
Nama yang tercantum sebagai penerima dana pinjaman Rp1,8 miliar itu adalah Niken Maharani.
Aku menatap halaman tersebut begitu lama sampai petugas bank memanggil namaku dua kali.
“Bu Rani, apakah Ibu mengenal nama ini?”
Aku mengangkat wajah.
“Dia sahabat calon suami saya.”
Petugas itu terlihat terkejut.
Aku kemudian menunjuk kolom persetujuan yang memuat tanda tangan menyerupai milikku.
“Pak, saya ingin memastikan pengajuan ini dihentikan sampai seluruh dokumennya diperiksa. Saya tidak pernah memberikan kuasa kepada Niken ataupun Bagas untuk menjaminkan gedung keluarga.”
Petugas tersebut mengangguk.
“Kami akan mencatat keberatan Ibu dan menyampaikannya kepada bagian kredit serta kepatuhan. Proses pencairan juga belum dilanjutkan karena verifikasi pemilik jaminan belum selesai.”
Aku meminta bukti tertulis bahwa keberatanku sudah diterima.
Ketika petugas itu pergi, aku baru menyadari Bagas sedang berdiri beberapa langkah di belakangku.
Wajahnya pucat.
“Rani, kita perlu bicara.”
Aku menoleh.
“Di mana Niken?”
Bagas tidak menjawab.
Aku melanjutkan.
“Dia yang mengambil amplop hitam dari meja penerima tamu. Sekarang namanya tercantum sebagai penerima dana pinjaman yang menggunakan gedung keluargaku sebagai jaminan.”
Bagas mengusap wajahnya.
“Ran, semuanya nggak seperti yang kamu pikirkan.”
Aku tertawa getir.
“Kalau begitu, jelaskan.”
Dia melirik ke arah tamu undangan.
“Jangan di sini.”
Aku menarik napas panjang.
“Baik. Kita bicara di ruang panitia. Tapi kali ini kamu harus menjawab semuanya.”
Beberapa menit kemudian, kami duduk berhadapan di ruang kecil belakang aula.
Aku segera menghubungi Pak Jatmiko dan meminta beliau datang membawa salinan laporan renovasi. Aku juga menelepon Maya, sahabatku yang bekerja sebagai pengacara di Solo.
Sementara menunggu mereka, Bagas hanya duduk dengan kedua tangan saling menggenggam.
“Mas, kenapa uang renovasi Rp185 juta dikirimkan untuk usaha Niken?”
Bagas menunduk.
“Karena bisnisnya hampir bangkrut.”
Aku membeku.
“Apa?”
“Tahun lalu Niken membuka usaha penyewaan dekorasi dan perlengkapan pernikahan. Dia membeli banyak barang secara kredit. Tapi beberapa klien besar membatalkan pesanan.”
Aku menatapnya.
“Lalu?”
“Dia punya utang kepada pemasok. Kalau nggak segera dibayar, seluruh perlengkapannya bisa ditarik.”
Aku menarik napas panjang.
“Jadi kamu menggunakan uangku untuk membayar kebutuhan usahanya?”
Bagas menggeleng cepat.
“Aku pikir itu cuma sementara. Barang-barangnya nanti juga bisa dipakai di gedung keluargamu.”
“Tapi barang itu dibeli atas nama perusahaan Niken.”
Bagas terdiam.
Aku melanjutkan.
“Dan tidak ada kontrak kerja sama yang pernah kutandatangani.”
Dia mengusap wajahnya.
“Aku memang belum sempat membicarakannya.”
Aku menatapnya tidak percaya.
“Mas, kamu punya waktu berbulan-bulan untuk membicarakan dekorasi, katering, sampai warna undangan pernikahan kita. Tapi nggak punya waktu untuk mengatakan bahwa uangku dipakai membantu bisnis Niken?”
Bagas tidak menjawab.
Aku kemudian bertanya tentang pinjaman Rp1,8 miliar.
Wajahnya langsung berubah.
“Itu rencana ekspansi usaha.”
“Usaha siapa?”
“Usaha kami.”
Aku membeku.
“Kami?”
Bagas menarik napas panjang.
“Aku dan Niken berencana menggabungkan bisnis penyewaan dekorasinya dengan pengelolaan gedung keluargamu.”
Aku menatapnya tanpa berkedip.
“Siapa yang menyetujui penggabungan itu?”
Dia terdiam.
“Bagas, gedung itu bukan milikmu.”
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa kamu mengajukan pinjaman dengan menjaminkannya?”
Dia menunduk.
“Karena tanpa jaminan itu, bank nggak mau memberikan pembiayaan sebesar yang kami butuhkan.”
Dadaku terasa dingin.
Aku mulai memahami bahwa semua rencana renovasi, perluasan usaha, dan kerja sama yang selama ini dibicarakan Bagas ternyata memiliki tujuan lain.
Namun, ada satu pertanyaan yang belum terjawab.
“Kenapa kamu dan Niken begitu yakin bisa mendapatkan persetujuanku?”
Bagas terlihat semakin gelisah.
Akhirnya dia menjawab pelan.
“Karena setelah menikah, aku pikir kita bisa membicarakannya sebagai keluarga.”
Aku menggeleng.
“Jadi kamu sengaja menyiapkan semuanya sebelum akad, lalu berharap aku akan mengikuti keputusanmu setelah menjadi istrimu?”
Bagas tidak mampu menjawab.
Tepat saat itu, pintu terbuka.
Niken masuk dengan wajah tegang.
Di belakangnya berdiri Pak Jatmiko dan Maya.
Begitu melihatku, Niken langsung berkata,
“Rani, aku tahu kamu marah. Tapi semua ini sebenarnya untuk kebaikan gedung keluargamu.”
Aku menatapnya.
“Kalau memang untuk kebaikanku, kenapa dokumennya disembunyikan?”
Niken terdiam.
Aku melanjutkan.
“Dan di mana amplop hitam milik Pak Jatmiko?”
Dia mengalihkan pandangan.
“Nggak tahu.”
Aku menoleh kepada Pak Jatmiko.
Beliau meletakkan sebuah map di meja.
“Bu Rani, saya sudah membawa seluruh salinan dokumen.”
Kemudian beliau menunjukkan catatan penerimaan barang.
Nilai pembelian perlengkapan yang menggunakan dana renovasi memang mencapai Rp185 juta.
Namun, berdasarkan surat jalan yang dikonfirmasi pemasok, seluruh barang dikirim ke gudang milik Niken di kawasan Kartasura.
Tidak ada satu pun yang diterima pengelola gedung keluarga kami.
Aku menatap Niken.
“Kenapa kamu menyuruh pemasok mengirim barang ke gudangmu?”
Dia menggigit bibir.
“Supaya lebih mudah disimpan.”
Pak Jatmiko langsung menjawab.
“Tapi sejak awal, gudang penyimpanan gedung kami sudah siap. Saya bahkan sudah menyiapkan daftar inventaris.”
Niken terdiam.
Maya kemudian meminta agar seluruh pihak berhenti saling menyela.
“Kalau persoalan ini mau diselesaikan, kita harus membedakan transaksi yang benar-benar disetujui dengan penggunaan dana yang belum mendapatkan persetujuan pemilik.”
Aku mengangguk.
Namun, sebelum pembicaraan dilanjutkan, Pak Jatmiko mengeluarkan ponselnya.
“Bu Rani, ada satu rekaman kamera yang perlu Ibu lihat.”
Aku mendekat.
Video tersebut berasal dari kamera pengawas di dekat meja penerima tamu.
Waktu yang tercantum menunjukkan pukul 10.42.
Aku langsung mengenali Niken yang berjalan menuju meja ketika para tamu sedang memperhatikan pertunjukannya di panggung.
Awalnya, aku mengernyit.
Bukankah saat itu dia sedang memegang mikrofon?
Namun, setelah memperhatikan waktu dengan saksama, aku memahami urutannya.
Sepuluh menit sebelum membuat pertunjukan di panggung, Niken ternyata sudah mendatangi meja penerima tamu.
Dia berbicara dengan petugas, kemudian mengambil amplop hitam yang dititipkan Pak Jatmiko.
Setelah itu, dia berjalan menuju ruang panitia melalui koridor samping.
Beberapa menit kemudian, Niken kembali ke aula dan mulai mempersiapkan pertunjukannya.
Jadi amplop tersebut tidak hilang ketika dia sedang berdiri di atas panggung.
Amplop itu sudah diambil sebelumnya.
Dan ketika aku mulai mencarinya, Niken menggunakan pertunjukan memalukan itu untuk mengalihkan perhatianku.
Aku menatapnya.
“Kamu sudah mengambil amplop itu sebelum merebut mikrofon.”
Wajah Niken pucat.
Aku melanjutkan.
“Jadi kamu memang sengaja membuat keributan agar aku nggak sempat memeriksa dokumennya?”
Niken mulai menangis.
“Rani, aku panik.”
Aku tidak menjawab.
Dia menunduk.
“Aku tahu Pak Jatmiko sedang memeriksa pembayaran renovasi. Aku takut kamu menemukan ketidaksesuaian sebelum acara selesai.”
“Kenapa kamu takut?”
Niken menutup wajah.
“Karena kalau kerja sama ini batal, usahaku bisa bangkrut.”
Aku menarik napas panjang.
“Lalu di mana amplopnya?”
Niken menunjuk lemari kecil di sudut ruangan.
“Aku menyimpannya di belakang kotak perlengkapan dekorasi.”
Pak Jatmiko segera memeriksa lemari tersebut.
Beberapa saat kemudian, beliau menemukan amplop hitam yang kami cari.
Aku mengembuskan napas lega.
Namun, ketika membukanya, aku menemukan sesuatu yang tidak ada dalam salinan laporan renovasi.
Sebuah rancangan perjanjian kerja sama.
Nama pihak pertama tercantum sebagai pengelola gedung keluargaku.
Pihak kedua adalah perusahaan milik Niken.
Dalam dokumen tersebut, perusahaan Niken akan memperoleh hak pengelolaan operasional gedung selama lima belas tahun.
Aku membaca setiap halaman dengan tangan gemetar.
Kemudian mataku berhenti pada klausul pembagian keuntungan.
Enam puluh lima persen untuk perusahaan Niken.
Tiga puluh lima persen untuk keluargaku.
Aku membeku.
“Bagas, kamu tahu tentang ini?”
Dia menunduk.
Aku mengulangi pertanyaanku.
“Kamu tahu gedung peninggalan Ayahku akan diserahkan pengelolaannya kepada perusahaan Niken selama lima belas tahun?”
Bagas akhirnya mengangguk.
“Iya.”
Air mataku langsung jatuh.
Aku menatap lelaki yang sudah tiga tahun menjadi bagian penting dalam hidupku.
“Kamu bukan cuma menggunakan uangku tanpa izin.”
Suaraku bergetar.
“Kamu juga sedang menyiapkan perjanjian yang bisa membuat keluargaku kehilangan kendali atas usaha yang dibangun Ayah selama puluhan tahun.”
Bagas mencoba mendekat.
“Ran, dengarkan aku.”
Aku mundur.
“Kenapa?”
Dia menelan ludah.
“Aku merasa selama ini hidupku nggak sebanding denganmu.”
Aku membeku.
“Apa maksudmu?”
Bagas mengusap wajah.
“Kamu punya gedung, usaha keluarga, dan tabungan. Sementara aku masih bekerja sebagai manajer dengan penghasilan biasa.”
Aku menatapnya tidak percaya.
“Jadi itu alasanmu?”
Dia mengangguk perlahan.
“Aku ingin membuktikan bahwa aku juga bisa membangun usaha besar. Niken menawarkan kerja sama karena dia sudah berpengalaman di bidang acara.”
Niken langsung menunduk.
Bagas melanjutkan.
“Aku pikir kalau bisnisnya berhasil, aku nggak akan terus dianggap menumpang pada keluargamu.”
Aku merasa dadaku sesak.
“Mas, aku nggak pernah menganggapmu seperti itu.”
Dia terdiam.
“Aku memilih menikah denganmu karena aku percaya kamu jujur dan bertanggung jawab.”
Air mataku kembali jatuh.
“Tapi kamu justru mengambil keputusan sebesar ini karena takut terlihat kurang berhasil.”
Bagas tidak menjawab.
Aku mengusap pipi.
“Dan kamu membiarkan Niken mempermalukanku di depan seluruh keluarga karena kamu nggak berani menghentikannya.”
Dia menunduk semakin dalam.
Untuk pertama kalinya, aku melihat betapa rapuhnya kepercayaan yang selama ini kubangun.
Maya kemudian berbicara.
“Rani, keputusan mengenai pernikahan tetap ada padamu. Namun, untuk urusan gedung dan pinjaman, kita harus segera memastikan tidak ada dokumen yang diproses tanpa persetujuanmu.”
Aku mengangguk.
Kemudian menatap Bagas.
“Aku membatalkan pernikahan ini.”
Wajahnya langsung berubah.
“Rani, jangan!”
Aku menarik napas panjang.
“Aku nggak akan memulai rumah tangga dengan seseorang yang diam-diam menyiapkan penggunaan aset keluargaku untuk bisnis yang tidak pernah kusetujui.”
Bagas mencoba menggenggam tanganku.
Aku menariknya.
“Hubungan kita selesai.”
Tidak lama kemudian, aku meminta panitia menghentikan rangkaian acara.
Aku tidak mengumumkan seluruh persoalan keuangan kepada para tamu.
Aku hanya menyampaikan bahwa pernikahan tidak dapat dilanjutkan karena ada masalah serius yang harus diselesaikan secara pribadi.
Sebagian tamu terlihat terkejut.
Beberapa kerabat menghampiriku.
Namun, Ibu langsung memelukku.
“Nggak apa-apa, Nak.”
Aku menangis di bahunya.
“Bu, Rani takut mengecewakan semua orang.”
Ibu mengusap rambutku.
“Kamu nggak mengecewakan siapa pun karena memilih melindungi masa depanmu.”
Beberapa hari kemudian, melalui pendampingan hukum, aku menyampaikan keberatan resmi kepada bank mengenai pengajuan jaminan gedung.
Bank mengonfirmasi bahwa proses kredit belum sampai pada tahap pengikatan agunan dan tidak akan dilanjutkan tanpa pemeriksaan serta persetujuan yang sah.
Pihak pemasok perlengkapan juga dilibatkan dalam penyelesaian dana renovasi.
Setelah penelusuran transaksi, Niken menyetujui pengembalian nilai pembelian yang digunakan untuk usahanya melalui penjualan sebagian inventaris dan pembayaran bertahap.
Seluruh kesepakatan dituangkan secara tertulis.
Sementara dokumen yang memuat tanda tangan menyerupai milikku diserahkan untuk pemeriksaan lebih lanjut melalui prosedur yang berlaku.
Aku tidak tahu apakah Niken akan mampu membangun kembali usahanya.
Aku juga tidak tahu bagaimana hubungan persahabatannya dengan Bagas akan berakhir.
Namun, untuk pertama kalinya, aku tidak merasa harus ikut bertanggung jawab atas keputusan mereka.
Beberapa bulan kemudian, aku mulai memperbaiki sistem pengelolaan gedung keluarga.
Pak Jatmiko membantuku menyusun prosedur persetujuan pembayaran dan pencatatan inventaris.
Kami juga mulai bekerja sama dengan beberapa penyedia dekorasi lokal melalui kontrak yang jelas.
Suatu sore, ketika sedang memeriksa persiapan sebuah acara pernikahan, aku melihat sepasang calon pengantin sedang berlatih berjalan menuju pelaminan.
Perempuan itu tertawa ketika calon suaminya salah melangkah.
Lelaki tersebut segera menggenggam tangannya dan ikut tertawa.
Aku tersenyum kecil.
Dulu aku pernah membayangkan diriku berdiri di tempat yang sama bersama Bagas.
Namun, sekarang aku tidak lagi merasa sedih setiap kali melihat orang lain menikah.
Aku hanya berharap mereka membangun rumah tangga dengan kejujuran yang tidak pernah berhasil kudapatkan.
Pak Jatmiko menghampiriku.
“Bu Rani, persiapan acara sudah selesai.”
Aku mengangguk.
“Terima kasih, Pak.”
Beliau tersenyum.
“Almarhum Pak Harsono pasti bangga melihat gedung ini tetap berjalan baik.”
Aku terdiam.
Ayah memang telah menghabiskan sebagian besar hidupnya membangun usaha tersebut.
Dulu, beliau sering mengatakan bahwa gedung pernikahan bukan sekadar tempat orang menyelenggarakan pesta.
Melainkan tempat dua keluarga memulai hubungan baru.
Aku memandang panggung yang dihiasi bunga putih.
Kemudian teringat bagaimana Niken pernah berdiri di sana sambil memegang papan bertuliskan bahwa dirinya adalah perempuan nomor satu dalam hidup Bagas.
Dulu, kejadian itu membuatku merasa sangat dipermalukan.
Namun, sekarang aku justru bersyukur.
Karena dari tindakan tidak pantas itulah aku mulai melihat siapa yang sebenarnya sedang memanfaatkan kepercayaanku.
Suatu malam, Bagas mengirim pesan.
“Rani, aku sudah menyelesaikan sebagian kewajibanku. Aku juga ingin meminta maaf karena dulu terlalu takut dianggap gagal.”
Aku membaca pesan tersebut dengan tenang.
Beberapa saat kemudian, aku membalas.
“Aku berharap kamu benar-benar belajar bahwa harga diri nggak dibangun dengan mengambil hak orang lain.”
Bagas membalas singkat.
“Aku mengerti.”
Aku tidak melanjutkan percakapan.
Aku meletakkan ponsel dan berjalan menuju aula utama.
Lampu-lampu gedung sudah dimatikan sebagian.
Hanya cahaya lembut dari lorong yang masih menerangi lantai.
Aku berhenti di depan meja penerima tamu.
Tempat amplop hitam itu dulu menghilang.
Aku menyentuh permukaan meja perlahan.
Satu amplop sederhana pernah membongkar begitu banyak kebohongan.
Namun, yang paling mengejutkan bukanlah uang Rp185 juta atau pinjaman Rp1,8 miliar.
Melainkan kenyataan bahwa lelaki yang hendak kunikahi ternyata lebih takut terlihat tidak berhasil daripada takut kehilangan kepercayaanku.
Aku menatap gedung yang kini kembali tenang.
Dulu aku mengira pernikahan adalah bukti bahwa seseorang benar-benar memilih kita.
Sekarang aku memahami bahwa pilihan itu tidak berarti apa-apa jika tidak disertai rasa hormat dan kejujuran.
Aku pernah hampir menyerahkan masa depan keluargaku kepada seseorang yang belum mampu bertanggung jawab atas keputusannya sendiri.
Namun, pada akhirnya, aku berhasil menghentikan semuanya sebelum terlambat.
Dan ketika aku mengunci pintu gedung malam itu, aku tidak merasa sedang menutup kisah cinta yang gagal.
Aku merasa sedang membuka kembali kehidupan yang hampir kehilangan arah.
Karena cinta yang benar tidak pernah meminta seseorang mengorbankan harga dirinya demi membuktikan kesetiaan.
Dan orang yang sungguh ingin berjalan bersama kita tidak akan diam-diam menjadikan masa depan kita sebagai jaminan bagi ambisinya sendiri.
