SELAMA DUA TAHUN AKU MEREKAM TUNANGANKU UNTUK FILM KELULUSAN, TETAPI

Kotak cincin itu berwarna biru tua. Aku mengenalinya dari katalog yang pernah kukirim kepada Reza enam bulan lalu.

Saat itu, ia menjawab bahwa kami sebaiknya tidak menghabiskan uang untuk benda yang hanya dipakai di jari.

Aku menyimpan tangkapan layar tersebut, lalu meneleponnya.

“Kamu besok sampai jam berapa?”

“Sekitar empat. Kenapa?”

“Aku mau bicara. Kita ketemu di kafe dekat kampus.”

“Tumben nggak minta dijemput.”

“Besok jangan jemput aku.”

Setelah telepon berakhir, aku menangis. Bukan karena cincin itu, melainkan karena tiba-tiba semua penolakan Reza punya kemungkinan arti yang lain.

Paginya, aku tetap pergi ke pasar.

Bu Yati, salah satu subjek dokumenter baruku, sedang menata pisang di meja dagangannya. Suaminya meninggal delapan tahun lalu. Sejak itu, ia mempertahankan kios kecil mereka sambil membesarkan dua anak.

“Kamu habis nangis?” tanyanya ketika aku memasang mikrofon.

Aku tersenyum malu.

“Kelihatan, ya, Bu?”

“Kelihatan capeknya.”

Aku tidak bercerita. Namun, saat wawancara dimulai, jawaban Bu Yati justru membuat tenggorokanku kembali sesak.

“Dulu saya kira mempertahankan berarti tidak boleh mengubah apa-apa,” katanya. “Padahal kios ini baru bertahan setelah saya berani mengganti cara jualannya.”

Aku menatap layar kamera.

Selama dua tahun, aku begitu sibuk mempertahankan cerita tentang Reza sampai lupa memeriksa apakah cerita itu masih benar.

Sore harinya, ia sudah menunggu ketika aku tiba di kafe.

Ada kantong hadiah di kursi sebelahnya. Reza berdiri dan hendak memelukku, tetapi aku langsung duduk.

“Kamu kenapa?”

Aku meletakkan ponsel di meja, memperlihatkan foto Keisha.

Senyumnya menghilang.

“Siapa yang mengirim ini?”

“Itu yang pertama ingin kamu tahu?”

Reza mengusap wajah.

“Keisha memang suka bikin keterangan ambigu. Itu cincin pesanan klien.”

“Klien siapa?”

Ia menyebut nama sebuah merek perhiasan, lalu membuka percakapan proyek di ponselnya. Ada pengarahan pengambilan gambar, jadwal pemotretan, dan daftar produk.

Aku membacanya perlahan.

Jadi foto cincin itu tidak membuktikan apa yang kutakutkan.

Reza bersandar.

“Lihat? Kamu sudah berpikir macam-macam.”

Aku mengembalikan ponselnya.

“Aku salah menafsirkan foto itu. Tapi aku belum selesai bertanya.”

Ia menghela napas.

“Hubunganmu dengan Keisha seperti apa?”

“Teman kerja.”

“Kenapa kamu bisa nyaman direkam olehnya, sementara selama dua tahun aku harus membujukmu untuk wawancara lima menit?”

Reza melirik meja sebelah.

“Itu beda. Videonya santai.”

“Filmku juga bisa dibuat santai. Kamu tidak pernah memberi kesempatan.”

“Aku nggak mau seluruh hidupku jadi bahan tugas kuliahmu.”

Kalimat itu membuatku terdiam.

“Kamu tidak pernah bilang begitu.”

“Karena kamu terlalu bersemangat. Aku nggak tega.”

Aku memandang lelaki yang hampir menjadi suamiku.

“Jadi kamu membiarkanku bekerja dua tahun untuk sesuatu yang sebenarnya tidak kamu setujui?”

“Aku setuju direkam. Cuma nggak sebanyak itu.”

“Kenapa tidak bilang?”

Reza tidak menjawab.

Aku hampir menyalahkan diriku sendiri. Mungkin memang aku terlalu sibuk menyusun gambar sampai tidak mendengarkan. Namun, kemudian kuingat semua percakapan kami. Setiap kali aku bertanya apakah ia keberatan, ia selalu berkata tidak.

Aku mengeluarkan cincin pertunangan dari saku kecil tas, lalu meletakkannya di meja.

“Aku tidak bisa menikah dengan seseorang yang mengatakan iya, lalu diam-diam membenciku karena mempercayainya.”

Wajah Reza berubah.

“Alia, jangan berlebihan. Ini cuma soal film.”

“Bukan cuma film. Aku tidak tahu kapan kamu jujur dan kapan kamu sekadar menghindari percakapan.”

Ia mendorong kantong hadiah ke arahku.

“Aku membelikanmu mikrofon baru. Aku mau membantu.”

Aku menatap kantong itu tanpa menyentuhnya.

“Tadi kamu bilang hidupmu tidak mau jadi bahan tugasku.”

“Aku berusaha memperbaiki.”

“Dengan hadiah?”

Reza menunduk.

“Aku sudah menerima pekerjaan di Makassar,” kataku.

Ia langsung mengangkat kepala.

“Kapan kamu membicarakannya denganku?”

Pertanyaan itu membuat dadaku sakit.

“Aku berencana membicarakannya setelah hubungan kita jelas.”

“Jadi kamu memilih kerja daripada kita?”

“Aku memilih berhenti menunda hidup sambil menebak apa yang sebenarnya kamu inginkan.”

Aku pergi tanpa membawa hadiah itu.

Malamnya, Keisha menelepon.

“Aku dengar kalian bertengkar gara-gara unggahanku.”

“Kami berpisah karena percakapan kami sendiri.”

Di seberang terdengar desahan.

“Aku perlu meluruskan sesuatu. Reza bilang pertunangan kalian sudah dibatalkan bulan lalu.”

Aku membeku.

“Apa?”

“Dia bilang kalian tinggal menyelesaikan urusan keluarga.”

Keisha kemudian mengirimkan percakapan mereka. Tidak semuanya. Hanya bagian ketika Reza mengajaknya pergi berdua dan menjelaskan bahwa dirinya sudah tidak terikat.

Aku membaca tanggalnya.

Hari itu, aku sedang menemani ibunya memilih kain untuk pertemuan keluarga.

Keisha meminta maaf karena baru menghubungiku setelah mendengar versiku.

Aku tidak tahu seberapa jauh hubungan mereka. Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa harus mencari setiap detail agar berhak pergi.

Aku mengirim satu pesan kepada Reza.

Aku sudah bicara dengan Keisha. Jangan gunakan namaku untuk menjelaskan kebohonganmu lagi.

Lalu kuhubungi orang tuaku.

Membatalkan pertemuan keluarga ternyata lebih menyakitkan daripada mengembalikan cincin. Ibu menangis. Ayah diam lama sebelum berkata bahwa aku tidak perlu menikah hanya karena undangan makan sudah disebarkan.

Hari-hari berikutnya kuhabiskan di ruang penyuntingan.

Nisa menemaniku sampai malam. Kami berdebat soal durasi, membuang wawancara yang berulang, dan memperbaiki suara pasar yang terlalu keras.

Saat presentasi akhir, Pak Arman bertanya mengapa aku memilih judul Buka Lagi Besok.

“Karena para perempuan dalam film ini tidak selalu tahu bagaimana menyelesaikan semuanya,” jawabku. “Tapi mereka tetap punya sesuatu yang ingin dilanjutkan.”

Filmku tidak sempurna. Ada gambar berguncang dan perpindahan adegan yang masih kasar. Namun, ketika lampu menyala, aku tidak merasa sedang membela kebohongan.

Tiga minggu setelah kelulusan, aku berangkat ke Makassar.

Di ruang tunggu bandara, sebuah surel dari Reza masuk. Lampirannya video dirinya duduk menghadap kamera.

Aku memutarnya sebentar.

“Halo, Alia. Ini wawancara yang dulu kamu minta.”

Aku menghentikan video sebelum kalimat berikutnya.

Dulu, aku akan menganggapnya bukti cinta. Kini aku melihat seseorang yang akhirnya bersedia hadir setelah tidak lagi diminta.

Aku menutup surel itu, lalu membuka pesan dari produser baruku.

Besok kita merekam kehidupan nelayan. Siapkan pertanyaan, tapi dengarkan jawabannya baik-baik.

Aku tersenyum dan memasukkan ponsel ke tas.

Folder RUMAH memang sudah kuhapus.

Tetapi kameraku masih ada, dan kali ini aku tahu bahwa masa depanku tidak harus menunggu seseorang bersedia masuk ke dalam bingkai.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang