Bagian 2: Nilai yang Tidak Pernah Terlihat
“Ya Tuhan…” bisik kurator itu.
Tangannya yang semula tenang mulai sedikit bergetar.
Ia segera mengambil sarung tangan putih dari laci, lalu memegang jam itu dengan jauh lebih hati-hati.
Arga mengernyit.
“Pak… ada apa?”
Kurator tidak langsung menjawab.
Ia membuka penutup belakang jam menggunakan alat kecil. Setelah beberapa detik memperhatikan mesin di dalamnya, ia menatap Arga dengan wajah yang berubah serius.

“Anak muda… dari mana kamu mendapatkan jam ini?”
“Warisan dari kakek saya. Ayah saya menyuruh saya membawa ke sini.”
Kurator menarik napas panjang.
“Kalau begitu, ayahmu adalah orang yang sangat bijaksana.”
Arga semakin bingung.
“Memangnya jam ini kenapa?”
Kurator mengajak Arga masuk ke ruang kerjanya.
Di sana terdapat rak-rak berisi buku sejarah, katalog lelang internasional, dan berbagai benda antik bernilai tinggi.
Ia meletakkan jam itu di atas kain beludru hitam.
“Lihat tulisan kecil ini.”
Arga menyipitkan mata.
Baru sekarang ia menyadari ada ukiran yang hampir hilang karena karat.
Kurator menjelaskan,
“Ini adalah jam tangan Swiss buatan tahun 1943. Diproduksi dalam jumlah yang sangat terbatas.”
Arga terdiam.
“Tapi… kondisinya rusak.”
Kurator tersenyum.
“Yang membuat benda antik berharga bukan selalu karena tampilannya sempurna.”
Ia menunjuk nomor seri di bagian mesin.
“Nomor ini menunjukkan bahwa jam ini termasuk seri koleksi langka. Bahkan banyak kolektor di dunia mencarinya.”
Arga menelan ludah.
“Kalau… dijual… harganya berapa?”
Kurator tidak langsung menjawab.
Ia membuka komputer dan mengakses data lelang internasional.
Beberapa menit kemudian ia memutar layar menghadap Arga.
Di sana terpampang foto jam yang hampir sama.
Harga penjualan terakhir mencapai lebih dari Rp2,8 miliar.
Arga membeku.
“Apa…?”
Kurator mengangguk.
“Kalau keaslian jam ayahmu sudah diverifikasi sepenuhnya dan dilakukan restorasi oleh ahli resmi, nilainya bisa mencapai tiga sampai empat miliar rupiah. Bahkan mungkin lebih jika sejarah kepemilikannya jelas.”
Arga merasa lututnya lemas.
Jam yang tadi pagi hanya dihargai seratus ribu rupiah…
Ternyata bernilai miliaran.
Kurator memandang Arga dengan lembut.
“Kamu tahu kenapa ayahmu menyuruhmu ke pegadaian dulu?”
Arga menggeleng.
“Karena beliau ingin kamu belajar satu hal.”
“Nilai sebuah benda tergantung siapa yang menilainya.”
Sepanjang perjalanan pulang, Arga hampir tidak berbicara.
Bus yang biasanya terasa panas kini terasa begitu sunyi.
Kata-kata kurator terus terngiang di kepalanya.
“Nilai sebuah benda tergantung siapa yang menilainya.”
Bukankah itu sama seperti dirinya?
Selama ini ia merasa gagal.
Ditolak berkali-kali.
Dianggap tidak cukup pintar.
Tidak cukup berpengalaman.
Tidak cukup menarik.
Ia mulai percaya bahwa dirinya memang tidak berharga.
Padahal…
Mungkin ia hanya berada di tempat yang salah.
Saat Arga tiba di rumah, hari sudah menjelang senja.
Pak Hadi masih terbaring lemah.
Melihat anaknya pulang, ia tersenyum pelan.
“Bagaimana?”
Air mata Arga langsung jatuh.
“Iya, Pak…”
“Iya apa?”
“Jam ini… bukan barang rongsok.”
Pak Hadi hanya mengangguk kecil, seolah sudah mengetahui jawabannya.
“Harganya miliaran, Pak.”
Pak Hadi tersenyum.
“Bukan itu yang ingin Bapak dengar.”
Arga terdiam.
“Lalu?”
Pak Hadi memegang tangan anaknya.
“Apa yang kamu pelajari?”
Tangis Arga pecah.
“Bahwa saya salah menilai jam ini.”
Pak Hadi menggeleng.
“Bukan.”
Arga kembali diam.
“Yang salah bukan kamu.”
“Lalu siapa?”
“Tempatnya.”
Pak Hadi menarik napas perlahan.
“Di pegadaian, jam itu hanyalah besi tua.”
“Di museum, ia adalah bagian dari sejarah.”
“Bendanya sama.”
“Yang berbeda hanyalah mata orang yang melihatnya.”
Pak Hadi memandang wajah anaknya yang mulai dipenuhi air mata.
“Nak…”
“Selama ini kamu terus menyalahkan dirimu setiap kali ditolak.”
“Padahal bisa jadi…”
“Kamu hanya sedang mengetuk pintu yang salah.”
Arga terisak.
“Kalau perusahaan itu tidak melihat kemampuanmu, bukan berarti kamu tidak mampu.”
“Kalau seseorang meremehkanmu, bukan berarti nilaimu rendah.”
“Kalau ada orang meninggalkanmu, bukan berarti kamu tidak pantas dicintai.”
Pak Hadi menggenggam tangan Arga semakin erat.
“Jangan pernah menentukan harga dirimu berdasarkan penilaian orang yang bahkan tidak mengenalmu.”
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, Arga menangis bukan karena putus asa.
Melainkan karena merasa dipahami.
Ia memeluk ayahnya erat.
“Terima kasih, Pak.”
Pak Hadi tersenyum tipis.
“Bapak tidak bisa meninggalkan banyak harta.”
“Tapi kalau kamu mengingat pelajaran hari ini, itu akan lebih berharga daripada semua warisan.”
Tiga hari kemudian…
Pak Hadi mengembuskan napas terakhirnya.
Kepergiannya sangat tenang.
Dengan senyum kecil di wajahnya.
Seolah ia telah menyelesaikan tugas terakhir sebagai seorang ayah.
Beberapa bulan berlalu.
Arga tidak lagi melamar pekerjaan ke semua perusahaan tanpa arah.
Ia mulai mengevaluasi dirinya.
Ia mengikuti pelatihan.
Memperbaiki kemampuan.
Membangun portofolio.
Ia hanya melamar ke perusahaan yang benar-benar menghargai kualitas, bukan sekadar melihat ijazah atau usia.
Enam bulan kemudian…
Sebuah perusahaan teknologi besar menerimanya.
Saat wawancara terakhir, direktur perusahaan berkata,
“Kami sudah melihat hasil kerjamu.”
“Bukan nilai akademikmu.”
“Bukan berapa kali kamu gagal.”
“Tapi kemampuanmu menyelesaikan masalah.”
Arga tersenyum.
Dalam hati ia teringat jam tangan tua itu.
Beberapa tahun kemudian.
Arga telah menjadi manajer.
Suatu hari, seorang pegawai muda datang menemuinya.
Wajah pemuda itu penuh kekecewaan.
“Pak…”
“Saya merasa tidak berguna.”
“Saya sudah ditolak berkali-kali.”
“Saya rasa saya memang tidak berbakat.”
Arga tersenyum kecil.
Ia membuka laci mejanya.
Dari dalam sebuah kotak kayu, ia mengeluarkan jam tangan tua peninggalan ayahnya.
Jam itu kini sudah direstorasi.
Masih mempertahankan sebagian goresan lamanya sebagai pengingat perjalanan panjang.
Arga meletakkannya di atas meja.
“Besok pagi…”
“Bawalah jam ini ke sebuah toko barang bekas.”
“Setelah itu, datang lagi kepadaku.”
Pemuda itu terlihat bingung.
Namun Arga hanya tersenyum.
Karena ia tahu…
Pelajaran paling berharga dalam hidup bukanlah sesuatu yang didengar.
Melainkan sesuatu yang dialami sendiri.
Dan seperti yang pernah diajarkan ayahnya,
Jangan pernah mengukur nilai dirimu dari orang yang tidak mampu melihat siapa dirimu sebenarnya. Kadang, yang perlu diubah bukan dirimu—melainkan tempat di mana kamu memilih untuk dihargai.
