Saat Putriku Dibawa ke Ruang Operasi, Suamiku Menolak Membayar Biayanya—Namun

“Radang usus buntunya sudah pecah,” kata dokter. “Ada infeksi di rongga perut. Tim sedang membersihkannya. Kami perlu menjelaskan perluasan tindakan dan kemungkinan perawatan yang lebih lama.”

Aku mencengkeram ujung lengan bajuku.

“Naya bagaimana sekarang, Dok?”

“Kondisinya sedang dipantau ketat. Tindakan masih berlangsung.”

Dokter menjelaskan dengan tenang. Aku berusaha mengingat setiap kalimat, tetapi pikiranku terus kembali kepada jari kecil Naya yang tadi mengait kelingkingku.

Di sebelahku, Arman hanya menatap lembar penjelasan.

Aku menanyakan hal-hal yang belum kupahami, lalu menyelesaikan persetujuan yang diperlukan. Ketika dokter kembali masuk, Arman meraih lenganku.

“Laras, soal yang tadi—”

“Sekarang aku menunggu anakku.”

Ia melepaskan tangannya.

Raka berdiri beberapa langkah dari kami. Ia tidak bertanya tentang Mira atau rumah. Ia hanya menyodorkan botol air yang tutupnya sudah dilonggarkan.

Aku menerimanya dan kembali duduk.

Dua jam berikutnya berjalan seperti hari yang tidak selesai-selesai. Arman beberapa kali membuka ponsel. Setiap bunyi notifikasi membuat bahuku menegang.

Akhirnya aku berkata, “Kalau ada yang harus kamu urus, pergi saja.”

“Aku ayahnya.”

“Kalau begitu, simpan ponselmu.”

Ia menurut.

Ketika dokter akhirnya keluar dan mengatakan operasi telah selesai, aku menangis tanpa bisa menahannya. Naya masih membutuhkan pengawasan, tetapi kalimat itu memberiku ruang untuk bernapas.

Raka berpamitan setelah memastikan kakakku yang sedang dalam perjalanan bisa segera tiba.

“Terima kasih,” kataku di dekat lift.

Ia mengangguk. “Nanti kalau sudah tenang, kabari keadaan Naya.”

Tidak ada pelukan. Tidak ada janji berlebihan. Ia pulang membawa tas kerjanya, sementara aku kembali kepada putriku.

Naya terbangun beberapa jam kemudian. Bibirnya kering, matanya setengah terbuka.

“Mama?”

Aku segera mendekat.

“Mama di sini.”

“Sudah selesai?”

“Sudah, Sayang.”

Ia menggerakkan kelingkingnya sedikit. Aku menyambutnya dengan jariku, lalu menunduk agar air mataku tidak jatuh ke tangannya.

Arman berdiri di sisi lain tempat tidur.

Ketika ia hendak menyentuh rambut Naya, anak itu berbisik, “Papa tadi kerja?”

Arman membeku.

“Iya. Tapi sekarang Papa di sini.”

Naya memejamkan mata lagi. Ia terlalu lelah untuk bertanya lebih jauh.

Aku menunggu sampai kakakku datang keesokan paginya sebelum meminta Arman keluar kamar. Kami duduk di bangku taman rumah sakit. Cahaya matahari menembus daun, terlalu cerah untuk percakapan yang harus kami lakukan.

“Jelaskan rumah itu.”

Arman menunduk.

“Mira membantu cari properti. Rencananya untuk investasi.”

“Kenapa dia menyebut uang kita?”

“Karena dia juga menaruh uang.”

Aku menatapnya lama.

“Aku mau melihat bukti pemesanannya.”

Ia mengusap wajah, lalu membuka percakapan di ponsel. Ada foto rumah dua lantai, kuitansi tanda jadi, dan salinan formulir pemesanan.

Nama pemesannya Mira Andini.

Nomor kontak pendampingnya milik Arman.

“Kenapa namamu tidak tercantum sebagai pembeli?”

“Urusan pembiayaan.”

“Dan hubunganmu dengan Mira?”

Ia tidak langsung menjawab.

Aku sudah mengetahui jawabannya sebelum ia mengatakannya.

“Kami dekat.”

“Sejak kapan?”

“Delapan bulan.”

Suara burung terdengar dari pohon di belakang bangku. Seorang petugas kebersihan mendorong troli melewati kami. Dunia tetap berjalan, bahkan ketika delapan tahun hidupku tiba-tiba terasa berbeda.

“Kamu berniat tinggal di sana?”

Arman memejamkan mata.

“Pernah dibicarakan.”

Aku mengangguk pelan. Pertanyaan itu selesai.

Yang belum selesai adalah uangnya.

Dua bulan sebelumnya, aku mentransfer sebagian besar tabungan usahaku kepada Arman. Katanya, uang itu akan ditempatkan sementara bersama dana keluarga agar kami bisa membeli ruko. Ia menjanjikan satu ruangan khusus untuk stok daganganku.

Aku bahkan sudah menggambar susunan raknya.

“Kamu memakai tabunganku juga?”

“Akan kuganti.”

“Berapa yang masih ada?”

Ia diam.

Aku berdiri karena mendadak tidak sanggup duduk di sampingnya.

“Laras, aku tidak mengira Naya akan sakit.”

Kalimat itu menghentikan langkahku.

“Tidak ada yang mengira anaknya akan masuk ruang operasi, Man. Itulah sebabnya uang darurat tidak boleh diam-diam dipakai membangun rumah dengan orang lain.”

Ia menangis ketika aku pergi. Aku tidak berbalik.

Selama Naya dirawat, kakakku bergantian menjaganya denganku. Arman tetap datang, tetapi pembicaraan kami dibatasi pada kondisi anak dan kebutuhan rumah sakit.

Ketika ia kembali mempertanyakan Raka, aku meletakkan bukti pinjaman di depannya.

“Jumlahnya jelas. Tujuannya jelas. Aku akan mengembalikannya.”

“Aku cuma tidak suka kamu bergantung kepada laki-laki lain.”

“Aku juga tidak suka harus meminta pertolongan setelah suamiku menolak.”

Setelah itu, ia berhenti membicarakan Raka.

Naya pulang sembilan hari kemudian. Aku membawanya ke rumah kakakku untuk pemulihan. Di sela jadwal kontrol dan pekerjaan, aku mulai memeriksa rekening serta mengumpulkan bukti transfer.

Dengan bantuan pendamping hukum, aku meminta penjelasan tertulis tentang dana yang dipakai Arman. Urusan rumah, tabungan, dan perpisahan kami tidak selesai dalam satu pertemuan. Ada penyangkalan, penundaan, lalu pengakuan yang datang sedikit demi sedikit.

Namun, kali ini aku tidak menandatangani apa pun hanya karena ia berkata, “Percaya saja.”

Aku mencicil pengembalian uang Raka dari pemasukan toko. Ia menerima setiap transfer tanpa memperlakukanku seperti orang yang harus terus berutang budi.

Beberapa bulan kemudian, perpisahan kami resmi selesai. Arman tetap menjadi ayah Naya, dengan tanggung jawab yang kami tuangkan secara jelas. Aku tidak menjadikan anakku tempat menyimpan kemarahan.

Saat Naya bertanya mengapa kami tidak tinggal bersama Papa, aku menjawab, “Ada masalah orang dewasa yang harus Mama dan Papa selesaikan. Naya tidak melakukan kesalahan.”

Ia mengangguk, lalu bertanya apakah Papa masih boleh datang melihat gambarnya.

“Boleh.”

Setahun setelah operasi, Naya mengikuti lomba menggambar lagi. Kali ini temanya rumah.

Aku menunggu di luar ruangan sampai ia keluar membawa kertas warna-warni. Dalam gambarnya ada rumah kecil, pohon mangga, dan seorang perempuan duduk di dekat jendela.

“Itu Mama?” tanyaku.

Naya mengangguk.

“Kok cuma satu orang?”

“Aku di dalam. Lagi tidur.”

“Lalu Mama sedang apa?”

Ia menjawab sambil memasukkan pensil ke tas.

“Menunggu aku bangun. Soalnya Mama kalau janji tidak pergi, benar-benar tidak pergi.”

Aku memeluknya di tengah halaman sekolah.

Selama berbulan-bulan, aku merasa gagal mempertahankan sebuah rumah. Hari itu, putriku memperlihatkan rumah yang selama ini tetap dimilikinya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang