Saat Pria yang Kucintai Diam-Diam Menikahi Rekan Kerjaku, Aku

Aku menatap bukti transfer di tangan Arga cukup lama. Nama lengkapku tercetak jelas sebagai penerima, tetapi empat digit terakhir nomor rekeningnya sama sekali tidak kukenal.

“Ini bukan rekeningku,” kataku.

“Aku tahu sekarang.”

“Lalu kenapa kamu bilang sudah mengembalikan uangnya?”

Arga membuka lembar berikutnya. Di sana terdapat formulir konfirmasi pembayaran dengan tanda tangan Kirana sebagai petugas administrasi proyek.

“Enam bulan lalu, Kirana bilang kamu ingin pembayaran dilakukan melalui rekening khusus karena sedang mengurus pajak. Dia mengirimkan formulir ini kepadaku.”

Aku membaca dokumen itu dengan saksama. Ada namaku, nomor identitas yang tidak lengkap, serta tanda tangan yang bentuknya hampir menyerupai milikku.

Hampir.

“Aku tidak pernah menandatangani ini.”

Arga mengusap wajahnya.

“Aku percaya karena Kirana bilang sudah membicarakannya denganmu.”

Aku mengembalikan kertas tersebut.

“Dan kamu tidak berpikir untuk bertanya langsung kepadaku?”

Arga diam.

Delapan tahun aku mengenalnya. Aku tahu kapan ia sedang mencari alasan dan kapan ia benar-benar merasa bersalah.

Malam itu, ia tidak punya alasan.

“May, aku salah.”

“Memang.”

Aku mengambil ponsel dan memotret kedua dokumen itu.

“Besok aku akan menghubungi bank. Kalau uangmu benar-benar masuk ke rekening tersebut, kamu harus meminta penelusuran transaksi. Aku juga akan berkonsultasi dengan pengacara.”

Arga memandangku dengan gelisah.

“Kamu akan melaporkan Kirana?”

“Kalau terbukti dia menggunakan namaku untuk menerima uang tanpa izin, tentu.”

“Tapi dia istriku.”

Aku menatapnya.

“Dan aku orang yang kehilangan seratus delapan puluh juta rupiah.”

Kalimat itu membuatnya tertunduk.

Aku mengangkat kardus dan kembali berjalan menuju pintu. Namun Arga memanggilku sekali lagi.

“Maya, ada sesuatu tentang pernikahanku yang belum kamu tahu.”

Aku berhenti tanpa berbalik.

“Kirana sedang hamil.”

Dadaku terasa seperti dihantam benda berat.

Aku tidak mengatakan apa pun.

Arga melanjutkan dengan suara nyaris berbisik.

“Dia memberitahuku dua minggu lalu. Aku memintanya menikah karena ingin bertanggung jawab.”

Aku memejamkan mata.

Selama beberapa detik, hanya suara kendaraan di depan gedung yang terdengar.

Lalu aku bertanya, “Kenapa kamu merasa harus menjelaskan semua itu kepadaku?”

“Karena aku baru tahu perasaanmu.”

Aku akhirnya berbalik.

“Arga, kamu sudah menjadi suami seseorang. Dan sebentar lagi mungkin menjadi ayah. Jangan menjadikan perasaanku alasan untuk meragukan keputusanmu sendiri.”

Matanya memerah.

“Tapi kalau aku tahu lebih cepat…”

“Tidak ada gunanya membicarakan kemungkinan yang sudah lewat.”

Aku meninggalkannya di lobi malam itu.

Di dalam taksi, aku menangis tanpa suara. Bukan karena berharap Arga membatalkan pernikahannya. Aku menangis karena akhirnya memahami betapa banyak waktu yang kuhabiskan untuk sebuah hubungan yang bahkan tidak pernah benar-benar dimulai.

Keesokan paginya, aku mengajukan cuti setengah hari dan menemui seorang pengacara bernama Dini, teman kuliahku yang kini bekerja di Jakarta Selatan.

Dini memeriksa dokumen yang kubawa.

“Ini serius, May. Tapi kita harus memastikan aliran dananya dulu.”

“Aku tidak mau membuat tuduhan tanpa bukti.”

“Bagus. Kita mulai dari bank.”

Penelusuran awal menunjukkan bahwa rekening penerima memang terdaftar atas nama Maya, tetapi bukan milikku. Dini menjelaskan bahwa kesamaan nama saja tidak membuktikan pemalsuan identitas.

Melalui jalur pengaduan resmi, kami meminta bank menyelidiki dokumen pembukaan rekening dan transaksi terkait.

Sementara itu, Arga menyerahkan percakapan dengan Kirana yang masih tersimpan di ponselnya.

Di salah satu pesan, Kirana menulis bahwa aku sedang sibuk mempersiapkan penempatan luar negeri sehingga tidak ingin menerima telepon mengenai pembayaran.

Pesan itu dikirim enam bulan sebelumnya.

Aku membacanya berulang kali.

Enam bulan lalu, tawaran Hamburg bahkan belum diumumkan secara resmi.

Bagaimana Kirana mengetahuinya?

Aku membuka kembali email kantor dan menemukan sesuatu yang sebelumnya kuabaikan. Kirana pernah membantu menyiapkan materi presentasi untuk rapat kerja sama dengan perusahaan Jerman. Dalam rapat itu, namaku tercantum sebagai kandidat potensial penempatan internasional.

Berarti ia mengetahui kemungkinan keberangkatanku jauh sebelum aku menerima tawaran resmi.

Sore itu, aku meminta bertemu Kirana di ruang rapat kecil kantor.

Ia datang mengenakan blus krem dan membawa tas tangan yang biasa dipakainya.

Cincin pernikahan baru berkilau di jarinya.

“Kak Maya,” sapanya pelan.

Aku menunjuk kursi di hadapanku.

“Duduk.”

Kirana terlihat gugup.

“Aku tahu Kakak mungkin marah soal pernikahanku dengan Mas Arga.”

“Aku tidak memanggilmu untuk membahas pernikahan.”

Aku meletakkan salinan dokumen di atas meja.

“Aku ingin tahu kenapa tanda tanganmu ada pada formulir rekening yang tidak pernah kuberikan kepada Arga.”

Wajahnya langsung pucat.

“Kak, aku bisa jelaskan.”

“Silakan.”

Kirana menggenggam ujung tasnya.

“Aku cuma membantu proses pembayaran.”

“Dengan menggunakan rekening orang lain?”

Ia tidak menjawab.

“Dan kenapa kamu mengatakan kepadanya bahwa aku sudah menyetujui semuanya?”

Kirana mulai menangis.

“Aku terpaksa, Kak.”

Aku menatapnya tanpa bergerak.

“Terpaksa oleh siapa?”

“Mas Damar.”

Aku mengerutkan kening.

Damar adalah kepala divisi keuangan perusahaan kami. Lelaki berusia empat puluh lima tahun yang selama ini dikenal sangat teliti dan jarang berbicara di luar urusan pekerjaan.

“Apa hubungannya Damar dengan pinjaman pribadiku?”

Kirana mengusap air mata.

“Enam bulan lalu dia tahu Arga mau mengembalikan uang Kakak. Dia bilang rekening tujuan harus diverifikasi melalui bagian keuangan karena Arga menggunakan rekening usahanya yang masih terhubung dengan pembukuan proyek lama.”

Aku hampir tertawa mendengarnya.

“Itu pinjaman pribadi, Kirana. Tidak ada hubungannya dengan rekening perusahaan.”

“Aku tahu sekarang.”

“Lalu kenapa kamu ikut menandatangani formulir itu?”

Kirana menangis semakin keras.

“Karena Damar menjanjikan uang kepadaku.”

Ruangan menjadi hening.

Ia mengakui telah menerima tiga puluh juta rupiah untuk membantu menyiapkan formulir konfirmasi palsu dan menyampaikan informasi yang menyesatkan kepada Arga.

Namun menurut pengakuannya, ia tidak pernah memegang seluruh dana tersebut.

Damar yang menentukan rekening penerima.

Aku segera menghubungi Dini dan menyerahkan rekaman percakapan yang dibuat dengan sepengetahuan Kirana setelah ia menyetujui pembicaraan tersebut didokumentasikan.

Sebelum keluar, Kirana memanggilku.

“Kak Maya, ada satu hal lagi.”

Aku menoleh.

“Mas Damar pernah menyuruhku mencari tahu apakah Kakak akan menerima pekerjaan di Hamburg.”

“Kenapa?”

“Dia bilang kalau Kakak pergi, pemeriksaan kontrak pengadaan tahun lalu akan lebih mudah diselesaikan.”

Aku merasakan sesuatu yang dingin menjalar di punggung.

Sebagai procurement specialist, aku memang bertanggung jawab meninjau beberapa kontrak pemasok luar negeri.

Tiga bulan sebelumnya, aku pernah menemukan ketidaksesuaian harga pada pembelian peralatan gudang. Nilainya cukup besar, tetapi Damar mengatakan selisih tersebut berasal dari penyesuaian biaya pengiriman.

Aku meminta dokumen tambahan.

Dokumen itu tidak pernah diberikan.

Malamnya, aku membuka laptop dan meninjau salinan berkas yang masih tersimpan dalam sistem kerja sesuai akses resmiku.

Ada tiga transaksi pengadaan dengan nama pemasok berbeda, tetapi rincian rekening pembayaran dan alamat korespondensinya menunjukkan pola yang mencurigakan.

Aku tidak menyentuh atau mengubah data apa pun.

Sebaliknya, aku menuliskan seluruh temuan dalam laporan resmi kepada divisi kepatuhan dan kantor pusat.

Dua hari kemudian, Damar dipanggil untuk pemeriksaan internal.

Ia langsung mengajukan cuti mendadak.

Namun sebelum meninggalkan kantor, ia mengirimiku pesan.

Maya, kita perlu bicara. Kamu tidak memahami seluruh persoalannya.

Aku tidak membalas.

Semua komunikasi berikutnya kuserahkan kepada pengacara dan tim kepatuhan.

Pemeriksaan kemudian menemukan indikasi bahwa sejumlah pembayaran perusahaan telah diarahkan melalui vendor perantara yang tidak menjalankan pekerjaan sebagaimana tercantum dalam kontrak.

Kasus itu tidak selesai dalam semalam.

Auditor membutuhkan waktu untuk menelusuri transaksi, dan pihak berwenang melakukan pemeriksaan setelah menerima laporan beserta bukti pendukung.

Tetapi satu hal menjadi jelas.

Damar tidak sekadar memanfaatkan pembayaran utang Arga.

Ia juga berusaha menjauhkan perhatianku dari transaksi pengadaan yang sedang kuperiksa.

Kirana mengakui bahwa setelah menerima uang dari Damar, ia diminta terus mendekati Arga.

“Aku memang sudah menyukai Mas Arga sebelum itu,” katanya dalam pertemuan lanjutan bersama pengacara. “Tapi Damar tahu aku takut kehilangan dia.”

Ia kemudian menjelaskan bahwa Damar berulang kali mengatakan aku akan menghalangi hubungan mereka.

Menurutnya, Damar sengaja membuat Arga percaya bahwa aku tidak lagi ingin berhubungan dekat dengannya.

Namun aku tidak menganggap pengakuan itu menghapus tanggung jawab Kirana.

Ia telah memilih menerima uang dan membantu membuat dokumen menyesatkan.

Apa pun alasan emosionalnya, keputusan itu tetap harus dipertanggungjawabkan.

Seminggu sebelum keberangkatanku, Arga datang ke apartemenku.

Kali ini ia tidak membawa map biru.

Ia membawa bukti pembayaran sebagian utangnya melalui rekening pribadinya yang telah diverifikasi, disertai rencana pelunasan tertulis yang disepakati bersama pengacara.

“Aku akan melunasi sisanya, May. Apa pun hasil penyelidikan soal uang yang dulu kutransfer.”

Aku mengangguk.

“Terima kasih.”

Ia duduk di sofa dengan wajah lelah.

“Kirana sudah pindah ke rumah orang tuanya.”

Aku tidak bertanya lebih jauh.

“Dokter bilang kehamilannya masih perlu pemeriksaan lanjutan,” katanya. “Aku akan menunggu hasilnya. Tapi aku tetap harus menghadapi semua yang sudah terjadi.”

Aku menuangkan air putih untuknya.

“Kamu harus memutuskan sendiri bagaimana menjalani pernikahanmu.”

Arga menatapku lama.

“Dulu aku selalu mengira kamu akan ada di dekatku.”

Aku tersenyum kecil.

“Aku juga pernah mengira begitu.”

“Dan sekarang?”

“Sekarang aku ingin mengetahui seperti apa hidupku ketika aku berhenti menunggu seseorang.”

Ia menunduk.

“Apa kamu membenciku?”

Aku menggeleng.

“Tidak. Kamu tidak pernah menjanjikan cinta kepadaku. Yang membuatku terluka adalah harapanku sendiri, juga caramu membiarkan orang lain berbicara atas namaku tanpa pernah memastikan kebenarannya.”

Arga mengangguk perlahan.

“Aku menyesal.”

“Aku tahu.”

Untuk pertama kalinya, percakapan kami tidak terasa seperti dua orang yang sedang menunggu sesuatu terjadi.

Kami hanya dua manusia yang akhirnya menerima kenyataan.

Pada hari keberangkatanku, hujan turun deras di Jakarta.

Aku tiba di Bandara Soekarno-Hatta bersama Dini dan adikku, Raka.

Ponselku menerima pesan dari Arga.

Semoga Hamburg memperlakukanmu dengan baik. Terima kasih sudah menjadi bagian penting hidupku.

Aku membacanya sekali, kemudian membalas.

Semoga kamu juga belajar menjaga orang-orang yang sekarang menjadi tanggung jawabmu.

Setelah itu aku memasukkan ponsel ke tas dan berjalan menuju pemeriksaan keberangkatan.

Hamburg menyambutku dengan udara dingin yang menusuk.

Apartemen sementaraku berada tidak jauh dari stasiun kereta. Setiap pagi aku berjalan melewati deretan bangunan bata merah menuju kantor, belajar memahami jadwal transportasi, dan membiasakan diri dengan bahasa yang belum sepenuhnya kukuasai.

Minggu-minggu pertama tidak mudah.

Aku sering merindukan masakan ibu, suara kendaraan Jakarta, bahkan kemacetan yang dulu selalu kukeluhkan.

Tetapi untuk pertama kalinya, kesepian itu tidak membuatku ingin menelepon Arga.

Aku mulai mengikuti kelas bahasa Jerman pada akhir pekan. Aku berteman dengan seorang perempuan Indonesia bernama Lestari yang bekerja sebagai insinyur di perusahaan pelayaran.

Kami sering memasak bersama dan berjalan menyusuri tepi Sungai Elbe.

Suatu malam, Lestari bertanya, “Kamu pernah menyesal pindah ke sini?”

Aku berpikir cukup lama.

“Pernah takut. Tapi belum pernah menyesal.”

Delapan bulan kemudian, pengacaraku mengirim kabar bahwa sebagian besar uang pinjaman telah dilunasi Arga. Proses penyelidikan terhadap transaksi Damar masih berjalan, sementara Kirana telah memberikan keterangan tambahan.

Aku membaca laporan itu tanpa perasaan ingin tahu tentang hubungan pribadi mereka.

Hidup mereka bukan lagi pusat kehidupanku.

Beberapa hari kemudian, aku menerima sebuah paket kecil dari Indonesia.

Pengirimnya adalah ibu Arga.

Di dalamnya terdapat foto kami saat masih mahasiswa dan sepucuk surat tulisan tangan.

Maya, Ibu baru memahami mengapa dulu kamu menolak kesempatan pertukaran mahasiswa. Ibu meminta maaf karena tidak pernah mengetahui pengorbananmu. Tetapi ada sesuatu yang ingin Ibu katakan. Ibu tidak pernah meminta kamu mengorbankan masa depan untuk keluarga kami. Seandainya dulu kamu bercerita, Ibu pasti menyuruhmu berangkat.

Aku membaca kalimat itu berulang kali.

Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan.

Selama bertahun-tahun, aku menganggap keputusan tinggal sebagai bukti cintaku kepada Arga.

Kini aku memahami bahwa pengorbanan yang tidak diminta tidak otomatis menjadi kewajiban orang lain untuk membalasnya.

Aku sendiri yang memilih tinggal.

Dan aku juga berhak memilih pergi.

Setahun kemudian, proyek yang kutangani di Hamburg berhasil menyelesaikan negosiasi penting dengan beberapa pemasok Eropa.

Atasanku menawariku perpanjangan kontrak dan kesempatan memimpin tim regional.

Aku menerimanya.

Malam setelah menandatangani perpanjangan tersebut, aku berjalan sendirian menyusuri tepi pelabuhan. Angin dingin menerbangkan rambutku, sementara lampu kapal berkilauan di permukaan air.

Ponselku bergetar.

Sebuah pesan dari nomor Indonesia yang tidak kusimpan muncul.

Kak Maya, ini Kirana. Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku sudah mengembalikan semua uang yang kuterima dari Damar melalui proses penyelesaian yang ditangani pengacara. Aku tidak meminta Kakak memaafkanku. Aku hanya ingin Kakak tahu bahwa aku menyesal pernah menggunakan kebaikan Kakak untuk kepentinganku sendiri.

Aku menatap pesan itu cukup lama.

Lalu aku mengetik balasan.

Terima kasih sudah bertanggung jawab. Semoga kamu tidak mengulangi kesalahan yang sama kepada siapa pun.

Setelah mengirimnya, aku menghapus percakapan tersebut dari layar utama.

Langit Hamburg mulai gelap.

Aku membuka galeri ponsel dan menemukan foto lama dari tahun terakhir kuliah.

Di foto itu, aku berdiri di samping Arga sambil tersenyum lebar. Dahulu aku selalu menyimpan foto tersebut sebagai pengingat seseorang yang kuharapkan menjadi masa depanku.

Sekarang aku melihatnya dengan perasaan berbeda.

Gadis dalam foto itu terlihat bahagia, tetapi ia tidak tahu bahwa dunia jauh lebih luas daripada satu nama.

Aku tidak menghapus fotonya.

Aku hanya memindahkannya ke album kenangan lama.

Kemudian aku membuka kamera dan mengambil foto baru.

Di belakangku terbentang pelabuhan Hamburg dengan lampu-lampu kota yang memantul di sungai.

Kali ini aku berdiri sendirian.

Namun senyumku terasa lebih ringan daripada sebelumnya.

Beberapa bulan kemudian, ketika kembali ke Indonesia untuk berlibur, aku mengunjungi rumah ibu Arga.

Beliau menyambutku dengan pelukan panjang.

“Kamu kelihatan bahagia, May.”

Aku mengangguk.

“Aku memang bahagia, Bu.”

Sebelum pulang, beliau mengeluarkan map biru tua yang dulu dibawa Arga ke lobi kantor.

“Ini seharusnya kembali kepadamu.”

Aku menerima map tersebut.

Di dalamnya masih ada formulir beasiswa yang batal kugunakan bertahun-tahun lalu.

Aku membalik halaman terakhir dan membaca tulisan tanganku sendiri.

Kalau suatu hari aku berani pergi jauh, mungkin itu karena aku akhirnya mengerti bahwa menunggu Arga tidak akan membuatnya mencintaiku.

Aku mengambil pena dari tas dan menulis satu kalimat baru di bawahnya.

Aku akhirnya pergi jauh, bukan untuk membuat seseorang merindukanku, melainkan untuk menemukan kembali diriku sendiri.

Ibu Arga membaca tulisan itu dan tersenyum dengan mata berkaca-kaca.

Aku menutup map tersebut.

Dulu, benda itu menyimpan penyesalan terbesar dalam hidupku.

Sekarang, benda yang sama menjadi pengingat bahwa aku pernah cukup berani untuk mengubah arah hidup.

Ketika keluar dari rumah itu, aku tidak lagi membawa harapan bahwa Arga akan mengejarku.

Aku membawa sesuatu yang jauh lebih berharga.

Keyakinan bahwa masa depanku tidak harus menunggu siapa pun untuk dimulai.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang