Saat Suamiku Sedang Dinas, Ia Mengunggah Status, “Bayi 3,8 Kg, Selamat Datang, Putri Kecil.” Aku.

Pesan ketiga muncul ketika aku masih berdiri mematung di depan meja makan.

“Dwi sudah bilang kepada calon mertuanya kalau apartemen itu miliknya. Jangan sampai keluarga kita malu.”

Aku mundur selangkah. Mendadak semua terasa masuk akal. Desakan membeli furnitur, permintaan membantu cicilan, sampai alasan mengapa namaku tidak boleh dicantumkan. Mereka sedang menyiapkan rumah untuk Dwi dengan uang orang tuaku.

Pintu kamar mandi terbuka.

“Yu, ambilkan handuk di lemari, dong.”

Suara Budi terdengar begitu biasa. Aku menatap pintu itu, bertanya-tanya sejak kapan lelaki yang tidur di sebelahku mampu menyimpan kebohongan sebesar ini.

Aku mengambil handuk dan meletakkannya di kursi.

“Di sini.”

Malam itu aku tidak menanyakan apa pun. Aku belum sanggup mendengar kebohongan berikutnya.

Keesokan paginya, aku menelepon Papa.

“Pa, kalau Ayu mengambil keputusan yang membuat orang lain marah, apa itu berarti Ayu salah?”

Papa tidak langsung menjawab.

“Kamu aman?”

Pertanyaan itu membuat pertahananku runtuh.

Aku menceritakan semuanya, termasuk apartemen di Tower B yang baru kubeli. Papa mendengarkan tanpa menyela.

“Maaf, Pa. Uang Papa malah jadi sumber masalah.”

“Uangnya tidak membuat masalah, Yu. Uang itu cuma memperlihatkan sesuatu yang sebelumnya tidak kamu lihat.”

Aku menangis lebih keras.

Siang harinya, aku berkonsultasi dengan seorang advokat yang direkomendasikan rekan kantor. Aku membawa bukti pemberian uang dari orang tuaku, dokumen pembelian apartemen, dan percakapan tentang permintaan transfer.

Aku ingin memahami posisiku sebelum mengambil keputusan berikutnya.

Sore itu, Bu Sari kembali menelepon.

“Transfernya belum masuk, Ayu.”

“Saya belum menyetujui pembelian furnitur, Bu.”

“Lho, Budi bilang kamu sudah setuju.”

Aku menatap layar laptop yang masih terbuka di depanku.

“Kalau begitu, nanti kita bicarakan bersama. Sabtu saya datang.”

Nada suaranya langsung melunak.

“Nah, begitu. Jangan semuanya dihitung sendiri. Rumah tangga itu harus saling membantu.”

Sabtu pagi, aku tiba di unit Tower A dengan sebuah map dan tas kecil.

Bu Sari sudah berada di sana bersama Budi, Dwi, dan tunangannya, Rina. Di lantai ruang tamu terbentang contoh bahan sofa. Seorang pramuniaga berdiri dekat jendela sambil memegang daftar pesanan.

“Akhirnya datang juga,” kata Bu Sari. “Kita tinggal memilih warna.”

Rina tersenyum kepadaku.

“Mbak Ayu suka warna krem? Kata Mas Dwi, dapurnya nanti boleh aku yang atur.”

Budi langsung menoleh kepada adiknya.

Dwi berdeham.

“Maksudnya, bantu memilih.”

Aku meletakkan tas di meja.

“Rina, menurutmu apartemen ini untuk siapa?”

Senyumnya perlahan hilang.

“Untuk kami setelah menikah. Mas Dwi bilang sementara akan ditempati Mbak dan Mas Budi.”

Ruangan mendadak sunyi.

Pramuniaga itu menunduk pada berkasnya.

Aku menoleh kepadanya.

“Maaf, Pak. Sepertinya pembeliannya belum bisa dipastikan. Boleh kami bicara keluarga dulu?”

Setelah ia pergi, Bu Sari menutup pintu cukup keras.

“Ayu, jangan bikin malu.”

“Saya justru sedang berusaha memahami. Budi bilang ini rumah kami. Dwi bilang ini rumahnya. Ibu meminta saya membayar isinya.”

“Dwi sebentar lagi menikah,” jawab Bu Sari. “Kamu dan Budi belum punya anak. Kalian bisa tinggal di tempat yang lebih kecil dulu.”

“Dengan uang siapa?”

Budi mendekat.

“Yu, dengarkan dulu.”

Aku menatapnya.

“Kamu tahu rencana ini?”

Ia diam.

“Sejak kapan?”

“Sejak sebelum kita memesan unit.”

Aku merasa seperti kehilangan pijakan, meskipun sebenarnya jawaban itu sudah kuduga.

“Jadi waktu kamu mengajakku memilih dapur, kamu sudah tahu dapur itu bukan untuk kita?”

“Aku pikir nanti kamu akan mengerti. Dwi sedang kesulitan.”

“Lalu kenapa tidak bilang?”

“Karena kamu pasti menolak.”

Kalimat itu keluar begitu cepat hingga Budi sendiri tampak terkejut mendengarnya.

Aku mengangguk pelan.

Bu Sari menyilangkan tangan.

“Sudah telanjur begini, kita cari jalan keluar. Uangmu masih ada. Sebagian dipakai di sini, sisanya untuk tempat tinggal kalian.”

“Saya sudah membeli tempat tinggal.”

Budi mengerutkan dahi.

“Apa?”

“Apartemen dua kamar di Tower B. Saya membayarnya tunai dari uang pemberian orang tua saya.”

Wajah Bu Sari memucat.

“Kamu menghabiskan uang itu tanpa bicara dengan suamimu?”

“Saya membeli tempat tinggal setelah suami saya meminta saya menerima rumah yang namanya hanya milik dia. Ternyata bahkan rumah itu sudah dijanjikan kepada orang lain.”

Budi menarik kursi dan duduk.

“Kapan kamu membelinya?”

“Minggu lalu.”

“Kenapa kamu tidak percaya kepadaku?”

Aku hampir tidak mengenali suaraku sendiri ketika menjawab.

“Aku percaya waktu kamu bilang kita sedang membangun rumah.”

Rina tiba-tiba berdiri.

“Mas Dwi, uang mukanya juga bukan uangmu?”

Dwi mengulurkan tangan, tetapi Rina mundur.

“Kamu bilang tabunganmu sudah cukup. Minggu lalu kamu bahkan meminta ayahku membantu biaya renovasi.”

Bu Sari membuka mulut, lalu menutupnya kembali.

Aku meraih tasku. Tidak ada lagi yang perlu kubuktikan.

Budi menyusulku sampai koridor.

“Jangan pergi begini. Aku memang salah, tapi aku terjepit.”

“Kamu punya banyak kesempatan untuk bicara.”

“Aku takut Mama kecewa.”

Aku menatap matanya.

“Dan kamu memilih membiarkan aku yang kehilangan semuanya.”

Untuk pertama kalinya, ia tidak mencoba membantah.

Malam itu aku pindah ke Tower B. Belum ada sofa, belum ada meja makan. Aku duduk di lantai beralaskan kardus, menyantap nasi bungkus yang dibeli dari warung depan kompleks.

Di seberang, jendela Tower A menyala.

Ponselku terus bergetar. Permintaan maaf Budi datang bergantian dengan pesan Bu Sari yang menuduhku menghancurkan hubungan keluarga.

Aku mematikan suara ponsel, lalu membuka jendela.

Udara Bandung masuk bersama bunyi kendaraan dari jalan raya. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, aku bisa menarik napas tanpa merasa dadaku terikat.

Beberapa minggu kemudian, Budi datang membawa bunga.

“Aku sudah bilang kepada Mama. Apartemen itu akan dijual lagi. Aku mau memperbaiki semuanya.”

Aku menerima bahwa ia menyesal. Namun, ketika ia meminta tinggal bersamaku, tubuhku justru menegang.

Itulah jawaban yang selama ini kucari.

Aku mengajukan perceraian setelah menyiapkan langkahnya bersama advokat. Budi menangis saat menerima keputusanku. Aku juga menangis setelah ia pulang.

Meninggalkan seseorang tidak otomatis menghapus rasa sayang. Kadang justru itulah bagian tersulitnya.

Sebulan kemudian, Papa datang membawa dua pot tanaman.

“Mint dan rosemary,” katanya. “Mama ingat kamu pernah ingin menanam ini.”

Kami meletakkannya di balkon. Papa mengamati apartemen kecilku, lalu tersenyum.

“Nyaman.”

Aku menyandarkan kepala di bahunya.

“Lebih kecil dari yang dulu, Pa.”

Papa menepuk tanganku.

“Tapi kamu bisa bernapas di sini.”

Di meja dekat pintu tergeletak kunciku. Hanya satu gantungan sederhana, tanpa nama siapa pun.

Aku memandangnya cukup lama.

Dulu aku mengira rumah dimulai ketika dua orang sepakat tinggal bersama.

Sekarang aku tahu, rumah juga bisa dimulai ketika seseorang akhirnya berhenti meninggalkan dirinya sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang