SEHARI SEBELUM LIBURAN, KAKAK IPARKU MEMAKSA ANAKNYA IKUT BERSAMAKU.

Aku menarik napas panjang sebelum membuka pintu kamar hotel. Dua petugas kepolisian berdiri di lorong bersama seorang perempuan berseragam hotel. Salah satu petugas memperkenalkan diri sebagai Inspektur Bayu dari Polresta Bandung. Rekannya, seorang polisi wanita bernama Briptu Laras, melirik Naya yang berdiri ketakutan di belakangku.

“Maaf mengganggu malam-malam, Bu Mira. Kami sedang menindaklanjuti laporan anak yang belum diketahui keberadaannya. Boleh kami berbicara sebentar?”

Aku mempersilakan mereka masuk setelah memeriksa kartu identitas keduanya. Laras duduk menemani Naya di dekat jendela, sementara Bayu membuka catatan di ponselnya.

“Menurut laporan keluarga, Ibu mengetahui bahwa Dimas akan masuk ke mobil sebelum kendaraan berangkat. Apakah benar?”

“Tidak,” jawabku tegas. “Saya justru melarangnya ikut sejak semalam.”

Aku menunjukkan percakapan dengan Ratih, tiket kereta, serta pesan Reza yang meminta izin meminjam mobil. Bayu membaca semuanya dengan saksama.

“Jadi, saat memberikan kunci kepada Reza, Ibu tidak mengetahui ada anak di dalam kendaraan?”

“Sama sekali tidak. Bahkan Reza juga tidak diberi tahu.”

Bayu mengangguk. “Kami sudah berkoordinasi dengan kepolisian di wilayah yang dilalui kendaraan. Ponsel Reza terakhir terdeteksi di sekitar Nagreg pukul sembilan pagi. Setelah itu tidak aktif.”

Dadaku mendadak sesak. Aku memang marah kepada Ratih, tetapi membayangkan Dimas yang baru berusia sembilan tahun berada sendirian di dalam mobil membuatku merinding.

“Apakah sudah ada kabar dari rumah sakit atau pos polisi?”

“Masih diperiksa. Kami juga sedang menelusuri rekaman kamera lalu lintas.”

Aku menyerahkan semua bukti yang kumiliki. Sebelum pergi, Bayu mengatakan sesuatu yang membuatku semakin gelisah.

“Bu Mira, ada satu hal yang janggal. Kakak ipar Ibu baru membuat laporan resmi menjelang malam, padahal menurut pengakuannya, dia sudah mengetahui anaknya tidak bersama Ibu sejak pagi.”

Setelah kedua polisi pergi, aku duduk lama di tepi tempat tidur. Mengapa Ratih menunggu begitu lama untuk melapor? Mengapa ia lebih dulu melakukan siaran langsung daripada mencari bantuan?

Pukul setengah satu malam, sebuah nomor tidak dikenal menelepon.

“Mbak Mira?”

Aku langsung mengenali suara itu.

“Reza! Kamu di mana? Dimas ada bersamamu?”

Di seberang terdengar napas berat.

“Dimas aman, Mbak. Dia sekarang sama saya di kantor polisi.”

Aku hampir menangis karena lega.

“Ya Tuhan, Reza! Kenapa ponselmu mati? Semua orang mencarimu!”

“Ponsel saya rusak waktu mobil mogok. Saya baru bisa pinjam telepon sekarang. Tapi Mbak harus dengar sesuatu.”

Suaranya mendadak mengecil.

“Dimas bukan cuma disuruh sembunyi di mobil. Ratih menyuruh dia mengambil sesuatu dari rumah Mbak.”

Aku terdiam.

“Mengambil apa?”

“Dokumen di dalam laci meja kerja Mbak.”

Aku merasa darah mengalir lebih cepat.

Laci meja kerjaku menyimpan dokumen kepemilikan rumah, sertifikat deposito, dan sejumlah berkas warisan peninggalan ayahku. Semuanya kusimpan dalam map terkunci.

“Bagaimana kamu tahu?”

“Dimas sendiri yang cerita. Dia menangis waktu saya menemukan dia di bagasi.”

Aku langsung berdiri.

“Di bagasi?”

“Iya, Mbak. Bukan di kursi belakang.”

Menurut Reza, ia berangkat sekitar pukul enam pagi untuk mengantar beberapa perlengkapan elektronik milik kantornya ke Garut. Karena barang yang dibawanya cukup banyak, ia tidak membuka bagasi sampai berhenti di sebuah bengkel dekat Nagreg setelah mobil mengalami gangguan mesin.

Ketika membuka bagasi untuk mengambil dongkrak, ia menemukan Dimas meringkuk di balik tumpukan kardus, pucat dan berkeringat.

Anak itu rupanya bersembunyi di sana sejak sebelum matahari terbit.

Reza segera membawanya keluar, memberinya air minum, lalu mencari pertolongan. Namun Dimas menangis ketakutan setiap kali Reza menyebut akan menelepon ibunya.

“Dia bilang Mama akan marah kalau tugasnya gagal,” lanjut Reza.

“Tugas apa?”

“Katanya dia harus mengambil map biru dari meja kerja Mbak. Kalau berhasil, Mama janji membelikannya sepeda listrik.”

Aku memejamkan mata.

Map biru.

Itulah tempat kusimpan dokumen rumah peninggalan ayahku.

Rumah yang selama tiga tahun terakhir terus diminta Arman untuk dijadikan jaminan pinjaman usaha kakaknya.

Aku selalu menolak.

Pagi berikutnya, setelah memastikan Naya ditemani Siska yang datang dari Bandung, aku kembali ke kantor polisi tempat Reza dimintai keterangan. Dimas duduk di samping seorang petugas perempuan. Wajahnya lelah, tetapi kondisinya baik setelah diperiksa tenaga medis.

Begitu melihatku, ia menunduk.

“Tante Mira, maaf.”

Aku berjongkok di depannya.

“Dimas tidak perlu takut sama Tante. Tapi Tante ingin tahu kenapa Dimas masuk ke bagasi.”

Bibirnya bergetar.

“Mama bilang kalau aku duduk di belakang, Tante pasti lihat. Jadi aku harus sembunyi sampai mobil jalan jauh.”

“Terus soal map biru?”

Dimas meremas ujung bajunya.

“Mama bilang itu punya Papa dulu. Katanya Tante mengambilnya dan tidak mau mengembalikan.”

Aku tertegun.

Ayah Dimas meninggal empat tahun lalu. Rumah yang dimaksud justru dibeli ayah kandungku jauh sebelum aku menikah dengan Arman.

“Siapa yang bilang begitu?”

“Mama sama Om Arman.”

Aku menoleh kepada Reza. Wajahnya sama terkejutnya denganku.

Beberapa menit kemudian, Bayu memperlihatkan rekaman kamera keamanan rumahku yang diperoleh setelah aku memberikan akses ke sistem penyimpanan daring. Kamera di ruang tamu ternyata merekam Ratih datang lagi pukul empat lewat empat puluh pagi.

Ia menggunakan kunci yang pernah diberikan Arman untuk keadaan darurat.

Dalam rekaman itu, Ratih terlihat membuka pintu, memanggil Dimas, lalu menunjuk ke arah ruang kerjaku. Dimas masuk beberapa menit kemudian dan keluar tanpa membawa apa pun.

Ratih tampak marah. Ia menarik tangan anaknya menuju garasi.

Rekaman berikutnya memperlihatkan Dimas masuk ke bagasi mobil.

Aku menutup mulut dengan tangan.

Selama ini aku mengira Ratih hanya ingin menitipkan anaknya agar bisa menikmati liburan gratis. Ternyata permintaan semalam hanyalah alasan untuk memastikan Dimas berada di dekatku dan mendapat kesempatan masuk ke ruang kerja.

Namun rencana mereka berubah ketika aku memilih naik kereta.

Siang itu, Arman dan Ratih datang ke kantor polisi.

Ratih langsung berlari memeluk Dimas. Anak itu menangis, tetapi tidak membalas pelukannya seperti biasa.

“Kamu bikin Mama takut setengah mati!” seru Ratih.

Dimas justru berkata lirih, “Mama yang suruh aku sembunyi.”

Ruangan mendadak sunyi.

Ratih melepaskan pelukannya.

“Dimas, jangan bicara sembarangan!”

Bayu segera menghentikannya.

“Bu Ratih, kami sudah menerima keterangan anak dan rekaman kamera. Kami perlu meminta penjelasan Ibu secara terpisah.”

Arman menatapku tajam.

“Kamu sengaja mempermalukan keluarga sendiri?”

Aku mengeluarkan ponsel dan memperlihatkan rekaman yang sama.

“Jelaskan kenapa kakakmu masuk rumahku sebelum subuh.”

Wajah Arman berubah pucat.

“Aku tidak tahu soal itu.”

“Lalu kenapa Dimas bilang kamu ikut mengatakan rumah warisan ayahku milik keluarganya?”

Arman tidak menjawab.

Reza tiba-tiba berdiri.

“Mas, cukup. Semalam Ratih mengaku semuanya waktu meneleponku. Dia bilang Mas yang menyuruhnya mencari sertifikat karena bank meminta jaminan tambahan.”

Aku menatap suamiku.

“Jadi benar?”

Arman mengusap wajah.

“Usaha kami sedang kesulitan, Mira. Kalau tidak ada jaminan, semua aset perusahaan bisa disita.”

“Lalu kalian menggunakan anak sembilan tahun untuk mencuri dokumen?”

“Bukan mencuri! Aku cuma mau meminjam sertifikatnya!”

Aku tertawa pendek, lebih karena kecewa daripada geli.

“Meminjam tanpa izin pemiliknya disebut apa, Man?”

Ratih mulai menangis. Kali ini tidak ada kamera yang menyorot wajahnya.

“Aku terdesak, Mira. Aku pikir kalau sertifikatnya sudah ada, kamu akhirnya mau membantu.”

“Dan kalau Dimas ketahuan?”

Ratih diam.

“Kalau mobil itu mengalami kecelakaan saat dia bersembunyi di bagasi, siapa yang akan bertanggung jawab?”

Pertanyaanku membuatnya menunduk.

Penyelidikan kemudian mengungkap bahwa Arman dan Ratih telah mengajukan permohonan kredit dengan mencantumkan rumah warisanku sebagai rencana agunan, meskipun belum memiliki persetujuan dariku. Bank belum mencairkan pinjaman karena dokumen asli dan persetujuan pemilik belum tersedia.

Itulah alasan mereka begitu membutuhkan map biru.

Aku menyerahkan seluruh bukti kepada penyidik dan meminta pengacara mendampingiku. Aku juga meminta Ratih menghapus unggahan yang menuduhku menelantarkan anaknya serta membuat klarifikasi berdasarkan kejadian sebenarnya.

Dua hari kemudian, aku mengajukan gugatan cerai.

Arman datang menemuiku sebelum sidang pertama.

“Kita sudah menikah sebelas tahun, Mira. Masa semuanya selesai gara-gara satu kesalahan?”

Aku memandang lelaki yang pernah kucintai itu.

“Bukan satu kesalahan, Man. Ini sebelas tahun kamu menganggap keluargamu berhak atas semua milikku, sementara aku bahkan tidak berhak mengatakan tidak.”

Ia menunduk.

“Aku masih sayang kamu.”

“Mungkin. Tapi sayang tanpa rasa hormat tidak cukup untuk mempertahankan pernikahan.”

Enam bulan kemudian, perceraian kami selesai. Aku dan Naya pindah ke rumah peninggalan ayahku. Reza tetap sesekali mengunjungi kami, membawa makanan kesukaan Naya dan menanyakan kabar.

Hubunganku dengan Dimas juga tidak terputus. Dengan pendampingan keluarga dan konselor, ia perlahan memahami bahwa dirinya tidak bersalah atas keputusan orang dewasa, tetapi ia tetap perlu belajar mengatakan tidak ketika diminta melakukan sesuatu yang salah.

Suatu sore, sebuah paket kecil tiba di rumah.

Isinya gambar buatan Dimas. Ada sebuah kereta berwarna biru, dua perempuan berdiri di peron, dan seorang anak laki-laki melambaikan tangan dari kejauhan.

Di bawah gambar itu tertulis kalimat sederhana.

Tante Mira, maaf aku pernah marah karena tidak diajak liburan. Sekarang aku tahu, kalau seseorang bilang tidak, kita harus menghormatinya.

Aku menatap gambar itu lama sekali.

Naya datang dan memeluk pinggangku.

“Mama, tahun depan kita naik kereta lagi?”

Aku tersenyum.

“Tentu, Sayang.”

“Berdua saja?”

Aku mencium keningnya.

“Kalau Naya mau.”

Putriku mengangguk bahagia.

Saat itulah aku menyadari sesuatu yang selama bertahun-tahun tidak pernah kupahami. Hari ketika aku menolak membawa satu anak tambahan ternyata bukan hari ketika keluargaku hancur.

Hari itu justru menjadi awal ketika aku berhenti membiarkan orang lain menentukan batas hidupku.

Dan keputusan membeli dua tiket kereta, yang semula hanya kuanggap perubahan rencana liburan, akhirnya menyelamatkan lebih dari sekadar perjalanan kami. Keputusan itu menyelamatkan seorang anak dari rencana berbahaya orang dewasa, sekaligus memberiku keberanian untuk memilih kehidupan yang lebih baik bagi diriku dan putriku.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang