“KALAU NADIRA TIDAK MAU PERGI DARI RUMAH ITU, BESOK AKU AKAN MEMASTIKAN KELUARGANYA KEHILANGAN DAPUR SVARNA!”
Aku membaca pesan Arga di ponsel adikku sampai tiga kali.
Tanganku mendadak dingin.
Sehari sebelum pertunangannya dengan Kirana, calon adik iparku itu sudah meminta aku dan putriku yang berusia tujuh tahun meninggalkan rumah orang tua kami. Dia bahkan melarangku duduk di meja keluarga utama karena menganggap statusku sebagai janda dapat mempermalukan keluarganya.
Namun ternyata, semua penghinaan itu hanyalah permulaan.

Arga juga menginginkan kendali atas Dapur Svarna, usaha katering keluarga yang kuselamatkan dari kebangkrutan menggunakan uang hasil penjualan apartemen peninggalan almarhum suamiku.
Dan sekarang dia mengancam akan mengambil alih usaha tersebut jika aku menolak permintaannya.
“Kirana,” panggilku sambil menatap adikku. “Sejak kapan Arga tahu isi perjanjian kepemilikan perusahaan kita?”
Kirana menggigit bibir.
“Mbak, aku cuma cerita soal saham yang katanya menjadi hakku.”
Aku menarik napas panjang.
Dapur Svarna awalnya merupakan usaha katering milik Ibu. Setelah berkembang menjadi perseroan terbatas, kepemilikannya dibagi secara resmi. Aku memegang 55 persen saham karena menyetorkan modal tambahan sebesar Rp1,2 miliar ketika usaha hampir bangkrut. Ibu memiliki 25 persen, Ayah 10 persen, sedangkan 10 persen sisanya tercatat atas nama Kirana sebagai pemberian orang tua kami.
Karena Kirana masih kuliah ketika pembagian itu dilakukan, aku diberi kuasa untuk membantunya mengurus administrasi dan dokumen tertentu. Namun sejak awal, saham tersebut tetap tercatat atas nama Kirana.
Aku tidak pernah menganggap bagian adikku sebagai milikku.
Bahkan beberapa bulan lalu, aku sudah menawarkan untuk mengakhiri kuasa pengurusan itu supaya Kirana dapat mengelola haknya sendiri.
Dia justru menolak.
Katanya, dia belum mengerti urusan perusahaan dan masih percaya kepadaku.
Sekarang, calon suaminya menuduhku menguasai sesuatu yang bukan hakku.
“Kalau Arga ingin kamu mengurus sendiri saham sepuluh persen itu, aku enggak keberatan,” kataku. “Tapi dia tidak punya hak mengusirku dari rumah, apalagi mengancam mengambil alih perusahaan.”
Kirana menunduk semakin dalam.
Ibu yang duduk di samping kami mulai menangis.
“Nadira, sebenarnya laki-laki itu mau apa?”
Aku menunjukkan foto dokumen yang dikirimkan Arga.
“Itulah yang sedang kucari tahu, Bu.”
Dokumen tersebut merupakan salinan perjanjian pembiayaan lama Dapur Svarna dengan sebuah perusahaan distribusi bernama PT Cakra Niaga.
Tiga tahun lalu, ketika kondisi keuangan perusahaan belum stabil, kami sempat menerima fasilitas pembiayaan untuk membeli peralatan dapur. Perjanjiannya memuat ketentuan bahwa jika perusahaan gagal memenuhi kewajiban tertentu, pihak pemberi pembiayaan dapat menagih pelunasan dipercepat dan menempuh langkah hukum terhadap jaminan yang telah disepakati.
Namun kewajiban itu sudah kami lunasi tahun lalu.
Surat pelunasannya tersimpan di kantor.
Karena itulah aku semakin curiga ketika melihat Arga melingkari klausul wanprestasi pada dokumen lama tersebut, seolah-olah perusahaan kami masih memiliki utang.
Yang lebih mengkhawatirkan, Arga bekerja sebagai manajer pengembangan bisnis di PT Cakra Niaga.
Aku sendiri yang dulu membantunya mendapatkan kesempatan wawancara di perusahaan itu.
“Kirana, Arga pernah bilang perusahaan tempatnya bekerja masih punya tagihan terhadap Dapur Svarna?”
Adikku mengangguk ragu.
“Dia bilang ada dokumen yang belum dibereskan. Katanya kalau Mbak enggak mau bekerja sama, perusahaan bisa mengambil tindakan.”
Aku terdiam.
“Dan kamu percaya?”
“Dia menunjukkan surat, Mbak.”
“Surat apa?”
Kirana membuka percakapan WhatsApp mereka.
Ada sebuah file PDF berjudul Pemberitahuan Wanprestasi dan Permintaan Penyelesaian Kewajiban.
Tanggalnya dua hari lalu.
Nominalnya Rp2,8 miliar.
Aku hampir tidak percaya dengan angka tersebut.
Utang yang sudah lunas tiba-tiba berubah menjadi tagihan hampir tiga miliar rupiah.
Aku langsung memperbesar bagian tanda tangan.
Tertulis nama seorang direktur PT Cakra Niaga.
Namun ada sesuatu yang janggal.
Nomor suratnya tidak mengikuti format korespondensi resmi yang biasa digunakan perusahaan tersebut.
Aku segera menghubungi Pak Bima, pengacara yang selama ini menangani dokumen hukum Dapur Svarna.
Meski sudah lewat tengah malam, dia mengangkat telepon.
“Bu Nadira? Ada masalah?”
Aku menjelaskan semuanya dan mengirimkan dokumen yang diterima Kirana.
Beberapa menit kemudian, Pak Bima menelepon kembali.
“Bu, jangan menandatangani dokumen apa pun besok.”
Dadaku berdebar.
“Kenapa, Pak?”
“Surat ini perlu diverifikasi langsung dengan PT Cakra Niaga. Berdasarkan dokumen kami, kewajiban Dapur Svarna sudah lunas. Selain itu, kepemilikan mayoritas perusahaan tetap atas nama Ibu. Perjanjian pembiayaan tidak otomatis membuat pihak pemberi dana berhak mengambil seluruh perusahaan.”
Aku sedikit lega.
Namun Pak Bima melanjutkan dengan nada lebih serius.
“Ada satu hal yang membuat saya khawatir.”
“Apa?”
“Di berkas yang dikirim Arga terdapat rancangan persetujuan pengalihan saham. Kalau benar dia sedang meminta tanda tangan seluruh pemegang saham, berarti persoalannya bukan sekadar penagihan utang.”
Aku menatap Kirana.
“Pengalihan saham kepada siapa?”
Pak Bima terdiam sejenak.
“Kepada sebuah perusahaan bernama PT Svarna Investama.”
Aku belum pernah mendengar nama itu.
“Perusahaan siapa, Pak?”
“Saya belum bisa memastikan pemilik manfaatnya. Tapi nama itu tidak ada dalam arsip mitra resmi kita.”
Aku menutup telepon dengan tangan gemetar.
Kirana kini menangis tersedu-sedu.
“Mbak, aku enggak tahu Arga mau melakukan semua ini.”
Aku menatapnya.
“Dia pernah memintamu menandatangani sesuatu?”
Adikku mengangguk perlahan.
Jantungku serasa berhenti.
“Apa yang kamu tanda tangani?”
“Surat persetujuan peninjauan kerja sama. Katanya cuma buat mengecek nilai sahamku sebelum menikah.”
“Kamu baca dulu?”
Kirana menggeleng.
Aku memejamkan mata.
“Kirana, tolong tunjukkan surat itu.”
Dengan tangan gemetar, adikku membuka dokumen yang tersimpan di email.
Aku membacanya perlahan.
Dokumen tersebut bukan pengalihan saham, melainkan surat kuasa terbatas untuk meminta informasi keuangan tertentu atas nama Kirana.
Masa berlakunya masih aktif.
Dan pihak penerima kuasa adalah Arga.
Aku menarik napas panjang.
Surat itu belum memberikan Arga kepemilikan perusahaan. Namun jelas menunjukkan bahwa dia telah mempersiapkan langkah-langkah untuk memperoleh informasi internal dengan menggunakan kepercayaan Kirana.
“Besok pagi kita cabut kuasa ini melalui prosedur yang benar,” kataku.
Kirana mengangguk sambil menangis.
“Mbak, maafin aku.”
Aku belum sempat menjawab ketika Ayah masuk ke dapur.
Beliau ternyata mendengar sebagian percakapan kami dari tangga.
“Jadi selama ini Arga bukan cuma ingin mengusir Nadira?”
Aku menggeleng.
“Ada kemungkinan dia sedang berusaha memanfaatkan dokumen perusahaan, Yah.”
Wajah Ayah memerah.
“Besok, pertunangan itu tidak boleh dilanjutkan sebelum semuanya jelas.”
Kirana menangis semakin keras.
Namun kali ini Ayah tidak memarahinya.
Beliau hanya duduk di samping adikku dan berkata, “Kirana, Ayah lebih rela kamu batal bertunangan daripada menikah dengan orang yang menjadikan keluargamu sasaran ancaman.”
Aku menatap mereka berdua.
Untuk pertama kalinya malam itu, aku merasa kami kembali berdiri di pihak yang sama.
Namun ketenangan tersebut hanya berlangsung beberapa detik.
Ponselku tiba-tiba berdering.
Nomor tidak dikenal.
Aku mengangkatnya.
“Halo?”
“Bu Nadira?”
“Iya, dengan siapa?”
“Saya Dimas, staf administrasi PT Cakra Niaga. Maaf menghubungi tengah malam. Saya mendapatkan nomor Ibu dari dokumen kerja sama lama.”
Aku langsung duduk tegak.
“Ada apa, Pak?”
Suara laki-laki itu terdengar gugup.
“Bu, besok pagi Arga berencana membawa beberapa dokumen ke acara pertunangan. Saya rasa Ibu harus tahu sesuatu.”
“Apa maksud Bapak?”
“Sore tadi saya diminta menyiapkan berkas penagihan terhadap Dapur Svarna. Tapi ketika saya memeriksa arsip, kewajibannya sudah lunas. Saat saya mempertanyakan hal itu, Pak Arga meminta saya diam.”
Aku menelan ludah.
“Bapak sudah melapor kepada atasan?”
“Sudah, Bu. Tetapi saya juga menemukan dokumen lain.”
“Dokumen apa?”
Dimas menarik napas panjang.
“Sebuah rancangan pengalihan kepemilikan perusahaan. Di sana tercantum nama Ibu, Bu Kirana, dan kedua orang tua Ibu sebagai pihak yang akan dimintai tanda tangan.”
Aku mengepalkan tangan.
“Siapa yang menyiapkan dokumen itu?”
“Pak Arga. Tapi yang membuat saya khawatir bukan hanya itu.”
“Apa lagi?”
Dimas menurunkan suaranya.
“Di dalam berkas tersebut ada lampiran yang menyebutkan bahwa seluruh pemegang saham telah menyetujui rencana transaksi.”
Aku langsung berdiri.
“Itu tidak benar! Kami tidak pernah menyetujui apa pun!”
“Saya tahu, Bu. Karena itulah saya menelepon.”
“Lampiran itu ditandatangani siapa?”
Dimas terdiam cukup lama.
Kemudian dia menjawab.
“Di sana ada tanda tangan atas nama Ibu.”
Seluruh tubuhku membeku.
“Apa?”
“Dan tanda tangan atas nama Pak Haryono, ayah Ibu.”
Aku menoleh kepada Ayah.
Beliau berdiri tepat di belakangku dengan wajah tegang.
“Tidak mungkin,” bisikku. “Kami tidak pernah menandatangani surat itu.”
“Saya tidak bisa memastikan apakah tanda tangan tersebut asli atau palsu, Bu. Tapi besok dokumen itu rencananya akan digunakan untuk meminta persetujuan akhir.”
Aku memandang foto keluarga yang tergantung di dinding dapur.
Baru kemarin aku sibuk menyiapkan kue untuk pertunangan adikku.
Sekarang aku harus menghadapi kemungkinan ada orang yang menggunakan identitas keluargaku untuk menyusun transaksi pengambilalihan usaha kami.
“Saya punya satu pertanyaan lagi, Pak Dimas,” kataku.
“Silakan, Bu.”
“Siapa pemilik PT Svarna Investama?”
Dimas terdiam.
Lalu suaranya terdengar semakin pelan.
“Bu Nadira, saya baru saja memeriksa data perusahaan yang dilampirkan dalam berkas.”
“Lalu?”
“Perusahaan itu baru didirikan beberapa bulan lalu.”
Aku menahan napas.
“Dan berdasarkan dokumen yang saya lihat, salah satu pemegang saham sekaligus direkturnya adalah Pak Arga.”
Ayah langsung memukul meja.
“Kurang ajar!”
Namun Dimas belum selesai.
“Ada satu nama lagi yang tercantum sebagai pemegang saham, Bu.”
Aku mengerutkan kening.
“Siapa?”
Dimas menyebutkan nama tersebut.
Aku seketika menatap Kirana.
Ponsel hampir terlepas dari tanganku.
Karena nama kedua itu adalah nama adikku sendiri.
Aku menatap Kirana yang masih duduk menangis di samping Ibu.
“Kirana…”
Dia mengangkat wajah.
“Apa, Mbak?”
Aku berjalan mendekatinya.
“Arga mendirikan perusahaan baru atas nama kalian berdua?”
Kirana membeku.
Air matanya berhenti mengalir.
Aku menatapnya tanpa berkedip.
“Jawab aku. Kamu tahu tentang PT Svarna Investama?”
Adikku membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar.
Ayah menoleh kepadanya dengan wajah pucat.
“Kirana?”
Akhirnya, adikku mengangguk sangat pelan.
“Aku tahu, Yah.”
Seluruh ruangan mendadak sunyi.
“Tapi aku enggak tahu Arga akan menggunakan perusahaan itu untuk mengambil alih Dapur Svarna,” katanya sambil menangis.
Aku mundur selangkah.
“Jadi kamu bukan baru tahu soal rencana ini malam sekarang?”
Kirana menutup wajahnya.
“Arga bilang perusahaan itu hadiah pernikahan kami. Dia berjanji setelah menikah, kami akan punya usaha sendiri yang lebih besar daripada Dapur Svarna.”
Aku merasa dadaku seperti ditimpa batu.
“Dan modalnya dari mana, Kirana?”
Adikku tidak menjawab.
Aku kembali bertanya, kali ini dengan suara gemetar.
“Modal perusahaan itu dari mana?”
Kirana perlahan membuka ponselnya.
Dia menunjukkan sebuah bukti transfer.
Jumlahnya Rp350 juta.
Pengirimnya adalah rekening pribadi Kirana.
Aku langsung mengenali uang tersebut.
Itu dividen dan tabungan yang dikumpulkan adikku selama beberapa tahun dari hasil Dapur Svarna.
“Kamu memberikan seluruh tabunganmu kepada Arga?”
Kirana mengangguk.
Aku terduduk lemas.
Namun sebelum aku sempat berbicara, Ayah tiba-tiba bertanya dengan suara berat.
“Kirana, Arga pernah memintamu mengajak Ayah dan Ibu menandatangani dokumen saat acara pertunangan?”
Adikku menangis semakin keras.
“Iya, Yah.”
“Apa katanya?”
“Katanya itu surat persetujuan keluarga untuk investasi bersama.”
Ayah memejamkan mata.
“Jadi itulah sebabnya dia memaksa Nadira pergi?”
Kirana tidak menjawab.
Aku akhirnya memahami sesuatu.
Selama aku masih memegang saham mayoritas dan memeriksa seluruh dokumen perusahaan, Arga tidak mungkin memperoleh persetujuan pengalihan saham secara sah tanpa keterlibatanku.
Karena itulah dia berusaha membuatku tersingkir dari pembicaraan keluarga.
Bukan karena statusku sebagai janda.
Bukan karena Alya dianggap mengganggu.
Melainkan karena aku adalah orang yang paling mungkin memeriksa setiap lembar dokumen sebelum ada yang menandatanganinya.
Aku berdiri perlahan.
“Kirana, dengarkan Mbak baik-baik.”
Adikku mengangkat wajah.
“Besok kita tidak akan menandatangani apa pun. Kita akan meminta pengacara memeriksa semua dokumen dan meminta klarifikasi resmi dari perusahaan tempat Arga bekerja.”
Kirana mengangguk sambil menangis.
Namun tepat ketika aku hendak mengambil ponsel untuk kembali menghubungi Pak Bima, sebuah pesan baru masuk dari Arga.
Pesan tersebut bukan ditujukan kepada Kirana.
Melainkan langsung kepadaku.
Aku membukanya.
Ada sebuah foto.
Foto Alya, putriku yang baru berusia tujuh tahun, sedang tidur di kamarnya.
Foto itu diambil dari luar pintu kamar.
Di bawahnya tertulis satu kalimat.
“Nadira, jangan membuat semuanya lebih sulit. Aku sudah di rumahmu. Kita perlu bicara sebelum besok.”
Darahku seketika terasa membeku.
Aku langsung berlari menuju tangga.
Karena kamar Alya berada di lantai dua.
Dan sejak kami pulang dari restoran, aku belum pernah mengizinkan Arga masuk ke rumah.
Saat itulah terdengar suara Alya dari lantai atas.
“Mama! Om Arga bilang Mama harus naik sekarang!”
Aku berhenti di anak tangga pertama.
Ayah berlari menyusulku.
Sementara Kirana berdiri mematung, menatap ponselnya dengan wajah kehilangan warna.
Karena beberapa detik kemudian, Arga mengirimkan satu pesan lagi.
“Kirana, kalau kamu masih ingin pertunangan kita berlangsung besok, pastikan kakakmu datang sendirian.”
Perkuat logika kepemilikan sahamTingkatkan ketegangan menuju rumah
