SAAT KELUARGA SUAMIKU HAMPIR KEHILANGAN PERUSAHAAN, AKU MELIHAT CINCIN

Adrian Kusuma menarik tangannya semakin jauh ke bawah meja. Gerakan kecil itu justru membuat keyakinanku semakin kuat bahwa ada sesuatu yang tidak beres.

“Cincin saya?” ulangnya sambil tersenyum kaku. “Apa hubungannya dengan urusan bisnis keluarga Pradana?”

“Mungkin tidak ada,” jawabku tenang. “Tetapi saya pernah melihat cincin dengan desain yang sama persis.”

Rania mengembuskan napas panjang.

“Keisya, sekarang bukan waktunya membahas perhiasan.”

“Sebentar saja, Kak.”

Aku menatap Adrian.

“Dalam wawancara majalah enam bulan lalu, Anda mengatakan cincin itu warisan kakek buyut Anda. Safir Kashmir asli, berusia hampir seratus tahun, dengan nilai sekitar delapan miliar rupiah. Benar?”

Adrian mengangguk perlahan.

“Benar. Rupanya Anda cukup mengikuti kehidupan pribadi saya.”

“Kalau begitu, boleh saya tahu mengapa cincin yang Anda kenakan sekarang memiliki dudukan batu yang berbeda dengan cincin dalam foto wawancara tersebut?”

Wajah Adrian menegang.

“Cincin antik tentu bisa diperbaiki.”

“Tentu. Tetapi yang menarik, saya pernah melihat desain dudukan yang sama dalam katalog seorang pengrajin perhiasan di Jakarta. Katalog itu baru diterbitkan empat bulan lalu.”

Adrian tertawa pendek.

“Jadi Anda menuduh saya memakai cincin palsu?”

“Belum. Saya hanya bertanya.”

Aku mengeluarkan ponsel dan memperlihatkan dua gambar kepada Rania.

Gambar pertama adalah foto cincin Adrian dari majalah bisnis. Gambar kedua merupakan foto katalog perhiasan yang pernah dikirim pemasokku.

Rania membandingkannya dengan cermat.

“Keduanya memang mirip.”

“Bukan hanya mirip,” kataku. “Susunan berlian kecil dan ukiran bagian sampingnya sama. Bahkan ada satu detail yang tidak biasa, yaitu bentuk daun kecil di dekat penyangga batu.”

Adrian mendadak berdiri.

“Saya datang untuk menyelamatkan perusahaan kalian, bukan untuk diinterogasi tentang perhiasan.”

“Kalau begitu, silakan duduk kembali,” jawabku. “Karena ada hal lain yang jauh lebih penting.”

Aku menoleh kepada ayah mertuaku.

“Ayah, boleh aku meminta waktu lima belas menit sebelum Ayah menandatangani perjanjian?”

Surya memandangku lama. Kemudian beliau meletakkan pulpen.

“Silakan, Keisya.”

Adrian melihat jam tangannya.

“Saya tidak punya banyak waktu.”

“Kalau investasi Anda benar-benar bernilai ratusan miliar rupiah, lima belas menit tentu bukan masalah besar, bukan?”

Untuk pertama kalinya, Adrian tidak langsung menjawab.

Aku menghubungi nomor pemasok perhiasanku, seorang pria bernama Bagas yang memiliki bengkel pembuatan perhiasan di kawasan Melawai, Jakarta Selatan.

Panggilanku tersambung setelah beberapa dering.

“Mas Bagas, aku mau tanya. Masih ingat cincin safir replika yang pernah Mas tunjukkan tiga bulan lalu?”

“Tentu, Mbak Keisya. Kenapa?”

“Siapa yang memesannya?”

Bagas terdiam sejenak.

“Maaf, Mbak. Informasi pelanggan itu rahasia.”

“Aku mengerti. Kalau begitu, aku tidak meminta namanya. Aku hanya ingin tahu apakah cincin tersebut benar-benar dibuat di bengkel Mas.”

“Iya. Kami membuatnya berdasarkan desain yang diberikan pelanggan.”

“Batunya safir alami?”

“Bukan. Itu safir sintetis. Pelanggan secara khusus meminta tampilannya menyerupai batu mahal, tetapi dengan biaya serendah mungkin.”

Aku menyalakan pengeras suara.

“Kira-kira berapa harga keseluruhan cincin itu?”

“Sekitar dua puluh delapan juta rupiah.”

Keheningan menyelimuti ruangan.

Dimas perlahan menoleh ke arah Adrian.

Namun, sebelum siapa pun sempat berbicara, Bagas melanjutkan.

“Tunggu, Mbak Keisya. Kenapa tiba-tiba menanyakan cincin itu? Dua minggu lalu, ada pengacara yang menghubungi kami dan meminta seluruh catatan transaksi terkait pesanan tersebut.”

Jantungku berdegup kencang.

“Pengacara siapa?”

“Katanya mewakili sebuah perusahaan investasi. Saya menolak karena dia tidak membawa surat kuasa yang jelas.”

Adrian mendadak meraih map hitam di hadapannya.

“Pembicaraan ini sudah cukup.”

Aku segera mematikan panggilan.

“Pak Adrian, cincin palsu bukanlah kejahatan. Tetapi mengakuinya sebagai pusaka bernilai miliaran rupiah untuk membangun citra kekayaan tentu menimbulkan pertanyaan mengenai kredibilitas Anda.”

Adrian menatapku tajam.

“Anda tidak punya bukti bahwa cincin saya berasal dari bengkel itu.”

“Benar,” jawabku. “Dan saya tidak akan menyimpulkan sesuatu yang belum terbukti.”

Aku tersenyum tipis.

“Tetapi sekarang saya punya alasan untuk meminta keluarga saya memeriksa seluruh dokumen Anda lebih teliti.”

Rania langsung membuka laptop.

“Ayah, sebenarnya sejak kemarin aku juga menemukan sesuatu yang aneh.”

Semua mata beralih kepadanya.

“Perusahaan Adrian mengklaim memiliki aset pertambangan dan perkebunan bernilai lebih dari dua triliun rupiah. Tetapi sebagian besar dokumen yang diberikan kepada kami hanya berupa laporan penilaian internal. Tidak ada konfirmasi independen yang memadai.”

Dimas menyela.

“Bukankah tim konsultan sudah memeriksanya?”

“Tim konsultan yang direkomendasikan oleh Adrian sendiri.”

Wajah Dimas berubah pucat.

Adrian menepuk meja.

“Kalian sedang membuat kesalahan besar. Tawaran saya berlaku sampai pukul dua siang. Setelah itu, saya menarik semuanya.”

Aku melirik jam dinding.

Pukul satu lewat empat puluh menit.

Masih ada dua puluh menit.

“Silakan,” kataku.

Arga langsung meraih lenganku.

“Keisya, kamu tahu apa yang sedang kamu katakan? Kalau dia pergi, kita mungkin kehilangan perusahaan.”

Aku menatap suamiku.

“Aku tahu. Tapi bagaimana kalau perusahaan justru benar-benar hilang setelah kita menandatangani dokumen ini?”

Arga terdiam.

Aku kemudian teringat sesuatu.

Dalam wawancara majalah yang sama, Adrian pernah menyebut nama kakeknya, seorang pedagang permata bernama Harun Kusuma.

Nama itu terasa tidak asing.

Aku membuka percakapan lama dengan seorang kolektor perhiasan senior bernama Ibu Ratna Wibisono.

Beberapa bulan sebelumnya, beliau pernah menceritakan sebuah kasus penipuan perdagangan batu mulia yang terjadi pada akhir 1990-an.

Salah satu pelakunya menggunakan identitas keluarga pengusaha ternama untuk memperoleh kepercayaan pembeli.

Nama pria tersebut adalah Harun Kusuma.

Aku segera menelepon Ibu Ratna.

“Bu, maaf mengganggu. Saya ingin bertanya tentang Harun Kusuma yang pernah Ibu ceritakan.”

Suara perempuan tua itu terdengar terkejut.

“Keisya, kenapa kamu menanyakan nama itu?”

“Apakah beliau pernah memiliki cincin safir Kashmir?”

“Harun Kusuma yang asli memang memiliki cincin safir. Tetapi dia meninggal tanpa anak kandung. Seluruh koleksinya kemudian dilelang oleh ahli waris dari pihak saudara perempuannya.”

Aku membeku.

“Jadi tidak ada cucu bernama Adrian Kusuma?”

“Setahu saya tidak ada. Kenapa?”

Aku menatap Adrian.

Wajahnya kini benar-benar kehilangan warna.

“Terima kasih, Bu. Nanti saya hubungi lagi.”

Setelah panggilan berakhir, aku berbicara perlahan.

“Pak Adrian, sebenarnya siapa Anda?”

Pria itu tidak menjawab.

Rania langsung mencari dokumen identitas perusahaan dari map yang dibawa tim hukumnya.

Salah satu pengacara Adrian terlihat gelisah.

“Pak Adrian, saya sarankan kita menghentikan pertemuan.”

Namun, Adrian justru berteriak.

“Diam!”

Semua orang tersentak.

Dia menatapku dengan kebencian yang tidak lagi disembunyikan.

“Kamu pikir karena memahami batu permata, kamu bisa menghancurkan bisnis saya?”

“Tidak,” jawabku. “Saya hanya ingin keluarga saya mengetahui dengan siapa mereka berurusan.”

Pada saat itulah ponsel Rania berbunyi.

Dia membaca pesan yang masuk, lalu wajahnya berubah drastis.

“Keisya, kamu harus melihat ini.”

Pesan tersebut berasal dari seorang kenalan Rania yang bekerja sebagai pengacara di Surabaya.

Setelah menerima permintaan pemeriksaan identitas Adrian beberapa hari sebelumnya, pengacara itu akhirnya menemukan sebuah perkara lama.

Nama Adrian Kusuma ternyata pernah tercantum sebagai nama yang digunakan oleh seorang pria bernama Bima Santoso dalam sengketa investasi properti.

Perkara tersebut memang telah diselesaikan secara perdata, tetapi dokumen pengadilannya menunjukkan pola transaksi yang mencurigakan.

Bima mendekati perusahaan yang sedang mengalami kesulitan keuangan, menawarkan modal besar, lalu berusaha mengambil kendali melalui perjanjian yang merugikan pemilik sebelumnya.

Rania mengangkat kepalanya.

“Nama asli Anda Bima Santoso?”

Adrian tidak bergerak.

Dimas langsung berdiri.

“Jawab!”

Pria itu akhirnya tertawa kecil.

“Kalian memang keluarga yang menarik.”

Senyumnya kini terlihat dingin.

“Baiklah. Saya akui nama keluarga Kusuma bukan nama keluarga asli saya. Tetapi apakah itu mengubah nilai investasi yang saya tawarkan?”

“Tidak,” jawab Rania. “Yang mengubahnya adalah dokumen yang tidak bisa kami verifikasi dan informasi yang sengaja Anda sembunyikan.”

Adrian meraih tasnya.

“Kalau begitu, selamat menikmati kebangkrutan kalian.”

Dia berjalan menuju pintu bersama para pengawalnya.

Namun, sebelum keluar, dia berhenti dan menoleh kepadaku.

“Perempuan sepertimu seharusnya tetap mengurus butik. Dunia bisnis terlalu kejam untuk orang yang hanya memahami benda-benda cantik.”

Aku membalas tatapannya.

“Mungkin benar. Tetapi setidaknya aku tahu membedakan sesuatu yang berharga dengan sesuatu yang hanya terlihat mahal.”

Pintu tertutup keras.

Ruangan kembali sunyi.

Arga duduk sambil menutupi wajahnya.

“Kita baru saja kehilangan satu-satunya investor.”

Ayah mertuaku menatap dokumen di meja.

“Ayah lebih memilih kehilangan perusahaan daripada menyerahkannya kepada orang yang tidak bisa dipercaya.”

Aku menggenggam tangan beliau.

“Belum tentu kita kehilangan perusahaan, Yah.”

Semua orang menoleh.

Aku mengambil ponsel dan menghubungi sebuah nomor yang sudah lama kusimpan.

Telepon tersambung.

“Selamat siang, Pak Hendra. Saya Keisya Mahendra. Apakah Bapak masih tertarik membicarakan investasi di sektor logistik?”

Suara pria di seberang terdengar ramah.

“Tentu, Keisya. Tapi bukankah dulu kamu mengatakan keluarga suamimu belum membutuhkan investor?”

“Keadaannya berubah, Pak.”

“Berapa kebutuhan dana mendesaknya?”

Aku melihat Rania.

Dia segera menuliskan angka pada secarik kertas.

Seratus delapan puluh miliar rupiah.

Aku menyampaikan jumlah tersebut.

Hendra terdiam beberapa detik.

“Nilainya cukup besar. Saya tidak bisa menyetujui investasi tanpa pemeriksaan menyeluruh. Tetapi saya bisa meminta tim menghubungi bank hari ini untuk membicarakan fasilitas pembiayaan sementara dengan jaminan yang sesuai.”

Rania langsung mendekat.

“Pak, kami siap memberikan seluruh dokumen yang dibutuhkan.”

“Baik. Saya akan hubungi direktur keuangan saya sekarang.”

Setelah telepon berakhir, Arga menatapku seolah baru pertama kali mengenalku.

“Keisya, siapa Pak Hendra?”

“Seorang kolektor batu permata. Dia juga pemilik kelompok usaha pergudangan dan distribusi di Surabaya.”

“Bagaimana kamu mengenalnya?”

“Dua tahun lalu, aku membantu menemukan kembali koleksi perhiasan peninggalan ibunya yang hampir dijual dengan harga jauh di bawah nilai sebenarnya.”

Aku tersenyum.

“Sejak itu, kami berteman.”

Pukul tiga lewat dua puluh menit, bank akhirnya menyetujui penundaan tindakan pengambilalihan selama tujuh hari setelah menerima proposal pembiayaan sementara dan jaminan tambahan yang disampaikan melalui tim Hendra. Kesepakatan tertulis masih harus diselesaikan, tetapi keluarga kami memperoleh waktu untuk mencari jalan keluar yang sah.

Seminggu kemudian, pemeriksaan independen menemukan sejumlah transaksi perusahaan yang sengaja diarahkan untuk memperburuk posisi keuangannya.

Salah satu mantan manajer keuangan terbukti membocorkan informasi internal kepada pihak yang terhubung dengan Adrian. Temuan itu kemudian dilaporkan kepada aparat berwenang.

Perusahaan Pradana tidak langsung pulih. Dibutuhkan restrukturisasi utang, penjualan beberapa aset tidak produktif, dan kerja keras selama berbulan-bulan.

Namun, perusahaan tetap bertahan.

Tiga bulan setelah kejadian tersebut, Ayah mengundang seluruh keluarga makan malam.

Di tengah acara, beliau mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil.

“Keisya, Ayah punya hadiah untukmu.”

Aku membukanya.

Di dalamnya terdapat bros antik berbentuk bunga melati dengan sebuah safir biru kecil.

“Ayah, ini terlalu berharga.”

Beliau menggeleng.

“Bukan harganya yang penting. Bros ini milik almarhum ibu Arga. Dulu, beliau selalu mengatakan bahwa orang yang paling mudah diremehkan sering kali justru melihat sesuatu yang luput dari perhatian semua orang.”

Mataku terasa panas.

Rania mendekat dan memelukku.

“Maaf karena selama ini Kakak menganggap pekerjaanmu hanya soal memilih barang mahal.”

Aku tertawa sambil menyeka air mata.

“Tidak apa-apa, Kak. Kadang aku sendiri juga suka membeli barang yang terlalu mahal.”

Semua orang tertawa.

Namun, kejutan terbesar datang ketika Ayah menyerahkan sebuah amplop.

Di dalamnya terdapat surat keputusan pengangkatan anggota baru komite pengawasan perusahaan.

Namaku tercantum di sana.

“Ayah ingin kamu membantu menilai kredibilitas calon mitra,” katanya. “Tentu bersama tim profesional. Bukan karena kamu ahli keuangan, melainkan karena kamu berani mempertanyakan sesuatu yang terlihat terlalu sempurna.”

Aku menatap surat itu dengan perasaan campur aduk.

Arga menggenggam tanganku.

“Sepertinya mulai sekarang aku harus berhenti bilang istriku tidak tahu apa-apa.”

Aku tersenyum.

“Memang seharusnya begitu sejak dulu.”

Malam itu, ketika semua orang sudah pulang, aku berdiri di balkon sambil memandangi bros pemberian Ayah.

Safir kecil di tengahnya tidak sebesar cincin milik Adrian.

Warnanya pun tidak sesempurna batu yang pernah dipamerkan pria tersebut.

Namun, di bawah cahaya lampu, batu itu memancarkan keindahan yang tenang.

Aku teringat bagaimana sebuah cincin yang tampak bernilai miliaran rupiah justru menjadi awal terbongkarnya kebohongan.

Saat itulah aku memahami sesuatu.

Orang yang paling pandai menampilkan kemewahan belum tentu memiliki kekayaan yang sesungguhnya.

Dan seseorang yang dianggap tidak memahami apa-apa belum tentu tidak memiliki sesuatu yang berharga untuk diberikan.

Terkadang, hal yang menyelamatkan sebuah keluarga bukanlah uang, jabatan, atau gelar yang mengesankan.

Melainkan keberanian seorang perempuan untuk berdiri, mengajukan pertanyaan yang tidak nyaman, dan menolak mempercayai kebohongan hanya karena kebohongan itu dibungkus dengan sesuatu yang berkilau.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang