikir urusan mobil bisa lebih mudah diatur,” kata Fajar dalam pemeriksaannya.
Aku menatap Raka, tidak mampu berbicara.
Ternyata pengkhianatan itu bukan hanya untuk menyelamatkan Nabila dari hukuman.
Mereka juga berencana memanfaatkan ketidakhadiranku untuk menguasai hartaku.
Dua hari kemudian, polisi memanggil Nabila untuk pemeriksaan lanjutan. Setelah bukti-bukti terkumpul, dia ditetapkan sebagai tersangka atas kecelakaan tersebut. Dugaan pemalsuan surat dan keterlibatan Fajar ditangani dalam penyelidikan tersendiri.
Ketika mengetahui hal itu, Ibu datang ke rumahku sambil menangis.
“Kamu puas sekarang? Kakakmu bisa masuk penjara!”
Aku sedang memasukkan pakaian ke koper.
“Aku tidak pernah menginginkan Kak Bila masuk penjara, Bu. Aku hanya ingin dia bertanggung jawab.”
Ibu mencengkeram lenganku.
“Arga dan Lala bagaimana?”
Aku melepaskan tangannya perlahan.
“Mereka tetap keponakanku. Aku akan membantu mereka sebisaku. Tapi menyayangi anak-anak itu bukan berarti aku harus mengaku melakukan kejahatan ibunya.”
Ibu terdiam.
Lalu beliau mengatakan sesuatu yang tidak pernah kusangka akan kudengar.
“Sejak kecil, Ibu selalu tahu kamu lebih kuat daripada Nabila. Makanya Ibu berharap kamu bisa mengalah.”
Aku menatap wajah perempuan yang telah membesarkanku itu.
“Bu, aku bukan lebih kuat. Aku cuma tidak pernah diberi kesempatan untuk menjadi lemah.”
Untuk pertama kalinya, Ibu tidak memiliki jawaban.
Sebulan kemudian, kondisi Ratih berangsur membaik. Suaminya mulai menjalani fisioterapi, sedangkan putri mereka sudah diperbolehkan pulang dengan pengawasan dokter.
Aku beberapa kali mengunjungi keluarga itu.
Pak Suryanto tidak pernah meminta sesuatu yang berlebihan. Dia hanya ingin putri dan cucunya pulih, serta orang yang menyebabkan kecelakaan bertanggung jawab.
Sementara itu, aku memutuskan pindah dari rumah peninggalan nenek. Aku menyewa apartemen kecil di kawasan Buahbatu dan kembali fokus pada pekerjaan.
Kesempatan promosi yang hampir hilang akhirnya terbuka kembali setelah persoalan identitasku diklarifikasi.
Namun ada satu kejadian yang benar-benar mengubah cara pandangku terhadap keluarga.
Suatu sore, Arga datang bersama Fajar, yang saat itu masih menjalani proses hukum terkait keterangannya dalam perkara tersebut.
Keponakanku menyerahkan sebuah gambar.
Di atas kertas terlihat tiga orang perempuan berdiri di bawah hujan.
Salah satunya mengenakan pakaian berwarna biru, sementara dua lainnya memakai pakaian merah.
“Ini siapa, Sayang?” tanyaku.
Arga menunjuk perempuan berbaju biru.
“Itu Bibi Dira.”
“Lalu yang dua lagi?”
“Mama sama Nenek.”
Aku tersenyum sedih.
“Kenapa Bibi berdiri jauh?”
Arga menunduk.
“Soalnya waktu malam itu, Mama bilang Bibi harus pergi supaya Mama bisa pulang.”
Tanganku membeku.
“Arga dengar Mama bilang begitu?”
Dia mengangguk.
“Aku pura-pura tidur. Mama bilang kalau Bibi yang salah, Mama enggak akan ditangkap.”
Aku menarik napas panjang dan memeluknya.
“Arga, dengarkan Bibi. Kamu tidak perlu memilih antara menyayangi Mama dan menyayangi Bibi. Tapi kalau ada orang berbuat salah, dia tetap harus bertanggung jawab.”
Anak itu mengangguk meskipun mungkin belum sepenuhnya memahami perkataanku.
Setelah mereka pulang, aku membuka kembali gambar tersebut.
Di sudut bawah kertas, Arga menulis kalimat dengan huruf besar yang belum rapi.
BIBI DIRA JANGAN PERGI LAGI.
Air mataku akhirnya jatuh.
Bukan karena aku menyesali keputusan melaporkan kebenaran, melainkan karena menyadari betapa lama aku membiarkan rasa bersalah mengendalikan hidupku.
Beberapa bulan kemudian, dalam sebuah persidangan, Nabila akhirnya mengakui bahwa dialah yang mengemudikan mobil malam itu. Dia menangis ketika meminta maaf kepada keluarga korban.
Aku tidak tahu apakah penyesalannya benar-benar tulus.
Tetapi aku berharap suatu hari nanti dia memahami bahwa menjadi seorang ibu bukan alasan untuk menghindari tanggung jawab, melainkan alasan untuk memberikan teladan yang lebih baik kepada anak-anaknya.
Ketika keluar dari ruang sidang, Ibu memanggilku.
“Nadira.”
Aku berhenti.
Beliau menatapku dengan mata sembap.
“Ibu salah.”
Aku tidak langsung menjawab.
Selama tiga puluh satu tahun, itulah pertama kalinya beliau mengucapkan kalimat tersebut kepadaku.
“Apa kamu bisa memaafkan Ibu?”
Aku memandang langit Bandung yang sore itu kembali mendung.
“Mungkin suatu hari nanti, Bu. Tapi memaafkan bukan berarti semuanya bisa kembali seperti dulu.”
Lalu aku berjalan meninggalkannya.
Ponselku bergetar ketika aku sampai di halaman pengadilan.
Sebuah pesan masuk dari Ratih.
Dia mengirim foto putrinya yang sudah kembali bersekolah. Gadis kecil itu tersenyum sambil memegang tas merah muda.
Di bawah foto terdapat pesan singkat.
“Terima kasih karena sudah memilih mengatakan yang sebenarnya. Kalau malam itu Mbak diam, mungkin kami tidak akan pernah tahu siapa yang harus bertanggung jawab.”
Aku membaca pesan itu berkali-kali.
Selama bertahun-tahun, keluargaku mengajarkanku bahwa cinta berarti bersedia mengorbankan diri demi orang-orang terdekat.
Namun malam kecelakaan itu akhirnya membuatku memahami sesuatu yang jauh lebih penting.
Cinta yang menuntut seseorang mengorbankan kebenaran bukanlah cinta yang sehat.
Dan keluarga yang sesungguhnya bukanlah orang-orang yang selalu meminta kita menanggung kesalahan mereka.
Melainkan mereka yang tetap menghormati kita ketika kita berani mengatakan tidak.
Aku memasukkan ponsel ke dalam tas, membuka payung, lalu berjalan menuju mobil yang baru kubeli dengan hasil tabunganku sendiri.
Untuk pertama kalinya dalam tiga puluh satu tahun, aku tidak lagi merasa seperti bayangan saudari kembarku.
Aku adalah Nadira Prameswari.
Dan akhirnya, hidupku benar-benar menjadi milikku.
