“Nadira… golongan darahmu sama dengan Arga, kan?”
Aku menatap tangan Bu Ratna yang mencengkeram pergelangan tanganku begitu erat hingga kukunya menekan kulit.
Persis seperti dulu.
Bahkan ekspresi wajahnya sama.
Panik, takut, tetapi di balik semua itu ada sesuatu yang baru kusadari setelah menjalani hidup untuk kedua kalinya.
Harapan.
Bukan harapan agar Arga sembuh.
Melainkan harapan bahwa tubuhku bisa menjadi jalan keluar.
Aku menarik tanganku perlahan.
“Memangnya kenapa?”
Bu Ratna terdiam sejenak, seolah tidak menyangka aku akan bertanya.
“Kalau… kalau sampai Arga membutuhkan donor…”
“Ibu sudah tahu dia membutuhkan donor?”
“Belum. Tapi sopir bilang ginjalnya rusak parah. Kita harus bersiap untuk kemungkinan terburuk.”
Aku hampir tertawa.
Arga baru beberapa menit dibawa ke rumah sakit, tetapi mereka sudah memikirkan ginjalku.
“Ibu sebaiknya ke rumah sakit dulu.”

Aku berbalik menuju dapur.
“Nadira!”
Bu Ratna memanggilku keras.
“Kamu ikut.”
“Tidak.”
Satu kata itu membuat semua orang membeku.
Ibuku segera mendekat dan menarik lenganku.
“Nadira, jangan bicara begitu. Bu Ratna sedang panik.”
Aku memandang wajah ibu.
Di kehidupan sebelumnya, perempuan inilah yang menangis paling keras ketika aku memutuskan mendonorkan ginjal.
Namun pada akhirnya, dia tetap menandatangani persetujuan karena aku bersikeras.
Setelah operasiku, kesehatan ibu ikut memburuk karena harus merawatku sambil tetap bekerja.
Aku bahkan tidak sempat memberikan kehidupan yang layak kepadanya sebelum aku mati.
Kali ini tidak akan kuulangi.
“Bu, aku tidak mau pergi.”
Aku menggenggam tangannya.
“Dan apa pun yang terjadi, aku tidak akan memberikan organ tubuhku kepada siapa pun.”
Wajah ibu berubah.
Bu Ratna terdengar menarik napas tajam.
“Nadira, siapa yang meminta ginjalmu sekarang?”
Aku menoleh.
“Bukankah Ibu baru saja memikirkannya?”
Tidak ada yang menjawab.
Aku tersenyum tipis.
“Ayo, Bu. Pangsitnya nanti kelembekan.”
Aku kembali ke dapur.
Dua jam kemudian, telepon rumah berdering.
Arga benar-benar mengalami gagal ginjal akut akibat cedera berat. Dokter berhasil menstabilkan kondisinya, tetapi kerusakan ginjalnya jauh lebih serius daripada perkiraan awal.
Malam itu keluarga Pratama memenuhi rumah sakit swasta di Jakarta.
Aku tidak datang.
Aku makan pangsit bersama ibu.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku menyadari betapa enaknya masakan ibu ketika pikiranku tidak dipenuhi Arga.
Pukul sebelas malam, sebuah mobil berhenti di depan rumah.
Bu Ratna pulang.
Matanya bengkak.
Dia langsung masuk ke dapur.
“Nadira.”
Aku sedang mencuci piring.
“Hasil pemeriksaan awal menunjukkan Arga mungkin membutuhkan transplantasi.”
Aku mematikan keran.
“Semoga segera mendapatkan donor yang cocok.”
Bu Ratna menatapku lama.
“Keluarga kami sudah diperiksa.”
Aku tidak mengatakan apa-apa.
“Tidak ada yang cocok.”
Aku mengeringkan tangan dengan lap.
“Lalu?”
“Nadira…”
Nada suaranya tiba-tiba lembut.
Nada yang sangat kukenal.
Nada yang dulu membuatku merasa dibutuhkan.
“Kamu dan Arga tumbuh bersama.”
Aku tersenyum.
Akhirnya sampai juga.
“Kalian seperti kakak adik sejak kecil. Bahkan Arga selalu membelamu kalau ada anak lain mengganggumu.”
Ingatan lama muncul.
Benar.
Ketika berusia delapan tahun, Arga pernah memukul anak laki-laki yang mengejekku sebagai anak pembantu.
Namun setelah remaja, Arga sendiri mulai menggunakan kata itu ketika marah.
“Kamu ingat ketika ayahmu sakit?” lanjut Bu Ratna. “Pak Pratama yang membayar rumah sakitnya.”
Aku mengangguk.
“Aku ingat.”
“Sekolahmu juga…”
“Dibayar keluarga Pratama.”
Bu Ratna terlihat lega.
“Berarti kamu mengerti.”
Aku menatap matanya.
“Tentu.”
Aku membuka laci, mengambil sebuah buku catatan lama milik ibu, lalu meletakkannya di meja.
“Tapi mungkin Ibu lupa sesuatu.”
“Apa?”
“Selama lima belas tahun, ibu saya bekerja untuk keluarga Pratama.”
Aku membuka beberapa halaman.
“Gajinya sering terlambat. Jam kerjanya hampir tidak pernah delapan jam. Ketika keluarga Ibu mengadakan acara, ibu saya bisa bekerja sampai lewat tengah malam.”
Bu Ratna pucat.
“Kenapa kamu membicarakan itu sekarang?”
“Karena kebaikan dan hubungan kerja adalah dua hal berbeda.”
Aku menutup buku.
“Keluarga Ibu memang membantu kami. Saya berterima kasih. Tapi rasa terima kasih tidak memberi siapa pun hak atas organ tubuh saya.”
Bu Ratna berdiri.
“Nadira!”
Ibu keluar dari kamar.
“Ada apa?”
Bu Ratna menatap ibu.
“Mbak Sari, tolong bicara dengan anakmu. Arga bisa mati!”
Ibu menatapku.
Untuk sesaat aku takut.
Takut ibu akan mengatakan hal yang sama seperti kehidupan sebelumnya.
Tetapi kali ini aku mendahuluinya.
“Bu.”
Aku menatapnya.
“Aku ingin hidup.”
Hanya empat kata.
Namun mata ibu langsung berkaca-kaca.
Dia menatap Bu Ratna, lalu menggenggam tanganku.
“Maaf, Bu Ratna.”
Suara ibu bergetar.
“Saya tidak bisa meminta anak saya menyerahkan bagian tubuhnya.”
Bu Ratna seperti tersambar petir.
“Mbak Sari, keluarga kami sudah memperlakukan kalian seperti keluarga sendiri!”
Ibu menunduk.
“Justru karena saya seorang ibu, saya mengerti ketakutan Ibu.”
Kemudian ibu mengangkat kepala.
“Tapi Nadira juga anak saya.”
Malam itu Bu Ratna pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Kupikir persoalan selesai.
Ternyata baru dimulai.
Keesokan paginya, Bella datang.
Dia berdiri di depan pintu dengan wajah pucat dan mata sembap.
“Nadira, kita harus bicara.”
Aku hampir menutup pintu.
Namun Bella berkata cepat, “Arga terus menyebut namaku di rumah sakit.”
Aku berhenti.
“Lalu?”
“Dia terluka karena aku.”
Bella menggigit bibir.
“Ayahku mabuk. Arga datang dan bertengkar dengannya. Adikku ikut menyerang. Aku sudah mencoba menghentikan mereka.”
“Kalau begitu laporkan keluargamu ke polisi.”
Bella terdiam.
“Nadira, dokter bilang kamu mungkin cocok.”
Aku tertawa kecil.
Ternyata berita menyebar cepat.
“Kamu datang untuk meminta ginjalku?”
“Aku tidak punya pilihan!”
Bella menangis.
“Aku sudah melakukan tes. Aku tidak cocok!”
Aku memandang perempuan yang dulu dibela Arga sampai mengorbankan nyawanya.
“Kalau kamu cocok, kamu akan memberikannya?”
Bella langsung diam.
Aku sudah tahu jawabannya.
“Aku…”
“Tidak perlu menjawab.”
Aku hendak menutup pintu ketika Bella tiba-tiba berkata, “Kamu mencintainya, kan?”
Tanganku berhenti.
“Kamu mencintai Arga sejak kecil.”
Aku menoleh.
Bella menatapku dengan putus asa.
“Kalau dia mati, kamu tidak akan menyesal?”
Aku tersenyum.
“Dulu mungkin iya.”
“Dulu?”
“Kamu tidak perlu mengerti.”
Aku menutup pintu.
Tiga hari berlalu.
Kondisi Arga semakin buruk.
Keluarga Pratama mencari donor melalui berbagai rumah sakit. Uang bukan masalah bagi mereka, tetapi kecocokan tidak bisa dibeli begitu saja.
Pada hari keempat, Arga sendiri meneleponku.
“Nadira.”
Suaranya lemah.
Aku terdiam.
Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku mendengar suara itu sebelum kematianku.
“Aku dengar Mama bicara sama kamu.”
“Benar.”
“Dia meminta kamu tes donor?”
“Iya.”
Arga terdiam beberapa detik.
Kemudian tertawa hambar.
“Jangan.”
Aku mengernyit.
“Apa?”
“Aku bilang jangan.”
Suaranya terdengar kesal.
“Aku tidak mau punya ginjalmu.”
Tanganku yang memegang ponsel perlahan mengencang.
Kalimat yang sama.
Bahkan dalam kehidupan ini, kesombongannya tidak berubah.
“Aku juga tidak berniat memberikannya.”
Arga terdiam.
Mungkin dia mengira aku akan menangis.
Atau membujuknya.
Atau mengatakan aku rela melakukan apa pun demi dirinya.
Sebaliknya aku berkata, “Semoga cepat sembuh.”
Lalu kututup telepon.
Sore harinya, sesuatu yang tidak terjadi di kehidupan sebelumnya muncul.
Seorang polisi datang ke rumah keluarga Pratama.
Aku sedang membantu ibu mengemas barang.
Ya, kami akan pergi.
Aku sudah meyakinkan ibu bahwa kami tidak perlu tinggal di rumah itu lagi. Tabunganku dari pekerjaan paruh waktu cukup untuk menyewa kamar sederhana selama beberapa bulan. Setelah itu aku akan mencari pekerjaan tambahan sambil melanjutkan kuliah.
Polisi itu bertanya tentang kejadian sebelum Arga pergi.
Aku menjelaskan semuanya.
Kemudian dia mengatakan sesuatu yang mengejutkanku.
“Kami menemukan rekaman CCTV dari toko di depan gang.”
“Apa isinya?”
“Mas Arga bukan langsung diserang.”
Aku membeku.
“Dia yang memulai perkelahian.”
Menurut rekaman, Arga datang membawa tongkat baseball dan menghancurkan kaca depan rumah Bella.
Ayah Bella memang mabuk dan kasar, tetapi Arga memukul lebih dulu.
Lebih mengejutkan lagi, Bella ternyata sudah meninggalkan rumah hampir satu jam sebelum Arga datang.
“Kenapa dia datang kalau Bella sudah pergi?”
Polisi menggeleng.
“Itu yang sedang kami selidiki.”
Malam itu aku tidak bisa tidur.
Ada sesuatu yang berbeda.
Dalam kehidupan sebelumnya, aku terlalu sibuk menyelamatkan Arga hingga tidak pernah mempertanyakan kejadian sebenarnya.
Dua hari kemudian jawabannya datang.
Bella menghilang.
Bersamaan dengan itu, keluarga Pratama menemukan uang perusahaan senilai hampir tiga miliar rupiah dipindahkan ke rekening lain.
Pelakunya adalah Arga.
Ternyata selama beberapa bulan terakhir, Arga diam-diam mengambil dana perusahaan ayahnya untuk membantu Bella melunasi utang keluarganya.
Ketika ayah Bella meminta lebih banyak uang, Arga marah.
Malam kejadian itu bukan aksi heroik menyelamatkan Bella.
Arga datang untuk mengambil kembali dokumen transfer yang bisa membuktikan penggelapan dana.
Di kehidupan sebelumnya, aku tidak pernah mengetahui semua ini.
Mungkin karena setelah transplantasi, keluarga Pratama sengaja menutup kasus tersebut untuk melindungi nama Arga.
Aku duduk lama di kamar kontrakan baru bersama ibu.
Rasanya aneh.
Selama hidup pertamaku, aku menganggap Arga sebagai korban yang terluka karena cinta.
Ternyata dia terluka karena konsekuensi pilihannya sendiri.
Sebulan kemudian, sebuah kabar datang.
Arga mendapatkan donor.
Bukan aku.
Seorang pasien yang meninggal karena kecelakaan telah terdaftar sebagai donor organ, dan setelah rangkaian pemeriksaan, salah satu ginjalnya dinyatakan cocok.
Operasinya berhasil.
Ketika mendengar berita itu, aku tidak merasa kecewa.
Tidak juga lega.
Aku hanya merasa bebas.
Namun beberapa minggu setelah operasi, Arga datang ke kontrakan kami.
Tubuhnya jauh lebih kurus.
Dia berdiri di depan pintu sambil memandang tempat tinggal sederhana kami.
“Nadira.”
“Ada apa?”
“Aku mau bicara.”
Aku membiarkannya berdiri di luar.
Arga menunduk.
“Aku sudah tahu soal Bella.”
“Bagus.”
“Dia mengambil uang yang kuberikan dan pergi bersama laki-laki lain.”
Aku tidak menjawab.
“Aku bodoh.”
“Benar.”
Dia mengangkat wajah, mungkin tidak menyangka aku akan menyetujuinya begitu cepat.
“Nadira, Mama bilang kamu bahkan tidak mau tes kecocokan.”
“Benar.”
“Kenapa?”
Aku menatapnya lama.
Inilah pertanyaan yang selama ini kutunggu.
Namun ketika kesempatan menjawab akhirnya datang, aku tidak merasakan kepuasan apa pun.
“Karena hidupku bukan milikmu.”
Arga mengerutkan kening.
“Apa?”
“Sejak kecil aku selalu mengikuti kamu. Ketika kamu marah, aku meminta maaf. Ketika kamu membuat masalah, aku membereskannya. Ketika kamu membutuhkan sesuatu, semua orang menganggap aku harus memberikannya.”
Aku tersenyum tipis.
“Tapi ternyata tidak.”
Arga terdiam.
“Aku tidak berutang hidupku kepada keluargamu.”
“Nadira…”
“Dan kamu tidak perlu berutang hidupmu kepadaku.”
Aku hendak menutup pintu.
“Nadira!”
Arga menahan pintu.
“Aku ingin memperbaiki semuanya.”
Aku memandang tangannya.
“Mulailah dari dirimu sendiri.”
Aku melepaskan tangannya dari pintu.
“Bukan dari aku.”
Pintu tertutup.
Enam bulan kemudian, ibu membuka warung pangsit kecil dekat kampusku.
Warung itu hanya memiliki enam meja.
Cat dindingnya sederhana.
Tidak ada lampu kristal seperti rumah keluarga Pratama.
Namun setiap malam, ibu menghitung uang hasil penjualan sambil tersenyum.
Aku melanjutkan kuliah dan bekerja sebagai penerjemah paruh waktu.
Untuk pertama kalinya, masa depanku terasa seperti sesuatu yang benar-benar kumiliki.
Suatu sore, ketika sedang membantu ibu melipat kotak makanan, televisi kecil di warung menayangkan berita.
Perusahaan keluarga Pratama sedang menjalani pemeriksaan internal terkait penyalahgunaan dana lama.
Nama Arga muncul sebentar di layar.
Aku hanya melihat sekilas sebelum kembali bekerja.
“Nadira.”
Ibu memanggilku.
“Iya?”
Ibu meletakkan sebuah amplop di meja.
“Ini datang tadi.”
Tidak ada nama pengirim.
Di dalamnya hanya ada selembar kertas.
Tulisan tangan Arga.
Aku sudah mengembalikan semua uang perusahaan. Aku juga menyerahkan diri untuk pemeriksaan. Aku tidak tahu apakah kamu akan percaya, tapi hari ketika kamu menolak menyelamatkanku ternyata adalah hari pertama aku dipaksa menyelamatkan diriku sendiri.
Aku membaca sampai selesai.
Di bagian paling bawah ada satu kalimat lagi.
Terima kasih karena tidak memberikan ginjalmu.
Tanganku berhenti.
Dalam kehidupan sebelumnya, Arga pernah berkata ginjalku membuatnya muak.
Aku mati membawa kalimat itu.
Dalam kehidupan ini, aku tidak memberikan apa pun kepadanya.
Anehnya, justru penolakanku menyelamatkan kami berdua.
Aku melipat surat itu dan memasukkannya kembali ke amplop.
“Dari siapa?” tanya ibu.
“Seseorang dari masa lalu.”
“Mau dibalas?”
Aku menatap panci besar di dapur. Uap hangat naik perlahan, membawa aroma pangsit buatan ibu memenuhi ruangan.
Aku tersenyum.
“Tidak perlu.”
Aku membuang surat itu ke tempat sampah, lalu kembali membantu ibu.
Karena terlahir kembali ternyata bukan kesempatan untuk memperbaiki semua orang yang pernah menyakitiku.
Bukan pula kesempatan untuk membalas dendam.
Itu adalah kesempatan untuk memperbaiki satu kesalahan terbesar yang pernah kulakukan.
Menganggap hidupku sendiri lebih murah daripada kebahagiaan orang lain.
Kali ini aku tidak memberikan ginjalku kepada Arga.
Aku memberikan sesuatu yang jauh lebih berharga kepada diriku sendiri.
Kesempatan untuk hidup.
